“MARI BERPRASANGKA”

“MARI BERPRASANGKA”

 

Mari berprasangka

demi seiya dan sekata

dengan pemangku kebijakan

dengan pembuat aturan

 

Mari berprasangka

meski terkecoh tampak luarnya

Telanjangi mereka

Permalukan pada dunia

 

Mari berprasangka

agar jiwamu yang beringas

bisa semakin puas

bagai monster haus darah nan buas

 

Anggap saja privasi

apalagi hak asasi

hanyalah alasan para bedebah

yang sengaja dicari-cari

 

Mari,

tanpa peduli

bila suatu saat nanti

semua dapat gilirannya sendiri

 

Hiii…

 

R.

(Jakarta, 7 Februari 2018 – 18:00)

 

TERKESAN REMEH TAPI FATAL – ETIKET DI GRUP WA

“TERKESAN REMEH TAPI FATAL: CUEK SAMA ETIKET MEMBER GRUP WA”

Siapa yang Whatsapp-nya berat akibat banyak grup di dalamnya? (Saya pun tunjuk tangan.)

Mungkin ini karena pada dasarnya, orang Indonesia masih paling senang ngumpul. Biar kata orang yang tinggal di kota sudah makin individualistis, ternyata masih banyak juga komunitas yang bikin grup di media sosial, termasuk messenger app kayak Whatsapp. Mulai dari grup keluarga, temen se-geng, reuni sekolah, kantor, komunitas…pokoknya banyak banget, deh. Sampai ada yang harus punya dua ponsel biar semua grup bisa diakses tanpa bikin layar mendadak ‘mogok’ (screen-freeze).

Selain mengurangi rasa sepi akibat kesibukan (dan macet di jalan) yang bikin sulit janji temu, banyak hal yang bisa jadi bahan obrolan. Banyak hal yang bisa di-share langsung ke satu grup itu. Tinggal klik dan jadilah.

Sayangnya, saking hebohnya mau share ini-itu, kadang kita suka kebablasan.

Mungkin karena merasa keluarga sendiri akan selalu menerima kita apa adanya, lama-lama suka ada yang asal share postingan yang belum tentu bikin semua orang merasa nyaman. Entah itu joke cabul atau seksis, foto-foto seram, hingga opini politik.

Begitu pula dengan grup lain, baik itu bisnis, komunitas, hingga teman-teman se-geng dan grup reunian.

“Tapi ‘kan, kita maunya santai. Nggak mau terlalu banyak aturan.”

Okelah bila grup itu isinya hanya teman-teman se-geng yang kebetulan hampir selalu sepaham sama Anda. Namun, pada kenyataannya nggak akan pernah ada yang 100% demikian.

Saya sendiri salah satu admin sebuah grup WA berisi para penulis (dan pencinta dunia tulis-menulis). Suatu waktu, saya iseng reshare kasus kematian seorang gadis akibat tertidur sambil mendengarkan musik lewat ponsel. Entah karena radiasi atau apa (sori, saya lupa), ponsel itu kemudian membunuhnya dalam tidur…sampai kondisinya cukup ‘mengerikan’ untuk dilihat.

Reaksi anggota grup beragam. Saya langsung ditegur sesama admin. Reaksi saya? Ya, minta maaf dan buru-buru menghapus postingan seram tersebut. Masalah selesai. Nggak perlu pakai gengsi, apalagi bikin drama segala.

Selain itu, saya juga bisa belajar untuk lebih peka. Biar katanya ‘bebas dan santai’, belum tentu semua orang di dalam grup nyaman dengan postingan kita.

Lagipula, sebagai salah satu admin, harusnya saya bisa kasih contoh lebih baik.

“Ya, ‘kan nggak semua orang bisa gitu.”

Ya, ya, ya. Buktinya, selang beberapa tahun kemudian, giliran saya yang nggak tahan dan memilih keluar dari satu grup WA lain. Alasannya? Saya paling benci dan nggak bisa toleransi dengan lelucon cabul dan seksis. Selain merendahkan perempuan, jatuhnya juga sangat menjijikan. Ajaib kalau sesama perempuan masih bisa tertawa dan menganggapnya lucu. Lebih aneh lagi bila pelakunya mengaku masih beragama dan merasa masih menghargai perempuan.

Karena sudah menegur berkali-kali dan malah dikatain ‘baperan’ (celakanya, sama sesama perempuan lagi!), saya pun keluar. Kalah suara. Mau bagaimana lagi? Ngotot juga percuma. Ibaratnya berusaha merobohkan tembok beton dengan teriak-teriak. ‘Kan konyol jadinya.

Beberapa tahun kemudian, saya melihat contoh yang lain. Dalam grup WA komunitas bisnis, ada satu anggota yang hobi posting hal-hal yang sama sekali nggak relevan. Contoh: lelucon seksis (lagi-lagi, ugh!) Kalau postingannya seputar tips berbisnis, promo produk, hingga dunia digital, mungkin masih nggak masalah.

Memang sih, maunya komunitas bisnis ini sedikit santai. Namun, judulnya aja juga ‘bisnis’. Pastinya tetap ada aturan tidak tertulis yang sebaiknya diikuti. Demi kenyamanan bersama-lah.

Sebelumnya, sudah banyak yang menegur dan mengeluhkan anggota yang satu ini. Puncaknya terjadi pada satu malam, orang yang sama posting foto kasus penculikan dan penganiayaan anak, plus himbauan kepada para orang tua agar lebih waspada dalam menjaga anak-anak mereka.

Info penting? Ya. Sebenarnya juga nggak masalah. Yang jadi masalah, dia lupa memburamkan (blur) atau kalau bisa menghilangkan foto korban sekalian. Bukan apa-apa, nggak etis aja. Selain menyebarkan wajah asli korban, foto anak malang itu juga tampak…’nggak keruan’. Luka-luka mengenaskan bekas siksaan.

Hasilnya? Banjir protes lagi. Ini tegurannya masih baik-baik lho, nggak pakai caci-maki.

Singkat cerita, orang yang kena tegur itu langsung marah. Bukannya minta maaf, dia malah menyebut seisi grup sebagai sekumpulan orang-orang cengeng sama info penting. Habis itu, dia langsung keluar. Begitu saja.

Kembali, reaksi anggota grup lainnya beragam. Ada yang sepakat dengan para penegur: orang itu memang harus diingatkan. Padahal, dengan meminta maaf saja, masalah selesai. Nggak perlu pakai drama dan yang lain masih tetap menghargainya sebagai manusia dewasa.

Ada yang terang-terangan membela si pelaku, namun untungnya kalah suara. Katanya,orang itu seharusnya tidak di-judge sedemikian rupa. Padahal, jelas-jelas yang dipermasalahkan kelakuannya, bukan keseluruhan dirinya sebagai manusia.

Hmm, sepertinya masih ada yang harus belajar menerima kritikan dengan cara yang lebih bijak.

Ada juga admin yang mencoba mendamaikan. Memang bukan pekerjaan mudah, mengingat tidak semua orang bisa disenangkan dengan cara yang sama.

Menyenangkan semua orang juga butuh keajaiban. Mengapa? Hal itu sama mustahilnya dengan berharap saya kehilangan 20 kg bobot tubuh saya dalam semalam. (Judulnya sekalian taruhan nyawa kalau sampai kejadian. OGAH.)

Dari satu grup WA ke grup WA lainnya, saya belajar. Saya sudah pernah berbuat kesalahan dan untungnya masih cukup berbesar hati saat ditegur. Saya juga terpaksa mengalah saat menjadi minoritas yang tidak didengar, meskipun hingga kini masih yakin saya benar.

Ada yang memang merasa bahwa seluruh dunia berpusat pada mereka. Jangan heran bila mereka akan selalu minta dipahami dan dimaklumi, bahkan dalam skala grup WA sekali pun. Orang lain keberatan? Mana peduli.

Ada yang masih memperhatikan etiket di grup WA. Bukannya muna atau enggan jadi diri sendiri. Semua ada batasnya. Nggak ada salahnya bila peduli dengan kenyamanan orang lain.

Kalau nggak suka? Keluar juga pilihan. Namun, alangkah baiknya bila kita masih bisa berpamitan dengan sopan. Nggak perlu pakai drama, apalagi sampai menghina segala.

Jadi, tipe anggota grup WA yang seperti apa Anda?

 

R.

 

“RINDU?”

“RINDU?”

Rindu?

Ah, gengsi aku

Untuk apa bilang begitu?

Bisa-bisa harga diri runtuh

Tapi, warasku juga jauh dari utuh

 

Duh, rindu

Kenapa harus ada itu?

Kenapa pula kita harus begitu jauh?

Padahal, bisa saja semua ini ilusi semu

Kata mereka, harusnya aku lebih tahu

 

Ah, aku benci dengan rindu

Paranoia ibarat langit kelabu

Bagaimana kalau jenuh,

lalu ada yang tergoda untuk…selingkuh?

Huh!

 

Haruskah aku malu

gara-gara rindu?

Apa kutepis saja gengsi itu,

agar dia tahu?

Lalu?

 

Ah, sudahlah

Setidaknya biar dia tahu

Mungkin dia juga rindu

Semoga dia tidak menertawakanku

agar aku segera bangun dari khayalan semu

 

Mana kutahu?

Ah, yang penting bilang dulu.

 

R.

(Jakarta, 12 Januari 2018 – 17:45)

 

 

“SAKIT? CEK DULU DI DOKTERBABE.COM”

“SAKIT? CEK DULU DI DOKTERBABE.COM”

Tinggal di kosan seorang diri sembari bekerja memang seru. Rasanya hidup jadi lebih mandiri, meski bukan berarti bebas banget juga, ya. Yang pasti, saya juga jadi belajar lebih bertanggung jawab sama diri sendiri, terutama dalam hal kesehatan tubuh.

Meskipun keluarga masih tinggal di kota yang sama, ada rasa enggan untuk selalu merepotkan mereka. Misalnya, selain nggak mau kembali jadi anak manja, rasanya percuma juga keluar dari rumah. Apalagi, seharusnya Mama yang diurus, bukan Mama yang masih mengurus anak-anaknya.

Meskipun termasuk agak ringkih karena gampang kena migren saat kelelahan, saya paling malas langsung ke dokter. Selain mahal, ada kalanya saya suka parno sendiri dengan diagnosis dokter.

Namun, berhubung bukan dokter, saya nggak mau sok tahu. Salah-salah, bukannya cepat sembuh, malah tambah parah. Bila kebetulan saya sudah pernah menderita migren dan tahu cara mengobatinya, saya cukup banyak minum air putih, istirahat yang cukup, dan tidak mengonsumsi makanan ber-MSG. Selain itu, saya juga suka baca-baca artikel kesehatan online seperti 5 Penyakit di Balik Sakit Kepala Belakang.

Tapi kalau sakitnya nggak kunjung reda, barulah saya beneran ke dokter. Minimal saya baca-baca dulu artikel kesehatan online untuk mencari diagnosis gejala yang mirip. Kalau pun ternyata tebakan saya salah, yang penting sudah lebih waspada dari awal – sekaligus menambah pengetahuan tentang kesehatan.

Nah, untung aja sekarang udah ada blog DokterBabe.com . Saya yang tadinya nggak gitu peduli sama kesehatan tubuh jadi lebih aware, meski tanpa harus jadi parno. Misalnya: bila gusi bengkak, dicari dulu kira-kira penyebabnya. Bila ternyata memang harus ada geraham bungsu yang dicabut, barulah saya ke dokter gigi.

Memang, DokterBabe bisa dibilang pertolongan pertama terkait pengetahuan tentang kesehatan. Berbagai tips kesehatan, mulai dari menu diet hingga cara mengobati diri sendiri, dijamin aman untuk diikuti. Selain itu, kita jadi lebih aware sama kesehatan tubuh kita. Mau langsung konsultasi sama DokterBabe? Bisa juga. Gratis lagi.

Sakit? Yuk, cari penyebabnya dulu di DokterBabe.com . Apalagi, desain yang berwarna-warni ceria dan nggak terlalu kaku bikin blog portal ini makin enak dibaca.

“BAHASA EGO-MU”

“BAHASA EGO-MU”

Tak perlu pamerkan usiamu,

kecerdasan, atau apa pun yang kau mau

Mungkin kau sudah terbiasa

berlaku seenaknya

tanpa peduli ada yang tak suka

apalagi sampai terluka

 

Kadar kedewasaanmu akan tampak

saat kritikan wajar buatmu tersentak

lalu kau menuduh mereka galak

sebelum pergi begitu saja

seperti anak manja yang marah dan kecewa

ngambek luar biasa…

 

R.

(Jakarta, 21 Januari 2018 – 14:45)

 

[BLOG COMPETITION]: “ASUS AMD – Laptop for Everyone”

[BLOG COMPETITION]: “ASUS AMD – Laptop for Everyone”

Meskipun masih berfungsi, akhir-akhir ini saya lagi khawatir banget sama laptop lama saya. Kenapa? Kadang terlalu lama menggunakannya, laptop lama-lama suka panas. Nggak hanya itu, kadang suka keluar bunyi aneh dari perangkat keras (hard drive) –nya.

Oh, ya. Sebelumnya kenalkan dulu. Nama saya Ruby dan bekerja sebagai pengajar Bahasa Inggris untuk kelas online, penulis konten lepas, dan penerjemah lepas. Ada kalanya saya juga nyambi jadi seorang copywriter. Mencari inspirasi di medsos sudah jadi kerjaan sehari-hari.

Nah, bisa dibayangin deh, seberapa sering saya harus pakai laptop. Belum lagi pas ngobrol-ngobrol di chatroom, entah pake voice chat atau video chat. Pastinya butuh waktu yang nggak sebentar, apalagi kalo sama klien. Hehe. Saya juga suka nulis blog (makanya ini blog saya).

Nah, berhubung ada kekhawatiran laptop ini ‘kecapekan’ lagi (sampai sempat harus direparasi dua kali), saya mutusin buat berburu laptop baru lagi. Namun, apa daya, budget belum tersedia. Jadilah saya mencoba peruntungan saya dengan lomba menulis blog untuk ASUS AMD – Laptop for Everyone.

Karena pekerjaan saya lebih banyak melibatkan tulis-menulis dan berinteraksi lewat chat platform, pilihan saya jatuh pada ASUS X555QA. Laptop seri ASUS X yang baru rilis tanggal 16 Desember 2017 kemarin ini nggak cuma terjangkau, namun performanya oke banget dan sesuai kebutuhan.

Desain ASUS X555QA

Dari segi desain, ASUS X555QA sih nggak terlalu aneh-aneh. Biasa aja. Karena lebih peduli fungsi, saya nggak masalah. Laptop ini kelihatan kokoh (meski jika mendapatkannya, saya nggak akan membantingnya untuk ngetes. Hahaha, gila apa?)

Meskipun kelihatannya gede dan cukup padat, ternyata ASUS X555QA nggak seberat tampak luarnya. Layarnya sih, 15.6 inci. Dimensinya 328 x 256 x 25.8 mm, tapi beratnya cuma…2,3 kg. Serius. Terus, papan ketiknya (keyboard) juga ada numpad di bagian kanan.

Fitur ASUS X555QA

Jujur, ada kalanya saat lagi kerja, kebosanan melanda. Jadinya, kadang saya nulis sambil dengerin musik, entah lewat playlist di laptop (yang isinya nggak seberapa), YouTube, SoundCloud, hingga baru-baru ini Spotify. Kalo acara TV lagi nggak asyik, saya lebih milih nonton film-film pendek di YouTube.

Makanya, resolusi layar 1366 x 768 pas banget buat kebutuhan saya. Warna-warna gambar yang dihasilkan cerah, tapi tanpa harus menyakitkan mata. Pokoknya nggak kelewat gelap maupun bikin silau. Terus, masih ada 1 port USB 2.0, satu lagi yang 3.0, hingga optical disk drive untuk super multi DVD.

Apa sih, ribetnya kalo punya lebih dari satu pekerjaan? Yap, file yang menggunung dan kadang suka bikin laptop crash. Udah dua kali hal ini terjadi sama laptop saya, makanya saya usaha mendapatkan laptop baru. Bisa nangis nanti kalo file kerjaan penting pada hilang semua.

Nah, laptop ASUS X555QA ini punya kapasitas RAM sebesar 4 GB dan 8 GB. Penyimpanannya sendiri berkapasitas 1 TB dengan perangkat HDD. Jadi, saya bisa simpan semua lesson plan, draf tulisan, hingga urusan terjemahan di dalam laptop sekaligus. Oh, ya. Sama playlist lagu-lagu favorit saya juga ada.

Kebetulan, saya bukan seorang online gamer. Memang kadang sesekali saya suka main online game, terutama untuk mengusir jenuh sejenak selama jam kerja. Namun, saya nggak akan lantas bela-belain save semua online game yang saya suka di laptop saya. Bisa nggak kuat dan crash lagi nanti.

Hmm, berhubung saya lebih sering menggunakan laptop di kamar kos, kantor, dan kadang-kadang kafe, daya tahan baterai yang kurang bagus mungkin masih bisa diakali. Yang penting sih, laptop ASUS X555QA bisa memenuhi kebutuhan saya sebagai pekerja fulltime sekaligus penulis dan penerjemah lepas.

Tentu saja, di luar semua pekerjaan saya yang bisa dibilang sudah banyak (sampai-sampai banyak teman yang bilang: “Elu gak ada capek-capeknya, apa?”), saya juga masih meluangkan waktu untuk menulis. Ya, entah itu puisi, fiksimini, cerpen, hingga artikel pendek.

Banyak keluarga, teman, dan kenalan lain yang juga tahu saya pernah menulis satu novel. Hmm, semoga dengan adanya ASUS X555QA, saya akan semakin semangat menciptakan karya-karya tulis berikutnya.

Artikel ini diikutsertakan pada Blog Competition ASUS AMD – Laptop For Everyone yang diselenggarakan oleh bocahrenyah.com

“INIKAH TAHUN YANG TEPAT UNTUK CINTA?”

“INIKAH TAHUN YANG TEPAT UNTUK CINTA?”

Inikah tahun yang tepat untuk cinta?

Wajar aku bertanya

setelah menyimpan banyak cerita

yang lama dan penuh luka

 

Katanya: “Cobalah.”

Di sana dia menanti

terbukanya pintu ini

agar dia yakin menghampiri

 

Inikah tahun yang tepat untuk jatuh cinta?

Aku masih takut hati ini kembali patah

Jiwa ini kembali terkapar kalah

Sumpah, aku muak dan lelah

dengan hasil serupa – atau malah lebih parah

 

Kata mereka,

kali ini aku harus kembali percaya

Mungkin dia orangnya

Kata mereka,

aku pun berhak bahagia

 

Inikah tahun yang tepat untuk cinta?

Bila ya, bolehkah aku meminta?

Semoga kali ini aku cukup berani

membuka pintu ini

apa pun hasilnya nanti…

 

R.

(Jakarta, 1/1/2018 – 7:00 pm)

 

 

“7 CARA MEMASTIKAN TEMAN ONLINE BUKAN SCAMMER”

“7 CARA MEMASTIKAN TEMAN ONLINE BUKAN SCAMMER

“Hati-hati. Jangan-jangan dia scammer.”

“Halah, baru dirayu gitu aja udah klepek-klepek. Gimana ntar pas ketemu? Alamat elo gampang ditipu.”

“Orang mah, bisa ngomong apa aja di internet kalo mau. Elo harus bisa milah-milah kalo gak mau jadi korban juga.”

Sering banget dengar ucapan-ucapan skeptis di atas, saat tahu Anda punya teman online yang belum pernah Anda temui? Mungkin rasanya agak kesal, ya. Selain seperti berusaha merusak kebahagiaan pribadi, sekilas ada perasaan tertohok karena seperti dianggap…bodoh.

Meskipun cara mereka agak ketus, sebenarnya mereka peduli. Nggak apa-apa, sih. Apalagi, kasus penipuan lewat internet bukan berita baru lagi. Mulai dari permintaan titip barang dengan sejumlah uang transferan hingga…perdagangan gelap manusia. Hiiih!

Tapi, apa iya semuanya harus berakhir setragis itu? Ada juga kok, yang ketemu sahabat baik dan jodoh lewat internet. Banyak lagi. Biar nggak keburu parno dan langsung antipati, ada tujuh (7) cara untuk memastikan teman online Anda bukan seorang scammer:

  1. Biasanya, lebih aman kenalan di grup online komunitas tertentu daripada sekadar random chat.

Bukan berarti semua yang di random chat punya niat nggak bagus, ya. Kalau masih khawatir, mendingan lewat grup online komunitas tertentu saja. Contoh: klub penulis atau blogger. Biasanya sih, mereka menggunakan nama asli dan lebih jujur.

2. Mulai dari diri sendiri: jangan baperan alias terlalu berharap.

Ingat, dunia nyata beda sama film roman favoritmu. Jangan gampang percaya sama konsep basi bernama “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Semua perlu proses, bahkan termasuk cara bikin mie instan sendiri. Jalani saja dulu. Apa pun hasilnya nanti, kamu harus berani memutuskan: mau lanjut apa udahan?

3. Pakai nama asli dan nggak ‘sok misterius’.

Dari mana bisa tahu nama mereka asli? Nah, ini cukup tricky. Yang pasti, kalau mereka pakai nama alias – bahkan yang alay – siap-siap hengkang aja. (Lagian kok seleranya gitu?) Apalagi kalau mereka ogah kasih nama asli, tapi menuntut Anda yang harus jujur sama mereka.

Silakan memanfaatkan mesin pencari Google dan sejenisnya, termasuk media sosial. Kalau nama mereka ‘pasaran’, cocokkan dengan cerita mereka untuk mendapatkan info tambahan.

4. Perhatikan tata bahasa mereka saat

Yang amatiran pasti bohongnya parah dan cepat ketahuan (terutama bila Anda sangat teliti.) Contoh: ngaku lulusan S2 dan dari luar negeri pula, tapi tata bahasanya berantakan saat chatting. Ngaku pernah lama di satu negara, tapi bahasa negara tersebut saja tidak tahu.

5. Berani video chat dan cukup sering.

Sekarang teknologi sudah lebih enak. Kalau dulu masih bisa pakai ID dan foto profil palsu. Sekarang sudah susah mengelak kalau dimintai video chat. Saat berinteraksi lewat media ini, Anda bisa menilai sendiri: mereka beneran mau jadi teman (atau pacar, misalnya) atau iseng doang?

6. Nggak pernah minta full ID atau menitipkan kiriman nggak jelas.

Nah, kalau ini modus khas andalan scammer. Minta data lengkap Anda, tapi nggak jelas buat apa. Mendadak mau menitipkan kiriman dari luar negeri, tapi entah kenapa bisa tertahan di bea cukai Malaysia. Anehnya, paket tersebut baru bisa disebut bila Anda mau mentransfer-

Ah, sudah pada tahu, ‘kan? Anggap saja tulisan remeh ini sebagai pengingat.

7. Minta tolong teman-teman yang berbakat ‘intel’ untuk diam-diam menyelidiki si teman online ini.

Masih takut juga? Saatnya mengambil langkah ini, apalagi bila si teman online sudah fixed mau mengunjungi Anda. (Lengkap dengan screenshot bukti tiket penerbangan, jadwal kunjungan, dan lain sebagainya.) Misalnya: teman yang berprofesi sebagai jurnalis, jagoan IT, hingga yang kebetulan tinggal di tempat yang sama dengan si teman online. (Siapa tahu juga ternyata mereka saling kenal.)

Sisanya? Tinggal berdoa dan berharap yang terbaik. Kalau mau ada yang menambahkan, boleh sekali.

Waspada dan hati-hati wajib. Sampai parno dan mencurigai semua orang yang mengajak kenalan lewat online sebagai scammer, kayaknya jangan sampai segitunya, deh. Kita nggak pernah tahu apakah mereka suatu saat akan membawa manfaat bagi kita.

Bahkan, kalau masih mau pakai mindset begitu, sebenarnya Anda sendiri juga bisa kok, berpotensi sebagai scammer. Cuma, apa untungnya, sih?

R.

“KUBURAN TUAMU DI ALAM MIMPIKU”

“KUBURAN TUAMU DI ALAM MIMPIKU”

Ada mimpi aneh tentangmu

Kita di lahan terbuka

saat kau berkata:

“Di sinilah kukubur

sisa-sisa diriku yang dulu.”

 

Maka menggalilah kau

dengan separuh tenaga

dengan potongan kisah

yang tumpah-ruah

dari mulutmu yang terengah

sementara sisanya tersimpan

terpendam dalam-dalam

di bawah tanah.

 

Hampir selesai,

perlahan kau berhenti

Kupinta kau campakkan sekop itu,

saat kulihat gemetar lengan kekarmu.

 

“Tidak usah,”

kuyakinkan kamu

yang kini berekspresi beku.

“Aku tidak perlu melihatnya hari ini.

Toh, aku masih di sini.”

 

Ingin kuraih tanganmu,

namun aku kembali terbangun di kamar tidurku…

 

R.

(Jakarta, 3/1/2017 – 14:38)

 

“RAGAM MAKNA DIAM”

“RAGAM MAKNA DIAM”

Sudah lama saya tidak menulis di sini. Jujur, saya kangen. Kesibukan baru saya akhir-akhir ini memang membuat blog ini lama terbengkalai.

Jadi, mengapa tahu-tahu judulnya “Ragam Makna Diam”, seperti yang saya tulis di atas? Apakah saya sedang ingin ngambek dengan seseorang?

Haha, tebakan standar, bukan? Diam pasti memendam dendam…atau minimal ngambekan. Mungkin saya sudah pernah menulis hal ini.

Banyak yang mengartikan diam sebagai ngambek atau marah. Lagi musuhan? Daripada segera menyelesaikan masalah, mending diam-diaman saja. Antara malas ribut, gengsi, atau memang ingin menyingkirkan mereka dari hidup Anda dengan segera. Pokoknya, tunggu mereka yang harus ngomong duluan. Jangan sampai kalah.

Padahal, bisa saja sebenarnya Anda yang salah. Buat yang nggak mengagungkan gengsi dan harga diri – serta masih menganggap pihak lain berharga, mereka akan menganggap diam-diaman begini sebagai sifat kekanak-kanakan.

Ada yang memilih diam dengan alasan lebih bijak. Bisa saja, mereka selalu mendebat yang sama dan pakai ngotot pula. Intinya, Anda harus mengakui mereka benar dan Anda (serta orang lain) selalu salah, barulah mereka berhenti merongrong seperti anak kecil yang tengah merajuk. Bikin malas, ‘kan? Daripada buang-buang tenaga, mending diam. Toh, masih banyak pekerjaan lain yang lebih penting.

Ada yang diam karena sedang lelah, sakit, atau mungkin juga muak. Ada juga yang tidak perlu alasan. Kalau memang lagi ingin diam, terus kenapa? Banyak yang lupa bahwa kadang diam itu masih jauh lebih baik daripada banyak bicara, namun ucapannya sama sekali nggak berguna. Bikin sakit hati atau sumber berisik saja.

Lagipula, diam pun seharusnya juga bisa dinikmati. Dua orang yang sudah sangat dekat biasanya sudah tidak perlu (terlalu) banyak bicara lagi.

Bagaimana dengan saya? Buat saya, diamnya seseorang kadang mempunyai keuntungan tersendiri, seperti:

  1. Nggak perlu dicerewetin orang lain terus (apalagi untuk masalah yang itu-itu lagi), jadi saya bisa konsen ke hal lain yang lebih penting. (Percayalah, menulis pun butuh ketenangan.)
  2. Saya bisa memperhatikan “hal-hal yang tidak mereka katakan”, padahal sebenarnya sangat ingin mereka ungkapkan. Kadang mata, ekspresi wajah, sama gerak tubuh suka nggak sinkron dengan ucapan mereka.

Bagaimana dengan Anda? Yang mana arti diam Anda?

Semoga di tahun 2018 nanti, kita semakin bijak dalam berucap – dan tidak selalu menghindari masalah dengan bungkam seribu bahasa…

R.