“1 AGUSTUS 2016”

“1 AGUSTUS 2016”

Pagi selalu cocok untuk secangkir kopi

sambil membaca berita hari ini

atau tumpukan pesan untuk diri…

 

…termasuk dari sosok yang tak tahu diri

si penyebab sakit hati

kini ingin bertemu kembali

 

Ah, pagi yang cocok untuk pahitnya kopi

sembari menebalkan dinding hati

mengunci semua yang perlu dilindungi

Jangan sampai terluka lagi

 

Biarlah badai itu datang, asal jangan singgah

Usahakan segera enyah

Kalau bisa, sekalian sampai musnah

Jangan mau kalah

 

Selamat pagi, diri

Mari habiskan pahitnya kopi…

 

R.

(Jakarta, 4 Agustus 2016 – 22:00)

 

#StopTanyaKapan Kawin/Nikah

#StopTanyaKapan Kawin/Nikah

Nggak di acara keluarga, reuni teman-teman lama, sampai kadang sahabat sendiri…pasti ada saja yang suka nanya begitu. Apalagi bila sahabat yang tadinya sama-sama single, terus habis nikah langsung ikut-ikutan nanya. Variasi lain dari pertanyaan yang sama adalah: “Kapan nyusul?”

            Bahkan, orang yang nggak kenal-kenal amat juga sok ikut menasihati. Percaya deh, obrolan basa-basi, misalnya sama penjaga warung, yang tadinya nyantai bisa jadi bikin bete begitu mereka tahu status dan umur kamu. Kalo nggak ditanya, kadang pake sekalian diceramahin panjang-lebar.

Bukannya nggak mau nikah, tapi nggak mau melakukannya untuk alasan yang salah. Lagipula, nikah juga nggak bisa sembarangan. Jangan hanya karena diuber umur, demi menyenangkan orang lain (bahkan ortu sendiri, lho!), sampai alasan ‘kebelet’ lantas jadi gegabah. (Kalo dipikir-pikir, kenapa nikah sampai disamakan dengan ingin ke toilet segala, ya? Aneh.) Susahnya? Mau secuek dan sekalem apa pun, ada saja mulut usil yang bikin gerah hingga naik darah. Didiamkan makin ‘jadi’, giliran kita marah yang usil malah enteng menuduh kita sensi. Maunya apa, sih?

Kalo hanya ditanya: “Kapan kawin?”, biasanya saya akan menjawab dengan nada separuh bercanda: “Tentu saja habis ijab kabul. Tapi nggak ada yang saya undang, ya!” Ya, iyalah. Masa saya harus ngundang penonton untuk melihat saya dan suami di malam pertama? Yang bener aja!

Kalo ditanya: “Kapan nikah?”, biasanya saya hanya menjawab: “Ya, doakan saja segera” atau sejenisnya. Apalagi, kebetulan kakak perempuan sudah menikah dan punya empat anak. Adik laki-laki juga sudah menikah dan sebentar lagi akan jadi ayah.

Saya sendiri masih melajang di atas usia tiga puluh. Apakah situasi ini terdengar sangat familiar?

Sayangnya, jawaban kalem versi saya kadang tidak cukup. Pasti ada saja yang lantas berusaha mencari-cari ‘cacat’ penyebab saya belum dilamar juga. Yang paling menyakitkan bila keluarga sendiri yang menyerang. Ada tante yang cukup kejam pernah berkomentar begini:

“Kurusin, dong. Kamu mau ‘kan, punya pacar?”

            Sadis banget, ‘kan? Ada juga tante lain yang bilang kalo saja saya berusaha seperti kakak saya (entah apa maksud beliau), mungkin saya akan lebih mudah mendapatkan suami.

Masih soal penampilan, cara berpakaian saya pun dikritik. Lucunya, saya sendiri nggak pernah usil sama gaya berpakaian yang mengkritik. Menurut saya, laki-laki kalo udah beneran cinta pasti nggak akan masalahin bila perempuannya nggak selalu mood ingin dandan. Namanya juga manusia biasa.

Soal kepribadian juga begitu. Ah, itu ‘kan relatif. Hayo, ngaku aja, deh. Pasti pernah bingung ‘kan, kenapa perempuan yang menurut kamu nggak cantik-cantik amat atau kelakuannya nyebelin, tapi malah bisa dapat pasangan yang ganteng dan baik hati. Padahal, bisa aja si laki-laki dikirim Tuhan untuk membuat perempuan itu lebih baik atau laki-laki itu melihat kebaikan lain si perempuan yang belum tentu kelihatan di mata kita.

Ada juga yang lantas langsung mempertanyakan kualitas ibadah si sosok yang belum menikah juga. Pernah dengar atau mengalami sendiri? “Kamu kurang ibadah, kali.” “Kamu pasti kurang puasa/beramal/berbuat baik sama orang/dan lain-lain.” Perkara benar atau salah, siapa juga sih, yang suka dituduh langsung seperti itu? Siapa yang nggak bakalan tersinggung, coba? Memangnya setiap usaha mereka mencari belahan jiwa harus dilaporkan ke kamu sebagai pembuktian belaka?

Intinya, peduli boleh. Jangan sampai menyakiti hati. Daripada selalu usil setengah-mati yang kemudian bikin rusak proses silaturahmi, lebih baik doakan saja mereka dengan baik setiap hari. Harusnya semudah itu. Nggak perlu pakai mem-bully.

Buat yang masih hobi nanya-nanya “Kapan kawin/nikah?” ke saya atau para perempuan lain yang masih lajang, saya ada saran jitu agar kamu nggak bikin orang keki. Selain rajin mendoakan saya dan para perempuan lajang lainnya agar segera dipertemukan dengan belahan jiwa atau diberikan yang terbaik oleh Tuhan, cobalah untuk mulai lebih banyak membaca buku. Jadi, pas kita ketemu, nanyanya nggak yang itu-itu melulu.

R.

(Tulisan ini disertakan untuk lomba menulis dengan tema: #StopTanyaKapan dari Vemale.com .)

http://www.vemale.com/hot-event/96726-lomba-menulis-stoptanyakapan-curahkan-isi-hatimu-di-sini.html

“REUNI SMA TANPA PERUT RATA”

“REUNI SMA TANPA PERUT RATA”

“Ugh…uugh…uuugghh…”

Ah, bedebah. Rok hitam, celana panjang hitam, dan jeans andalanku. Semua tidak ada yang muat. Bagaimana ini? Besok aku mau reuni. Sudah sepuluh tahun aku tidak bertemu mereka.

Sudah terbayang komentar-komentar sadis dan tatapan miris teman-teman SMA-ku dulu.

“Apa kabar? Makin gemuk aja!”

“Ah, dia mah, emang gak pernah kurus dari dulu.”

“Ini udah anak ke berapa?”

Grr…grrrh…grrrhh… Belum apa-apa aku sudah panas duluan. Bisa kubayangkan wajah-wajah mencibir Amanda dan geng para pesoleknya waktu SMA. Huh! Mentang-mentang aku chubby, aku selalu di-bully.

Kutatap bayangan perutku yang jauh dari rata di cermin. Ah, aku harus menyembunyikannya. Tapi, bagaimana caranya?

Apa aku tidak usah datang saja?

“I know what you’re thinking.” Suara bariton Ben mengagetkanku. Lelaki jangkung yang sudah hampir botak itu menghampiriku dan memelukku dari belakang. Kulihat wajah kami berdampingan saat sama-sama menatap cermin. Wajahnya tampak serius.

“Kalau aku temenin, kamu mau datang, ‘kan?”

—***—

Akhirnya, hari yang kutakutkan tiba juga. Mana Ben tetap keukeuh menemaniku ke Reuni 10 Tahun SMA-ku. Begitu deh, kalau kamu menikah dengan psikolog. Kata Ben, aku harus menghadapi semua hantuku di masa lalu, cepat atau lambat.

Iya juga, sih. Tapi…ah, kata orang masa SMA adalah yang paling indah. Bagiku mah, enggak. Sering di-bully, dikatai, diganggu sampai sakit hati. Amanda dan gengnya emang secantik Gadis Sampul, sih. Sayangnya, mereka juga merasa bahwa (dianggap) cantik berarti bisa suka-suka menghina orang lain. Cuih.

“Maaf.” Seorang perempuan tinggi dan…sangat gemuk, bahkan lebih besar dariku, menyenggolku tanpa sengaja. Aku dan Ben lirik-lirikan. Suamiku tersenyum sambil menggenggam tanganku. Hatiku sedikit lebih tenang.

“Damai! Oh, my God,” seru seorang perempuan kriwil gembira. Ternyata dia adalah Cherry, sahabatku waktu sekelas dulu. “Akhirnya kamu datang juga. Kamu cantik banget!”

Kami berpelukan. Kukenalkan dia pada Ben, suamiku. Cherry mengenalkanku pada Edo, suaminya. Kami juga bernostalgia dengan beberapa teman lama, sampai…

“Amanda!”

Deg. Jantungku berdegup lebih keras saat mataku mencari-cari sosok yang sempat menjadi momok masa remajaku.

Dan aku pun melihatnya. Sosok yang dipanggil Amanda itu balas menyahut. Dia adalah seorang perempuan tinggi besar dan sangat gemuk yang bertabrakan denganku barusan.

Oh…

R.

(Jakarta, 15 Juli 2016 – untuk Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Couchsurfing Jakarta: “Rata/Flat” di Setiabudi One, Kuningan – pukul 20:00)

(Ada juga di: http://csjakartawritersclub.blogspot.co.id/2016/08/reuni-sma-tanpa-perut-rata.html)

 

“SAAT ‘SEMOGA’ BERKISAH…”

“SAAT ‘SEMOGA’ BERKISAH…”

Percayalah…

Siapa pun dirimu

sendiri atau di tengah kerumunan

mereka yang barangkali bisa kau sebut teman

 

Pasti ada…

Pasti ada yang kerap luput dari matamu

sepasang mata yang sesekali memandang dalam diam

menyimpan rahasia, berupa sebuah kekaguman…

 

…berharap akan satu kisah…

Tak perlu yang luar biasa

atau pakem bak mitos “bahagia selamanya”…

 

…cukup satu kisah

Semoga cukup indah…

 

R.

(Jakarta, 2 Agustus 2016 – 16:00)

 

“TIPS BILA DIKEJAR ANJING DAN KENYATAANNYA”

“TIPS BILA DIKEJAR ANJING DAN KENYATAANNYA”

Ini mungkin traumatis bagi yang tidak suka anjing. Buat yang suka mungkin akan sedih, kecuali bila tahu cara menanganinya.

Saya mendatangi satu kantor untuk urusan pekerjaan. Setiap selesai sesi, saya selalu keluar dari gedung dengan perasaan deg-degan. Mengapa demikian?

Seekor anjing berbulu cokelat yang selalu mangkal di bawah mobil sedan hitam yang terparkir di luar rajin menyalak setiap saya lewat. Entah kenapa. Para ahli ‘sahabat manusia’ ini bisa berpendapat bahwa saya telah masuk ke dalam ‘wilayah kekuasaan’-nya. Jadi, si doggy merasa terancam dengan kehadiran saya. (Ya’elah, memangnya saya mau ngapain, sih? Ke sana saja juga cuma seminggu sekali!)

Selama dua kunjungan pertama, saya masih aman-aman saja. Cukup ikuti pepatah “anjing menggonggong, kafilah berlalu” secara harafiah. Serius. Saya hanya melenggang santai sementara si anjing ribut menyalak dari bawah mobil, terutama karena saya sudah diyakinkan pak satpam bahwa si doggy cuma ‘menang gertak’ doang.

Merasa aman-aman saja, kunjungan ketiga saya juga pakai cara yang sama selesai sesi pagi itu. Eh, di luar dugaan, si anjing tidak hanya menyalak – tapi mendadak juga keluar dari bawah mobil dan mulai mengejar. Meskipun belum pernah punya anjing sendiri, saya cukup tahu bedanya anjing yang hanya mengajak main dengan yang beneran ingin mengejar.

Ekor si anjing kaku, tidak bergerak-gerak.

Apakah saya tetap bersikap cool? Sayangnya tidak.

“WAAAAA!!”

“GUKGUKGUKGUKGUK!!”

“TOLOOONG…!!” Silakan bayangkan sosok chubby berbaju kantoran (lengkap dengan sepatu hak tingginya) berlarian di lapangan parkir kantor orang lain dalam rangka menghindari manuver agresif si doggy. Jangan heran bila saya kemudian sukses menjadi tontonan – hiburan gratis lebih tepatnya – pagi itu untuk para satpam dan tukang parkir. Ada yang tertawa, ada juga yang berusaha membantu. Sayangnya, saya keburu panik.

“Bu, tenang, bu…jangan lari…”

“WAAAAA, TOLOOONG…!!”

Untunglah, akhirnya salah satu satpam berhasil menangkap dan menahan si anjing – pas sebelum pipa celana panjang saya tersambar moncongnya dan saya nyaris loncat ke atas kap mobil terdekat. Maklum, refleks.

Si doggy berbulu cokelat yang sebenarnya tampak lucu itu (kalau tidak menyerang) baru diam menurut – dan dengan muka takut – setelah kepalanya dipukul sama pak satpam. Hiks, sebenarnya saya malah jadi kasihan melihatnya. Tapi, mau bagaimana lagi?

Meski gemetaran, saya masih bisa pulang sendirian. Sempat cerita-cerita sama beberapa teman. Saran-saran yang saya dapat rata-rata sama: jangan panik, jangan teriak, jangan lari, dan…jongkok. (Lho??)

Penasaran, akhirnya malam itu juga saya iseng Google mencari tips seputar tindakan bila mendadak dikejar anjing. Inilah yang saya dapatkan:

  1. Jangan lari.

Oke, berhubung mereka berkaki empat, larinya pasti lebih cepat. Kata orang, semakin kita lari, mereka akan semakin mengejar.

Kenyataannya: sumpah, tadinya saya beneran hanya mau jalan. Masalahnya, saya sama sekali tidak mengira bahwa si anjing bakal memberanikan diri keluar dari persembunyiannya dan mulai mengejar.

Selain itu, ada tiga skenario terburuk yang langsung menghantui benak saat itu:

  • Kalau digigit, saya harus disuntik anti rabies. Belum lagi air liurnya yang mengandung najis itu. Hiiih…
  • Kalau hanya celana yang digigit, alamat harus belanja yang baru. (Saya malas.)
  • Saya tidak mau sampai harus menyakiti si anjing, bahkan atas nama membela diri. Misalnya: menendang, menimpuk dengan batu, hingga mengayunkan tas ke kepalanya. (Kalau sesama manusia, lain cerita.)

2. Bersikap tenang.

Menurut sumber yang saya baca, bila kita bersikap cuek, si doggy bakalan bosan dan berhenti mengganggu.

Kenyataannya: gara-gara dua kunjungan pertama saya masih aman-aman saja, yang namanya kejutan pasti bakal bikin siapa pun kelabakan. Makanya, pepatah lama yang saya pakai di atas tadi harusnya ditambahkan sedikit:

Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Wahai, kafilah. Pastikan anjing itu tidak menggonggong sambil menghampirimu.”

3. Hindari kontak mata dengan si anjing.

Sama saja bila berurusan dengan tukang gencet di sekolah dulu. Semakin kita berani menatap, semakin kita diganggu.

Kenyataannya: hah, boro-boro! Dia di bawah mobil, kapan pula kita saling lihat-lihatan?

4. Klaim wilayah Anda.

Kenyataannya: apanya yang mau diklaim kalau saya hanya ke sana seminggu sekali?

Masih banyak lagi sih, tips-nya. Cuma, berhubung saya masih selamat – alias tidak sampai tergigit – jadi cukup sampai di sini saja.

“Sebentar, Ibu ke sini tiap hari apa saja?”

“Selasa, Pak.”

“Oke.”

Hmm, sepertinya mereka akan mengungsikan si anjing dulu setiap kali saya datang. Waduh, jadi makin nggak enak hati, nih. Tapi, kalau adegan kejar-kejaran pagi itu di lapangan parkir difilmkan, kira-kira masuk genre mana, ya? Jeritan saya sih, lumayan buat dipakai di film horor. Hehe…

Mungkin ada juga yang menganggap saya penakut. Ah, biarin. Memangnya mereka sendiri seberani itu? Belum tentu. Anggap saja saya diingatkan mahluk berkaki empat dan berbulu cokelat itu untuk mulai berolahraga. Jadi, lain kali…

Sebentar. Lain kali?

Nggak. Pokoknya nggak ada lain kali. Jangan sampai kejadian lagi.

Amit-amit!

R.

Sumber pendukung:

http://www.kompasiana.com/ervipi/10-tips-ampuh-ketika-kamu-dikejar-anjing_54f3a8d6745513992b6c7d65

eyeondna.com (Gambar)