“RUMAH DI UJUNG JALAN”

“RUMAH DI UJUNG JALAN”

Sekilas, rumah berlantai tiga di ujung jalan itu tampak suram. Tapi, kamu akan berubah pikiran bila melihat para penghuninya.

Satu keluarga tinggal di dalamnya. Ada suami, istri, dan kedua anak mereka. Pasangan itu masih tampak muda untuk ukuran orang tua dari dua anak yang sudah masuk sekolah dasar.

Sang suami, Adrian, adalah seorang jaksa penuntut yang sudah berhasil memenjarakan banyak pelaku kriminal. Dia laki-laki tampan berwajah ramah, dengan kerut samar yang muncul setiap dia tersenyum. Istrinya, Cara, adalah seorang ibu rumah-tangga sekaligus konsultan hortikultura dari rumah. Cantik, cerdas, dan kelihatan rajin merawat diri. Tipikal soccer mom. Rajin mengantar-jemput kedua anak mereka yang masih sekolah. Menyetir Pontiac Fiero tua yang masih bagus kondisinya, entah keluaran tahun berapa.

Kedua anak mereka ternyata kembar berusia delapan tahun. Yang laki-laki bernama Bryan dan yang perempuan Beth, mungkin panggilan dari ‘Bethany’ atau ‘Elizabeth’. Keduanya juga manis, baik dan ramah, meski Bryan lebih pendiam. Beth-lah yang rajin menyapaku setiap kali berpapasan.

“Hi, Mr. Franks.”

            Siang itu, kedua anak itu saling bergandengan saat masuk ke dalam rumah. Kuperhatikan mereka, sebelum masuk ke dalam rumah sewaku sendiri di seberang. Ada yang harus kuselesaikan…

—***—

“Jangan lupa. Tepat tengah malam.”

            Kubaca lagi SMS dari klienku dengan enggan. Lewat jendela, kuperhatikan rumah itu di ujung jalan. Tampak sepi dan tenang. Semua penghuninya pasti sudah terlelap.

Kulirik senapan otomatisku dan menghela napas. Mungkin kamu akan heran, kenapa baru kali ini rasanya berat menjalankan tugasku.

Untuk pertama kalinya, aku diminta ‘menangani’ satu keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak. Salahku, yang kali ini membiarkan diriku terlalu dekat dengan targetku sendiri…

(Untuk Tantangan Mingguan “Monday Flash Fiction” dengan Prompt#125: “Rumah di Ujung Jalan”)

 

“1 SEPTEMBER 2016”

“1 SEPTEMBER 2016”

Kau mencari yang dulu kau tinggal

Untuk apa?

Semoga kali ini kau terpental

menjauh untuk selamanya

 

Kau mencari yang dulu kau tinggal

seperti bocah mencari mainan lama

enggan menerima kenyataan karena bebal

Kau pikir kau istimewa

 

Percayalah, kau tak ingin memulainya lagi

Lebih baik kau pergi

Tinggalkan dia sendiri

Jangan bakar hatinya dengan memori dan rasa benci

 

Masih terus mencari?

Selamat berusaha

Semoga kau takkan pernah menemukan apa-apa

alias buang-buang waktu dan tenagamu saja…

 

R.

(Jakarta, 3 September 2016 – 18:30)

 

“DI MATAMU”

“DI MATAMU”

Di mataku, kamu sosok yang membingungkan. Ada kalanya kamu membuatku lelah, namun aku belum ingin menyerah.

Ada kalanya, kamu tersenyum ramah padaku, sama seperti pada semua orang. Bagiku, dunia menjadi lebih cerah berkat senyummu yang merekah. Tapi…ah, dasar sial. Aku takut kamu menganggapku gombal.

Siapa yang telah menyebabkanmu berpikir demikian? Mengapa sepertinya sulit bagimu untuk percaya akan tulusnya pujian?

Sesekali sorot matamu masih tampak jauh. Ada kalanya, kamu gagal menyembunyikan luka. Jika sedang begitu, senyummu berubah kaku.

Ada amarah dan pedih yang beku di matamu. Setiap ditanya, kamu hanya mengangkat bahu. Kadang kamu menggeleng dan menjawab: “Nggak apa-apa.”

Kusadari juga sikap beberapa temanmu. Ada yang bermata elang, menatapku curiga. Gerak-gerikku diawasi dengan sedemikian rupa, terutama saat berada terlalu dekat denganmu.

Mereka berusaha menjagamu, entah kenapa. Padahal, kuyakin kamu tidak serapuh itu.

“Sekalinya lengah, perempuan selalu lebih mudah dipermainkan,” ucapmu geram. “Begitu kalah, tetap perempuan yang akan selalu disalahkan!”

            Ah, pedihnya nada suaramu. Mungkin karena itulah, malam itu kamu begitu murka. Selepas acara pembacaan puisi dan cerpen yang kita ikuti setiap minggu, acara kumpul bersama berakhir bencana.

Aku menyesal. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin menciummu saat kita berdua sedang di dapur. Sentimental ala film Hollywood. Kamu langsung sadar dan mendorongku.

“Mundur.” Astaga, suaramu sedingin es. Tanpa menunggu responku yang sedang shock, kamu langsung kabur. Meninggalkan acara begitu saja, tak peduli panggilan dari teman-temanmu:

“Lho, Bri?? Kok pergi??”

— *** —

Kamu benar-benar marah. Tidak satu pun telepon dariku yang kamu jawab. Pesan WA dariku juga tidak kamu balas.

Kamu juga menolak duduk dekat denganku setiap acara mingguan itu. Kamu enggan menatapku. Bila terpaksa, kamu seperti menatap mahluk paling hina di matamu. Jujur, aku tidak tahan dianggap begitu. Sama tidak tahannya dengan mendengarmu berdebat dengan teman-temanmu sendiri soal aku. Suaramu meninggi, sarat oleh emosi:

“Okay, fine! Gue yang parno dan lebay kalo gitu, ya?”

            Aku harus tahu dari teman-temanmu mengenai yang pernah terjadi. Dari mereka, kutahu soal laki-laki itu. Sosok di masa lalu yang pernah menyakitimu.

Meski berhasil menciummu, setidaknya kamu takkan sudi membiarkannya memaksamu untuk melakukan yang lebih dari itu. Ini bukan masalah moral bagimu. Dia meminta terlalu banyak. Kamu sudah menetapkan pilihan dan laki-laki itu sama sekali tidak menghargaimu.

Rasa kagum sekaligus sedihku bertambah untukmu. Kagum, karena dengan tegas dan berani kamu menampik laki-laki sialan itu. Kamu bahkan tidak takut ditinggal pergi.

Sedih, karena kamu jadi takut bahwa laki-laki hanya mengincar tubuhmu. Aku tidak begitu…

— *** —

Kamu menerima buket mawar putih dan boneka beruang besar berwarna cokelat muda di depan pintu rumahmu. Ada amplop tersemat di antara tangan boneka. Kamu duduk di beranda depan dan membukanya. Suratku kamu baca.

Lalu, kamu hanya memeluk boneka itu. Ada tetes-tetes air dari matamu.

Diam-diam kuamati dirimu dari salah satu mobil yang diparkir di depan rumahmu. Kulirik kotak kecil dari beludru biru di tanganku.

Cincin ini bisa menunggu. Saat ini, aku hanya butuh kamu menerima maaf dariku. Aku akan sabar menunggu, hingga saat kamu bisa melihatku seperti ini di matamu:

Briana, aku bukan laki-laki itu. Aku bukan sosok yang mau menyakitimu…

            R.

            (Untuk tantangan menulis mingguan “Monday Flash Fiction” dengan prompt #124: “Di Matamu”.)

 

Menambah Keberuntungan Diri dengan ‘The Luck Factor’

Blogger Reporter Indonesia

 

Menambah Keberuntungan Diri dengan ‘The Luck Factor’ 

Oke, sebenarnya saya sudah lama ingin segera menulis hasil liputan saya bersama tim BRID  (Blogger Reporter Indonesia) pada tanggal 6 Agustus 2016 pukul 9:00 WIB kemarin. Namun, karena kesibukan yang super padat akhir-akhir ini, saya baru sempat menuliskannya. Maaf, ya.

Singkat cerita, apa yang kami dapatkan dari seminar “The Luck Factor” bersama Muchlis Anwar waktu itu? Ternyata resep-resep beliau sangat sederhana, namun sering sekali kita sepelekan. Pada dasarnya, keberuntungan tiap orang berbeda dan bukan karena Tuhan pilih kasih. Dari segenap usaha yang kita lakukan untuk meraih keberuntungan, sekitar 20 persennya adalah keberuntungan. Namun, keberuntungan itu akan hilang bila kita terlalu sering meracuni hati kita dengan perasaan cemburu atau iri dengan keberuntungan orang lain. Padahal, kita bisa kok, mendapatkan keberuntungan-keberuntungan yang kita inginkan. Mulai saja sering menerapkan faktor-faktor keberuntungan di bawah ini:

The Luck Factor #1:

Senyum adalah ibadah. Senyumlah dengan ikhlas, meski sedang ditimpa masalah. Ingat, kita bukanlah pusat dunia. Di luar sana, pasti banyak yang jauh lebih bermasalah daripada kita. Jadikanlah senyum itu sebagai kekuatan untuk berdiri tegak, tegar melalui cobaan, hingga membantu sesama. Tidak perlu mengemis perhatian dan rasa kasihan dari seluruh dunia. Justru, kita-lah harus jadi penyemangat pertama bagi diri sendiri, sebelum berusaha menyemangati orang lain.

The Luck Factor #2:

Sering berdoa? Baguslah. Untuk siapa? Diri sendiri? Jangan berhenti sampai di situ. Kenapa tidak mendoakan semua orang, alias tidak hanya yang kita kenal saja? Saya ingat, seorang kawan pernah berujar bahwa apabila saya rajin mendoakan kebaikan bagi orang lain, maka para malaikat akan balas mendoakan kebaikan untuk saya. Wuih, siapa sih, yang tidak mau didoakan kebaikan oleh ciptaan Tuhan yang paling setia pada-Nya?

Tapi, doanya harus ikhlas. Jangan diam-diam mengharapkan balasan. Bahkan, seluruh dunia tidak perlu tahu siapa saja yang kita doakan. Cukup kita dan Beliau saja.

The Luck Factor #3:

Banyak-banyaklah bersyukur, bahkan untuk hal-hal paling kecil (atau yang sering kita anggap remeh) sekali pun. Seperti: masih bisa bangun dan bernapas, makan dengan lahap, berjalan kaki ke sekolah/tempat kerja, dan sebagainya. Bahkan, tertimpa kemalangan pun juga bisa kita syukuri, karena selalu ada yang dapat kita pelajari darinya. Kita semua hanya manusia biasa. Tidak ada yang sempurna. Anggaplah itu sebagai pengingat.

The Luck Factor #4:

Buatlah orang lain merasa beruntung. Tidak perlu jauh-jauh. Misalnya: jangan suka menawar harga saat berbelanja dari pedagang kecil. Siapa tahu, kita adalah pembeli pertama dan satu-satunya sepanjang hari itu. Kita tidak pernah tahu, kan?

The Luck #5:

Dekatilah Tuhan. Jadikanlah ibadah sebagai forum komunikasi kita yang paling pribadi dengan-Nya.

Semoga hasil seminar di atas berguna.

R.