“TIDAK SUKA?”

“Tidak Suka?”

Bagimu, aku terlalu banyak bicara

meski berupa tulisan di social media

Ah, bukan aku satu-satunya

Sadar atau tidak, kamu juga sama

 

Bagiku, aku punya hak serupa

Sungguh, tak perlu kau baca semua

bila memang tidak suka

Toh, manusia tinggal memilih saja…

 

R.

(Jakarta, 22 November 2016 – 11:00)

 

“Kata Siapa Netral Selalu Aman?”

“Kata Siapa Netral Selalu Aman?”

“Gue nggak mau ikutan. Netral aja, deh.”

Sering banget dengar komentar seperti itu? Jangan-jangan Anda sendiri juga suka ngomong begitu.

Sebenarnya, salah nggak sih, kalo seseorang pengennya netral atau nggak mau memihak dua atau lebih kubu yang tengah bertikai? Misalnya: dua sahabat Anda bertengkar dan – alih-alih diminta mendamaikan – Anda malah diharapkan untuk memihak salah satu? Apalagi bila kebetulan, identitas Anda berkaitan erat dengan identitas salah satu pihak. (Satu sekolah, satu perkumpulan, atau…seagama, mungkin?)

Banyak yang memilih untuk bersikap netral dengan alasan untuk mencari aman. Tapi, kata siapa netral selalu aman? Pasti masih ada yang akan mengusik Anda perihal pilihan sikap ini.

Anda hanya ingin damai. Bagi mereka, Anda pengecut dan munafik. Akhir-akhir ini memang lebih gampang dan cepat untuk saling menuding.

“Ah, elo pasti mihak mereka deh, makanya diem aja.”

Anda mungkin juga tidak peduli. Anda hanya ingin mengurus diri sendiri. Mereka mungkin hanya akan menganggap Anda egois. Padahal, sebenarnya diam bukan selalu berarti Anda tidak peduli.

Anda hanya ingin berusaha tetap rasional. Anda menganalisa masalah dari berbagai sisi, sesuatu yang mungkin sudah jarang sekali dilakukan banyak orang akhir-akhir ini. Apalagi bila mereka terlalu emosional, sehingga sulit untuk berpikir jernih.

Apa yang kesannya sederhana, sebenarnya bisa lebih rumit. Begitu pula sebaliknya.

Anda mungkin lebih memilih fokus untuk mencari solusi, ketimbang hanya memaki atau menuding sana-sini. Sudah terlalu banyak yang meramaikan perang opini. Apa gunanya Anda ikut (terlihat) melibatkan diri? Dunia akan semakin riuh sekali.

Ya, jika tidak bisa mengatakan hal yang baik, lebih baik berdiam diri. Anda bukan pengecut atau munafik, hanya enggan diperbudak oleh emosi. Wajar bila ada yang membuat Anda merasakan sakit hati. Namun, apa iya Anda harus selalu keras bereaksi?

R.

 

“SELEPAS BADAI PELURU…”

“Selepas Badai Peluru…”

Maafkan aku, Papa. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa.

Sudah lama aku terluka. Sejak Mama meninggal dan Papa semakin sibuk di kepolisian. Aku mengerti Papa sedih.

Tapi, sejak itu pula, kita tidak lagi banyak bicara. Memang, kita masih sesekali pergi berburu saat akhir pekan, kadang dengan Uncle Matt. Mama dulu suka protes dengan kegiatan kita.

“Frank, please. Freya bukan anak laki-laki.”

“Rhea, biarkan saja. Dia suka ikut berburu denganku.”

Mungkin yang ditakutkan Mama benar-benar terjadi. Aku tumbuh menjadi putri yang tomboy. Bahkan, saat beliau meninggal karena kecelakaan pun, aku berusaha tidak menangis di depan semua orang.

Tidak sepertimu, Papa. Namun, kali ini Papa menangis untuk alasan berbeda.

“Tolong, jangan bilang ini bukan ulah anakku. Bukan anakku, ‘kan?” Mata Papa merah, bengkak, dan basah saat melihatku dengan sorot pilu. Lalu, Papa menunjukku sambil berpaling, seakan jijik denganku. “Tolong, jangan bilang itu anakku.”

Papa? Hatiku sakit. Jauh lebih sakit daripada semua hinaan mereka di sekolah itu.

“Freya, kamu aneh. Freak banget!”

“Gembrot makan tempat.”

“Dasar pecundang!”

“Heh, Muka Jelek. Kenapa nggak mati aja, sih?”

Entah apa salahku, Papa. Aku hanya tidak mau diganggu. Papa pernah bilang, diamkan saja mereka. Sudah, namun mereka tidak mau berhenti. Aku juga sudah bercerita pada Mr.Brown, guru pembimbing sekolah.

Reaksi beliau juga sama saja, ditambah satu komentar menyakitkan: aku terlalu perasa. Mereka yang brengsek, aku yang salah karena marah? Beliau makan gaji buta, ya?

Oh, Papa. Berhentilah menatapku seperti itu. Berhentilah bertanya: “Kenapa, Freya?”

Kenapa? Kenapa??

Maaf, Papa. Aku sudah lelah. Aku muak dengan mereka semua. Mereka tidak mau diam. Padahal, aku tidak pernah mencari gara-gara.

Seharusnya Papa tidak lupa mengunci lemari senjata dan kotak pelurunya.

Maafkan aku, Papa. Aku harus melakukannya.

Hanya peluru yang akhirnya bisa mendiamkan mereka semua…

 

“SAAT JUMAWA BERTAHTA”

“Saat Jumawa Bertahta”

Ancamanmu begitu nyata

saat kau akhirnya di singgasana

Wahai, Sang Raja

Hati-hati dengan ucapanmu, Baginda

walau kau merasa seputih istana

 

Kau berharap tunduknya dunia

hanya karena kau begitu kaya

Kini kau makin berkuasa

merasa bebas semena-mena

Kau pikir kaulah segalanya

 

Coba tebak, ‘Yang Mulia’

Di mata-Nya, kau bukan apa-apa

Seperti kami yang bagimu bukan siapa-siapa

Nikmatilah jumawa

meski sementara

mumpung kau masih bernyawa…

 

R.

(Jakarta, 14 November 2016 – 8:30)

 

“PRIA PENUNGGU PANTAI”

“Pria Penunggu Pantai”

Selama beberapa hari di pantai itu, dia selalu di sana. Duduk di atas bukit berumput, memandangi lautan lepas. Tinggi dan tegap, tampak atletis dengan kaos putih dan celana kargo abu-abu tuanya.

Sebenarnya dia bukan tipeku, meski mungkin banyak wanita lain yang akan terpikat sosoknya. Wajah persegi, kulit coklat sempurna, alis tebal, hidung bangir, dan mata besar yang menyorot tajam bak elang.

Oke, dia lumayan tampan. Hari ketiga liburanku di sana, akhirnya tergoda juga aku. Bukan mendekatinya, meski memang aku naik ke bukit yang sama. Dudukku agak menjauh, sambil mengeluarkan buku sketsa dan peralatan gambarku dari dalam tas kanvas. Tak lama kemudian, aku memulai pada selembar halaman baru.

Tentu saja, karena bukitnya sepi, aku cepat ketahuan. Pria itu menoleh dan langsung tersenyum melihat yang sedang kulakukan. Malah aku yang salah tingkah.

“Lagi gambar apa?”

Kutunjukkan saja, meski malu-malu.

“Bagus,” pujinya tulus, meski yang terlihat di halaman itu baru garis dahi, hidung, bibir, dan dagunya. Aku senang sekali. “Terusin, dong.”

Aku menurut. Tidak butuh waktu lama sebelum kuperlihatkan lagi hasil akhir sketsa wajahnya. Pria itu tampak terkesan.

“Aku tersanjung,” ujarnya. “Terima kasih, ya.”

“Buatmu?” kutawarkan. Aku bahkan membubuhkan namaku pada bagian kanan bawah halaman: Artemia. Namun, pria itu menggeleng.

“Buatmu saja.” Saat membaca namaku, dia tampak kagum. “Namamu unik. Beda sama namaku.”

“Memang namamu siapa?”

“Raka.”

“Oke, Raka.” Kulihat sunset pertanda matahari sudah siap undur diri dari langit negeri ini. “Panggil saja aku Mia. Aku pulang dulu.”

“Hati-hati ya, Mia.”

Oke.” Baru saja aku berjalan beberapa langkah, ketika mendadak teringat ingin menanyakan sesuatu. Sayang, saat menoleh, Raka sudah tidak ada di tempat. Cepat sekali perginya.

Ah, sudahlah. Besok mungkin masih bisa ketemu lagi…

—//—

Aku memang masih sempat melihat Raka beberapa hari berikutnya, meski hanya saling melambai dari jauh. Sebenarnya ingin mengobrol dengannya lebih jauh, namun entah kenapa kuurungkan. Sepertinya dia tidak ingin diganggu dan aku juga bukan wanita yang mudah mendekati pria.

Hingga sore itu…

Baru saja aku melambai dan tersenyum pada Raka, ketika tiba-tiba terdengar jeritan ngeri dari pantai. Aku berbalik. Rasa ingin tahuku membuatku menghampiri kerumunan orang di sana. Mereka tengah mengelilingi sesuatu.

Dan aku pun melihatnya. Sesosok jenazah tenggelam yang terseret arus hingga ke pantai. Tubuhnya sudah sedikit biru dan bengkak, dengan kaos putih yang sudah kotor tercampur pasir.

Wajahnya…

Kupeluk tas kanvas isi buku sketsaku dengan jantung berdebar-debar. Kuarahkan kembali pandanganku pada puncak bukit, tempat Raka tadi berada.

Dia telah hilang. Pria penunggu pantai itu tidak lagi berada di sana…

 

“TENTANG PACARAN DAN #RELATIONSHIPGOALS”

“Tentang Pacaran dan #RelationshipGoals”

Sejak banyak yang meributkan si selebgram A atau B (berhubung sudah pada bisa nebak, saya nggak usah sebut nama, ya?), tagar #relationshipgoals kerap mampir di benak saya. Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, artinya ya ‘tujuan dari sebuah hubungan / relationship’.

Sebenarnya apa sih, #relationshipgoals itu? Apa biar bisa sekadar posting foto-foto super mesra di IG, hanya biar bisa dilihat semua orang? Apa biar banyak yang iri dan sirik, karena melihat kita bisa bersanding dengan cowok paling ganteng atau cewek paling cantik?

Apa yang penting kita bisa bebas memamerkan pacar kita ke seluruh dunia, hanya untuk menunjukkan bahwa kita punya alias ‘laku’?

            Mungkin saya mulai terdengar sinis di sini. Mungkin ada juga yang menganggap saya diam-diam sirik karena saat ini sedang tidak punya pacar. Terserah sih, saya nggak peduli.

Sebenarnya, saya nggak gitu suka mendengar pertanyaan “Udah punya pacar, belum?” atau “Mana pacarnya?” Kalau yang nanya kebetulan cowok yang tertarik sama saya atau ingin mengenalkan saya dengan seseorang, masih nggak masalah. Kalau hanya basa-basi? Malas. Apalagi bila begitu tahu jawaban saya ‘belum’ atau ‘nggak ada’, ada yang menjadikannya bahan lelucon atau malah langsung mencari-cari ‘cacat’ penyebab saya hingga kini belum punya pacar. Begitulah bila yang ditanya perempuan, terutama yang sudah di atas usia 25. Entah (dianggap) kurang cantik-lah, perkara berat badan-lah, cara berpakaian, hingga karakter dan kepribadian. (Meski untuk dua yang terakhir sepakat, saya juga ogah ‘memukul rata’ semua lajang sebagai sosok dengan ‘masalah kepribadian’, karena ada saja tuh, sosok yang mungkin menurut Anda kelakuannya ‘enggak banget’ tapi bisa dapat pacar/pasangan.)

Tapi, lagi-lagi masyarakat suka labil dan nggak jelas. Nggak punya pacar, dibilang ‘nggak laku’ atau dituduh ‘kurang inisiatif mencari’. Giliran giat mencari, dikatain ‘desperate’ binti agresif.

Cowok punya pacar banyak (apalagi dalam waktu bersamaan, alias playboy) dianggap jagoan. (Entah gimana ceritanya kalau suatu saat dia berumah tangga dan punya anak perempuan.) Giliran cewek, langsung dikatain murahan.

Mungkin, karena itulah saya nggak begitu suka maupun peduli dengan konsep pacaran, terutama sekarang-sekarang ini. Capek juga denger mulut usil orang-orang. Buat saya, semua terserah keinginan dan keperluan masing-masing. Yang merasa perlu pacaran, silakan. Pilihan pribadi, tanggung jawab masing-masing. Nggak perlu saling usik, apalagi sampai mem-bully yang masih jomblo. (Jones = jomblo ngenes? Aduh, kok saya nggak ampe segitunya, ya?)

Yang masih jomblo juga biasa aja. Mungkin Anda memilih enggan pacaran karena ‘takut berzina’ atau ‘alasan-alasan lain’ yang hanya diketahui oleh Anda. Ya, nggak apa-apa. Nggak perlu mem-bully yang pacaran dengan sebutan ‘murahan’. Bisa kan, saling mengingatkan akan kebaikan tanpa harus pakai menghina segala? Sisanya ya, terserah mereka.

Jujur, saya lebih suka punya banyak teman, daripada satu pacar namun cemburuan dan hobi melarang-larang. Kalau pun ada celetukan soal tipe laki-laki idaman saat obrolan, nggak berarti lantas saya menutup diri dari yang di luar tipe itu. Asal sosok itu memperlakukan saya dengan hormat sebagai manusia setara, benar-benar sayang, setia, dan mau berjuang bersama untuk hidup yang lebih baik, kenapa enggak?

Jadi, apa #relationshipgoals saya? Sederhana, namun butuh perjalanan panjang dan usaha ekstra keras. Saat mereka bertanya tentang ‘si dia’-nya saya (siapa pun yang dikirim Tuhan nantinya), deskripsi saya tentangnya hanya satu:

“Dia juga sahabat saya…”

R.