“2016 – MENULIS DAN KOMUNITAS”

“2016 – Menulis dan Komunitas”

Apa arti 2016 bagi saya?

Banyak menulis dan ikut komunitas. Bahkan, bisa dibilang saya lagi getol-getolnya nemplok sana-sini, baik di dunia nyata maupun maya. Banyak ketemu wajah-wajah baru dan mengenal nama-nama baru.

Intinya, memperluas jaringan pertemanan…dan (semoga) bisnis. Saya masih baru di sini. Para freelancer (penulis dan blogger) yang sudah lebih dulu bergerilya di bidang ini telah menginspirasi dan membagikan tips kepada saya dengan amat murah hati. Tanpa mereka, mungkin saya masih clueless hingga kini.

Namanya juga belajar, perjalanan saya nggak bisa dibilang selalu mulus. Pernah gagal? Iya. Pernah mengecewakan orang? Sayang sekali juga demikian. Namun, saya memutuskan untuk tidak mudah patah arang dan menjadikan semuanya sebagai bahan pembelajaran. Bukankah pengalaman selalu guru terbaik?

Bisa dibilang, menulis adalah cinta sejati saya. Bahkan, saking cintanya, saya lebih senang menulis daripada mengobrol. Lagipula, menulis itu enak. Nggak akan ada yang dengan seenaknya memotong opini kita, berbeda dengan saat berbicara.

Lalu, bagaimana dengan hobi saya yang senang nemplok sana-sini, setiap ada komunitas yang membuat saya tertarik? Apalagi bila komunitas tersebut sesuai dengan minat saya.

Selain menyukai fiksi dan puisi, saya juga ingin menepis tuduhan miring yang pernah dilontarkan seseorang pada saya: saya nggak punya banyak teman, saya nggak bisa berteman, dan yang paling parah…saya terlalu tergantung sama satu teman. Agak konyol juga memang, mengingat sudah di kepala tiga, tapi masih juga mudah ‘termakan’ celaan orang yang nggak berdasar. Padahal, celaan itu keluar hanya karena orang itu kesal gara-gara saya nggak mau mengikuti maunya.

Ya, akhirnya saya berhasil membuktikan teori miring tersebut. Lagipula, saya juga bisa sendirian. Saya nggak melulu tergantung sama satu teman, meski mungkin dulu banyak yang melihat saya sering banget nongkrong sama satu teman tertentu. Ternyata saya bisa juga menambah teman, terutama karena saya yang memilih demikian. Saya memilih membuka pintu agar mereka semua bisa datang dan masuk ke dalam hidup saya. Ini sesuatu yang jarang sekali saya lakukan waktu remaja dan di awal usia 20-an.

Pada akhirnya, saya menyadari satu hal:

Saya melakukannya hanya untuk saya, bukan untuk membalas ucapan menyakitkan orang itu. Saya berhak bahagia. Meskipun mungkin orang yang sama akan tetap mencibir, menganggap bahwa semua orang itu juga belum tentu tulus mau berteman dengan saya, rasanya tidak masalah. Saya tidak peduli lagi. Selama niat saya baik dan tetap waspada, kenapa tidak? Kenapa harus selalu takut?

Kenapa harus (mudah) merasa bodoh bila ternyata saya melakukan kesalahan? Namanya juga belajar. Nggak ada yang berhak menuntut saya agar menjadi sempurna seperti versi mereka. Biarlah setiap manusia memperbaiki diri dengan cara dan kecepatan mereka masing-masing. Jangan kaburkan batas antara ‘peduli’ dengan ‘usil setengah mati’ lewat ucapan jahat. Nggak ada gunanya juga.

Makanya, saya sebisa mungkin nggak mau terlalu usil sama urusan pribadi orang lain. Cukup saling mengingatkan yang baik-baik, setelah itu terserah mereka.

Selalu membenci orang yang menyakiti kita memang selalu cara termudah. Mendoakan hal terburuk terjadi sama mereka juga bisa. Saya yakin banyak yang melakukannya. Saya dulu juga melakukan hal buruk tersebut.

Bila doa jelek kita terkabul, apakah kita lantas akan berbahagia karenanya? Senang di atas penderitaan orang lain, mungkin sama seperti orang yang pernah bahagia di atas penderitaan kita? Lalu, apa bedanya kita dengan mereka?

Bisa jadi, lama-lama kita akan semakin kesepian karena dijauhi banyak teman. Silakan menuduh mereka selalu enggan menerima kita apa adanya. Kenyataannya, bisa saja mereka khawatir bakalan kena giliran disumpahi bila gagal menerima target sempurna ‘sahabat sejati’ versi kita.

Tunggu sebentar. Benarkah kita sendiri sudah se-sempurna itu? Yakin?

Semoga semua yang pernah atau (sayangnya) masih hobi menyakiti orang lain dengan ucapan jahat (baik sengaja atau tidak) diberi kebahagiaan yang cukup. Ya, cukup banyak agar mereka tidak perlu lagi merasa harus menyakiti orang lain, hanya agar membuat diri mereka merasa lebih baik dan bahagia. Kasihan aja bila mentalitas mereka masih di situ-situ saja. Mandek dan nggak naik kelas.

Untuk menyambut tahun baru 2017, selamat berharap dan menggapai hal-hal terbaik untuk kita semua. Semoga berkah. Aamiin…

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *