“LIFESTYLE?”

“Lifestyle?”

Setiap orang punya kebiasaan masing-masing untuk mengisi hidup mereka dari hari ke hari. Ya, kegiatan suka-suka yang mereka lakukan. Karena sering, lama-lama jadi kebiasaan.

Kebiasaan itulah yang kemudian menjadi gaya hidup. Sebenarnya biasa saja, sih. Nggak gitu istimewa juga. Cuma diglamorkan dengan terjemahan bahasa Inggris, yaitu: lifestyle. Coba saja lirik majalah-majalah atau tabloid yang sampulnya warna-warni ceria itu. Lebih banyak yang memakai kata lifestyle, mengingat ‘gaya hidup’ agak kepanjangan.

Pernah ada yang menuduh saya nggak punya lifestyle. Haha, lucu sekali, bukan? Alasannya: saya nggak gitu suka nongkrong, main biliar, ke kafe, hingga minum-minum di bar. Kalau pun pernah beberapa kali terlihat di sana, itu pun karena diajak teman. Jarang-jarang. Kalau pun iya, nggak selalu sampai ikutan minum juga. (Dulu, sekarang udah enggak.) Biasa saja. ‘Kan berhak milih mana yang paling nyaman. Ngapain juga nyusahin diri sendiri, hanya untuk mengesankan orang-orang? Iya kalau mereka beneran teman. Kalau bukan?

Lucunya, yang menuduh saya nggak punya lifestyle dengan alasan yang sedemikian ceteknya itu sesama anak bangsa. Saya mah, ketawa saja. Apalagi pas dia dengan bangganya bilang bahwa lifestyle yang dia punya itu termasuk ngebir, main biliar, ke kafe atau bar, hingga clubbing. Kalau nggak gitu namanya bukan lifestyle.

Baiklah, terserah Anda, bung.

Buntutnya dia meminta nomor ponsel saya. Saya kasih…nomor bapak saya. (Haha!) Sori, bung. Lifestyle saya termasuk tidak memberi kesempatan laki-laki yang merendahan saya, tapi sebenarnya kelihatan banget nggak cerdasnya. Kasihan. Baca kamus dulu deh, mas. Silakan tanya guru Bahasa – Inggris dan Indonesia – kalau masih bingung juga. Bukan yang dulu hobi bolos sama tidur di kelas, ‘kan?

Haha, I know I’m bitchy kalau lagi kesal…dan saya percaya alasan saya masuk akal. Tapi rasanya berbeda dengan saat beberapa kali nongkrong di bar dengan teman-teman ekspat. Pas ada yang nanya apakah saya sering ke bar A atau pub B, jawaban saya selalu sama:

“I don’t normally do this.”

“I’m just observing.”

“I’m looking for an inspiration/story ideas.”

Respon mereka?

“Really? What do you normally do?”

“Let me guess. You’re a writer.”

Dari situlah obrolan berkualitas kemudian mengalir. Tentang buku, film, politik, sosial, hingga kelakuan orang-orang sekitar yang cenderung ‘ajaib’ – terutama setelah botol/gelas/pitcher ke sekian. Nggak ada yang saling merendahkan. Biasa saja.

Bukannya menggeneralisir. Hanya pengalaman pribadi.

Saya suka baca buku, terutama saat sendirian di kamar atau di kafe, dengan secangkir kopi di atas meja. Saya suka menulis (pastinya), menonton film, hingga menyanyi dan mengamati. Bagi saya, lifestyle setiap orang unik dan menarik. Selalu ada cerita yang bisa ditulis.

R.

(Jakarta, 11 November 2016 – Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Jakarta’s Couchsurfing dengan tema: “Gaya Hidup/Lifestyle”.)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *