“5 ALASAN DI BALIK PEMBERIAN KESEMPATAN KEDUA”

“5 Alasan di Balik Pemberian Kesempatan Kedua”

Mengapa Anda atau seseorang yang Anda kenal memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua, entah kepada sahabat yang pernah berkhianat atau mantan yang pernah mematahkan hati? Kelima (5) alasan di bawah ini bisa jadi berada di baliknya:

1. Masih ada rasa sayang dan keinginan agar orang itu tetap jadi bagian hidup mereka.

Terdengar sentimental memang. Beruntunglah bila Anda punya sosok seperti ini dalam hidup Anda, sebrengsek apa pun Anda. Bila Anda seperti ini, Anda akan dipuji sebagai orang berhati besar. Beruntunglah mereka yang memiliki Anda dalam hidup mereka.

Sayangnya, tipe ini juga dianggap lemah dan bodoh, karena mau saja terus-terusan dikerjai. Ibarat keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama, berkali-kali pula. Entah mereka yang selalu punya alasan di balik kebrengsekan sikap Anda atau Anda yang lagi-lagi terjebak pada ‘pesona lama’, hingga terancam ‘buta nalar’.

Saran: pernah dengar istilah ‘tough love’? Masih sayang sama mereka boleh, nggak ada yang berhak melarang. Bukannya mendendam, tapi ada baiknya mereka tetap diberi pelajaran yang bisa bikin mereka jera.

Jangan heran bila sikap mereka tidak lagi sama setelah kebrengsekan Anda yang ke sekian kali. Namanya juga manusia. Kadar kesabaran tiap orang berbeda-beda.

Jika Anda masuk ke dalam kategori ini, jangan lupa tetap memperhatikan diri sendiri. Jangan sampai terlalu sayang sama mereka bikin Anda malah merugi dan menumbalkan diri sendiri.

Cinta adalah pengorbanan sejati? Omong-kosong. Jika benar-benar sayang diri sendiri, justru jangan mau selalu diperlakukan seperti keset untuk membersihkan alas kaki. Lagi butuh dicari-cari, giliran kelar ditinggal seorang diri. Harus membersihkan ‘sisa-sisa kotoran’ yang mereka tinggalkan lagi.

2. Kesannya sudah memaafkan, padahal diam-diam ada agenda balas dendam.

Ini termasuk jenis yang menyeramkan. Ibaratnya ‘menghitung dosa’. Semakin banyak kesalahan yang dilakukan orang lain, semakin banyak catatan tertanam dalam ingatan mereka. Semakin lama mereka disakiti oleh orang yang sama, maka semakin marah mereka…meski dalam diam.

Ujung-ujungnya bisa ditebak: pembalasan dendam mereka bakalan lebih kejam.

Saran: Jangan keburu senang dulu bila mereka sudah kembali menerima Anda dalam hidup mereka, lalu berlagak bahwa “yang lalu biarlah berlalu”. Selain meminta maaf dengan tulus, usahakan agar tidak mengulangi kesalahan yang lalu.

Jika Anda termasuk kategori ini, tidak perlu memaksakan diri untuk ketemuan, apalagi sampai langsung menerima mereka kembali dalam hidup Anda. Bilang saja terus terang bahwa saat ini Anda sedang “perlu waktu”, agar pikiran bisa jernih kembali dan hati tidak panas lagi.

Mungkin masih ada kesempatan untuk kembali dekat seperti dulu, mungkin juga tidak. Ada juga yang sepakat bahwa “lebih baik berjauhan tapi akur, ketimbang dekat tapi saling menyakiti.”

Memutus tali silaturahmi? Belum tentu, selama saat papasan di jalan masih bisa saling menyapa ramah dan sopan, alih-alih pura-pura nggak kenal.

3. Menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Argumen ini juga sentimental, apalagi bila dua atau lebih orang sudah lama saling kenal. Ibaratnya, sudah tahu bobrok dan boroknya masing-masing. (Bahkan, mungkin sudah nggak kehitung lagi, berapa kali acara bentak-bentakan, cakar-cakaran, gebuk-gebukan, hingga tusuk-tusukan terjadi. Hmm, semoga relasi kalian tidak sama kayak relasi anggota geng di film-film, yah?)

Nggak hanya mereka, Anda juga sadar dengan kebiasaan buruk Anda. Hobi mengulangi kesalahan yang sama, tapi masih berharap mereka menerima Anda kembali dengan tangan terbuka seperti Anda yang melakukan hal serupa untuk mereka.

Saran: Memang benar, nggak ada manusia yang sempurna. Tapi, mau sampai kapan itu jadi alasan untuk enggan memperbaiki diri? Hebat sekali bila Anda dan mereka masih bisa saling toleransi dengan kekurangan masing-masing, apalagi dalam waktu yang lama.

Sayangnya, bila tidak juga ada perbaikan, relasi semacam itu berpotensi menciptakan ‘racun’ atau ‘bom waktu’ yang bisa meledak sewaktu-waktu. Pada akhirnya, semua tersakiti dan hubungan sudah tidak bisa diperbaiki lagi.

4. Si pemberi kesempatan kedua hanya lebih baik, namun belum tentu semuanya akan sama lagi.

Ingat lagu lama The Corrs yang berjudul “Forgiven, Not Forgotten”? Memaafkan bisa saja mudah, tapi melupakan? Belum tentu. Sama seperti kertas yang pernah diremas-remas atau penghapus yang ujungnya sudah terpakai, semuanya tidak akan bisa 100% kembali seperti dulu.

Ibarat kategori pertemanan di Facebook. Bisa jadi awalnya ada yang masuk daftar ‘Close Friends’ (Sahabat Dekat). Setelah ada masalah, bisa saja ada yang dipindah ke sekadar ‘Friends’ (Teman). atau bahkan ‘Acquaintances’ (Kenalan). Masih lebih mending ‘kan, daripada di-unfriend atau malah diblokir sekalian?

Saran: Jika mereka begini, bersyukurlah. Jangan jadi ngelunjak dan berharap terlalu banyak. Jika Anda seperti ini, berarti Anda hanya mengendalikan hidup Anda.

Intinya, selama masalah (sudah dianggap) selesai dan jelas serta nggak perlu dibahas lagi, Anda baik-baik saja. Masih mau nongkrong bareng mereka lagi atau enggak itu hak Anda. Netral dan akur saja.

Situasi bisa berubah tergantung keputusan semua pihak. Jika mereka memutuskan untuk memasukkan Anda kembali ke dalam daftar ‘VIP’ (Very Important People) mereka, selamat. Jangan merusaknya dengan mengulangi kesalahan serupa atau malah lebih parah.

Begitu pula dengan keputusan Anda untuk melakukan hal yang sama dengan mereka. Nggak usah gengsi bila dalam hati masih ada rasa sayang. Apalagi bila mereka sudah menunjukkan kesungguhan untuk menjadi sosok yang lebih baik dalam hidup Anda. Kenapa tidak?

5. Tergantung masalahnya.

Jika masalahnya nggak parah-parah amat dan mereka sudah berjanji nggak akan mengulangi kesalahan yang sama, bolehlah mereka dikasih kesempatan kedua, ketiga, atau bahkan seterusnya. Tergantung level kesabaran Anda.

Jika sudah parah? Bisa-bisa Anda jauh lebih sangar dari harimau yang ekornya terinjak. Prinsip Anda: “Tiada maaf lagi bagimu. HUH!” #lebaymodeon

Saran: Selamat karena bisa memilah masalah. Namun, kalau bisa sih, Anda jangan sampai kayak Kategori Nomor 2. Karena mengerikan, Anda berpotensi dijauhi banyak orang akibat metode yang demikian. Toh, Anda sendiri juga belum tentu nggak pernah salah. Ya, nggak?

Jadi, yang mana Anda?

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *