“MARRIED VERSUS SINGLE: KOK PADA NYINYIR?”

“Married versus Single: Kok Pada Nyinyir?”

Tulisan ini dibuat karena:

  1. Saya pernah baca salah satu artikel online tentang jurnalis perempuan dari sebuah media yang kerap dituduh ‘nyinyir’. (Berhubung saya jarang baca media tersebut, saya memilih tidak berkomentar lebih lanjut. Tapi silakan baca di sini:  http://www.mojok.co/2016/12/cadar-mbak-dian-dan-fobia-atribut/ .)

Lalu, entah kenapa jurnalis itu pernah ditanya: “Mbak udah nikah?” Begitu dijawab belum, langsung deh, komentar berikutnya keluar: “Oh, pantes nyinyir. Belum nikah, sih.”

Entah apa hubungannya status lajang dengan kenyinyiran seseorang. Bahkan, menurut saya sih, justru si narsum yang nyinyir to the max.

2. Seorang kawan bercerita tentang satu kenalannya. Sudah menikah dan punya anak, tapi rajin banget nyinyir lewat status update-nya di media sosial. Orang yang nggak dia suka atau pun yang nggak memuja-muja dia langsung disindir habis-habisan.

Hmm, biasanya sih, kalau sudah menikah dan punya anak (apalagi banyak) pasti sibuk sekali. Apalagi perempuan, terutama mengingat di Indonesia masih ada anggapan bahwa urusan rumah tangga dan anak itu cuma buat istri seorang. Nggak peduli si istri juga kerja kantoran, sementara si suami (kalau masih bermental patriarki akut) tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah dan suruh-suruh istri, meski si istri lagi sibuk nyuapin bayi. Hiii, bikin kekiii! Masa mau minum doang nggak bisa ambil sendiri?

Tuh, ‘kan? Barusan saya jadi ikutan nyinyir.

Hmm, sepertinya kenalan kawan saya itu masih kurang sibuk atau sangat jago dalam mengalokasi waktu dan tenaga, sehingga masih sempat-sempatnya nyinyir harian di media sosial. Tapi, lagi-lagi ini cuma asumsi saya lho, ya. Nggak perlu diiyain juga nggak apa-apa.

3. Curhatan ini berasal dari teman satu kos. Awas, jangan mudah merasa ‘tertampar’ saat membacanya:

“Kadang gue suka bingung sama mereka yang udah married dan punya anak, tapi hobi banget nyinyir ama yang single begini: ‘Elo mah enak, belum ada tanggungan dan masih bebas ke mana aja dan ngapain aja.’ Kayak kita nggak pernah punya masalah dan hanya mereka yang berhak ngeluh. Berasa lebih penting gitu.

“Gue sebenarnya nggak mau nyebut-nyebut begini, karena takut langsung dituduh nggak ikhlas. Tau sendiri ‘kan, orang suka gampang banget menyimpulkan? Ada single yang menghidupi ortu yang udah pensiun dan mungkin sakit. Ada yang malah bantuin sodara-sodara mereka yang justru udah menikah duluan. Kayak gini kita selalu dianggap nggak ada tanggungan dan bebas-bebas aja?

“Gue jadi curiga, jangan-jangan yang suka ngomong gitu diem-diem nyesel udah nikah tapi belum puas single-nya…”

4. Ini lagi yang bikin saya diam-diam bergidik: orang single yang dengan entengnya ngomong gini sama yang udah married:

“Elo enak, soal duit tinggal minta suami.”

Nyinyir semua. Nggak yang single, nggak yang udah married. Nggak ada bedanya.

Saya jadi ingat tulisan Ayu Utami dalam “Parasit Lajang”. Banyak perawan tua (perempuan yang tidak pernah menikah dan punya anak, apa pun alasannya) nyinyir karena sebenarnya mereka terluka dan dilukai secara sosial. Dianggap nggak cukup cantik, nggak cukup baik, nggak laku (kayak barang jualan, bukannya orang!), dan sebutan merendahkan lainnya. Karena diperlakukan demikian, mereka jadi nyinyir sama yang sudah menikah.

Padahal, kenyataannya nggak semua begitu. Ada yang cuek dan memilih bahagia dengan hidup serta pilihan mereka, apa pun alasannya dan terlepas dari mulut usil mereka yang nggak terima.

Lagipula, kalau mereka masih bisa sabar, kenapa orang lain harus pada ribut, coba?

Barangkali ini tidak banyak terjadi pada laki-laki lajang, namun saya pernah terlibat obrolan ‘nggak enak’ ini sama…yah, nggak usah sebut nama, deh. Ntar ada yang baper lagi karena merasa kesindir.

“Kamu sekarang ngekos, tinggal sendirian?”

“Iya.”

“Berarti nggak ikut ngurus para keponakan di rumah, dong?”

Jujur, saya malas menjawab. Bukannya nggak sayang sama para keponakan (meski lagi-lagi, mereka yang berpikiran sederhana mungkin nggak akan sepakat). Gemas saja dengan anggapan mereka bahwa para lajang pasti lebih banyak waktu luang dan nggak sesibuk mereka yang sudah menikah.

Bahkan, jika para lajang beneran sibuk (kerja, hang out sama teman, memperluas jaringan bisnis, menekuni hobi, hingga…ya, usaha cari jodoh sendiri), kenyinyiran masih berlanjut:

“Pantes lo gak kawin-kawin. Sibuk melulu, sih.”

Terus, kenapa sih, pada hobi nyinyir? Ada hubungannya sama status? Ya, nggak juga, kok.

  1. Mereka ingin kelihatan (dan dianggap) superior. Kalau yang single bangga dengan kekuasaan mereka untuk mengatur hidup dan waktu mereka, yang married bangga karena merasa status sosial mereka ‘naik’. Yang single merasa bahwa yang married (apalagi yang ketahuan ribut ingin secepat mungkin, biasanya karena desakan ortu, lingkungan, atau merasa ‘dikejar umur’) itu orang-orang kesepian yang nggak bisa sendiri. Yang married memandang yang single (apalagi kalau dia perempuan di atas usia 30) sebagai sosok egois, pemalas, dan pengecut karena dianggap enggan ‘membuka hati’ dan membagi hidup dengan orang lain.
  2. Mereka sebenarnya sedang punya masalah dan nggak se-bahagia itu, lalu melampiaskannya ke orang lain (terutama yang nggak senasib) dengan cara yang ‘enggak banget’.

Contoh:

(Single tapi melarat): “Elo enak, duit tinggal minta suami.”

(Married tapi harus meninggalkan hobi traveling dan nongkrong sama teman, terutama bila pasangan posesif banget): “Elo enak, masih bebas.”

3. Mereka muak terus dinyinyirin sama orang-orang kepo, jadi balas nyinyir. Boleh saja bilang bahwa balas dendam itu nggak baik, tapi kadar kesabaran tiap orang beda, lho. Intinya, jika Anda nggak mau kena semprot, ya jangan mulai nyemprot duluan terus malah menuntut mereka untuk sabar.

Singkat cerita, kita nggak pernah benar-benar tahu semua yang dialami orang lain, begitu pula sebaliknya. Nggak usah saya sebut detailnya, deh. Nggak semua harus dikasih lihat, ‘kan? Lagipula, bukan itu inti dari tulisan ini.

Sayangnya, ini masih jadi potret realita masyarakat kita. Nggak cuma isu ibu rumah tangga versus ibu bekerja kantoran (yang menurut saya sudah nggak ada gunanya lagi diributkan), ada juga married versus single. Nyinyir itu potensi semua orang, terlepas status hingga gender Anda. (Hayo, nggak usah sok macho, Tuan-tuan. Pasti pernah nyinyir juga ‘kan, meski sekali?)

Terlalu biner dalam memandang status juga bikin kita begitu mudah berasumsi dan menghakimi. Tanpa sadar, hasil cablakan kita jadinya begini:

  • Nggak bermanfaat.
  • Menyinggung perasaan orang.
  • Membuka aib sendiri.

Kita sering lupa bahwa dalam setiap fase hidup, masalah akan selalu ada dan beda-beda. Nggak bisa dan sebaiknya memang nggak usah dibandingin, karena memang nggak mungkin dan nggak adil. Setiap orang harus mengatasinya dengan cara terbaik versi mereka, serta sebisa mungkin nggak sampai harus mengecilkan orang lain.

Sudah yakin dengan pilihan Anda? Berbahagialah, nggak usah pakai menjatuhkan nilai diri orang lain. Menyesal dengan pilihan Anda? Ya, jangan melampiaskannya pada orang lain, apalagi mereka yang nggak ngerti apa-apa. Misery loves company? Pasti. Sebaliknya? Belum tentu.

Jadi, mau sampai kapan pada nyinyir?

R.

 

6 Replies to ““MARRIED VERSUS SINGLE: KOK PADA NYINYIR?””

  1. Waini..
    Nyinyir sudah jadi tradisi, mendarah daging dan melekat erat dalam jiwa.
    Saya yang laki-laki bujang juga mengalami begitu, dinyinyirin soal pernikahan. Tapi mun6kin karena saya laki-laki ya, jadi saya lebih cuek saja menanggapinya.

  2. Hehehehe.. Tergantung cara pandang masing masing sich mba ruby. Kalau memang mau dinyinyirin pasti akan ada celahnya.

    Seringan rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput sendiri jadi bahan nyinyiran. Sementara kalaupun rumput sendiri lebih hijau jadi bahan nyinyiran juga. Apalagi kalau keduanya ngga hijau.

    Jadi inget cerita petani baik yang tidak mau hasil panen rusak, sementara ia tahu hasil panennya merupakan persilangan antara tumbuhan dia dengan tetangganya. Alih2 berlaku nyinyir dan jahat. Ia lebih memilih berbagi bibit unggul yang dimiliki. Agar serbuk sari dari tetangganya ketemu dengan putik terbaik miliknya dan menghasilkan buah yang baik juga.

    Jadi inget bukunya pram di bukan pasar malam, dari dulu memang sudah ada manusia-manusia nyinyir kok.

    1. Seperti biasa, manusia selalu bisa memilih: mau nyinyir untuk menyembunyikan keminderannya atau lebih banyak mengurusi diri sendiri. Hadirnya orang-orang nyinyir tidak menjadi alasan bahwa sifat nyinyir harus dimaklumi dan dibiarkan, apalagi bila sudah berujung dengki dan fitnah yang merugikan objek nyinyiran. Lagian memang kebanyakan nyinyir berarti tanda kurang bahagia dengan hidup sendiri. Kasihan malah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *