“MOMEN FACE TIME”

Momen Face Time: Antara Tur dan Pulang ke Rumah”

Tur 1:

“Kamu masih marah?”

“Enggak. Kenapa?”

“Terakhir kali kamu cuma bilang: ‘Ya udah, pergi aja sana.’”

“Lha, emang kamu juga harus pergi, bukan?”

“Tapi kamu kayak nggak rela gitu.”

“Bukannya nggak rela.” Wajah bundar berbingkai rambut ikal gelap sebahu itu tampak murung. Lalu, dengan malu dia mengakui: “Kesepian. Kangen.”

Wajah brewokan di layar tertawa. “Ah, kamu,” katanya renyah. “Tinggal dua minggu lagi. Sabar, ya.” Saat si wajah bundar tersenyum lagi, si brewok melanjutkan: “Nanti kalo novel berikutmu sukses lagi hingga difilmkan, kamu juga bakal dapet giliran tur promo di jalan.”

Pembicaraan malam itu berakhir dengan memuaskan. Sosok ramping dan brewokan itu tersenyum saat memutuskan hubungan di ponsel.

“Belum tidur?” tegur laki-laki kribo di ruangan yang sama. Sosok gempal itu sedang membereskan kamera. “Mending tidur dulu. Jam dua nanti kita take shot. Kalo bisa jangan kelamaan.”

“Oke.”

Di tangan si brewok, ada fotonya dengan dua sosok yang paling dicintainya. Dua wajah bundar berambut ikal, ibarat pinang dibelah dua. Namun, keduanya berbeda usia. Yang kecil selalu menagih yang sama setiap kali dia pulang dari perjalanan panjang:

“Kalo Papa bisa ngangkut tas gede ama kamera sekaligus, berarti gendong aku doang juga bisa, dong.”

Lelah? Sangat, namun kapan lagi bisa memeluknya sesuka hati? Sebelum gadis kecil itu terlalu besar dan merasa gengsi.

Tur2:

“Kapan aku pulang? Masih dua minggu lagi.”

“Oh.”

“Kenapa?” Wajah bundar itu tampak geli. “Kewalahan di sana?”

“Nggak.” Wajah brewokan itu tampak malu. Di pangkuannya, ada sosok mungil berwajah bundar juga, namun sudah lama terlelap.

Percuma juga berbohong. Wajah di layar ponsel itu kini menertawakannya.

“Nggak apa-apa.” Sekilas wajah itu tampak menyesal. “Memang kebetulan akulah yang paling banyak di sana.”

“Hei, ini momen kamu,” si brewok langsung buru-buru menenangkan. “Kita sudah sepakat saling mendukung karir masing-masing, tanpa melupakan yang penting.”

“Aku tahu.”

Pembicaraan malam itu berakhir sedikit sendu. Wajah bundar berambut ikal itu tampak agak sedih saat memutuskan sambungan di telepon.

“Kangen rumah?” tanya perempuan berkacamata di sampingnya. “Beruntunglah. Nggak banyak laki-laki atau suami yang berpikiran terbuka seperti dia.” Sosok ini lalu menatapnya dengan senyum penuh pengertian. “Tinggal satu kota lagi, habis itu kamu bisa pulang.”

“Iya.” Wajah bundar itu tersenyum lagi. Di tangan, ada fotonya dengan dua sosok yang paling dicintainya. Ada versi mini dirinya dengan sosok brewok itu.

Versi mininya sudah jago menggombal, terutama setiap kali dia pulang dari perjalanan panjang:

“Papa selalu kangen sama Mama, tuh.”

“Kok tahu?”

“Kata Papa, aku mirip Mama. Habis itu, aku dipeluk dan kita dancing pake lagu kesukaan Mama.”

“Oh.”

 Rumah:

“Hai, sayang.”

Si mungil berwajah bundar dan berambut ikal terbangun. Kedua wajah itu tersenyum di depannya. Hatinya langsung was-was.

“Kali ini Papa atau Mama yang harus pergi?”

Kedua wajah itu tertukar lirik sebelum kembali tersenyum padanya.

“Kali ini nggak ada, sayang,” kata wajah bundar dewasa di depannya. “Papa dan Mama lagi sama-sama di rumah.”

“Asyiiik!” Malam itu, seorang gadis kecil sangat berbahagia, memeluk kedua sosok yang paling dicintainya…

R.

(477 kata)

 

“CEMBURU”

“Cemburu”

Oh, cemburu

Cinta berbelenggu

Perasaan memiliki itu

mengubah rela menjadi paksa

menjajah sesama manusia

yang harusnya bahagia

 

bukan curiga

bahkan murka

hingga gelap mata

Serasa properti

sesak setengah mati

sulit jadi diri sendiri

 

Cemburu

ibarat amarah yang tak mau tahu

rindu dan dendam bersatu

membakar jiwa hingga membara

menyisakan hati penuh luka

oleh benak berprasangka

 

hingga tak sadar

semua kau buat buyar

hingga akhirnya bubar!

 

R.

(Jakarta, 14 Februari 2017 – 9:00)

 

“WASPADALAH! INI 13 TANDA SI DIA CEMBURU BUTA”

“WASPADALAH! Ini 13 Tanda Si Dia Cemburu Buta”

Banyak yang masih percaya bahwa cemburu adalah bumbu dari percintaan. Kata mereka, kalau nggak cemburu, berarti nggak benar-benar sayang. Pacar terlalu dekat sama teman lain, kita santai saja. Padahal, bisa saja mereka malah ‘keenakan’ dan buntutnya malah selingkuh.

Selain nggak sayang, nggak cemburu bisa jadi ‘diam-diam selingkuh’. Makanya, jangan tenang dulu kalau si dia santai-santai saja saat kita terlalu dekat dengan kawan yang berlainan jenis. Bisa jadi ini taktiknya agar nggak ketahuan ‘jalan sama yang lain juga’.

Banyak teori seputar kadar cemburu yang wajar. Misalnya: Anda marah saat pacar memanggil teman dengan sebutan ‘sayang’ dan di depan Anda pula? Ya, wajar. Jika pacar saya seperti itu, saya pasti akan langsung mengajaknya ke tempat sepi daaan… (silakan bayangkan sendiri kalau berani.)

Tapi, wajar nggak sih, kalau sedikit-sedikit cemburu? Ini dia 13 tanda si dia sudah cemburu buta, alias kebablasan. Waspadalah!

 

  1. Anda hanya bersikap ramah sama mereka, namun habis itu si dia jutek seharian.

Ini tanda paling klasik sekaligus paling cepat kelihatan. Coba ingat-ingat lagi: gimana interaksi Anda dengan orang lain selama ini, terutama lawan jenis? Masih suka merangkul erat sahabat dan terlalu lama di depan pacar? Jangan heran bila si dia marah.

Namun, bila pasangan keki hanya karena Anda mencium adik atau tersenyum ramah pada pelayan restoran, kemungkinan rasa cemburunya sudah overdosis.

 

  1. Kalian sering berantem hanya karena masalah kecil, seperti lelucon atau perkara naksir selebriti.

Sering mengalami hal konyol macam ini? Anda ketahuan suka dengan selebriti. Lalu si dia bertanya, lebih ganteng/cantik siapa – dia atau mereka?

*krik…krik…krik…*

Sayangnya, apa pun jawaban Anda, ‘bom’ itu akan tetap terpicu dan meledak. Nggak jawab? Makin dicecar, karena Anda dianggap ‘cari mati’. Wakwaw!

 

  1. Kayaknya, si dia butuh banget tahu seluruh perincian kegiatan harian Anda – kalau perlu sampai per detik. Bahkan, medsos Anda pun ikut dipantau!

“Sayang, hari ini mau ke mana?”

“Kerja.”

“Habis itu?”

“Nge-gym.”

“Ama siapa aja?”

“Andi, Niko, Desi, Ivan – “

“Sebentar, Desi itu siapa?”

“Pacarnya Ivan?”

“Beneran? Kok biasanya dia gak ikut?”

“……….”

 

“Habis kerja kujemput, ya?”

“Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri, kok.”

“Kok nggak mau? Hayo, jangan-jangan mau ketemu cowok diem-diem, ya? Siapa dia? Jawab!”

“……….”

 

“Sayang, itu siapa sih, yang suka nge-like sama komen foto-foto kamu di FB? Ganjen amat!”

Sebentar, ini pacar apa satpam? Jangan bilang Anda harus bikin laporan khusus tiap hari. Masih bisa napas?

 

  1. Si dia sampai rela jadi ‘bayangan’ atau bahkan ‘kembar siam’ ..bila memungkinan.

Sekilas rasanya seperti selebriti dan bodyguard-nya. Bedanya, si bodyguard bukan hadir untuk melindungi Anda, melainkan mengawasi Anda agar tidak macam-macam atau ‘dimacam-macamin’ sama orang lain (entah seperti apa maksudnya).

Sekian.

 

  1. Tuduhan “Kamu selingkuh!” lebih sering keluar daripada ucapan sayang.

Ada dua tipe untuk pacar seperti ini. Pertama, yang sok cool depan umum, lalu ‘meledak’ pas tinggal berdua. Masih relatif sopan, padahal hanya jaim agar perilaku ganjil mereka nggak cepat ketahuan.

Kedua, si pembuat drama. Yang ini bahkan nggak segan-segan membentak-bentak Anda di depan umum atau – sialnya – melakukan kekerasan fisik. Tujuannya? Tentu saja mempermalukan Anda sekaligus mencari dukungan para penonton.

Enakan yang mana? Nggak ada. Yang satu bikin Anda merasa deg-degan bak main di film thriller, yang satu bikin keki karena berasa main di sinetron basi.

 

  1. Teman-teman merasa tidak nyaman saat Anda datang dengan si dia.

Iya, mereka tahu betapa Anda sangat mencintainya, meski sulit memahami alasannya. Mungkin Anda punya kesabaran luar biasa.

Masalahnya? Mereka ngeri dengan pacar Anda.

 

  1. Si dia mulai membatasi dengan siapa Anda boleh bicara dan berteman. Bahkan, yang ekstrim adalah sampai ngotot meminta password ponsel dan akun media sosial Anda!

“Aku nggak percaya sama si Indro. Dia pasti mau rebut kamu dariku.”

“Jangan temenan sama Naya lagi, deh. Jijik aku lihat dia keganjenan sama kamu.”

Apa repotnya punya pacar kayak begini? Lama-lama jumlah teman Anda bisa habis. Bahkan, tipe seperti ini nggak segan-segan melarang teman-teman Anda (terutama yang beda gender) untuk dekat-dekat. Ini juga dilakukan di belakang Anda.

Jangan heran kalau lama-lama semua teman Anda lantas melipir…lalu ngacir. Awas, ada anjing – eh, pacar – galak!

Jangan pernah memberikan password ponsel dan akun media sosial Anda. Bisa-bisa separuh daftar nama teman hilang dalam sekejap. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia?

 

  1. Anda mulai sering dilanda stres.

Kapan terakhir kali bisa tersenyum dan tertawa lepas? Sering sakit kepala dan susah tidur? Kadar emosi naik-turun tanpa sebab jelas?

Jangan-jangan Anda stres. Cinta sama pasangan sih, boleh. Tapi, sayangilah diri Anda juga. Jangan sampai kesehatan Anda jadi korban.

 

  1. Si dia malah selingkuh beneran untuk ‘membalas perbuatan Anda’.

Hiks, beramah-tamah sama pelayan restoran saja dihadiahi selingkuh. Tapi, untuk yang satu ini, Anda patut curiga. Jangan-jangan ini hanya alasan mengada-ada, karena sebenarnya dia-lah yang tukang selingkuh namun egois.

 

  1. Anda mulai sering ‘kucing-kucingan’ dan tidak bisa lagi jujur sama si dia. Bahkan, bisa jadi Anda malah memilih selingkuh beneran agar ‘penderitaan’ Anda berakhir, meski mengorbankan reputasi Anda.

Ini ibarat lirik lagu Slank:

“Ngebohong salah…jujur malah tambah salah…”

Anda lelah dicurigai terus-terusan. Lama-lama Anda memilih ‘kucing-kucingan’ sama pacar, bahkan selingkuh beneran. Tanggung amat, biar putus sekalian.

Sayangnya, cara ini juga berisiko ‘merusak’ reputasi Anda. Si dia pasti akan bercerita ke mana-mana mengenai betapa brengseknya Anda dan dia-lah yang jadi korban. Mau?

 

  1. Si dia sering banget mengancam “Putus!” Eh, giliran dikabulkan, malah mengancam bunuh diri!

Emotional blackmailer selalu berusaha bikin Anda merasa bersalah karena nggak mau menuruti semua keinginan mereka. Bahkan, ucapan khas mereka lainnya adalah: “Aku nggak mungkin kayak gini kalo bukan gara-gara kamu.”

Nah, lho.

 

  1. Saat mengajak teman-teman kumpul tanpa kehadiran si dia, mereka malah was-was.

Mereka senang melihat Anda. (Ya, apalagi sudah lama sekali kalian nggak nongkrong bareng.) Namun, pertanyaan berikut mereka keluar dengan nada was-was:

“Pacarmu mana?”

Ini sudah pertanda sangat serius bila Anda sampai harus menunggu si dia sibuk, keluar kota, atau keluar negeri sekalian – hanya biar bisa nongkrong sama teman-teman.

 

  1. Puncaknya: Anda atau si dia sama-sama berpotensi sebagai pelaku kekerasan dalam hubungan.

Silakan cek berita kriminal. Ada berapa kasus kekerasan dan pembunuhan akibat cemburu buta?

 

Tentu saja, kita tidak bisa langsung memperlakukan pasangan pencemburu buta sebagai pribadi mengerikan yang harus dijauhi. Kalau memang masih sayang dan percaya bahwa hubungan kalian masih bisa diselamatkan, kenapa tidak mencari tahu sebabnya dan mencari solusinya bersama-sama?

Mungkin si dia punya trauma masa lalu, seperti pernah ditinggalkan pacar sebelumnya karena selingkuh. Mungkin juga rasa minder membuatnya begitu posesif sama Anda karena takut kehilangan. Apa pun itu, cobalah mendampinginya dalam masa pemulihan. Jangan takut konseling ke psikolog bila diperlukan.

Kalau si dia masih cemburu juga? Semua terserah Anda. Masih mau mempertahankan cinta tapi terpenjara dan tersiksa…atau mencari hubungan yang lebih ‘sehat dan seimbang’?

 

R.

 

“DI DALAM BILIK DAN LAMAN MEDIA SOSIAL”

“Di Dalam Bilik dan Laman Media Sosial”

Dulu sekali, saya pernah membahas ini dengan seorang kawan ekspat. Dulu sekali, sebelum media sosial seberpengaruh ini.

“Kalian aneh, deh,” komentar kawan saya. “Mau milih partai politik atau calon presiden saja pakai cerita ke mana-mana. Padahal pas ‘nyoblos’ juga ngumpet di dalam bilik.”

Iya juga. Lalu, karena waktu itu tidak punya penjelasan cukup masuk akal untuk berargumen, saya biarkan saja kawan saya melanjutkan:

“Kalau begitu, ngapain ‘nyoblos’-nya di balik bilik? Mending di depan semua orang aja sekalian.”

Jujur, saya sepakat dengan argumen kawan saya. Mungkin semakin relevan dengan adanya laman media sosial dan berita digital lainnya. Setiap netizen bebas mengakses info apa pun mengenai calon pemimpin yang mereka jagokan, entah itu konten berita, kampanye, hingga…hoax.

Setelah itu, mereka tinggal reshare konten tersebut pada laman media sosial mereka. Bahkan, sebagai pembanding, mereka juga memposting tautan artikel mengenai “keburukan” para saingan dari calon yang mereka jagokan.

Terdengar familiar? Mungkin Anda pernah – dan masih – melakukannya. Anda bukan satu-satunya. Percayalah, saya dulu juga pernah. Tidak perlu bangga atau terlalu malu. Cukup jadikan pembelajaran saja.

Secara nggak langsung, para pendukung politisi berikut menjadi ‘perpanjangan tangan’ dari juru kampanye mereka. Semakin viral, semakin banyak yang ngeh dengan nama calon tersebut, berikut sepak-terjangnya.

Hmm, bagaimana dengan saya sendiri?

Jujur, saya sempat melakukan kesalahan serupa (setidaknya menurut saya) saat PILPRES (pemilihan presiden) lalu. Meski pas nyoblos ngumpet di dalam bilik, semua orang sudah menebak pilihan saya dari laman media sosial saya. Menarik sih, saat membahas soal politik saat itu – terutama dengan pihak yang berseberangan.

Sayangnya, tidak semua orang bisa bersikap dewasa menghadapi perbedaan. Nggak setuju ya, nggak apa-apa. Pilihan saya dengan ibu saya waktu itu juga berbeda. Masa hanya gara-gara itu saya jadi konyol dan durhaka sama ibu saya?

Yang saya tidak suka adalah sikap kasar, saling menghina, menghakimi, dan bahkan menyumpah-nyumpahi serta mengancam mereka yang pilihannya ‘berbeda’. Saya tidak suka dengan yang hobi mendikte pilihan orang, bahkan diikuti hinaan ‘bodoh’, ‘kafir’, ‘teroris’, ‘ekstrimis’, ‘komunis’, dan ‘is-is’ lainnya yang dianggap negatif. Belum lagi ancaman ‘bunuh’, ‘penggal’, dan ‘bakar’. Sudah terlalu banyak dan maaf…saya sudah kelewat muak.

Apakah dengan memilih satu calon pemimpin (siapa pun dan apa pun alasannya) lantas urusan kita selesai? Apakah calon tersebut lantas saya anggap sempurna tanpa cela?

Harusnya sederhana, kok. Bila kerjaan mereka bagus, saya apresiasi. (Jangan pedulikan ucapan sinis: “Ah, pencitraan!”) Kalau tidak, wajib saya kritik dan kasih saran atau solusi. Kalau cuma kritikan tanpa solusi (dan malah lebih banyak caci-maki), anak kecil juga bisa.

Karena itulah, untuk PILKADA kali ini (15 Februari 2017), saya memilih untuk tidak lagi mengulangi yang sama. Saya tidak akan bercerita pada siapa pun mengenai calon yang akan saya pilih. Terserah mau dibilang pengecut. Saya hanya malas ribut.

Biarlah kali ini cukup saya dan Tuhan yang tahu…

R.

 

“‘TIDAK’ ARTINYA ‘TIDAK'”

‘Tidak’ Artinya Tidak”

Mata menerawang

jauh ke depan

Sosok familiar

berubah total

menjawab tantangan

demi rasa penasaran

 

Tubuh (di)rusak

Jiwa berontak

sebelum total (di)rombak

Hilang pegangan

Tiada yang aman

terlambat menolak

 

“Yang penting senang.”

Benarkah demikian?

Dia yang untung

Kau yang buntung

Ikuti maunya

berakhir terluka

 

Cinta?

Ah, tidak juga

Dia pura-pura

Kau tidak tahu apa-apa

Berikan semua

tapi belum tentu menerima

 

Dia akan pergi

Kau kembali sendiri

Banyak yang baru

dan kau akan tergugu

Dunia tak mau tahu

hanya menganggapmu

murahan dan dungu

 

Tinggal rasa benci

Tiada sisa lagi

Masihkah harga diri

dengan tubuh ini?

Dia tak peduli

banyak yang sakit hati

 

Mata selesai

menerawang dengan ngeri

Oh, prediksi

Diri terselamatkan Ilahi

dari mahluk tak tahu diri

budak birahi

 

Tataplah dia

Usahakan tak tergoda

Katakan “Tidak!”

dengan tegas dan apa adanya

Jika dia murka,

tinggalkan saja

 

Kau terlalu berharga

Dia begitu hina

Lebih baik cari yang lain saja

Daripada dengannya,

berakhir sia-sia

bahkan terseret ke neraka…

 

R.

 

“SEKADAR CANTIK?”

“Sekadar Cantik?”

Jujur, kalau soal tokoh perempuan, saya lebih suka membaca media luar ketimbang media lokal. Ya, meski media luar masih sama juga – tidak bisa lepas dari pakem ‘super basi’ yang mereka gunakan dalam menggambarkan tokoh perempuan yang mereka liput. Apalagi di dunia hiburan.

Okelah, memang sulit mengelak gambaran fisik bila temanya dunia hiburan. Contohnya, fashion dan runway. Pasti supermodel disebut ganteng atau cantik.

Lalu, kenapa untuk tema-tema lainnya, seperti: figur politik, sosial, hukum, dan bahkan olahraga – tokoh perempuan yang kebetulan langsing, terlihat anggun dan elegan harus disematkan embel-embel ‘cantik’ selalu, padahal isi beritanya bukan itu?

Beberapa kali saya pernah menyinggung hal ini dengan beberapa orang yang saya kenal. Sayangnya, reaksi mereka kurang menyenangkan. Nggak hanya nggak sepakat (nggak maksa juga sih, saya), mereka langsung menganggap saya aneh, lebay (berlebihan), hingga – yang paling lazim keluar – sirik.

“Ah, itu mah, udah biasa kali. Kenapa dimasalahin?”

“Namanya juga cewek. Pasti seneng dong, kalo dianggep cantik. Emang lo gak suka?”

“Elo aja kali yang sirik, karena nggak ada yang bilang elo cantik!”

Begitulah. Karena sudah terbiasa, lama-lama dianggap wajar dan nggak apa-apa. Namanya juga pemikiran yang “sangat sederhana”. Siapa pun bisa.

Ada yang salah dengan pujian ‘cantik’? Sama sekali tidak. Cantik itu pujian yang baik untuk perempuan, meski seharusnya tidak diperlakukan sebagai satu-satunya pujian yang baik untuk kaum saya.

Kalau ada yang bilang saya cantik, saya senang. Wajar, tho? Saya juga senang memuji keponakan perempuan saya yang bernama Gira dengan kata-kata ini:

“Gira-ku, you’re so pretty!”

Namun, saya juga memujinya sebagai gadis kecil yang baik, cerdas, dan berani. Mengapa? Meski bukan ibunya, saya tidak ingin Gira tumbuh dengan kepercayaan dangkal bahwa kesuksesan terbesar seorang perempuan hanyalah dari banyaknya orang yang memujinya ‘cantik’ (secara fisik).

Saya tidak ingin saat dia menyadari bahwa saat tidak semua orang memperhatikan dan mengaguminya, pertanyaan pertama yang hinggap di benaknya adalah: “Aku kurang cantik, ya?”

Oke, balik lagi ke persoalan pemberitaan perempuan di media massa. Mungkin para pemikir yang “sangat sederhana” menganggap saya berlebihan dan mencari-cari masalah yang sebenarnya sama sekali tidak ada. Sayangnya, bahkan dari sesama perempuan juga begitu.

Apakah saya hanya sirik karena malah dianggap nggak secantik kakak saya (mamanya Gira, seperti waktu kami remaja dulu) atau nggak seperti teman perempuan yang selalu sukses membuat laki-laki hetero menoleh saat dia lewat?

Saya nggak akan muna. Dulu iya, karena tahu sendiri betapa kejamnya manusia menghina sesama, bahkan sama mereka yang nggak pernah mau ganggu siapa-siapa. Sudah begitu pakai alasan ‘hanya bercanda’, dengan harapan tidak kena marah.

Saya yakin, saya bukan satu-satunya yang mengalami perlakuan demikian. Tidak heran, akhirnya perempuan malah jadi musuh paling kejam dan saling ‘menjegal’ sesamanya dengan berbagai cara. Kalau kata teman saya: nggak pake kode etik sisterhood yang benar.

Ada juga yang beralasan agar beritanya lebih ‘menjual’. Sialnya, ini menyebabkan tokoh perempuan yang jadi berita lebih banyak terfokus pada hal-hal yang teramat dangkal, alias yang tampak di permukaan saja.

Contohnya sudah terlalu banyak. Dulu, polwan cantik pernah jadi #trendingtopic. Tahu sendiri kriteria standarnya, ‘kan? Masih muda, tinggi semampai, langsing, berambut indah (lurus dan gelap) serta rapi, muka ramping, kulit putih nan mulus, jago dandan, dan murah senyum. Lalu, sempat ada netizen yang berkomentar bahwa saat para polwan yang dianggap cantik itu jadi pusat perhatian, rekan-rekan mereka yang dianggap tidak termasuk kategori tersebut seakan kurang layak jadi bahan liputan.

“Ah, nggak segitunya juga kali.”

Benarkah? Adakah yang serius tertarik dengan sepak-terjang mereka di lapangan? Sudah berapa kasus yang mereka tuntaskan? Apakah rekan-rekan mereka yang laki-laki sudah memperlakukan mereka dengan setara, alias nggak sebatas pelayan domestik di kantor yang bisa disuruh-suruh bikin kopi dan sejenisnya?

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan pujian cantik. Yang bikin saya makin lama makin eneg adalah saat kata itu jelas-jelas ‘dipaksakan’ menjadi bagian dari judul berita, padahal isinya jelas-jelas nggak relevan atau bahkan di luar konteks.

Pernah ada berita tentang (masih) polwan cantik yang meninggal. Ngapain perlu ada kata ‘cantik’ di situ? Apakah tujuannya agar pembaca bakal berkomentar: “Kasihan, cantik-cantik meninggal”? Apakah karena mereka dianggap cantik lantas seharusnya berhak hidup lama daripada mereka yang dianggap ‘nggak masuk hitungan cantik’? Beats me.

Ada juga berita tentang figur politik perempuan. Ya, meskipun program kerja mereka ikut disebut di dalam artikel, entah kenapa kata ‘cantik’ harus diselipkan di sana.

Yang paling terakhir tentu saat jurnalis senior Ira Kusno tampil di TV dalam debat para kandidat untuk Gubernur Jakarta kemarin. (Saya ketinggalan berita? Nggak juga. Biasa aja.) Lagi-lagi hanya pujian ‘cantik’ yang keluar, terutama mengingat usia beliau yang sudah 40-an.

Tidak hanya itu, disebut ‘cantik’ tidak semata-mata membuat perempuan hanya bertabur pujian dangkal. Masih banyak juga yang sinis dan malah bersikap bak misoginis (pembenci perempuan) sejati, seperti para netizen yang mengomentari penampilan Ira Kusno saat itu:

“Cantik-cantik buat apa. Ndak ada yang mau jadikan dia istri.”

“Gajinya buat makan, shopping, sama ngerawat bodi doang kali, ya?”

Memangnya kenapa kalau beliau belum menikah? Lalu, dari mana bisa menyimpulkan bahwa beliau memang menggunakan gajinya hanya untuk kegiatan-kegiatan tersebut? Sudah pernah tanya orangnya langsung, belum? Awas, fitnah.

Kalau memang benar, kenapa sewot? Toh, itu bukan uang Anda. Yang dilakukan seorang perempuan dengan gaji mereka ya, urusan mereka – selama nggak menyakiti orang lain.

Sedihnya, sekarang saya jadi sangsi sendiri. Seberapa banyakkah manusia Indonesia cerdas sekaligus berhati yang sudi memandang perempuan tidak hanya dari penampilan luar belaka? Padahal, sudah banyak perempuan berpendidikan tinggi, lho.

Semoga masih cukup banyak dan media tidak hanya memanjakan pasar berisi rombongan otak “yang demikian”, serta perempuan seharusnya jangan mau juga dilihat dan dianggap ‘sekadar cantik’ saja…

R.

 

“SOSOK YANG KAU KENAL”

“Sosok yang Kau Kenal”

Jadi, kamu ingin mengenalku? Maksudmu, benar-benar ingin mengenalku?

Aku tahu, bukan itu persisnya ucapanmu. Semua dari cara kita berinteraksi, bahkan sejak hari pertama bertemu. Dua orang yang berasal dari dua dunia yang jauh berbeda, di ruang guru pagi itu. Menanti jadwal kelas masing-masing, di ruang yang selalu sepi sebelum pukul sepuluh. Dua orang yang awalnya saling berdiam diri, hanya menyapa sedikit sebelum sibuk dengan diri masing-masing.

Lalu, pukul sepuluh tiba dan kita akan mengajar di kelas masing-masing. Setelah itu, kita akan terpisah oleh jadwal. Kamu tetap di tempat kursus itu, sementara aku harus mengajar di cabang lain, mengejar waktu.

Begitu terus selama tahun pertama. Hingga akhirnya kita mulai mengobrol lebih banyak dari sebelumnya. Perlahan membuka diri, saling berbagi cerita. Sama sepertiku, kamu tampak hati-hati. Mata hazel-mu lekat mengawasi.

Benarkah kita berdua bisa saling percaya?

Kamu heran denganku. Setiap kamu menyapaku dengan “How are you?”, butuh waktu lama bagiku sebelum akhirnya menjawab: “Oh, fine. Thanks. You?”

            Mata hazel-mu sekilas menyipit curiga. Itu pertanyaan yang mudah. Kenapa aku jawabnya lama? Karena rasanya aku jarang ditanya, bahkan di rumah. Namun, kamu tidak mengatakan apa-apa.

Kurasa, kamu hanya menunggu saat yang tepat…

—//—

Lima tahun kemudian:

            Jadi, kamu telah mengenalku. Waktu berlalu dan kamu telah cukup – dan bahkan mungkin benar-benar – mengenalku. Jauh lebih banyak dari mereka yang sudah lebih lama berada di dekatku.

Kamu sudah tahu semuanya tentang mereka, meski dengan Mama-lah kamu paling dekat. Aku tahu kamu sedih melihat kami tidak sedekat kamu dan mamamu. Makanya, kita pernah sampai beberapa kali pergi bertiga.

Jangan salah. Aku sayang Mama dan tidak ingin durhaka, namun beliau hanya ingin tahu bahwa semuanya baik-baik saja. Beliau hanya ingin damai, bukan kenyataan maupun kejujuran.

Karena itulah, aku sudah lama berhenti bercerita pada mereka. Tidak ada gunanya. Yang ada aku hanya dianggap aneh, berisik, dan merusak suasana. Tidak normal.

Selamat. Kamu sudah beberapa kali melihat sisi terburukku, yang entah kenapa kamu anggap sangat manusiawi. Kamu sudah melihatnya dan tidak kabur maupun menghakimi. Aku yang suka mengamuk dan kadang meninju dinding atau pintu lemari hingga nyaris remuk. Kalau mereka tahu, paling mereka hanya menyuruhku untuk sabar dan tidak marah-marah, tanpa pernah mau tahu atau peduli dengan penyebab amarahku. Paling mereka hanya akan menganggapku berlebihan. Sekian.

Aku yang pernah beberapa kali menangis sesenggukan atau histeris di pelukmu atau pangkuanmu. Kalau sama mereka, paling aku hanya akan dikatai cengeng, lemah, dan sensi. Apa tuh, sekarang sebutan barunya? Baper, bawa perasaan? Persetan. Seolah-olah manusia yang masih memakai perasaan itu jauh lebih hina daripada mereka yang sudah tidak pedulian.

Aku…yang masih harus mengonsumsi obat penenang.

Aku yakin, mereka juga tidak akan suka bila aku memutuskan untuk berhenti total memakai perasaan dan mulai bersikap kejam. Tapi…ah, sudahlah. Memikirkan mereka akhir-akhir ini melelahkan.

Satu hal yang pasti, kadang keluarga tidak selalu sedarah dan justru malah jauh lebih pengertian.

Dan kita telah saling menemukan…

 

R.

            (Dari Tantangan Menulis Monday Flash Fiction, Prompt#137: “Inside Out” – http://www.mondayflashfiction.com/2017/01/prompt-137-inside-out.html?m=1 – 468 kata)