“MOMEN FACE TIME”

Momen Face Time: Antara Tur dan Pulang ke Rumah”

Tur 1:

“Kamu masih marah?”

“Enggak. Kenapa?”

“Terakhir kali kamu cuma bilang: ‘Ya udah, pergi aja sana.’”

“Lha, emang kamu juga harus pergi, bukan?”

“Tapi kamu kayak nggak rela gitu.”

“Bukannya nggak rela.” Wajah bundar berbingkai rambut ikal gelap sebahu itu tampak murung. Lalu, dengan malu dia mengakui: “Kesepian. Kangen.”

Wajah brewokan di layar tertawa. “Ah, kamu,” katanya renyah. “Tinggal dua minggu lagi. Sabar, ya.” Saat si wajah bundar tersenyum lagi, si brewok melanjutkan: “Nanti kalo novel berikutmu sukses lagi hingga difilmkan, kamu juga bakal dapet giliran tur promo di jalan.”

Pembicaraan malam itu berakhir dengan memuaskan. Sosok ramping dan brewokan itu tersenyum saat memutuskan hubungan di ponsel.

“Belum tidur?” tegur laki-laki kribo di ruangan yang sama. Sosok gempal itu sedang membereskan kamera. “Mending tidur dulu. Jam dua nanti kita take shot. Kalo bisa jangan kelamaan.”

“Oke.”

Di tangan si brewok, ada fotonya dengan dua sosok yang paling dicintainya. Dua wajah bundar berambut ikal, ibarat pinang dibelah dua. Namun, keduanya berbeda usia. Yang kecil selalu menagih yang sama setiap kali dia pulang dari perjalanan panjang:

“Kalo Papa bisa ngangkut tas gede ama kamera sekaligus, berarti gendong aku doang juga bisa, dong.”

Lelah? Sangat, namun kapan lagi bisa memeluknya sesuka hati? Sebelum gadis kecil itu terlalu besar dan merasa gengsi.

Tur2:

“Kapan aku pulang? Masih dua minggu lagi.”

“Oh.”

“Kenapa?” Wajah bundar itu tampak geli. “Kewalahan di sana?”

“Nggak.” Wajah brewokan itu tampak malu. Di pangkuannya, ada sosok mungil berwajah bundar juga, namun sudah lama terlelap.

Percuma juga berbohong. Wajah di layar ponsel itu kini menertawakannya.

“Nggak apa-apa.” Sekilas wajah itu tampak menyesal. “Memang kebetulan akulah yang paling banyak di sana.”

“Hei, ini momen kamu,” si brewok langsung buru-buru menenangkan. “Kita sudah sepakat saling mendukung karir masing-masing, tanpa melupakan yang penting.”

“Aku tahu.”

Pembicaraan malam itu berakhir sedikit sendu. Wajah bundar berambut ikal itu tampak agak sedih saat memutuskan sambungan di telepon.

“Kangen rumah?” tanya perempuan berkacamata di sampingnya. “Beruntunglah. Nggak banyak laki-laki atau suami yang berpikiran terbuka seperti dia.” Sosok ini lalu menatapnya dengan senyum penuh pengertian. “Tinggal satu kota lagi, habis itu kamu bisa pulang.”

“Iya.” Wajah bundar itu tersenyum lagi. Di tangan, ada fotonya dengan dua sosok yang paling dicintainya. Ada versi mini dirinya dengan sosok brewok itu.

Versi mininya sudah jago menggombal, terutama setiap kali dia pulang dari perjalanan panjang:

“Papa selalu kangen sama Mama, tuh.”

“Kok tahu?”

“Kata Papa, aku mirip Mama. Habis itu, aku dipeluk dan kita dancing pake lagu kesukaan Mama.”

“Oh.”

 Rumah:

“Hai, sayang.”

Si mungil berwajah bundar dan berambut ikal terbangun. Kedua wajah itu tersenyum di depannya. Hatinya langsung was-was.

“Kali ini Papa atau Mama yang harus pergi?”

Kedua wajah itu tertukar lirik sebelum kembali tersenyum padanya.

“Kali ini nggak ada, sayang,” kata wajah bundar dewasa di depannya. “Papa dan Mama lagi sama-sama di rumah.”

“Asyiiik!” Malam itu, seorang gadis kecil sangat berbahagia, memeluk kedua sosok yang paling dicintainya…

R.

(477 kata)

 

4 Replies to ““MOMEN FACE TIME””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *