“SEKADAR CANTIK?”

“Sekadar Cantik?”

Jujur, kalau soal tokoh perempuan, saya lebih suka membaca media luar ketimbang media lokal. Ya, meski media luar masih sama juga – tidak bisa lepas dari pakem ‘super basi’ yang mereka gunakan dalam menggambarkan tokoh perempuan yang mereka liput. Apalagi di dunia hiburan.

Okelah, memang sulit mengelak gambaran fisik bila temanya dunia hiburan. Contohnya, fashion dan runway. Pasti supermodel disebut ganteng atau cantik.

Lalu, kenapa untuk tema-tema lainnya, seperti: figur politik, sosial, hukum, dan bahkan olahraga – tokoh perempuan yang kebetulan langsing, terlihat anggun dan elegan harus disematkan embel-embel ‘cantik’ selalu, padahal isi beritanya bukan itu?

Beberapa kali saya pernah menyinggung hal ini dengan beberapa orang yang saya kenal. Sayangnya, reaksi mereka kurang menyenangkan. Nggak hanya nggak sepakat (nggak maksa juga sih, saya), mereka langsung menganggap saya aneh, lebay (berlebihan), hingga – yang paling lazim keluar – sirik.

“Ah, itu mah, udah biasa kali. Kenapa dimasalahin?”

“Namanya juga cewek. Pasti seneng dong, kalo dianggep cantik. Emang lo gak suka?”

“Elo aja kali yang sirik, karena nggak ada yang bilang elo cantik!”

Begitulah. Karena sudah terbiasa, lama-lama dianggap wajar dan nggak apa-apa. Namanya juga pemikiran yang “sangat sederhana”. Siapa pun bisa.

Ada yang salah dengan pujian ‘cantik’? Sama sekali tidak. Cantik itu pujian yang baik untuk perempuan, meski seharusnya tidak diperlakukan sebagai satu-satunya pujian yang baik untuk kaum saya.

Kalau ada yang bilang saya cantik, saya senang. Wajar, tho? Saya juga senang memuji keponakan perempuan saya yang bernama Gira dengan kata-kata ini:

“Gira-ku, you’re so pretty!”

Namun, saya juga memujinya sebagai gadis kecil yang baik, cerdas, dan berani. Mengapa? Meski bukan ibunya, saya tidak ingin Gira tumbuh dengan kepercayaan dangkal bahwa kesuksesan terbesar seorang perempuan hanyalah dari banyaknya orang yang memujinya ‘cantik’ (secara fisik).

Saya tidak ingin saat dia menyadari bahwa saat tidak semua orang memperhatikan dan mengaguminya, pertanyaan pertama yang hinggap di benaknya adalah: “Aku kurang cantik, ya?”

Oke, balik lagi ke persoalan pemberitaan perempuan di media massa. Mungkin para pemikir yang “sangat sederhana” menganggap saya berlebihan dan mencari-cari masalah yang sebenarnya sama sekali tidak ada. Sayangnya, bahkan dari sesama perempuan juga begitu.

Apakah saya hanya sirik karena malah dianggap nggak secantik kakak saya (mamanya Gira, seperti waktu kami remaja dulu) atau nggak seperti teman perempuan yang selalu sukses membuat laki-laki hetero menoleh saat dia lewat?

Saya nggak akan muna. Dulu iya, karena tahu sendiri betapa kejamnya manusia menghina sesama, bahkan sama mereka yang nggak pernah mau ganggu siapa-siapa. Sudah begitu pakai alasan ‘hanya bercanda’, dengan harapan tidak kena marah.

Saya yakin, saya bukan satu-satunya yang mengalami perlakuan demikian. Tidak heran, akhirnya perempuan malah jadi musuh paling kejam dan saling ‘menjegal’ sesamanya dengan berbagai cara. Kalau kata teman saya: nggak pake kode etik sisterhood yang benar.

Ada juga yang beralasan agar beritanya lebih ‘menjual’. Sialnya, ini menyebabkan tokoh perempuan yang jadi berita lebih banyak terfokus pada hal-hal yang teramat dangkal, alias yang tampak di permukaan saja.

Contohnya sudah terlalu banyak. Dulu, polwan cantik pernah jadi #trendingtopic. Tahu sendiri kriteria standarnya, ‘kan? Masih muda, tinggi semampai, langsing, berambut indah (lurus dan gelap) serta rapi, muka ramping, kulit putih nan mulus, jago dandan, dan murah senyum. Lalu, sempat ada netizen yang berkomentar bahwa saat para polwan yang dianggap cantik itu jadi pusat perhatian, rekan-rekan mereka yang dianggap tidak termasuk kategori tersebut seakan kurang layak jadi bahan liputan.

“Ah, nggak segitunya juga kali.”

Benarkah? Adakah yang serius tertarik dengan sepak-terjang mereka di lapangan? Sudah berapa kasus yang mereka tuntaskan? Apakah rekan-rekan mereka yang laki-laki sudah memperlakukan mereka dengan setara, alias nggak sebatas pelayan domestik di kantor yang bisa disuruh-suruh bikin kopi dan sejenisnya?

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan pujian cantik. Yang bikin saya makin lama makin eneg adalah saat kata itu jelas-jelas ‘dipaksakan’ menjadi bagian dari judul berita, padahal isinya jelas-jelas nggak relevan atau bahkan di luar konteks.

Pernah ada berita tentang (masih) polwan cantik yang meninggal. Ngapain perlu ada kata ‘cantik’ di situ? Apakah tujuannya agar pembaca bakal berkomentar: “Kasihan, cantik-cantik meninggal”? Apakah karena mereka dianggap cantik lantas seharusnya berhak hidup lama daripada mereka yang dianggap ‘nggak masuk hitungan cantik’? Beats me.

Ada juga berita tentang figur politik perempuan. Ya, meskipun program kerja mereka ikut disebut di dalam artikel, entah kenapa kata ‘cantik’ harus diselipkan di sana.

Yang paling terakhir tentu saat jurnalis senior Ira Kusno tampil di TV dalam debat para kandidat untuk Gubernur Jakarta kemarin. (Saya ketinggalan berita? Nggak juga. Biasa aja.) Lagi-lagi hanya pujian ‘cantik’ yang keluar, terutama mengingat usia beliau yang sudah 40-an.

Tidak hanya itu, disebut ‘cantik’ tidak semata-mata membuat perempuan hanya bertabur pujian dangkal. Masih banyak juga yang sinis dan malah bersikap bak misoginis (pembenci perempuan) sejati, seperti para netizen yang mengomentari penampilan Ira Kusno saat itu:

“Cantik-cantik buat apa. Ndak ada yang mau jadikan dia istri.”

“Gajinya buat makan, shopping, sama ngerawat bodi doang kali, ya?”

Memangnya kenapa kalau beliau belum menikah? Lalu, dari mana bisa menyimpulkan bahwa beliau memang menggunakan gajinya hanya untuk kegiatan-kegiatan tersebut? Sudah pernah tanya orangnya langsung, belum? Awas, fitnah.

Kalau memang benar, kenapa sewot? Toh, itu bukan uang Anda. Yang dilakukan seorang perempuan dengan gaji mereka ya, urusan mereka – selama nggak menyakiti orang lain.

Sedihnya, sekarang saya jadi sangsi sendiri. Seberapa banyakkah manusia Indonesia cerdas sekaligus berhati yang sudi memandang perempuan tidak hanya dari penampilan luar belaka? Padahal, sudah banyak perempuan berpendidikan tinggi, lho.

Semoga masih cukup banyak dan media tidak hanya memanjakan pasar berisi rombongan otak “yang demikian”, serta perempuan seharusnya jangan mau juga dilihat dan dianggap ‘sekadar cantik’ saja…

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *