“BOLEH KUPINJAM LELAKIMU?”

“Boleh Kupinjam Lelakimu?”

Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tak lebih.

Aku sering melihatmu bersamanya. Aku melihat caranya memeluk dan menciummu, meski di depan umum malam itu. Kamu tersenyum kikuk. Kuduga mungkin ini pacar serius pertama atau keduamu.

Yang kulihat, ada ragu di matamu, bercampur jengah dan malu. Mungkin juga sedikit rasa takut. Mungkin kamu memang menyukai perhatiannya.

Namun, matanya tidak bisa menipuku. Ada gairah yang bergelora di sana, yang membuatnya menginginkanmu lebih dari yang ingin kau berikan untuknya.

Prediksiku? Kalian berdua tidak akan bertahan lama. Terlalu berbeda dalam hampir segalanya. Dia ingin bebas melakukan semuanya denganmu. Baginya, moral dan agama adalah belenggu…

—***—

Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tidak lebih.

Jika dia ingin memberiku lebih, aku takkan menolak. Aku juga menyukainya, tidak peduli seluruh dunia akan menganggapku apa. Sudah banyak sebutan untukku: sundal, perempuan murahan, pelacur, tak punya moral…

Lucunya, lelaki bajingan yang suka tidur dengan banyak perempuan (termasuk denganku, tentu saja) juga menyebutku demikian di muka umum. Haha, kenapa? Situ kurang puas?

Ah, kurasa mereka hanya tidak mau terima bahwa perempuan juga bisa demikian. Benar-benar standar ganda. Ego mereka sudah terlalu lama berkuasa.

Mau sampai kapan aku terus begini? Ah, mungkin ini hanya idealisme tingkat tinggi, tanpa hasil yang benar-benar berarti.

Sampai standar ganda sialan itu tidak ada lagi…

—***—

Boleh kupinjam lelakimu? Ah, tak perlu. Malam itu aku sudah mendapatkannya, lebih dari hanya hangat lidahnya.

Sesuai dugaanku, lama-lama dia bosan dengan penolakanmu. Dia sendiri yang datang ke bar ini, mencari pelampiasan dan menemukanku.

Jujur, aku tidak peduli bila nanti kamu tahu. Bahkan, aku ingin kamu segera tahu, karena aku justru sedang menolongmu.

Aku hanya ingin menunjukkan, seperti apa sebenarnya lelaki yang mengaku mencintaimu…

R.

(Untuk Monday Flash Fiction Prompt#139: “Boleh Kupinjam Lelakimu?” http://www.mondayflashfiction.com/2017/04/prompt-139-boleh-kupinjam-lelakimu.html – 276 kata)

 

“11 Hal Paling ‘Ganggu’ yang Pernah atau Sering Didengar Si Chubby”

“11 Hal Paling ‘Ganggu’ yang Pernah atau Sering Didengar Si Chubby”

Tumbuh dengan tampilan fisik di luar ‘standar media massa’ alias gemuk atau chubby punya tantangan sendiri. Maunya sih, selalu pede dan happy. Cuma, tetap saja ada yang hobi mem-bully – bahkan pake alasan paling klasik sejagat: “Demi kebaikan elo juga, kali.”

Berdasarkan pengalaman pribadi, curhatan mereka yang senasib, hingga sumber-sumber tulisan lain, ini dia “11 Hal Paling ‘Ganggu’ yang Pernah atau Sering Didengar Si Chubby”:

1. “Beratnya berapa, sih?”

Nggak apa-apa kalo yang nanya dokter, ahli nutrisi, fitness trainer, atau mereka yang benar-benar peduli dengan  kesehatanmu. Masalahnya, yang nanya itu niatnya cuma kepo. Entah nyari bahan ledekan atau buat gunjingan.

Saran: suruh aja mereka tebak sendiri, tanpa pernah kasih jawabannya. Toh, nggak wajib cerita-cerita juga, ‘kan?

2. “Kok kakak sama adikmu bisa kurus, sih?”

Ini salah satu pertanyaan terbodoh yang pernah saya dengar sepanjang sejarah menjadi chubby. Anak kembar identik aja bisa punya perbedaan.

Lagipula, kok kesannya nggak ikutan kurus itu kayak ‘cacat’, ya? Bagi yang sensi, ucapan ini bisa menimbulkan rasa iri dan benci sama saudara sendiri. Sementara itu, yang asal cablak mana mau peduli.

Saran: berhubung jelas-jelas basa-basi, diem aja atau cukup jawab: “Nggak tahu. Tanya aja ama yang menciptakan.” Sesederhana itu. Habis, mau jawab apa lagi?

3. “Gimana sih, rasanya jadi gendut?”

Hmm, rasanya gimana, ya? Eh, tunggu sebentar. Ini pertanyaan serius, basa-basi, apa…serius ngeledek?

Saran: suruh aja mereka coba naikin berat badan sendiri, barang 10-20 kilo. Abis itu gantian tanya mereka, “Sekarang gimana rasanya?”

4. “Makannya apa aja, sih? Kok bisa gemuk gini?”

Mungkin pertanyaan atau komentar di atas masih lucu bila ditanyakan pada bayi. Lha, kalo yang ditanya udah dewasa? Tapi tenang, selama Anda berprofesi sebagai dokter, ahli nutrisi, atau fitness trainer yang memang ditunjuk untuk membantu mereka supaya sehat, aman-aman aja nanya gitu.

Saran: biar berasa seleb, suruh aja mereka mengikuti Anda selama seharian penuh. Syarat tambahan: tinggalkan dompet mereka dan seisinya di rumah. Saat Anda makan, biarkan mereka melototi isi piring Anda…karena kelaparan. ‘Kan penasaran. Nggak ada yang bilang Anda harus ikut bayarin mereka makan.

5. “Pasti makannya daging terus dan gak suka sayur.”

Saran: lakukan sama seperti kasus nomor empat.

6. “Kamu pasti nggak pernah olahraga.”

Duh, perhatian amat. Yakin nggak pernah stalking kita, nih?

Saran: bila memang masih olahraga, ajak aja mereka nge-gym bareng. Bila emang nggak bilang aja jujur tapi abis itu tanya mereka, “Kenapa? Mo bayarin gue nge-gym ampe gue kurus?” Kalo mereka nolak, bilang aja gini: “Yee, komen lo barusan tuh, basa-basi banget, deh. Kirain mau nawarin nge-gym gratis!”

7. “Diet-lah kau.”

Heh, emang ini badan punya siapa? Ngatur-ngatur lagi. Diet juga nggak bisa asal. Emang situ mau ngurusin kalo mendadak saya masuk UGD karena salah diet? Belum tentu, ‘kan?

Saran: bilang aja, “Oke, selama mulut lo juga diet.” (Baca: gak asal usil komentarin bodi orang.) 

8. “Kurusin, dong. Mau ‘kan, punya pacar?”

Nah, kalo ini beneran penghinaan tingkat tinggi. Yang paling bikin keki, yang ngomong sesama cewek. Bolehlah Anda berbangga karena sudah bersuami, tapi untuk apa menghina perempuan lain yang masih lajang atau mencari pasangan sejati?

Padahal, ini hitungannya sudah termasuk double-shaming = fat-shaming + single-shaming. Percuma juga bila habis itu pake tambahan embel-embel: “‘Kan kita sayang kamu.” Bullying is bullying! Gak usah pake alasan basi hanya karena nggak mau terima kena marah.

Selain itu, ucapan di atas juga menggeneralisir dua gender sekaligus, lho. Kesannya begini:

– Semua laki-laki berotak dangkal dan hanya menilai perempuan dari fisik doang. (Hayo, Tuan-tuan pasti pada nggak terima!)

– Kesannya hanya perempuan dengan ciri-ciri fisik tertentu yang berhak dan pasti dapat jodoh. Tuhan Maha Adil, tapi sesama manusia-lah yang suka brengsek.

Saran: nggak usah diladenin, karena sudah jelas siapa yang sombong dan gila pembuktian di sini. Nggak perlu langsung buru-buru cari pacar juga, cuma buat ngebuktiin kalo ucapan mereka salah.

Boleh juga tunjukkan foto Adele dengan pasangannya atau sahabat Anda yang sesama chubby di hari pernikahannya. Kasihanilah mereka yang asal cablak barusan. Mungkin kurang gaul, korban sinetron basi, atau mainnya kurang jauh. Makanya, jangan heran bila pikiran mereka jadi sempit begitu.

9. “Dulu pernah kurus, nggak?”

Kalo iya kenapa, kalo enggak juga kenapa? Tujuan dari pertanyaan ini sudah jelas: mencari apa yang salah dengan pola makan seseorang. Padahal, masih ada dua faktor lain yang bisa jadi biang keladi: genetik dan hormon.

Saran: balas aja begini: “Mau tau aja…apa mau tau banget?” Kalo masih cerdas sekaligus waras, biasanya mereka akan tahu diri dan tutup mulut. Nggak ada topik lain, ya?

10. “Hah, baru jam segini udah laper lagi? Pantes gendut.”

Teman-teman masih bisa menahan lapar hingga lewat jam 12, tapi perut Anda sudah krucuk-krucuk nggak karuan pas jam 11:30. Bukannya kasihan, mereka malah menjadikannya bahan ledekan – menganggapnya sebagai kelemahan yang memalukan.

Padahal, kondisi dan ketahanan fisik setiap orang beda-beda. Nggak ada yang lebih memuakkan dari mereka yang menyombongkan kelebihan mereka.

Saran: cuekin aja. Daripada masuk angin terus jatuh sakit, mending makan aja kalo emang udah laper duluan. Nggak usah maksain diri, kecuali kalo mereka sudi menggendong Anda bila mendadak jatuh pingsan.

Kalo teman-teman Anda sikapnya begini, mungkin posisi mereka dalam hidup Anda harus dipertimbangkan lagi.

11. “Ciee…tumben, makannya lagi dikit. Lagi diet apa cuma jaim, nih? Terus, akhirnya olahraga juga? Mau kurus nih, ceritanyaaa…Nggak bisa instan lho, ya…”

Serba salah ya, jadi chubby? Makan banyak dibilang rakus, giliran dikit dikira lagi diet atau cuma jaim. Terus pas baru mau mulai olahraga juga langsung dikira mau kurus.

Nggak bisa instan? Iya, kami tahu. Kami juga nggak sebego itu, kok. Daripada berisik ganggu konsentrasi kami pas olahraga, gimana kalo kalian juga mulai olahraga – alias nggak hanya ‘olahraga mulut’ aja?

Saran: udah, cuekin juga yang ini. Nggak penting juga nyahut balik. Toh, yang penting Anda menang sibuk daripada mereka, sehingga Anda nggak punya waktu usil sama urusan orang lain.

 

Tuhan Maha Adil dan Kreatif. Makanya, nggak ada manusia yang 100% mirip, baik dari segi fisik, mental, pola pikir, hingga kepribadian. Semuanya indah dengan versi masing-masing.

Terus, ngapain juga kita saling merendahkan? Apa pun bentuk tubuh Anda, nggak ada seorang pun yang berhak membuat Anda merasa jelek dan benci sama diri sendiri. Mereka juga nggak berhak memanipulasi perasaan Anda dengan alasan ‘karena rasa sayang’ atau ‘demi kebaikan Anda’. Tubuh Anda adalah hak Anda, bukan mereka. Anda sendirilah yang harus memutuskan yang terbaik bagi tubuh Anda.

Daripada jadi ikutan bodoh, cuekin aja mereka. Cukup fokus sama perbaikan diri sendiri dan orang-orang yang beneran mendukung dan menyayangi Anda, sementara para bully akan selalu berusaha cari perhatian dengan cara paling basi.

R.

 

“DARI GADIS YANG SULIT PERCAYA”

“Dari Gadis yang Sulit Percaya”

Aku terlalu tua untuk cerita dongeng

harapan semu dan cerita cinta cengeng

Ini dunia nyata

Aku harus sadar sepenuhnya

 

Aku memang bukan putri raja

namun juga enggan menghamba

pada mereka yang manja

selalu minta diperlakukan seperti dewa

 

Mungkin sudah tidak ada lagi pangeran

tertutup laki-laki bertabiat kejam

selalu ingin berkuasa dan merendahkan perempuan

lebih banyak menyuruh mereka diam

 

Aku enggan berhenti percaya

namun yang sering kulihat sama

Aku juga mulai sering mengunci pintu

khawatir mereka masuk dan menginjak keping-keping hatiku

yang hingga kini belum rampung menyatu

 

Maaf, ini bukan rasa benci

hanya takut setengah mati

Tak sudi tertipu lagi

lalu merasa bodoh sendiri…

 

R.

 

“3 JENIS PENDEBAT DALAM OBROLAN”

“3 Jenis Pendebat dalam Obrolan”

Sebuah obrolan dapat berubah menjadi diskusi hangat atau argumen ‘panas’. Namanya juga manusia, beda pendapat itu biasa. Namun, cara mereka menggiring obrolan menjadi lebih sehat atau tidak dapat berpengaruh pada hasil akhirnya.

Berhubung cara manusia berdiskusi atau mengkritik berbeda-beda, ada tiga (3) jenis pendebat dalam obrolan, yaitu:

1. Yang blak-blakan dan cenderung “apa adanya”.

Tipe ini pemuja “kejujuran di atas segalanya”. Enaknya, mereka nggak bakalan menikam dari belakang. Kalau memang nggak suka, mereka bakalan bilang nggak suka di depan Anda. Nggak ada acara pura-pura.

Nggak enaknya? Terutama bila sudah emosian, mereka bisa berubah makin kasar dan nggak sopan. Bahkan, nggak jarang mereka berani melabrak atau menyerang lawan bicara secara personal, meskipun lawan bicara lebih tua. Ada yang pakai bentak-bentak seperti: “Nggak pake otak lo!” hingga yang nyinyir halus seperti: “Kok kayaknya sodara lemot ya, memahami maksud saya?”

Jika menang berdebat, mereka cenderung sombong dan menjatuhkan lawan bicara dengan nada mengejek. Jika kalah, mereka tipe ngambekan untuk beberapa saat. Bila hati mereka cukup besar, biasanya mereka akan segera lupa. Bila tidak? Bisa alamat balas dendam, entah untuk terus membuktikan lawan bicara salah atau berusaha menjatuhkan mereka – bahkan dengan cara yang kekanak-kanakan.

Termasuk tipe ini?

Woy, santai aja, napa? Meskipun merasa benar, masih bisa kok, menyampaikan pendapat dengan cara yang lebih beradab. Sopan santun nggak berarti selalu sama dengan lemah, munafik, atau bersikap pengecut.

Mungkin Anda termasuk yang cepat meledak, lalu tenang dan lupa kemudian. Masalahnya, nggak semua orang bisa selupa Anda. Pasti ada yang sakit hati dan mungkin diam-diam menyumpahi.

Mungkin Anda nggak peduli, selama Anda sudah merasa benar. Tapi, apa gunanya selalu benar dan menang dalam perdebatan, bila pada akhirnya Anda akan selalu sendirian? Kecuali Anda memang nggak butuh siapa-siapa. Toh, kalau mereka memang nggak sepakat sama Anda, ya udah. Anda sendiri juga nggak mau dipaksa ‘kan, untuk menuruti maunya mereka?

2. Sang diplomat/pencinta damai.

Pendebat tipe blak-blakan biasanya kurang sabar menghadapi sang diplomat. Selain cenderung agak suka bertele-tele (terutama atas nama kesopanan dan menjaga perasaan semua orang), pihak ini juga dianggap kurang tegas dan “nggak enakan”.

Padahal, tipe ini justru paling tahu cara melobi, bahkan pihak yang berseberangan. Nggak selalu artinya ‘menjilat’, ya. Mereka lebih sabar dalam mendengarkan argumen lawan bicara atau semua pihak yang terlibat dalam obrolan. Kalau sampai ada yang bermulut cabe (seperti si blak-blakan), mereka berusaha agar tidak memasukkannya ke dalam hati.

Intinya, mereka lebih fokus kepada masalah daripada yang berbicara. Mereka juga mengumpulkan data-data yang valid dulu untuk mempertegas argumen mereka.

Jangan dikira mereka takut dengan pendebat tipe pertama. Kalau menang berdebat, mereka nggak akan sombong dan merendahkan lawan bicara. Biasa aja. Intinya, mereka tetap ingin menjaga hubungan baik dengan semua orang.

Kalau kalah berdebat? Biasanya mereka akan mencari cara lain untuk meyakinkan lawan bicara atau berusaha melobi orang lain yang menurut mereka mungkin bervisi dan misi yang sama.

Termasuk tipe ini?

Nggak salah kok, tetap menjaga sopan santun dan hubungan baik dengan semua orang. Namun, sifat Anda yang kadang cenderung kurang tegas membuat Anda rentan disepelekan. Bila memang yakin benar, nggak salah juga bila sesekali mempertahankan pendapat Anda.

3. Sang pengamat dan problem-solver yang efektif.

Sekilas, tipe ini mirip dengan sang diplomat. Sedikit bicara, banyak mendengarkan. Kadang dia menunggu ditanya, baru bicara. Kadang, bila merasa ucapannya penting, dia sendiri yang akan mengajukan diri untuk bicara. Dia tetap berbicara dengan sopan namun tegas. Pokoknya, straight to the point tanpa harus menikam harga diri lawan bicara.

Tipe ini juga lebih fokus pada penyelesaian masalah ketimbang menuding siapa yang salah. Baginya, ini bukan masalah menang atau kalah dalam berdebat. Jika tidak ditanggapi, dia juga lebih cepat move on. Toh, dia sudah berusaha membantu mencari solusi. Itu yang penting.

Termasuk tipe ini?

Banyak yang respek – dan mungkin sedikit segan – dengan Anda yang termasuk tipe ini. Anda gabungan kedua tipe sebelumnya yang cukup sempurna. Anda tetap bisa blak-blakan tanpa harus terdengar barbar. Anda juga bisa berdiplomasi tanpa harus banyak puja-puji.

Di satu sisi, Anda terlihat dewasa karena mampu mengendalikan emosi. Sayangnya, banyak yang salah sangka, mengira Anda seperti tidak punya perasaan dan cenderung tidak pedulian – saking efektifnya dalam memandang masalah.

Jadi, pendebat macam apa Anda?

R.

 

“LEBARAN BARENG KELUARGA KOK ‘NAKUTIN’?”

“Lebaran Bareng Keluarga Kok ‘Nakutin’?”

Saya sempat bikin status di semua laman media sosial saya waktu Lebaran tahun lalu:

“Wanna have a peaceful Eid with me? Stop commenting on my weight, thank you very much!”

(Gak mau ribut ama saya pas Lebaran? Stop usil komentarin berat badan saya, terima kasih!)

Singkat cerita, nggak ada yang merecoki saya dengan pertanyaan atau komentar seputar berat badan. Mereka juga nggak nanya-nanya lagi seputar kapan saya nikah dan topik-topik kategori ‘mengganggu’ lainnya, meskipun saat ini saya sudah 35 tahun dan masih lajang. (Gak, nggak takut ngaku, kok.)

Mungkin mereka sudah membaca status saya dan memutuskan untuk nggak cari gara-gara. Namun, seorang kawan bilang begini sama saya:

“Orang pasti akan selalu punya komen gak penting, bahkan meski gak diminta sekali pun. Cuekin aja kalo elo emang pede.”

Iya, sih. Tapi, kayaknya kok, easier said than done, ya? Apalagi pertanyaan dan komentar yang sama suka diulang-ulang tiap tahun. Sampai-sampai ada teman yang menyamakannya dengan rerun sinetron basi atau kaset rusak. (Hehe, teknologi pra-milenial ini.)

Saking seringnya, daftar pertanyaan ‘ganggu’ itu sampai bisa dihapal di luar kepala. Mulai dari soal berat badan, kapan nikah, kapan punya anak, kapan nambah anak, soal kerjaan, gaji, hingga pilihan hidup lainnya yang pasti menurut mereka ‘enggak banget’.

Ini belum Lebaran, tapi saya melihat sudah ada beberapa kenalan yang sepertinya mempersiapkan ragam jawaban ‘cerdas’ (entah lucu atau menohok halus, ketimbang marah-marah atau diam dengan muka jutek) untuk berondongan pertanyaan yang ‘itu-itu lagi’  tiap tahun.

Ada teman perempuan yang mengaku sampai ‘mulas’ hanya gara-gara mikirin mau mudik. Harusnya dia seneng berkumpul dengan keluarga besarnya lagi.

“Kesiksa rasanya,” aku teman saya. “Kalo hanya ditanya-tanya kapan nikah atau udah nemu calon pendamping hidup apa belum, itu masih mending. Yang paling bikin gak enak itu saat ditatap ‘sedemikian rupa’ ama yang lebih tua, kayak ama kakek atau nenek. Seolah-olah selalu ada yang salah atau aku udah ngecewain mereka. Seolah-olah aku nggak akan pernah cukup baik di mata mereka, hanya karena belum menikah juga.”

Ada juga teman perempuan lain yang bercerita:

“Gue ngerti, gue ama mereka emang udah beda generasi. Yang bikin bete, mereka hobi banget banding-bandingin, seakan-akan generasi mereka lebih baik daripada generasi gue. Kayak tante gue yang pernah ngomong gini: ‘Heran deh, ama anak perempuan sekarang. Kayaknya nemu jodoh tuh, susah amat. Zaman Tante dulu, jodoh ketemu pas SMA dan langsung kawin.’

Ada juga yang ‘diteror’ terus dengan pertanyaan seputar anak. Yang belum punya disuruh cepat-cepat atau bahkan sampai dituduh ‘kurang usaha’. Sotoy banget, yah?

Yang udah punya satu disuruh nambah, meski yang nyuruh belum tentu bakalan mau diminta ikutan bantu ngurusin. Yang udah punya banyak anak tapi berjenis kelamin sama disuruh ‘nyoba’ lagi, apalagi bila anak-anaknya perempuan semua.

“Siapa tahu kali ini dapat anak laki.”

Kadang mereka cukup tega ngomong gitu pas depan anak-anak perempuannya. Pernah ada satu kasus salah satu anak jadi sedih dan nanya gini ama bapaknya:

“Memangnya aku nggak cukup baik ya, Pa, karena anak perempuan?”

Emang yang komentar barusan mau tanggung jawab bila perasaan si anak terluka? Dalam hal ini, saya sepakat dengan kawan ekspat saya, seorang laki-laki yang menikah dengan perempuan Indonesia:

“Gak rasional, deh. Emang mereka bisa ngatur-ngatur mau dapet anak berjenis kelamin apa?”

Lucu memang, terutama mengingat masyarakat kita yang (katanya) beragama. Nggak ada yang salah dengan terus berdoa dan berusaha bila memang ingin sekali. Tapi, kalau memang belum – atau malah enggak – dikasih, mereka mau apa? Mendemo Tuhan?

Seperti biasa, yang protes begini pasti lebih banyak disalahin. Argumen andalan mereka: “Gitu aja baper.” Dituduh nggak ngerti basa-basi atau bercandaan. Bahkan, nggak jarang yang protes begini malah disuruh ‘harap maklum’ dan ngalah kalau yang komentar atau usil nanya-nanya kebetulan juga jauh lebih tua.

Sayangnya, nasihat atau saran yang keluar dari tahun ke tahun pun ‘itu-itu juga’:

“Udah, sabar-sabarin aja. Toh, hanya ketemu setahun sekali ini.”

“Udah, biarin aja mereka mau ngomong apa. Toh, tetep kamu ‘kan, yang memutuskan dan bertanggung jawab sama pilihan hidupmu sendiri?”

“Udah, maklumin aja. Mereka cuma nyari bahan obrolan, cuma gak tahu topik yang enak apa.”

“Udah, anggep aja itu bentuk perhatian, meski caranya kurang tepat.”

Dan embel-embel ‘udah’ lainnya. Lama-lama terasa seperti alasan yang dicari-cari dan ‘pembenaran sepihak’. Hanya mereka yang boleh nanya dan komentar suka-suka, nggak peduli ada yang terluka. Apalagi kalau sudah bawa-bawa ‘angka dan senioritas’. (Baca: umur.)

Lalu, ada apa dengan mereka yang belum Lebaran aja udah kayak ‘pasang kuda-kuda’? Mulai dari posting meme sarkastik macam “Tarif Buat yang Nanya ‘Kapan Kawin?’ “ hingga mereka yang mulai stok jawaban ‘ajaib’ buat pertanyaan-pertanyaan yang ‘itu-itu lagi’.

Jawabannya hanya ada satu, sodara-sodari sekalian:

KEMUAKAN.

Lebaran bareng keluarga besar yang harusnya menyenangkan dan dapat mempererat tali silaturahmi malah jadi menakutkan. Udah gitu, kayak pada nggak sadar-sadar juga lagi.

“Ayo dong, buruan nikah. Adikmu udah duluan, laki lagi. Nggak usah terlalu pilih-pilih-lah.” (Ntar giliran laki pilihan ternyata dianggep ‘nggak beres’, tetep disalahin juga: “Kok milihnya dia, sih?”)

“Kapan punya anak? Sepupu kamu udah dua tuh, anaknya.” (Kayak nagih utang atau mesen menu di restoran, ya? Lagipula, kenapa semua harus dijadiin ajang balapan, sih?)

“Mungkin kamu harus berubah sedikit, biar lebih kayak kakakmu supaya cepet dapet suami.” (Pertama, kesannya hanya perempuan tipe tertentu yang disukai semua laki-laki. Kedua, kesannya laki-laki berotak dangkal semua dan nggak punya selera beragam.)

Nggak heran banyak status dan meme di media sosial seputar isu ini, terutama sebelum dan menjelang Lebaran. Bahkan, ada juga yang pake tagar #stopjadiorangnyebelin atau #yukbikinLebaranasiklagi .

“Trus, gimana dong, ngobrolnya kalo topik-topik itu dianggep nyinggung semua?”

Ah, info sekarang melimpah ruah lho, berkat era digital. Masa nggak ada sih, topik yang asyik selain itu?

Seorang teman lain yang juga sering ditanya soal anak juga ngomong begini:

“Padahal mereka tinggal nanya kabar aja trus tunggu aku cerita. Perhatian sih, perhatian. Tapi kalo jadinya ampe nge-judge dan mendikte kebahagiaan orang lain, rasanya kok pengen kabur aja, ya?”

Hmm, andai saja orang mau lebih kreatif dan inovatif dengan topik yang mau disinggung saat Lebaran bareng keluarga besar, jadinya nggak harus kayak gini tiap tahun. Teman saya nggak harus sampai ‘mulas’ gara-gara mikirin mudik.

Yang paling penting, nggak jadi acara antipati ketemu keluarga sendiri.

Harusnya sih, Lebaran itu ‘Hari Kemenangan’. Apanya yang menang kalau mulut masih suka usil mengomentari (yang dianggap) kekurangan orang lain dan bikin mereka merasa nggak nyaman – sekaligus sakit hati? Percuma dong, sebulan puasa untuk mengendalikan diri?

R.

 

“TERLALU DINI UNTUK CINTA?”

“Terlalu Dini untuk Cinta?”

Enggan kusebut ini cinta

Terlalu dini rasanya

mengingat kita jarang berjumpa

 

Kurasa ini masih ambigu

dan aku masih terlalu malu

Mungkin kau tertawa bila tahu

 

Namun ada yang nyata

seperti senyum itu yang mencipta bahagia

atau sajak-sajakmu penembus sukma…

 

…atau air matamu yang membuat pilu

Ah, rasanya aku terlalu lama terpaku

Mungkin ini hanya angan-angan semu

 

Mungkin terlalu dini

Mungkin aku yang harus tahu diri

jangan berharap pada yang belum pasti…

 

Barangkali ini juga ilusi

ibarat candu abadi

penawar rindu dalam sunyi

mencoba berdamai dengan sepi…

 

R.

 

“TENTANG KEBAYA DAN ESENSI SEJATI HARI KARTINI”

“Tentang Kebaya dan Esensi Sejati Hari Kartini”

Tahun lalu, saya pernah menulis tentang perayaan Hari Kartini yang – menurut saya, nih – begitu-begitu saja. Kalau nggak lomba berkebaya, dandan secantik-cantiknya, hingga ikut lomba memasak dan kegiatan domestik lainnya.

Ya, mungkin saya agak blak-blakan, sehingga ada yang tersinggung. (http://www.kompasiana.com/rubyastari/memaknai-hari-kartini-tanpa-perlu-jadi-maniak-berkebaya-dalam-sehari_5719e4333dafbd4f0739a7cb) Masalahnya, saya gemas dengan perayaan Hari Kartini yang sudah terlalu lama melenceng jauh dari cita-cita beliau sesungguhnya.

Hak berpendidikan, berkarir, berkarya, dan memilih jalan hidup bagi seorang perempuan. Hak merasa aman keluar rumah hingga menjadi diri sendiri. Hak untuk mandiri dan tidak direndahkan oleh siapa pun, baik dari laki-laki dan bahkan sesama perempuan itu sendiri.

Lalu, apa makna yang bisa didapat dari ‘hanya berkebaya dalam sehari’? Nggak perlu menunggu Hari Kartini, mau ke kawinan saja juga bisa. Mau pakai tiap hari juga nggak ada yang melarang, selama Anda nggak harus lari-lari mengejar bus kota, naik kereta yang kadang pijakan gerbongnya (terlalu) tinggi, hingga keribetan khas ibukota lainnya sehari-hari.

Lalu, tentang lomba memasak. Meskipun tidak ada yang salah dengan kegiatan ini, saya tetap tidak bisa menemukan hubungannya dengan perayaan Hari Kartini. Toh, pada dasarnya semua manusia tetap butuh makan tiap hari.

Masih menganggap memasak kegiatan yang harus terkait gender tertentu? Ah, kuno. Terus, apa kabar para laki-laki yang jadi koki resto dan hotel?

Oke, saya nggak akan memaksa pencinta tradisi untuk tetap meneruskan sesuatu yang selama ini terasa nyaman. Itu hak Anda.

Namun, saya juga enggan membiarkan diri ini terlena. Masih banyak anak perempuan yang putus sekolah dan (dipaksa) menikah dini, terutama atas nama ekonomi. Masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, yang pastinya nggak bisa diabaikan begitu saja – apalagi hanya dengan simbol ‘kebaya’ yang jelas-jelas nggak relevan.

Intinya, saya nggak akan bosan untuk mengingatkan: masih banyak hal yang jauh lebih penting dan mendesak untuk ditangani, daripada sekadar tampil cantik berkebaya dalam sehari. 

Selamat Hari Kartini. Semoga perempuan tidak lagi hanya dipandang sebagai beban ekonomi, sehingga dipaksa menikah dini yang berujung pada kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kehancuran diri…

R.

 

“TANGAN-TANGAN PENGATUR SI CANTIK”

“Tangan-tangan Pengatur Si Cantik”

“Kamu cantik.”

Pujian itu selalu kudengar dari kecil. Mereka senang mengajakku bercermin, sambil sesekali memainkan rambut panjangku. Rambut yang tidak boleh dipotong, larang mereka.

“Nanti kamu keliatan kayak anak laki-laki, nggak cantik lagi.”

Padahal, aku gerah. Panas, apalagi siang-siang. Aku juga dilarang main lari-larian di kebun bareng abangku dan para sepupu. Kata mereka, anak perempuan harus anggun, duduk manis, dan penurut. Nggak boleh berkotor-kotor. Nanti nggak cantik lagi.

Jadilah aku duduk di antara para tetua, dengan gaun putih bersihku. Sesekali tangan Bunda membetulkan cara dudukku atau menyibakkan rambutku yang mulai kembali berantakan. Nggak peduli aku yang cemberut karena malu jadi tontonan.

Membosankan.

Bunda, aku bukan boneka. Aku anakmu…

-***-

“Kamu cantik.”

Setiap gadis remaja pasti senang mendengar pujian itu, apalagi dari pemuda yang mereka suka di sekolah.

Begitu pula aku. Dia tersenyum padaku, membuatku tersipu. Katanya dia suka dan ingin aku jadi pacarnya. Kuiyakan saja, meski tidak benar-benar mengerti maksudnya.

Awalnya, semua terasa indah. Lama-lama menyebalkan. Sama saja kayak Bunda dan semua orang. Terlalu banyak aturan. Aku harus dandan sesuai maunya. Nggak boleh pulang terlalu malam, kecuali hanya kalau sedang jalan sama dia. Jangan keseringan nongkrong sama teman-teman, dia kesepian.

Jangan berteman sama laki-laki lain, dia cemburu.

Akhirnya, aku lelah. Aku minta putus. Di luar dugaan, dia malah menamparku. Lalu, malam itu dia membantingku ke tanah. Aku ingin menjerit, namun tangannya langsung beringas membungkamku.

Malam itu, tangannya menjelma seribu. Sia-sia aku melawan. Dia terus menimpaku, memukuliku seakan aku adalah sansak untuk petinju.

Lalu, seperti anak kecil bermain boneka, dia mulai melucuti pakaianku. Satu-satu…

-***-

“Bunda, aku masih cantik, ‘kan?”

Aku bingung. Kenapa Bunda menangis? Aku ‘kan cuma tanya.

Luka-luka di wajah dan tubuhku sudah berkurang banyak, meski hidungku tidak lagi sama. Daguku juga sedikit bergeser.

Mereka tidak pernah menangkapnya. Kata mereka, di sini setidaknya aku aman. Banyak tangan yang mengurusku. Mereka sangat memanjakanku, seperti seorang putri raja. Membangunkanku tiap pagi, memandikanku, mendandaniku seperti boneka cantik. Seperti Bunda dan semua orang dulu.

Mereka sabar dan baik sekali. Mereka menyuapiku saat makan. Kurasa mereka semua malaikat berbaju serba putih.

“Bunda jangan menangis. Lihat, akhirnya aku bisa duduk diam dan anggun. Lihat, kali ini aku menurut, kok. Aku masih cantik ‘kan, Bunda?”

R.

(Dari Monday Flash Fiction Prompt#138: “Tangan-tangan” http://www.mondayflashfiction.com/2017/04/prompt-138-tangan-tangan.html?m=1  – 359 kata.)

 

“KAU TIDAK PERNAH TAHU”

“Kau Tidak Pernah Tahu”

Kau hanya tahu nama

tanpa pernah ingin mengenalnya

Kau hapal wajah

namun curhatnya mungkin bikin kau lelah

 

Kau terlalu bahagia

Ya, tiada yang sempurna

Kau kira kau tahu semua

termasuk cara menyelamatkan nyawa

 

Kau tidak pernah benar-benar tahu

Kau hanya tahu mereka menyerah

mengejar alam barzah

kalah oleh masalah

 

Bagimu mereka pengecut

yang baru segitu sudah kalut

Kamu sibuk bikin status tentang mereka

jiwa-jiwa merana

tanpa peduli kawan dan keluarga

yang kehilangan dan berduka

lalu kian terluka

setelah membaca gunjinganmu di social media…

 

Kau kira kau tahu segalanya

tapi bahkan enggan mendekati mereka

mengajak bicara

menjadi pendengar yang sabar

mencegah mereka menyerah…

 

R.

 

“BUNUH DIRI”

BUNUH DIRI:

“Tentang Mereka yang ‘Menyerah’ dan yang Ditinggalkan…”

Masih segar di ingatan saya saat mendengar kabar duka mengenai Tommy Page, salah satu penyanyi pop favorit masa remaja saya, serta video live bunuh diri seorang laki-laki yang sempat menggegerkan hadirin Facebook dan sekitarnya.

Jumat minggu lalu, saya makan siang di salah satu warung langganan saat yang punya memberi kabar mengejutkan:

Ada mahasiswa dari kampus dekat warung yang terjun dari lantai teratas gedung kampusnya malam sebelumnya, sekitar pukul sepuluh. Penyebabnya? Hingga kini saya memilih tidak mau tahu, meski rasa penasaran sempat mendorong saya ke TKP hari itu juga. Penasaran dan mumpung dekat.

Apa yang saya harapkan begitu tiba di sana? Jujur, nyaris tidak ada. Karena kejadiannya malam sebelumnya dan pas jam-jam sepi, pasti penanganannya lebih cepat.

Benar dugaan saya. Nggak ada lagi police line. Semua sudah dibersihkan. Bahkan, dengar-dengar pihak kampus melarang pers memasuki wilayah kampus dan mencari tahu lebih lanjut.

Yang ada hanya desas-desus hingga spekulasi. Kata “bunuh diri” disebut berkali-kali. Ada wajah-wajah bingung bercampur penasaran.

Seperti kasus-kasus serupa, efek domino pun terjadi. Sebagian bisa dibayangkan, sisanya silakan dilihat.

Orang tua, keluarga, dan kawan-kawan dekat mendiang yang bersedih. Kenalan yang nggak begitu dekat dan bertanya-tanya, entah dalam hati atau ke sana kemari.

Lalu, tukang gosip, para spekulator, hingga pembagi opini ‘cuma-cuma’. Nggak bisa dicegah, meski sayangnya…mereka nggak sadar dengan bahayanya. Bolehlah berpendapat dan mengingatkan bahwa bunuh diri itu dosa dalam semua ajaran agama, apa pun alasannya.

Yang bablas adalah para spekulator dan pemberi opini ini blak-blakan menyebut semua pelaku bunuh diri sebagai pendosa berwatak lemah, cengeng, dan mudah menyerah. Lucunya, kenal aja juga enggak.

Benarkah mahasiswa itu bunuh diri? Entahlah. Kalau dipikir-pikir, ngapain dia selarut malam itu ada di gedung kampus, lantai teratas pula? Ada yang tahu?

Kita nggak pernah benar-benar tahu penyebab bunuh diri seseorang, kecuali bila mereka meninggalkan pesan atau usaha gagal dan mereka dipaksa bercerita. Atau ada ahli medis dan keluarga yang mengetahui lebih jelas sejarah depresi mereka.

Sayangnya, masalah gangguan mental atau depresi masih begitu mudah distigma di sini. Mereka yang dengan entengnya mencerca, terutama di media sosial, sering melupakan satu hal penting ini:

Orang tua, keluarga, dan teman-teman dekat pelaku yang berduka. Bayangkan perasaan mereka saat membaca komentar merendahkan di media sosial mengenai sosok yang mereka sayangi, rindukan, dan mungkin kasihani. Komentar-komentar dari orang-orang yang tidak kenal lagi.

Singkat saja, ya. Kalau belum bisa membayangkan perasaan mereka, sekarang mari kita balik keadaannya:

Bagaimana bila pelaku bunuh diri adalah orang yang Anda kenal (dan mungkin sangat Anda sayangi), lalu Anda membaca komentar-komentar bernada menghakimi serupa di media sosial tentang mereka?

Toh, komentar-komentar itu cuma hanya akan semakin melukai hati mereka yang ditinggalkan. Kenal juga belum tentu.

R.