“BUNUH DIRI”

BUNUH DIRI:

“Tentang Mereka yang ‘Menyerah’ dan yang Ditinggalkan…”

Masih segar di ingatan saya saat mendengar kabar duka mengenai Tommy Page, salah satu penyanyi pop favorit masa remaja saya, serta video live bunuh diri seorang laki-laki yang sempat menggegerkan hadirin Facebook dan sekitarnya.

Jumat minggu lalu, saya makan siang di salah satu warung langganan saat yang punya memberi kabar mengejutkan:

Ada mahasiswa dari kampus dekat warung yang terjun dari lantai teratas gedung kampusnya malam sebelumnya, sekitar pukul sepuluh. Penyebabnya? Hingga kini saya memilih tidak mau tahu, meski rasa penasaran sempat mendorong saya ke TKP hari itu juga. Penasaran dan mumpung dekat.

Apa yang saya harapkan begitu tiba di sana? Jujur, nyaris tidak ada. Karena kejadiannya malam sebelumnya dan pas jam-jam sepi, pasti penanganannya lebih cepat.

Benar dugaan saya. Nggak ada lagi police line. Semua sudah dibersihkan. Bahkan, dengar-dengar pihak kampus melarang pers memasuki wilayah kampus dan mencari tahu lebih lanjut.

Yang ada hanya desas-desus hingga spekulasi. Kata “bunuh diri” disebut berkali-kali. Ada wajah-wajah bingung bercampur penasaran.

Seperti kasus-kasus serupa, efek domino pun terjadi. Sebagian bisa dibayangkan, sisanya silakan dilihat.

Orang tua, keluarga, dan kawan-kawan dekat mendiang yang bersedih. Kenalan yang nggak begitu dekat dan bertanya-tanya, entah dalam hati atau ke sana kemari.

Lalu, tukang gosip, para spekulator, hingga pembagi opini ‘cuma-cuma’. Nggak bisa dicegah, meski sayangnya…mereka nggak sadar dengan bahayanya. Bolehlah berpendapat dan mengingatkan bahwa bunuh diri itu dosa dalam semua ajaran agama, apa pun alasannya.

Yang bablas adalah para spekulator dan pemberi opini ini blak-blakan menyebut semua pelaku bunuh diri sebagai pendosa berwatak lemah, cengeng, dan mudah menyerah. Lucunya, kenal aja juga enggak.

Benarkah mahasiswa itu bunuh diri? Entahlah. Kalau dipikir-pikir, ngapain dia selarut malam itu ada di gedung kampus, lantai teratas pula? Ada yang tahu?

Kita nggak pernah benar-benar tahu penyebab bunuh diri seseorang, kecuali bila mereka meninggalkan pesan atau usaha gagal dan mereka dipaksa bercerita. Atau ada ahli medis dan keluarga yang mengetahui lebih jelas sejarah depresi mereka.

Sayangnya, masalah gangguan mental atau depresi masih begitu mudah distigma di sini. Mereka yang dengan entengnya mencerca, terutama di media sosial, sering melupakan satu hal penting ini:

Orang tua, keluarga, dan teman-teman dekat pelaku yang berduka. Bayangkan perasaan mereka saat membaca komentar merendahkan di media sosial mengenai sosok yang mereka sayangi, rindukan, dan mungkin kasihani. Komentar-komentar dari orang-orang yang tidak kenal lagi.

Singkat saja, ya. Kalau belum bisa membayangkan perasaan mereka, sekarang mari kita balik keadaannya:

Bagaimana bila pelaku bunuh diri adalah orang yang Anda kenal (dan mungkin sangat Anda sayangi), lalu Anda membaca komentar-komentar bernada menghakimi serupa di media sosial tentang mereka?

Toh, komentar-komentar itu cuma hanya akan semakin melukai hati mereka yang ditinggalkan. Kenal juga belum tentu.

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *