“PEREMPUAN JUGA BERNAMA”

“Perempuan Juga Bernama”

Waktu kecil dan saat ditanya asal-usul saya, saya tanyakan pada Mama:

“Ma, aku orang apa, sih?”

“Bilang aja orang Jawa,” jawab Mama waktu itu. “Papa kamu ‘kan orang Jawa.”

“Tapi Mama ‘kan orang Sunda. Kenapa nggak disebut juga?”

“Kita semua ‘kan ikut Papa.”

Jawaban itu tidak masuk akal dan tidak membuat saya puas. Jadinya, setiap kali ada yang bertanya mengenai asal-usul saya, saya jawab saja: “Jawa-Sunda.”

Begitu pula saat ditanya nama orang tua. Entah kenapa mereka hanya mau tahu nama Papa. Padahal, yang membesarkan saya ‘kan, Papa dan Mama. Kenapa peran Mama kayak nggak dianggap – dan bahkan cenderung dikesampingkan?

Saya pun tetap berkeras menyebut nama kedua ortu setiap kali ditanya tentang mereka, meskipun mereka hanya ingin tahu tentang Papa. Pokoknya, Mama harus dapat tempat yang sama.

Saat bertemu teman-teman yang lebih berwawasan, saya baru tahu makna sebenarnya dari pertanyaan mengenai ‘asal-usul’. Bukan, bukan etnis ortu – tapi tempat kelahiran saya.

Akhirnya, saya menjawab ‘Jakarta’ setiap kali ditanya soal asal-usul saya. Tentu saja, tidak lupa menambahkan etnis ortu. Pasalnya, masih ada saja yang secara otomatis mengira saya orang Betawi, hanya gara-gara jawaban itu. Padahal, ‘kan nggak semua yang lahir di Jakarta otomatis orang Betawi.

Kadang malas berdebat, terutama bila mereka berkeras. Yah, apa boleh buat. Masih banyak yang belum paham dengan konsep ini.

“Bapak Bla-bla-bla dan Istri…Bapak dan Ibu (Nama Suami)…Nyonya (Nama Belakang Suami)…ibu/mamanya (Nama Anak)…”

Lalu, soal nama perempuan.

Oke, saya nggak akan menggugat sesama perempuan yang lebih memilih memakai nama belakang suaminya setelah mereka menikah, seperti adat di Barat. Itu masalah pilihan pribadi. Selama nama depan masih dipakai…ya, okelah.

Ada pengalaman menyedihkan seputar pemanggilan nama perempuan setelah menikah. Mungkin ada yang bangga dan merasa wajar bila dipanggil dengan sebutan Ibu/Nyonya/Mrs. + Nama Lengkap Suami. Hihi, semoga belum sampai lupa nama asli sendiri.

Pernah saya menghadiri acara pertunangan. Saat mengenalkan seluruh anggota keluarga dari dua calon mempelai, kebanyakan yang saya dengar seperti ini:

“Ini om dari pihak ibu calon mempelai, Bapak Bla-bla-bla dan Istri…itu om kedua, Bapak Bla-bla-bla dengan Istri…” Begitu terus.

Selesai acara, saya bertanya (atau lebih tepatnya, menggugat.) Jawaban mereka makin bikin saya sedih:

“Ntar kelamaan.”

“‘Kan yang penting nama bapaknya.”

Yang bikin saya melongo dan makin kecewa: yang menjawab di atas justru SESAMA PEREMPUAN! Aaargh, frustrasiii!! Terus, istri/ibunya anak-anak nggak wajib dikenal juga gitu?

Lantas, apa gunanya anak-anak perempuan yang sudah diberi nama-nama terbaik (sesuai doa orang tua mereka), bila nantinya hanya untuk “dilupakan” begitu saja setelah menikah? Padahal, para ortu pasti sudah memilih nama paling bagus untuk mereka, sama seperti memilih nama untuk anak-anak laki-laki mereka.

Terus, dianggap nggak penting-penting amat untuk dikenalkan ke orang-orang dan diingat, begitu?

Belum lagi saat punya anak. Mungkin ada yang menganggapnya lucu dan merupakan suatu kebanggaan saat disebut “Ibunya Adi”, “Mamanya Bintang”, atau “Emaknya Juli”. Nggak ada yang salah dengan ekspresi rasa sayang dan kebanggaan terhadap anak. Serius.

Tapi saya yakin, bukan itu yang tercantum di akte kelahiran maupun KTP, SIM, atau bahkan paspor mereka. Lalu, apakah anak-anak juga diajarkan untuk mengingat nama ibu mereka dengan benar, bukan hanya nama bapak? Maaf, saya beneran kepo.

Seorang kawan yang awal tahun ini menikah pernah mengkritik hal serupa di FB-nya. (Silakan dibaca dan di-reshare https://www.facebook.com/hera.khaerani/posts/10154326490127688 .) Salah satu pernyataan kawan saya ini benar-benar mengena di hati saya (entah bagaimana dengan hati Anda sekalian):

“Masyarakat tak semestinya membunuh seseorang dengan melupakan namanya.” (Hera Khaerani)

Apa yang salah dengan meluangkan waktu dan kapasitas otak untuk mengenal dan mengingat nama sesama perempuan? Padahal, mereka selalu sudi menyebut, mengenal, dan bahkan menghapal nama-nama laki-laki – bahkan yang panjang-panjang dan bergelar sekali pun.

Lucunya, mereka masih menegaskan mengenai pentingnya menghormati sosok ibu. Yah, salah satu esensi dari menghormati seseorang – siapa pun itu – berawal dari mengenal, menyebut, dan mengingat nama mereka dengan baik dan benar.

Gimana mau benar-benar menghormati sosok ibu, bila meluangkan waktu untuk menyebut dan mengingat namanya saja tidak mau?

Seperti biasa, selamat berpikir. Nggak susah, kok. Sebenarnya sederhana saja, namun sudah terlalu sering disepelekan.

R.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *