“TENTANG KEBAYA DAN ESENSI SEJATI HARI KARTINI”

“Tentang Kebaya dan Esensi Sejati Hari Kartini”

Tahun lalu, saya pernah menulis tentang perayaan Hari Kartini yang – menurut saya, nih – begitu-begitu saja. Kalau nggak lomba berkebaya, dandan secantik-cantiknya, hingga ikut lomba memasak dan kegiatan domestik lainnya.

Ya, mungkin saya agak blak-blakan, sehingga ada yang tersinggung. (http://www.kompasiana.com/rubyastari/memaknai-hari-kartini-tanpa-perlu-jadi-maniak-berkebaya-dalam-sehari_5719e4333dafbd4f0739a7cb) Masalahnya, saya gemas dengan perayaan Hari Kartini yang sudah terlalu lama melenceng jauh dari cita-cita beliau sesungguhnya.

Hak berpendidikan, berkarir, berkarya, dan memilih jalan hidup bagi seorang perempuan. Hak merasa aman keluar rumah hingga menjadi diri sendiri. Hak untuk mandiri dan tidak direndahkan oleh siapa pun, baik dari laki-laki dan bahkan sesama perempuan itu sendiri.

Lalu, apa makna yang bisa didapat dari ‘hanya berkebaya dalam sehari’? Nggak perlu menunggu Hari Kartini, mau ke kawinan saja juga bisa. Mau pakai tiap hari juga nggak ada yang melarang, selama Anda nggak harus lari-lari mengejar bus kota, naik kereta yang kadang pijakan gerbongnya (terlalu) tinggi, hingga keribetan khas ibukota lainnya sehari-hari.

Lalu, tentang lomba memasak. Meskipun tidak ada yang salah dengan kegiatan ini, saya tetap tidak bisa menemukan hubungannya dengan perayaan Hari Kartini. Toh, pada dasarnya semua manusia tetap butuh makan tiap hari.

Masih menganggap memasak kegiatan yang harus terkait gender tertentu? Ah, kuno. Terus, apa kabar para laki-laki yang jadi koki resto dan hotel?

Oke, saya nggak akan memaksa pencinta tradisi untuk tetap meneruskan sesuatu yang selama ini terasa nyaman. Itu hak Anda.

Namun, saya juga enggan membiarkan diri ini terlena. Masih banyak anak perempuan yang putus sekolah dan (dipaksa) menikah dini, terutama atas nama ekonomi. Masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, yang pastinya nggak bisa diabaikan begitu saja – apalagi hanya dengan simbol ‘kebaya’ yang jelas-jelas nggak relevan.

Intinya, saya nggak akan bosan untuk mengingatkan: masih banyak hal yang jauh lebih penting dan mendesak untuk ditangani, daripada sekadar tampil cantik berkebaya dalam sehari. 

Selamat Hari Kartini. Semoga perempuan tidak lagi hanya dipandang sebagai beban ekonomi, sehingga dipaksa menikah dini yang berujung pada kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kehancuran diri…

R.

 

2 Replies to ““TENTANG KEBAYA DAN ESENSI SEJATI HARI KARTINI””

  1. Hari Kartini – buat gw sih hanya pengingat bahwa ada seorang wanita hebat yang memperjuangkan kesetaraan jaman itu.
    Sedihnya, buat gw sih lebih melihat bahwa banyak yang mengatasnamakan emansipasi ini agar menjadi “lebih”. CMIIW pls.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *