“(EX)PERIENCE-NYA REZA PAHLEVI”

(EX)PERIENCE-NYA REZA PAHLEVI: Barisan Para Mantan dan Realita”

Terlibat dalam salah satu workshop menulis sebagai panitia mempertemukan saya dengan buku ini…sekaligus pengarangnya. Karena selama ini sudah terbiasa membaca yang ‘gelap-gelap’ (terutama yang seram), kali ini mau coba yang sedikit lebih ringan.

Kesan pertama, saya lihat Eja ini orangnya lucu, sederhana dan apa adanya. Alhasil, saat workshop dia sukses bikin banyak hadirin tertawa. Makin penasaran-lah saya dengan isi bukunya, makanya saya beli.

Mungkin karena bacaannya ringan (atau usia saya sudah di luar target pasaran, hahaha!), saya bisa menyelesaikan buku ini dalam waktu singkat. Lucunya cukup sih, meski nggak sampai bikin saya ngakak hebat. Paling-paling hanya nyengir.

Awalnya, saya kira buku ini hanyalah tentang seorang womanizer yang membanggakan barisan para mantan yang pernah dia ‘taklukkan’. (Teman-teman sudah banyak yang tahu kalau saya paling alergi sama laki-laki model begini. Alerginya ngalahin alergi makan cumi yang udah berusia sekian hari.)

Tadinya saya juga mengira bahwa buku ini berisi curhatan “Nice Guy KW Sekian” soal perlakuan kejam para mantannya. Mengapa KW? Banyak laki-laki mengaku ‘nice guy’, tapi hobi mengeluhkan penolakan perempuan alias ‘always playing the victim’. (Terlepas dari siapa yang salah, ya.)

Ternyata? Meski rasanya seperti baca buku harian orang lain, saya cukup terhibur dan menikmatinya. Memang, diselingkuhin dengan alasan apa pun selalu menyakitkan.

Namun, Eja masih menceritakannya dengan gaya humor sederhana. Dia juga nggak plek-plek menjelek-jelekkan semua mantannya. Bahkan, dia masih menulis bahwa selalu ada nilai positif dari kegagalan relasinya dengan para mantan.

Hmm, sekarang saya jadi mikir begini:

Kalau yang bikin kayak begini perempuan, kira-kira jadinya bakalan kayak apa, ya?

R.

 

“KADANG AKU HANYA INGIN DIAM-DIAM MEMANDANGIMU”

“KADANG AKU HANYA INGIN DIAM-DIAM MEMANDANGIMU”

Ya, aku tahu

Aku sedang mendebat isi kepala

bernegosiasi dengan hati

pertanyakan kewarasan diri

 

Mungkin kau akan ngeri

ketakutan setengah mati

saat mengetahui hal ini

Makanya, lebih banyak kuberdiam diri

atau menulis banyak puisi

 

Kadang-kadang,

aku hanya ingin diam-diam memandangimu

dari jauh

agar kau tidak perlu tahu…

 

R.

 

“CAN WE DANCE, PAPA?”

“Can We Dance, Papa?”

“Can we dance, Papa?”

Kamu ingin tahu rasanya, setelah melihatku berdansa dengan Mama. Mama mengalah dan kuraih kedua tangan mungilmu. Karena tinggi kita masih terpaut jauh, kuminta kamu berdiri di atas kedua kakiku.

“Nanti kaki Papa sakit.”

“Nggak apa-apa. Papa masih kuat.” Dan berdansalah kita, sementara Mama memotret dan merekam. Kamu terkikik geli, sebelum bertanya:

“Apa aku nanti bisa setinggi Papa?”

Kugendong kamu dan kutatap mata zaitunmu.

“Kalau kamu setinggi Mama, hanya laki-laki baik yang boleh berdansa denganmu.”

—//—

Malam itu, aku datang menjemput ke sekolah setelah SMS darimu. Kita sempat bertengkar hebat soal laki-laki itu. Aku tidak suka caranya memperlakukanmu, namun saat itu kamu begitu tergila-gila padanya dan tidak mendengarkanku. Tipikal remaja keras kepala.

Kutemukan kamu duduk sendirian di parkiran, bergaun biru dan tiara menghias rambutmu. Makeup di wajahmu sudah luntur. Ah, gadis kecilku menangis…

“Mana dia?” tuntutku geram. Buru-buru kamu berdiri dan memelukku.

“Jangan, Pa,” pintamu pilu. “Dia nggak penting. Udah kuputusin.”

Kupeluk kamu selama beberapa saat. “Mau pulang sekarang?”

Anehnya, kamu menggeleng. Kamu malah mengelap wajahmu dengan tisu dan menggandengku kembali ke lapangan olahraga. Prom masih berlangsung. Tak peduli tatapan aneh teman-teman dan para guru, kamu hanya memintaku:

“Just dance with me, Papa.”

Itulah permintaan maafmu. Aku mengerti. Setidaknya, aku sempat mengirimkan tatapan mengancam pada bocah yang mematahkan hatimu malam itu…

—//—

Wedding host mengumumkan dansa pertama. Kamu tampak cantik sekali dengan gaun putihmu.

“Let’s dance, Papa.” Kutunggu sampai kamu sudah duduk nyaman di pangkuanku. Beberapa orang merapikan gaunmu agar tidak tersangkut di bawah kursi rodaku. Stroke sialan.

Musik mengalun. Kupencet tombol ‘on’ dan kursi rodaku bergerak pelan. Di hari terbahagiamu, kita berdansa lagi seperti dulu. Kamu masih memeluk leherku dan menyandarkan kepalamu di bahuku.

Aku tersenyum pada laki-laki muda yang meminangmu. Ya, hari ini kamu telah menemukan pasangan dansa abadimu sendiri. Aku bahagia…

(dari Prompt#143 Monday Flash Fiction: “Can We Dance?” – 299 kata)

 

“Pensil Warna Si Kembar dan Teman-teman Baru”

“Pensil Warna si Kembar dan Teman-teman Baru”

“Selamat ulang tahun, Ethan dan Emma.”

Kedua anak berambut pirang itu tersenyum saat membuka kado dari orang tua mereka. Mata biru dan senyum mereka melebar saat melihat sekotak pensil warna berisi 24 pilihan.

“Terima kasih, Mom dan Dad.”

“Sekalian kado pindahan, karena kalian telah bersikap manis dengan kepindahan ini,” ujar ayah mereka bangga. Ethan dan Emma langsung bergantian memeluk orang tua mereka.

“Kami boleh menggambar di beranda depan, Mom and Dad?” tanya keduanya kompak. Ayah dan ibu mereka mengangguk.

“Oke,” ujar ayah mereka. “Tapi masuk ya, kalau sudah waktu makan malam.”

“Oke.” Ethan dan Emma segera ke beranda depan dengan kotak pensil warna dan buku gambar mereka. Mereka langsung duduk di meja dan mulai menggambar.

Tiba-tiba ada yang menghampiri mereka. Ethan dan Emma sama-sama mendongak dan melihat kedua anak itu.

Keduanya mungkin seumur, dengan tinggi badan dan rambut gelap berombak yang sama. Kulit mereka juga pucat, seperti anak-anak yang jarang terkena sinar matahari.

“Hai,” sapa Emma ramah. “Mau ikut gambar sama kami?”

“Hmm, kami nggak bisa gambar,” kata anak yang perempuan. Anak laki-laki di sampingnya tampak pendiam. “Tapi boleh lihat saja?”

“Boleh.” Ethan langsung mengenalkan diri. “Aku Ethan dan ini adik kembarku, Emma. Kami hanya beda lima menit.”

“Kalian kembar juga?” tanya Emma penasaran. Kedua anak berambut gelap itu mengangguk.

“Aku Beth dan ini adikku, Bryan,” kata anak yang perempuan. “Aku lebih tua tujuh menit dari Bryan.”

“Hai,” sapa Bryan malu-malu.

“Duduklah,” undang Ethan. Bryan dan Beth duduk semeja dengan Ethan dan Emma. Tak lama, keempat anak itu langsung mengobrol dengan akrab. Sesekali Beth cekikikan saat melihat Emma dan Ethan menggambar mereka berempat. Lalu Beth bercerita bahwa mereka tinggal di sebuah rumah di ujung jalan, beberapa meter dari rumah baru Ethan dan Emma.

“Tapi rumah kalian terlihat gelap,” komentar Emma, yang langsung dipelototi oleh Ethan. Belum sempat Beth menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah:

“Ethan, Emma! Ayo, makan.”

“Oke, Mom,” balas Ethan dan Emma berbarengan. Beth dan Bryan langsung berdiri.

“Kami harus pulang juga,” ujarnya, lalu menggandeng adiknya. Saat keduanya pergi, Ethan dan Emma melambai pada mereka. Di atas, langit mulai menggelap.

“Besok main ke sini lagi, ya.”

–//–

“Tadi kalian ngobrol sama siapa?”

“Teman-teman baru kami, Dad,” kata Ethan ceria. “Mereka kembar juga.”

“Ini Bryan, dan yang ini Beth.” Emma menunjuk gambar dua anak berambut gelap di samping dua anak berambut pirang. “Aku pakai pensil warna merah untuk bibir Beth. Habis dia pucat sekali, sih.”

“Oh.”

–//–

“Serius, Dan?”

“Mereka berdua tadi di beranda depan,” ujar ayah si kembar. Malam itu, Ethan dan Emma telah lelap di kamar masing-masing. “Mungkin mereka hanya punya teman khayalan. Masih tujuh tahun. Fase biasa.”

Wajah Hannah, istri Dan, memucat. Ditunjukkannya potongan koran lama yang bertanggal enam bulan yang lalu.

“Mereka bilang anak-anak itu namanya Bryan dan Beth?”

Hening mencekam. Keduanya membaca berita pembantaian seorang jaksa muda dan keluarganya suatu malam, di rumah dekat rumah mereka. Semuanya ditemukan tewas.

Termasuk anak kembar mereka yang bernama Bryan dan Bethany…

(Prompt#142 – Pensil Warna – 487 kata)

 

 

“LEWAT MATA JERNIHMU”

“Lewat Mata Jernihmu”

 

Mungkin aku belum benar-benar mengerti

seperti kau yang baru belajar memahami

indah warna-warni dunia ini

yang selalu kulihat, terus berganti

 

Kata mereka,

kau titipan dari surga

generasi penerus manusia

agar tiada lagi bencana

maupun pertikaian antar sesama

 

Ingin kulihat lagi dunia

lewat mata jernihmu

sebelum tumbuh dengan prasangka

membawa semua luka

pemberian realita…

 

R.

 

 

“7 KESALAHAN KLASIK PARA MAK COMBLANG”

“7 Kesalahan Klasik Para Mak Comblang”

“Masih jomblo, nih. Kenalin ke temen-temen lu yang masih single juga, dong.”

“Eh, bulan lalu baru putus, ‘kan? Mo gue kenalin ke temen gua, gak?”

“Ayolah, dicoba dulu. Siapa tahu orang ini beneran jodohmu.”

Merasa berbakat atau memang senang jadi mak comblang? Sah-sah saja. Apalagi bila niat Anda memang baik, hanya ingin melihat dua orang (yang Anda kenal) berbahagia bersama.

Sayangnya, ada tujuh (7) kesalahan klasik yang sadar atau tidak dilakukan para mak comblang:

1. Merasa paling tahu kebutuhan dan kebahagiaan si lajang, sehingga cenderung mendikte dan memaksa.

Ini kesalahan klasik nomor wahid. Kalau sudah begini caranya, jangan harap mereka mau Anda comblangin. Niat baik jadi terkesan ‘ganggu’ bila Anda memaksa dan bahkan cenderung menguliahi.

“Jangan lama-lama, ntar keburu perawan tua dan susah punya anak.” (Ini buat perempuan lajang. Sayangnya, si mak comblang lupa akan satu hal: urusan jodoh dan anak tetap di tangan Tuhan. Usaha dan mengajak boleh, tapi jangan diikuti pemaksaan dan bahkan penghinaan.)

Saran: sebelum ngotot main comblang, cek dulu kebutuhan si jomblo. Minimal mereka emang beneran mau atau setidaknya mau mencoba dulu. Ingat, nggak semua jomblo itu nggak happy lho, sama hidup mereka. Mungkin saja saat itu mereka punya tujuan lain dulu.

2. Nggak pakai cek latar belakang dan perbandingan profil.

Yang penting masih sama-sama single, dikumpulin aja dulu. Siapa tahu cocok. Padahal, menjodohkan orang tidak sama dengan mencari pasangan sepatu di antara tumpukan barang diskon. Semua juga perlu proses. Nggak ada yang main dipertemukan terus langsung jadi begitu saja kayak di cerita dongeng.

Kalau mau main statistik, mungkin ada. Tapi…berapa banyak, sih? Emangnya hidup ini kisah Cinderella?

Saran: selain melihat apakah si jomblo beneran butuh dicomblangin, cek juga latar belakang dan profil masing-masing. Seperti apakah ada kesamaan mereka, calon pasangan seperti apa yang mereka inginkan, dan sebagainya. Memang, nggak ada orang yang 100% sama, tapi setidaknya ada kesamaan yang bisa jadi bahan obrolan di awal pertemuan.

3. Terlalu kepo selama proses pendekatan.

Tugas mak comblang harusnya berhenti pada tahap: perkenalan. Setelah itu, biarkan kedua jomblo berinteraksi sendiri. Nggak perlu selalu minta mereka untuk update perkembangan hubungan mereka.

Saran: let it go. Kasih mereka privasi. Anda sendiri juga tidak mau ‘kan, adanya mata-mata intens dalam hubungan Anda sendiri?

4. Terlalu gamblang dan terkesan sangat ‘menjual’.

Iya, niat Anda baik. Percaya, kok. Namun, Anda terkesan ‘menggiring’ mereka agar cepat jadian.

“Kalian ‘kan sama-sama single. Sok atuh, coba saling kenal dulu. Semoga berjodoh.”

*krik…krik…* Oooh, pressure…

Saran: meskipun jomblo, mereka masih punya harga diri. Jangan perlakukan mereka seperti “menggiring ternak agar saling mendekat saat musim kawin”. Serius.

“Lha, kok nggak diterusin? Emang dia kurangnya apa, sih? Gue udah capek-capek ngenalin, lho.”

Saran (lagi): namanya juga berproses. Nggak bisa dipaksa harus cepat atau segera sukses. Kalau ternyata memang tidak berjodoh, memaksa mereka sama dengan menyiksa.

5. Ternyata Anda malah jatuh cinta dengan yang Anda mau comblangkan.

Nah, ini lagi konyol. Ngapain sok-sok nyomblangin mereka sama orang lain, kalau sendirinya diam-diam suka? Udah, deketin aja. Risiko ditolak pasti ada. Cuma, mau segera tahu jawaban mereka…atau penasaran seumur hidup Anda?

Saran: gimana kalau ternyata mereka suka dengan orang lain, misalnya sahabat Anda sendiri, lalu meminta Anda jadi mak comblang? Nah, kalau ini terserah Anda. Mau “rela asal si dia bahagia” (jiahh!) atau menolak dengan alasan sibuk (padahal diam-diam terluka)?

6. Ternyata yang mau dicomblangin malah naksir Anda dan baru ketahuan belakangan.

Nah, lho. Kalau sudah begini bagaimana?

Saran: kalau sama-sama suka, kabar baik. Kalau Anda tidak merasakan hal yang sama, segeralah jujur padanya, tentu dengan cara yang baik-baik. Jangan memaksa mereka untuk dicomblangi dengan pilihan Anda, meskipun misalnya yang suka mereka kebetulan sahabat sendiri.

7. Hasil akhir: mereka jodoh, Anda langsung ‘aji mumpung’ dengan bersikap pamrih. Mereka putus, Anda ikutan galau setengah mati dan berusaha jadi ‘penyelamat’.

Hasil percomblangan Anda sukses. Ikut bahagia sih, tapi kenapa tambah ‘pesan sponsor’ segala?

“PJ (Pajak Jadian) dari kalian mana? ‘Kan berkat gue juga, lho.”

Sebaliknya, mereka putus dan Anda ikutan galau. Bahkan, Anda sampai ikut turun tangan berusaha mempersatukan mereka kembali. Ngapain coba?

Saran: mereka jodoh? Berbahagialah sewajarnya. Nggak perlu mengungkit-ungkit jasa Anda di masa lalu. Bila mereka putus, deal with it. Ini bukan drama Korea dan Anda tidak akan terlihat seperti pahlawan bila ikut campur.

Berilah mereka waktu setelah putus. Bila setelahnya mereka masih meminta jasa Anda, saatnya bergerak kembali.

Jangan sampai niat baik mak comblang disalahartikan gara-gara tujuh (7) hal di atas. Selama semua pihak bersedia, semua bahagia. Termasuk Anda.

R.

 

“RECEH YANG TIDAK REMEH”

“Receh yang Tidak Remeh”

Entah kenapa, masih banyak yang meremehkan uang receh. Memang sih, koin 100 perak paling sering ditolak di beberapa warung kecil. Bahkan, pengamen bus kota juga tidak terima. (Minimal kasih mereka Rp2000-an-lah. Jangan pelit-pelit amat.)

Terakhir kali naik bus kota (yang pastinya sudah cukup lama), koin 100 perak mereka kembalikan begitu saja ke tangan saya. Untung tidak dilempar ke muka, meski pelakunya pasang tampang jutek.

Sabar…sabar…

Memang sih, nasib koin 100 perak kian mengenaskan – seiring inflasi yang terus berjalan. Apalagi di Jakarta, ibukota serba mahal. Satu Aqua gelas saja sudah seharga Rp500. (Eh, apa lebih, ya? Maaf, belum cek lagi.)

Makanya hanya koin minimal Rp200 yang masih mendapatkan sambutan meriah. Kalau mau beli gorengan saja, dengan Rp2000 masih dapat dua (kecuali Anda benar-benar lapar.) 

Hingga kini, saya tidak pernah menganggap remeh kehadiran uang receh. Bolehlah ada yang merasa repot dengan gemerincingan mereka serta rasa berat di kantong celana kargo. Bolehlah mereka kesal karena banyaknya koin receh sukses membuat dompet mereka benar-benar bengkak…atau bahkan sampai rusak.

Saya malah bahagia. Setiap kali ada kembalian berupa uang recehan, saya akan menyimpan mereka di satu tempat rahasia. Hal itu bisa berlangsung antara dua hingga tiga bulan. Kadang lebih pula.

Simpanan rahasia tersebut sudah menyelamatkan saya beberapa kali. Kadang saya tidak sadar sudah mengumpulkan mereka semua hingga berjumlah…Rp100.000 – Rp200.000. Serius.

Lalu, seperti biasa saya akan menukarkan koin-koin receh tersebut ke minimarket terdekat. (Sampai jadi langganan dan selalu ditanya: “Mbak, ada koin lagi, nggak?” setiap kali ke sana untuk belanja.)

Intinya, saya tidak sampai kelaparan, setidaknya sampai gaji atau/dan honor berikutnya.

Ada lagi satu bukti bahwa receh itu tidak remeh.

Ya, saya mengerti bahwa urusan mencari uang kembalian kadang bisa menjengkelkan. Contoh: waktu menjadi kasir dulu, kadang suka ada pelanggan yang membeli minuman seharga Rp5000 atau Rp10.000, tapi bayarnya pakai Rp50.000…atau bahkan Rp100.000.

*krik…krik…*

Paling lega bila pas buka brankas kasir, ada kembalian. Kalau tidak? Alamat saya yang pontang-panting mencari. Itu kalau pelanggannya masih mau sabar menanti.

Yang menyebalkan, kadang mereka enggan mengerti. Sudah diam saja, minta buru-buru lagi. Panik kuadrat sekian, deh.

Sabar…sabar…sabar…

Makanya, saya berusaha jadi pelanggan yang sabar. Kadang bila kasir harus cari kembalian, senjata saya hanya senyuman dan ucapan:

“Nggak apa-apa, Mas/Mbak. Saya tungguin.”

Tentu saja, mereka jadi batal memohon dengan wajah memelas, berharap secara ajaib saya mendadak punya uang pas. Hehe, nasib. Mau bagaimana lagi?

Pernah juga saya memesan ojek online. Bodohnya, dari rumah ke tempat tujuan, saya lupa bertanya apakah dia punya kembalian. Akhirnya, sampai lokasi baru ketahuan kalau supirnya tidak punya.

Bukannya berinisiatif membantu saya mencari orang yang bisa diajak ‘bertukar uang’, dia malah diam saja. Ada kali, sampai 20 menit saya berburu uang pas.

Grr…grrr…grr…

Ya, begitulah dahsyatnya cerita si ‘receh’. Sering diremehkan, namun sering menyelamatkan. Jarang dicari, tapi baru diharapkan saat butuh uang kembalian.

R.

 

“CINTA…ATAU OBSESI?”

“Cinta…atau Obsesi?”

Jangan bengong

Sibukkan diri

Jangan sampai pikiran kosong

Salah-salah gila sendiri

 

Sudah, berhentilah memikirkannya

dia, yang belum tentu pasti

Yakin ini cinta?

Jangan-jangan cuma obsesi

 

Bolehlah kagum atau suka

Jangan lupa menjaga hati

Bila bukan dia orangnya,

setidaknya kamu lebih waras kali ini

 

Semoga kali ini benar-benar cinta yang nyata,

bukan hanya obsesi

Ya, kamu sudah muak dengan luka yang sama

Jangan sampai tertipu lagi…

 

R.