“CAN WE DANCE, PAPA?”

“Can We Dance, Papa?”

“Can we dance, Papa?”

Kamu ingin tahu rasanya, setelah melihatku berdansa dengan Mama. Mama mengalah dan kuraih kedua tangan mungilmu. Karena tinggi kita masih terpaut jauh, kuminta kamu berdiri di atas kedua kakiku.

“Nanti kaki Papa sakit.”

“Nggak apa-apa. Papa masih kuat.” Dan berdansalah kita, sementara Mama memotret dan merekam. Kamu terkikik geli, sebelum bertanya:

“Apa aku nanti bisa setinggi Papa?”

Kugendong kamu dan kutatap mata zaitunmu.

“Kalau kamu setinggi Mama, hanya laki-laki baik yang boleh berdansa denganmu.”

—//—

Malam itu, aku datang menjemput ke sekolah setelah SMS darimu. Kita sempat bertengkar hebat soal laki-laki itu. Aku tidak suka caranya memperlakukanmu, namun saat itu kamu begitu tergila-gila padanya dan tidak mendengarkanku. Tipikal remaja keras kepala.

Kutemukan kamu duduk sendirian di parkiran, bergaun biru dan tiara menghias rambutmu. Makeup di wajahmu sudah luntur. Ah, gadis kecilku menangis…

“Mana dia?” tuntutku geram. Buru-buru kamu berdiri dan memelukku.

“Jangan, Pa,” pintamu pilu. “Dia nggak penting. Udah kuputusin.”

Kupeluk kamu selama beberapa saat. “Mau pulang sekarang?”

Anehnya, kamu menggeleng. Kamu malah mengelap wajahmu dengan tisu dan menggandengku kembali ke lapangan olahraga. Prom masih berlangsung. Tak peduli tatapan aneh teman-teman dan para guru, kamu hanya memintaku:

“Just dance with me, Papa.”

Itulah permintaan maafmu. Aku mengerti. Setidaknya, aku sempat mengirimkan tatapan mengancam pada bocah yang mematahkan hatimu malam itu…

—//—

Wedding host mengumumkan dansa pertama. Kamu tampak cantik sekali dengan gaun putihmu.

“Let’s dance, Papa.” Kutunggu sampai kamu sudah duduk nyaman di pangkuanku. Beberapa orang merapikan gaunmu agar tidak tersangkut di bawah kursi rodaku. Stroke sialan.

Musik mengalun. Kupencet tombol ‘on’ dan kursi rodaku bergerak pelan. Di hari terbahagiamu, kita berdansa lagi seperti dulu. Kamu masih memeluk leherku dan menyandarkan kepalamu di bahuku.

Aku tersenyum pada laki-laki muda yang meminangmu. Ya, hari ini kamu telah menemukan pasangan dansa abadimu sendiri. Aku bahagia…

(dari Prompt#143 Monday Flash Fiction: “Can We Dance?” – 299 kata)

 

4 Replies to ““CAN WE DANCE, PAPA?””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *