“Pensil Warna Si Kembar dan Teman-teman Baru”

“Pensil Warna si Kembar dan Teman-teman Baru”

“Selamat ulang tahun, Ethan dan Emma.”

Kedua anak berambut pirang itu tersenyum saat membuka kado dari orang tua mereka. Mata biru dan senyum mereka melebar saat melihat sekotak pensil warna berisi 24 pilihan.

“Terima kasih, Mom dan Dad.”

“Sekalian kado pindahan, karena kalian telah bersikap manis dengan kepindahan ini,” ujar ayah mereka bangga. Ethan dan Emma langsung bergantian memeluk orang tua mereka.

“Kami boleh menggambar di beranda depan, Mom and Dad?” tanya keduanya kompak. Ayah dan ibu mereka mengangguk.

“Oke,” ujar ayah mereka. “Tapi masuk ya, kalau sudah waktu makan malam.”

“Oke.” Ethan dan Emma segera ke beranda depan dengan kotak pensil warna dan buku gambar mereka. Mereka langsung duduk di meja dan mulai menggambar.

Tiba-tiba ada yang menghampiri mereka. Ethan dan Emma sama-sama mendongak dan melihat kedua anak itu.

Keduanya mungkin seumur, dengan tinggi badan dan rambut gelap berombak yang sama. Kulit mereka juga pucat, seperti anak-anak yang jarang terkena sinar matahari.

“Hai,” sapa Emma ramah. “Mau ikut gambar sama kami?”

“Hmm, kami nggak bisa gambar,” kata anak yang perempuan. Anak laki-laki di sampingnya tampak pendiam. “Tapi boleh lihat saja?”

“Boleh.” Ethan langsung mengenalkan diri. “Aku Ethan dan ini adik kembarku, Emma. Kami hanya beda lima menit.”

“Kalian kembar juga?” tanya Emma penasaran. Kedua anak berambut gelap itu mengangguk.

“Aku Beth dan ini adikku, Bryan,” kata anak yang perempuan. “Aku lebih tua tujuh menit dari Bryan.”

“Hai,” sapa Bryan malu-malu.

“Duduklah,” undang Ethan. Bryan dan Beth duduk semeja dengan Ethan dan Emma. Tak lama, keempat anak itu langsung mengobrol dengan akrab. Sesekali Beth cekikikan saat melihat Emma dan Ethan menggambar mereka berempat. Lalu Beth bercerita bahwa mereka tinggal di sebuah rumah di ujung jalan, beberapa meter dari rumah baru Ethan dan Emma.

“Tapi rumah kalian terlihat gelap,” komentar Emma, yang langsung dipelototi oleh Ethan. Belum sempat Beth menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah:

“Ethan, Emma! Ayo, makan.”

“Oke, Mom,” balas Ethan dan Emma berbarengan. Beth dan Bryan langsung berdiri.

“Kami harus pulang juga,” ujarnya, lalu menggandeng adiknya. Saat keduanya pergi, Ethan dan Emma melambai pada mereka. Di atas, langit mulai menggelap.

“Besok main ke sini lagi, ya.”

–//–

“Tadi kalian ngobrol sama siapa?”

“Teman-teman baru kami, Dad,” kata Ethan ceria. “Mereka kembar juga.”

“Ini Bryan, dan yang ini Beth.” Emma menunjuk gambar dua anak berambut gelap di samping dua anak berambut pirang. “Aku pakai pensil warna merah untuk bibir Beth. Habis dia pucat sekali, sih.”

“Oh.”

–//–

“Serius, Dan?”

“Mereka berdua tadi di beranda depan,” ujar ayah si kembar. Malam itu, Ethan dan Emma telah lelap di kamar masing-masing. “Mungkin mereka hanya punya teman khayalan. Masih tujuh tahun. Fase biasa.”

Wajah Hannah, istri Dan, memucat. Ditunjukkannya potongan koran lama yang bertanggal enam bulan yang lalu.

“Mereka bilang anak-anak itu namanya Bryan dan Beth?”

Hening mencekam. Keduanya membaca berita pembantaian seorang jaksa muda dan keluarganya suatu malam, di rumah dekat rumah mereka. Semuanya ditemukan tewas.

Termasuk anak kembar mereka yang bernama Bryan dan Bethany…

(Prompt#142 – Pensil Warna – 487 kata)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *