“RECEH YANG TIDAK REMEH”

“Receh yang Tidak Remeh”

Entah kenapa, masih banyak yang meremehkan uang receh. Memang sih, koin 100 perak paling sering ditolak di beberapa warung kecil. Bahkan, pengamen bus kota juga tidak terima. (Minimal kasih mereka Rp2000-an-lah. Jangan pelit-pelit amat.)

Terakhir kali naik bus kota (yang pastinya sudah cukup lama), koin 100 perak mereka kembalikan begitu saja ke tangan saya. Untung tidak dilempar ke muka, meski pelakunya pasang tampang jutek.

Sabar…sabar…

Memang sih, nasib koin 100 perak kian mengenaskan – seiring inflasi yang terus berjalan. Apalagi di Jakarta, ibukota serba mahal. Satu Aqua gelas saja sudah seharga Rp500. (Eh, apa lebih, ya? Maaf, belum cek lagi.)

Makanya hanya koin minimal Rp200 yang masih mendapatkan sambutan meriah. Kalau mau beli gorengan saja, dengan Rp2000 masih dapat dua (kecuali Anda benar-benar lapar.) 

Hingga kini, saya tidak pernah menganggap remeh kehadiran uang receh. Bolehlah ada yang merasa repot dengan gemerincingan mereka serta rasa berat di kantong celana kargo. Bolehlah mereka kesal karena banyaknya koin receh sukses membuat dompet mereka benar-benar bengkak…atau bahkan sampai rusak.

Saya malah bahagia. Setiap kali ada kembalian berupa uang recehan, saya akan menyimpan mereka di satu tempat rahasia. Hal itu bisa berlangsung antara dua hingga tiga bulan. Kadang lebih pula.

Simpanan rahasia tersebut sudah menyelamatkan saya beberapa kali. Kadang saya tidak sadar sudah mengumpulkan mereka semua hingga berjumlah…Rp100.000 – Rp200.000. Serius.

Lalu, seperti biasa saya akan menukarkan koin-koin receh tersebut ke minimarket terdekat. (Sampai jadi langganan dan selalu ditanya: “Mbak, ada koin lagi, nggak?” setiap kali ke sana untuk belanja.)

Intinya, saya tidak sampai kelaparan, setidaknya sampai gaji atau/dan honor berikutnya.

Ada lagi satu bukti bahwa receh itu tidak remeh.

Ya, saya mengerti bahwa urusan mencari uang kembalian kadang bisa menjengkelkan. Contoh: waktu menjadi kasir dulu, kadang suka ada pelanggan yang membeli minuman seharga Rp5000 atau Rp10.000, tapi bayarnya pakai Rp50.000…atau bahkan Rp100.000.

*krik…krik…*

Paling lega bila pas buka brankas kasir, ada kembalian. Kalau tidak? Alamat saya yang pontang-panting mencari. Itu kalau pelanggannya masih mau sabar menanti.

Yang menyebalkan, kadang mereka enggan mengerti. Sudah diam saja, minta buru-buru lagi. Panik kuadrat sekian, deh.

Sabar…sabar…sabar…

Makanya, saya berusaha jadi pelanggan yang sabar. Kadang bila kasir harus cari kembalian, senjata saya hanya senyuman dan ucapan:

“Nggak apa-apa, Mas/Mbak. Saya tungguin.”

Tentu saja, mereka jadi batal memohon dengan wajah memelas, berharap secara ajaib saya mendadak punya uang pas. Hehe, nasib. Mau bagaimana lagi?

Pernah juga saya memesan ojek online. Bodohnya, dari rumah ke tempat tujuan, saya lupa bertanya apakah dia punya kembalian. Akhirnya, sampai lokasi baru ketahuan kalau supirnya tidak punya.

Bukannya berinisiatif membantu saya mencari orang yang bisa diajak ‘bertukar uang’, dia malah diam saja. Ada kali, sampai 20 menit saya berburu uang pas.

Grr…grrr…grr…

Ya, begitulah dahsyatnya cerita si ‘receh’. Sering diremehkan, namun sering menyelamatkan. Jarang dicari, tapi baru diharapkan saat butuh uang kembalian.

R.

 

4 Replies to ““RECEH YANG TIDAK REMEH””

  1. Hahahaa… sama kayak saya dong! Uang receh kadang bikin dilema. Belinya pake uang receh, kembalian recehan pembeli tidak mahu terima, katanya sudah tidak laku lagi! 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *