“JATUH. BANGUN. JATUH. BANGUN LAGI.”

“JATUH. BANGUN. JATUH. BANGUN LAGI.”

Sebenarnya saya enggan terlalu banyak bercerita tentang diri sendiri, meskipun ini blog pribadi. Tapi, bisa dibilang, 1-2 bulan terakhir ini adalah saat-saat penuh cobaan. Nggak perlu secara spesifik disebut. Intinya saya lagi lumayan struggling banget akhir-akhir ini.

Kali ini, saya memutuskan untuk nggak cerita ke semua orang. Takutnya (terutama mengingat saya masih lajang dan tinggal sendirian pula), yang datang kebanyakan komentar “nggak banget” – terlalu menghakimi sekaligus menggampangkan, seperti:

1. Mereka akan menyarankan saya untuk kembali pulang dulu, dengan dua alasan berbeda yang sama-sama nggak enak didengar:

“‘Kan masih ada keluarga ini. Ngapain sih, sok-sok tinggal sendiri?”

“Cewek gak bisa hidup mandiri. Kalo ampe ada, berarti bukan cewek atau aneh.”

Grrr…grrr…grrrh…izinkan saya menimpuk muka mereka pake kamus, meski dengan risiko batal puasa. (Untung saya tetap lebih mempertahankan puasa ampe waktu buka.)

2. Mereka akan berkomentar dengan nada meremehkan:

“Udah, nyante aja. Elo ‘kan cewek. Ntar pas married juga udah gak perlu lagi terlalu pusing mikirin duit. Tinggal nodong suami.”

Astaga, naif sekali. Udah gitu, bahasanya itu, lho. Selain memperlakukan pernikahan bagai solusi kilat finansial, suami hanya dianggap mesin ATM sementara istri dianggap cuma tukang belanja dan morotin suami doang. Huekk!

3. Mereka akan cenderung menyalahkan dan menuduh yang enggak-enggak:

“Elo juga sih, jadi cewek keras kepala dan egois banget. Gak pernah dengerin orang lain.”

Ahem, yakin segitu kenalnya sama saya? Gak pernah dengerin orang lain, apa cuma Anda doang?

Berdasarkan beberapa pengalaman di atas, saya memutuskan untuk nggak sembarangan bercerita. Nggak semua orang bisa dipercaya. Yang niatnya paling baik pun belum tentu bisa memberi solusi, bukannya kritikan doang – terlepas emang saya yang salah atau bukan. (Gak perlu juga selalu bermanis-manis ama saya, tapi nyinyir juga gak ada gunanya.)

Intinya, gak semua orang se-suportif itu. Kenyataannya memang demikian.

Banyak orang yang merasa sudah tahu segalanya tentang kita. Saat kita jatuh, belum tentu mereka bakalan ikut jatuh kasihan dan tergerak untuk membantu. Bisa saja mereka malah menuduh, menyalahkan, dan menghakimi dengan mudah. Nggak bisa atau nggak mau bantuin gak apa-apa, serius.

Asal mulut gak jadi jahat aja.

“Elo gak hati-hati, sih. Makanya ketipu. Baik ama orang boleh, tapi jangan gak pake otak gitu, dong.”

“Elo terlalu percaya ama dia sih, makanya dimanfaatin.”

“Elo itu gak pernah bener-bener mandiri, karena elo selalu ikut kata orang.”

“Elo ‘kan gak pernah traveling maupun hidup sendiri. Emang bisa?”

Padahal, dari mana bisa tahu saya bakalan gagal kalo gak nyoba? Lalu, apakah jumlah kegagalan seseorang lantas sah membuat mereka dicap sebagai pecundang?

Banyak yang lupa, hidup ini selalu penuh dengan proses ‘jatuh-bangun’. Bahkan, orang paling cerdas, kuat, dan berhati-hati sekali pun mengalaminya. Pilihan juga selalu banyak.

Mau terus mengasihani diri sendiri atau bangkit lagi? Mau break sebentar atau langsung ganti strategi?

Mau gengsi – atau menerima tawaran dan bantuan dari mereka yang benar-benar peduli, bahkan sebelum Anda memintanya? Mau terus dengerin berisiknya para bully atau mengingat ucapan mereka yang selalu menyemangati?

Banyak ya, pilihannya? Mau yang mana?

Jatuh. Bangun. Jatuh? Ya, bangun lagi. Saatnya ganti strategi dan belajar kembali.

R.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *