“BARISAN PATAH HATI: STOP NYINYIR!”

“BARISAN PATAH HATI: STOP NYINYIR!

 

“Cowok itu buta sama personality. Mereka selalu maunya sama yang cantik-cantik, langsing, seksi. Perkara itu cewek gak berotak dan mulutnya super bitch urusan belakangan!”

“Kenapa cowok baik-baik lebih banyak yang single? Karena cewek lebih suka bad boy. Lebih menarik, menantang, dan gak ngebosenin.”

 

Kedengaran familiar? Pernah denger kenalan ngomong gini? Jangan-jangan ini juga pernah terucap dari kalimat Anda.

Hmm, gimana ya, ngebahasnya? Baiklah, biar nggak dituduh selalu nyalahin laki-laki, saya akan fair dan mulai dari diri sendiri:

“Kurusin, dong! Mau ‘kan, punya pacar?”

“Kenapa sih, lo gak bisa kayak kakak lo aja?”

“Iya, banyak yang bilang kakak lo lebih cantik daripada elo.”

 

Dari dulu saya bertanya-tanya, kenapa untuk memuji seorang manusia – apalagi perempuan – selalu harus ada perbandingan bernada ‘menjatuhkan’? Sama kayak produk A dan B – atau iklan pemutih kulit (ATAU OBAT DIET!) dengan gambar ‘sebelum’ dan ‘sesudah’ yang nyebelin banget dan sempet bikin trauma.

Seakan-akan mereka berhak menilai mana yang lebih sempurna, padahal Tuhan sudah menciptakan semua dengan keindahan masing-masing. Berani-beraninya.

Sempat tumbuh dengan kepercayaan diri rendah gara-gara di-bully (yap, dianggap kurang cantik dan kurang berharga untuk dilirik lawan jenis) sempat bikin saya jadi PEMBENCI. Ya, saya membenci diri dan tubuh saya sendiri. Saya membenci sesama perempuan yang entah kenapa selalu dianggap lebih cantik daripada saya. Apalagi, sepertinya mereka punya banyak penggemar laki-laki dan saya…yah, tahu sendirilah.

Saya juga jadi mudah ilfil saat laki-laki yang saya sukai dan mengaku suka cewek baik-baik, buntutnya tetap memilih yang langsing. Meskipun masih berusaha menjaga pertemanan, dalam hati saya memendam sakit hati dan dendam.

Dasar sial, lama-lama kebencian yang begitu menggerogoti dari dalam sempat menghancurkan persahabatan saya dengan seorang laki-laki yang sebenarnya baik sekali. Meskipun sekarang kami sudah berdamai dan saling memaafkan, saya akan selalu mengingat hal itu sebagai pelajaran.

Tapi ini beneran, dulu waktu perempuan (yang dianggap) cantik disukai oleh laki-laki yang saya sukai namun bertabiat jelek, kemarahan saya sempat timbul. Apa sih, yang kurang dari saya? Kurang kurus? Oke, tapi ‘kan selama ini saya udah berusaha baik sama cowok ini. Kok dia nggak ngeh juga, ya?

Waktu itu, saya belum sadar bahwa saya adalah korban verbal bullying yang masih memendam sakit hati, sehingga berubah sombong sekali. Saya baik? Kata siapa?

Banyak yang dengan mudahnya dulu hanya bisa menyuruh saya untuk bersikap cuek dan percaya diri. Nggak pernah ada teguran buat para bully yang dengan entengnya menghina fisik saya dan menganggapnya sebagai ‘cacat’ penyebab laki-laki enggan tertarik dengan saya.

Jujur, butuh waktu lama untuk saya agar sadar. Memang benar, seharusnya saya nggak mudah termakan ucapan jahat mereka bahwa perempuan baru dianggap ‘cantik’ kalau sudah memenuhi syarat-syarat bias patriarki: harus kurus, bisa dan suka dandan, berkulit putih, berambut panjang, dan…yang paling penting, nih. Disukai banyak laki-laki, apalagi yang termasuk kategori tampan standar ‘alpha male’.

Cuma, dasar sial habis ini terganjal standar ganda lagi. Boleh disukai banyak laki-laki selama masih lajang, apalagi kalau bisa ampe bikin mereka taruhan buat menaklukkan si perempuan. Kalau perlu pake berantem segala karena rebutan, berasa si perempuan nggak beda dengan ‘piala berlapis emas’. Huek.

Tapi, perempuan juga jangan sampai jadi ‘murahan’ (lagi-lagi menurut versi patriarki). Nggak boleh ‘tebar pesona’. (Entah menurut versi siapa.) Harus setia (sementara pasangannya boleh ‘ke mana-mana’, bahkan ‘punya lebih dari satu’.)

Jujur, ada keuntungannya juga jadi saya. Mendengar teman-teman sesama perempuan yang pernah dibegitukan, saya jadi kasihan. Harusnya mereka dihargai jauh lebih dari sekadar ‘penaklukkan’. ‘Kan sama-sama manusia. Gimana, sih?

“Nggak tau kenapa gue masih single, padahal gue cowok baik-baik.”

Tuan-tuan, kalo ada yang pernah curhat begini sama saya dan tanggapan saya dingin-dingin saja, maafkan. Jujur, ucapan di atas bikin trauma – mengingatkan saya akan saya yang dulu.

Percaya deh, ngeluh-ngeluh kayak gitu (apalagi ampe ke mana-mana dan di media sosial pula!) nggak bakal ngundang simpati siapa-siapa. Intinya, kita nggak bisa ngatur-ngatur perasaan orang. (Memangnya kita sendiri mau diatur-atur kayak gitu? Silakan jawab sendiri.) 

Kalau orang yang kita suka ternyata menganggap kita bukan tipe mereka dan enggan memberi kesempatan, ya udah. Mundur aja dan nggak usah pake drama.

Kecewa dan sakit hati? Iya, ngerti. Tapi percaya deh, nyinyir soal pilihan mereka akan pasangan hidup nggak akan menyembuhkan. Malah, orang bakal ragu apakah Anda beneran baik dan…dewasa.

Tuhan juga Maha Adil, jadi nggak mungkin hanya orang-orang berkriteria tertentu saja yang berhak bahagia, mencintai, dan dicintai. Be the best version of YOU. Nggak perlu ngikutin orang lain.

Ngapain ngurusin badan buat orang yang sama sekali nggak peduli atau menghargai perasaan kita? Mending lakukan itu buat diri sendiri. Ngapain sok-sokan keliatan badung biar dapat perhatian? Rugi. Kalau pun ada yang cepat tertarik sama kalian, sebuah hubungan memang akan mulai…namun berlandaskan kepura-puraaan. Mau seumur hidup akting jadi orang lain terus, cuma biar pasangan senang?

Begitu ketahuan aslinya, iya kalau mereka mau terima. Kalau kecewa? BYE.

Sosok yang tepat akan mencintai Anda apa adanya dan selalu berusaha membahagiakan Anda. Nggak perlu mentah-mentah ‘mengaminkan’ ucapan manusia mana pun, termasuk yang mengaku sebagai the dating expert. Kenapa? Karena mereka nggak tahu segalanya.

Kalau lain kali denger laki-laki mengklaim bahwa mereka tahu segalanya tentang perempuan (begitu pula sebaliknya, perempuan yang mengaku tahu segalanya tentang laki-laki), ketawain aja. Memangnya mereka udah survei ke seluruh dunia? Jangan-jangan mainnya masih di pojokan aja.

Mending banyak-banyakin kesibukan yang positif…sambil terus berbuat baik sama orang. Nggak perlu berharap hasil instan, karena kebanyakan makan mi instan sendiri aja juga nggak sehat.

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *