“TEMAN-TEMAN LAIN JENIS = PENGHALANG CINTA SEJATI?

“TEMAN-TEMAN LAIN JENIS = PENGHALANG CINTA SEJATI?”

Langsung saja, ya:

Satu malam, saya makan bareng seorang teman laki-laki dan seorang kenalan perempuan yang baru saya kenal hari itu. Kebetulan, seharian itu kami semua termasuk rombongan yang sempat barengan ke luar kota untuk menjenguk kawan yang baru punya anak. Selama perjalanan tersebut, si perempuan (yang mobilnya dia pinjamkan khusus untuk perjalanan itu) bisa melihat keakraban saya dengan para teman laki-laki.

Ya, saya senang berteman dengan siapa saja, baik laki-laki maupun sesama perempuan. Memang rasanya pasti beda, namun bukan berarti yang satu lebih baik dan penting daripada yang lain. Sebalnya, kadang saya harus menjelaskan ini berkali-kali pada mereka yang entah kenapa hobi banget nanya gini:

“Emang cewek ama cowok bisa ya, temenan doang?”

Saya akui, memang ada beberapa kasus yang berakhir ‘nggak asik’, seperti rasa suka yang bertepuk sebelah tangan hingga akhirnya musuhan, cemburu nggak penting, atau persaingan ‘nggak sehat’ dalam rangka memperebutkan satu-satunya cewek di geng cowok (atau sebaliknya, cowok di antara para cewek). Ujung-ujungnya persahabatan jadi korban.

Tapi, apa iya semua harus kayak sinetron basi gitu? Sebentar, saya lanjut cerita dulu, ya.

Singkat cerita, si kenalan perempuan sedang heboh bercerita soal laki-laki yang sedang dekat dengannya. Harapnya, semoga kali ini bisa berlanjut serius. Sebagai sesama perempuan yang mencari hal serupa, saya langsung menyahut setuju.

Namun, entah kenapa mendadak si kenalan perempuan menatap saya dengan aneh. Di luar dugaan, berikutnya keluar deh, ucapan ini dari mulutnya:

“Elo kalo mau cepet dapet cowok yang serius, jangan kebanyakan temenan dan nongkrong ama cowok-cowok.”

Karena malas meladeni tudingan si kenalan perempuan yang baru juga sekali ketemu saya, saya langsung berlagak bodoh. “Maksudnya?”

“Ya, kalo elo lebih sering jadi ‘wingman’ mereka, ntar cowok yang beneran suka ama elo jadi males deketin.”

Di luar dugaan, teman laki-laki saya langsung membela: “Maksud lo, si Ruby harus lebih prissy* dan feminin, gitu?”

(*Prissy = ganjen, kemayu, atau genit. Sekadar tambahan: kalau Anda aslinya memang perempuan feminin dan kemayu – serta merasa nyaman begitu – ya nggak masalah. Nggak berarti Anda lebih rendah daripada saya yang kebetulan memang agak tomboy dan punya cukup banyak teman laki-laki.)

Sebenarnya, malam itu saya mau nyengir melihat si kenalan perempuan langsung cemberut mendengar ucapan teman laki-laki saya. Namun, karena seharian keluar kota bikin lelah, malam sudah larut, dan saya enggan ribut, akhirnya saya menyahut santai:

“Hmm…gimana, ya? Gue nggak tahu gimana caranya jadi orang lain. Gue cuma tahu cara jadi diri sendiri.”

“Memang yang bagus begitu,” dukung teman laki-laki saya. Namun, lagi-lagi perempuan yang duduk di depan kami malam itu enggan mengaku kalah.

“Gue baca soal ini di artikel, sih.”

Yah, hari gini siapa pun bisa bikin artikel opini, ‘kan? (Termasuk saya sendiri, hehehe.) Namun, lagi-lagi saya malas berdebat, jadi hanya membalasnya dengan cerita pengalaman nyata saya sendiri:

“Kakak gue juga punya banyak temen cowok, tapi dia masih bisa dapet suami, tuh.”

Skak mat.

Emang teman-teman lain jenis penghalang jodoh Anda? Ah, kasihan benar mereka selalu jadi kambing hitam. Lagipula, saya paling ogah sama laki-laki cemburuan dan sampai membatasi pertemanan saya. Rugi amat!

Bahkan, adik saya sendiri saja juga pernah bilang begini:

“Kalo itu cowok beneran suka dan nggak insecure, dia bakal nanya dulu soal temen-temen cowok yang deket ama elo. Dia juga nggak mudah terancam sama kehadiran mereka.”

Nggak enaknya, masih banyak yang memandang perempuan yang punya banyak teman laki-laki dengan persepsi ‘miring’.  (Hmm, mungkin mereka harus belajar lebih menegakkan diri biar nggak gampang pusing, hehe.) Padahal, belum tentu juga temenannya pake pegang-pegangan segala (kecuali kalau sampai ada yang nyaris jatuh dari lantai 13 kayak di film-film action!)

Kalau nggak “pasti lesbi” (apalagi bila kebetulan si perempuan tomboy), ya “milik bersama” (maksudnya? Saya akan berusaha pura-pura nggak ngerti ucapan sinis ini), atau “sang primadona”.

Nah, yang terakhir ini bikin saya mau ngakak. Sang primadona? Nggak heran masih aja ada sesama perempuan yang merasa lebih hebat karena punya lebih banyak teman laki-laki daripada sesama perempuan sendiri. Maksudnya apa, diperlakukan kayak ratu, begitu? Haha, ngarep banget, tuh!

Laki-laki yang punya banyak teman perempuan juga suka dapat stereotype nggak enak. Entah sering dikira “pasti gay”, “playboy”, “kurang macho”, hingga “pasti diem-diem jadi rebutan temen-temen ceweknya sendiri”.

Apakah saya bakal cemburu kalau suatu saat punya pasangan yang berteman dengan banyak perempuan? Berhubung saya sendiri juga nggak suka dikekang, asal dia tahu diri dan bisa jaga kepercayaan sih, nggak masalah. Tapi sebelum Anda mulai menakut-nakuti saya dengan kemungkinan si dia tergoda perempuan lain, ini jawaban saya:

“Kalau sampai ‘kejadian’, bukan saya yang bodoh. Dia yang nggak bisa jaga kepercayaan. Selain itu, perempuan pun juga bisa tergoda sama teman laki-lakinya sendiri. Tapi, kenapa sih, kita harus selalu parno begini? ‘Kan manusia punya akal, nggak cuma nurutin napsu doang!”

Kalau percaya jodoh di tangan Tuhan, harusnya kita jangan mudah termakan stereotyping bikinan orang. Toh, nggak semua teman laki-laki bakalan saya goda juga, ‘kan? Kurang kerjaan amat!

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *