“MASKULINITAS NAIF VERSUS REALITA”

“MASKULINITAS NAIF VERSUS REALITA”

Saya ingat salah satu episode serial “Rizzoli and Isles”. Angela Rizzoli (yang diperankan oleh Lorraine Bracco) seorang bartender sekaligus ibu tunggal dari ketiga anak yang sudah dewasa. Begitu beliau ketahuan tengah berusaha melanjutkan pendidikannya yang sempat terputus saat menikah, putrinya, Detektif Jane Rizzoli (yang diperankan oleh Angie Harmon) langsung shock.

            “Hah, jadi Mama belum kelar SMA?”

            “Habis kata papamu nggak usah,” kata Angela dengan wajah malu. “Buang-buang waktu dan nggak ada gunanya.”

            Jika saya Jane, reaksi saya pasti akan sama dengan karakter favorit saya di film itu: “Kok Papa tega?” Gimana enggak? Dalam beberapa episode awal, tokoh Angela digambarkan sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk suami dan ketiga anaknya. Nggak ada yang salah sih, dengan hal itu. Namun, suaminya kemudian menceraikannya dengan alasan paling menyakitkan: terpikat oleh perempuan lain, yang lebih muda pula.

Jadilah Angela yang tadinya nggak pernah bekerja di luar rumah kelabakan. Apalagi, sang mantan suami langsung otomatis berhenti menafkahi, sehingga Angela terpaksa menjual rumah lama mereka dan pindah untuk tinggal bersama dr. Maura Isles (yang diperankan oleh Sasha Alexander), rekan sekaligus sahabat putrinya. Memang sih, ketiga anaknya yang sudah dewasa mau dan bisa membiayai ibunya. Namun, walau bagaimana pun, Angela tetap ingin mandiri dan tidak terlalu bergantung pada orang lain.

Singkat cerita, Angela akhirnya bekerja tetap sebagai bartender di “The Dirty Robber”, sebuah usaha milik Detektif Vincent Korsak (yang diperankan oleh Bruce McGill), rekan sekaligus sahabat putrinya.

Oke, mungkin contoh kasus di atas hanya fiksi. Namun, hal serupa banyak terjadi di dunia nyata: perempuan (sengaja?) dihambat pendidikannya dengan janji-janji manis surgawi dari laki-laki bahwa dia akan selalu dijagain. Nggak usah mikir yang berat-berat seperti politik dan ekonomi, cukup jadi ibu rumah tangga saja meski sekolah nggak selesai. Nggak usah kerja di luar rumah, nanti kecapekan dan anak-anak nggak keurus. (Padahal parenting kerjaan dua orang, lho.)

Di Indonesia? Wuih, contohnya banyak sekali. Bahkan, sebisa mungkin anak-anak perempuan segera dinikahkan. Alasannya? Ya, agar nggak terus jadi beban ekonomi keluarga sekaligus menghindari zina. Solusi pragmatis? Biar diurus suaminya.

Sedih, ya? Ternyata, hanya sampai situ kita menilai anak-anak perempuan kita: sekadar beban ekonomi keluarga sekaligus sumber potensi zina. Semoga Anda tidak ikut-ikutan berlaku demikian pada putri-putri Anda. Kasihan mereka.

Saya pernah terlibat percakapan ‘super ajaib’ dengan seorang kenalan laki-laki. Menurutnya, dalam keluarga kelas menengah ke bawah, wajar saja bila anak laki-laki yang mendapat prioritas (atau privilege?) dalam hal pendidikan setinggi-tingginya, sementara anak perempuan lebih baik segera dinikahkan saja. Alasannya juga super standar:

“’Kan laki-laki yang nanti akan mencari nafkah untuk keluarga, menjadi kepala rumah tangga, dan imam untuk istri dan anak-anaknya.”

Okelah kalau dia berpendapat demikian. Lalu, saya tantang lagi dengan pertanyaan berikut:

“Kalo anaknya perempuan semua gimana?”

“Ya, yang sulung yang dikorbankan, dinikahkan duluan.”

Dikorbankan. Ya, kata itulah yang dia gunakan waktu itu. Jujur, saya ngeri membayangkan laki-laki macam ini menikah dan punya anak perempuan yang banyak suatu saat nanti. Demi perempuan-perempuan itu, saya masih mau berdoa agar rezekinya selalu lancar. Kalau tidak? Yah, silakan tebak sendiri gimana nasib anak-anak perempuan mereka nantinya.

Mungkin Anda akan menganggap saya sinis sekaligus pesimis. Nggak semua laki-laki seperti itu? Iya, saya percaya dan ada buktinya. Cuma, masa iya lantas saya hanya akan bersikap cuek dengan realita yang ada? Belum tentu semua perempuan seberuntung Angela, yang akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan berkat kebaikan teman-teman anaknya. Ada yang sulit mendapatkan pekerjaan sehingga akhirnya terus bergantung pada orang lain, menunggu calon suami baru, atau…nah, yang ini yang seram – terjebak dalam perdagangan manusia. Jika dari awal mentalitas anak perempuan tidak didukung untuk belajar mandiri, jangan heran kalau akhirnya banyak yang jadi begini.

Sekali lagi, nggak ada yang salah dengan menginginkan istri Anda menjadi ibu rumah tangga dan anak perempuan Anda selalu dijaga. Nggak ada yang salah dengan menjadi laki-laki yang selalu melindungi perempuan. Bagus sekali, malah.

Namun, mau sampai kapan Anda terus bersikap naif akan realita yang ada? Mungkin Anda bukan tipe laki-laki brengsek seperti mantan suami Angela dan berjanji akan selalu setia pada istri Anda. Tapi, Anda ‘kan, nggak akan selalu bisa jadi superhero untuknya dan semua orang. Gimana kalau tiba-tiba Anda di-PHK atau Anda jatuh sakit hingga tidak bisa lagi bekerja di luar rumah, sementara istri Anda minim atau nihil pengalaman kerja dan anak-anak masih terlalu kecil untuk membantu mencari nafkah? Masa iya Anda tega mau menyuruh mereka turun ke jalan dan mengemis? Masa iya Anda mau terus tergantung pada belas kasihan orang lain?

Gimana kalo maut menjemput Anda duluan dan meninggalkan istri dan anak-anak dalam kondisi demikian? Hanya berpasrah pada takdir tanpa melakukan apa-apa juga tidak baik bagi kelangsungan hidup mereka.

Anda nggak bisa selalu jadi superhero bagi istri dan anak perempuan Anda…and it’s okay. Karena Anda nggak harus selalu menanggung semuanya sendirian. Bukankah istri harusnya adalah partner dalam bahtera rumah tangga yang setara? Jika memang benar-benar sayang, perlindungan terbaik yang harus Anda berikan pada mereka adalah membiarkan mereka untuk menjadi sosok yang kuat dan mandiri, bukan yang selalu tergantung pada laki-laki. Ini termasuk hak mereka untuk mendapat pendidikan tertinggi, pekerjaan terbaik, hingga hak anak perempuan untuk memutuskan kapan dan dengan siapa dia mau serta siap menikah…

R.

“ADA SATU HARI…”

“ADA SATU HARI…”

Ada satu hari

saat semua rapi

teratur tanpa cela

lancar segalanya

 

Lalu ada hari lain

saat semua jalan licin

Percuma hati-hati

Tetap jatuh sendiri

 

Ada juga satu hari

berisi gabungan keduanya

Hmm, mungkin mereka benar

Penonton bisa bubar

bila selalu disuguhi

acara yang sama…

 

R.

 

“BEDA GENDER = BEDA REPUTASI?”

“BEDA GENDER = BEDA REPUTASI?”

Seorang kawan baru, laki-laki dari Amerika, pernah bercerita jujur pada saya. Sebut saja namanya Billy*. Ngakunya, dulu dia ‘badung’ banget. (Ini kata dia lho, ya.) Suka clubbing, main perempuan, hingga membayar pekerja seks komersial. Alasannya super standar: masih muda, mau senang-senang (dan sekaligus mumpung masih punya uang dan perempuannya juga nggak keberatan – alias konsensual), serta…’namanya juga cowok’.

            Seperti biasa, seluruh dunia seakan memaklumi perilaku laki-laki ini. Bahkan sampai ada yang menganggapnya ‘jantan’ dan ‘jagoan’, entah dari mana.

“Terus?” tanya saya. “Sekarang gimana?”

“Sekarang aku anak baik-baik, dong,” jawabnya bangga. “Cuma, pacarku yang sekarang galak dan cemburuan. Dia gak suka aku ke tempat-tempat kayak gitu lagi, meski hanya ngebir. Dia juga selalu kesel kalo aku pergi ke suatu tempat tanpa ngabarin dia.”

“Oh.” Hmm, mungkin karena sang pacar sudah tahu ‘masa lalu’ kawan saya ini, dia jadi khawatir. Ya, takut kawan saya kembali ‘tergoda’ akan gairah lama kehidupan malam yang pernah dirasakannya. Nggak heran juga, sih. Sebagai sesama perempuan, saya mungkin akan begitu juga bila mengetahui sejarah seksual pasangan saya yang sekarang.

Dari cerita kawan, sepertinya sang pacar termasuk ‘perempuan baik-baik’ yang ideal versi masyarakat patriarki, terutama di Indonesia. Cantik, langsing, berkulit cerah, berambut hitam panjang (maaf, saya rada kepoin foto mereka berdua di media sosial), dan…anak rumahan. Nggak begitu suka keluar rumah, apalagi malam-malam. Jadi, nggak kayak laki-laki yang menjadi kawan baru saya ini yang ngakunya suka clubbing. Idaman sekali, bukan?

Singkat cerita, kawan saya mengaku sudah bosan main-main. Kali ini dia hanya ingin serius dengan satu perempuan saja (ya, si pacar itu). Kemudian saya langsung membayangkan rasanya jadi si pacar. (Bukan, bukan karena diam-diam naksir!) Meski ada sedikit keraguan sama dia, saya masih percaya bahwa dalam hal ini, setiap orang berhak mendapatkan ‘kesempatan kedua’. Semua orang lho, ya. Nggak hanya satu gender saja.

Saya yakin, pasti banyak yang ngomong begini sama pacar kawan saya:

“Ayolah, kasih Billy kesempatan. Dia sudah berubah, kok. Bukan kayak dulu lagi.”

Biasanya, perempuan akan luluh, apalagi dengan tambahan embel-embel: “Demi kamu.” Kedengarannya romantis sekali, bukan? (Padahal, ke depannya nanti, siapa tahu?) Ibarat kisah dongeng tenar “Si Cantik dan Si Buruk Rupa” (meski kawan saya sebenarnya ganteng, serius!), si perempuan menerima laki-laki dengan apa adanya.

Sekarang, coba situasinya dibalik. Kawan saya seorang perempuan yang berpacaran dengan laki-laki. (Anggap saja namanya jadi Bella*, biar saya nulisnya juga lebih gampang, hehe.) Reaksi sekitar bila mengetahui sejarah seksualitas Bella akan sama nggak, ya?

Sayangnya, masih enggak. Pasti bakalan banyak yang nyinyir, bahkan sesama perempuan sendiri. Pasti bakalan banyak yang ngomong begini ke pacarnya Bella:

“Ih, yakin mau ama dia? Udah ‘bekas’ gitu, pasti pernah ditidurin banyak cowok.”

“Pasti itu cewek murahan, deh. Gatelan. Yakin bisa setia ama elo?”

“Lu gak bisa dapet yang masih perawan aja? Payah lu!”

Saya tidak sedang menghakimi kawan saya karena masa lalunya. Apa pun pilihan seseorang terkait seksualitas mereka, baik laki-laki maupun perempuan, sama sekali bukan urusan saya. Itu hak, urusan, dan tanggung-jawab pribadi mereka, sama seperti keputusan saya dalam hal yang sama.

Yang bikin saya kesal? Lagi-lagi ketidakadilan ini. Kesannya hanya laki-laki yang boleh ‘bertobat’. (Kalau hal ini mau dikaitkan dengan moral dan ajaran agama, ya.) Lihat saja. Lebih banyak laki-laki yang masih bisa menikahi perawan (kalau selaput dara yang jadi ukuran, ya), meski sebenarnya mereka sendiri sudah tidak perjaka. Sialnya, persepsi gender masyarakat pun hingga kini masih saja sama:

“Wajarlah bila laki-laki begitu. Perempuan harus nrimo.

Glek.

            Sayangnya, saat perempuan yang jujur soal sejarah seksualitas mereka, yang ada malah ditinggal. Belum cukup, kadang si laki-laki sampai merasa harus cerita ke mana-mana, sehingga semakin sedikit laki-laki lain yang mau memberi kesempatan pada si perempuan. (Kata siapa hanya perempuan yang berpotensi jadi tukang gosip?) Nambah lagi deh, celaan dan hinaan yang diterima si perempuan. Syukur-syukur nggak bikin dia sampai down, trauma, lalu menyakiti diri atau bahkan bunuh diri.

Kalau pun ada laki-laki yang mendekati, biasanya mereka yang sudah tahu sejarah seksualitas si perempuan hanya mencari seks, karena otomatis menganggap si perempuan ‘gampangan’. Dalih mereka pasti begini: “Ah, udah ‘bekas’ ini. Pasti udah biasa dong, sama laki-laki?”

Kalau ada laki-laki yang beneran ingin serius dengan si perempuan tanpa peduli sama masa lalunya…wah, pastinya langka sekali. Menurut mereka, entah dia memang baik sekali atau bodoh setengah mati. Yang mem-bully pasti bakalan ngomong begini: “Inget, bro. Ibarat botol Aqua tapi segelnya udah lepas, bro.”

            Apa yang dapat kita pelajari dari dua contoh kasus di atas? Beda gender kok, bisa beda ‘reputasi’?

  1. Saya salut dengan pacar kawan saya dan perempuan lain yang mau menerima laki-laki apa adanya. Nggak ada yang salah dengan itu. Hebat malah.
  2. Meski kita semua ngakunya percaya bahwa semua orang berhak dapat kesempatan kedua, kenyataannya nggak demikian. Lebih banyak laki-laki yang mendapatkannya, sementara perempuan selalu diingatkan akan ‘kesalahan’ masa lalu mereka. (Ya, terlepas karena pernah diperkosa atau perkara konsensual – pokoknya main pukul rata aja.)
  3. Perempuan masih disamakan dengan barang atau objek. Permen yang harus dibungkus-lah, botol Aqua wajib segel-lah. Padahal, belum tentu laki-laki senang kalau disamakan dengan semut atau binatang kelaparan lainnya. Baru lihat daging secuil saja sudah beringas. Kalau pun ada, celakanya malah bangga dan pamer dengan cerita ke mana-mana. Wah, gawat!
  4. Masih banyak yang termakan mitos bahwa keperawanan seorang perempuan itu dilihat dari selaput dara. Padahal, ada yang tebal, tipis, atau malah nggak ada sama sekali. Baca jurnal medis dong, biar nggak salah kaprah tentang organ dan kesehatan reproduksi perempuan. Jangan mentok di viagra terus!
  5. Nggak salah kok, berpegang teguh pada moral dan agama. Ya, asal nggak yang palsu ya, alias hanya berlaku untuk ‘kalangan tertentu’. (Baca: laki-laki boleh ‘suka-suka’ atas nama ‘cari pengalaman’, sementara perempuan wajib perawan sebelum menikah.)
  6. Nggak gampang jujur sama pasangan soal sejarah seksualitas kita. Jangan sampai malah bikin dilema: jujur salah, nggak jujur terus ketahuan makin tambah salah. Sayang, masih belum banyak laki-laki yang cukup berbesar hati menerima kenyataan ini dari calon istri mereka. (Boleh protes kalau saya terbukti salah. Buktikan dong, jangan omong doang.)
  7. Ketika laki-laki sudah bosan ‘main-main’ dan ingin serius, maka ia bisa berubah/bertobat menjadi lebih baik. Sementara itu, perempuan harus sudah dari awal mempunyai reputasi ‘baik’. Dalam hal ini, entah mengapa laki-laki lebih layak dipercaya ketika ingin berubah, dibandingkan perempuan.

 

Padahal, seharusnya laki-laki (yang sudah tidak perjaka) lebih tahu diri dan berterima kasih pada perempuan yang masih mau menerima mereka apa adanya. Coba bayangin, apa jadinya kalau kami juga kekeuh mau memilih yang perjaka saja sebagai calon suami? Mungkin kalian tidak keberatan dan bisa bebas kembali ‘ke mana-mana’ dan ‘suka-suka’. Tapi, kalau memang sudah cinta, harusnya ini nggak jadi masalah, ‘kan? Kalau sampai masih juga iya, menurut saya sih, kalian tidak setulus itu dalam mencintai seorang perempuan. Sayangnya, kalian masih hobi sekali memakai standar ganda. Kamilah yang selalu diharapkan untuk menerima kalian apa adanya.

Andai saja, keperjakaan bisa dibuktikan secara ilmiah. Sayangnya enggak.

Kalau mau menggunakan perspektif agama, bukankah Tuhan Maha Pengampun? Kenapa dalam hal ini, perempuan terus yang lagi-lagi dihakimi?

Bagaimana dengan saya sendiri?

Jujur, kecemasan saya bukan pada soal perjaka atau tidaknya si laki-laki yang akan jadi calon suami, siapa pun dia nanti. Apakah dia masih akan memandang saya setara dengan berlian yang harus disimpan di dalam lemari besi setiap saat, permen yang harus dibungkus rapat, atau botol Aqua yang harus ada segelnya? Apakah dia tidak akan memandang saya sebagai manusia, sama sepertinya – bisa punya salah alias jauh dari sempurna?

Jika ingin membantah hasil pengamatan saya, tidak perlu membela diri dengan awal kalimat: “Tidak semua laki-laki…”. Cukup buktikan saja dengan tidak terlalu keras menghakimi perempuan yang sudah tidak perawan sebelum menikah, apa pun penyebabnya. Bukankah pasangan yang baik adalah pasangan yang berkepribadian baik, saling menyayangi dan menghormati? Bukankah hal-hal itu jauh lebih abadi daripada keperjakaan maupun keperawanan itu sendiri?

R.

(*Nama narasumber telah diubah)

 

“6 TIPS ELEGAN BERTEMAN DENGAN LAWAN JENIS”

“6 TIPS BERTEMAN DENGAN LAWAN JENIS” (Dari Mama dan Sahabat-sahabat Beliau)

Saya ingat satu hari penuh kegembiraan bersama Mama dan sahabat-sahabat beliau. (Serius.) Benar-benar random, saya yang tadinya hanya berniat mengantar beliau bertemu mereka terus pamit dan cabut malah diajak ikutan. Makan-makan, nonton film, hingga menerima tantangan menyanyi jazz impromptu di salah satu kafe di ibukota. Pokoknya seru banget.

Tapi, kita nggak akan membahas soal itu di sini. Justru, saya terinspirasi dari cerita-cerita persahabatan mereka yang seru-seru dan cukup langka.

“Ruby, Tante, Om, sama Mama udah temenan dari SD, lho.”

Mungkin ini bukan cerita yang istimewa amat. Cuma, gara-gara kemaren-kemaren sempet ada yang mengaitkan “banyak berteman dengan lawan jenis” dengan “susah dapet jodoh”, rasanya soal ini harus saya angkat.

“Emang cewek ama cowok bisa ya, temenan doang?”

Kenapa enggak? Kenapa untuk berteman dengan tulus aja harus pake mempermasalahkan jenis kelamin segala? Buktinya banyak yang bisa, sampai bertahun-tahun lamanya lagi. Mama dan sahabat-sahabat beliau contoh nyata.

Nahh, dari mereka, ini dia 6 tips elegan berteman dengan lawan jenis:

1. Perlakukan semua teman sebagai manusia sederajat.

Males banget kalo dikit-dikit nganggep cewek yang temenan ama cowok (yang kebetulan dianggap) ganteng pasti diem-diem naksir atau ‘friendzone’ itu dianggep naas.

Kalau emang temenannya tulus, nggak usah parno si A bakalan diem-diem naksir atau khawatir Anda bakalan jadi jatuh cinta sama si B. Jalanin aja dulu. Kalo dikit-dikit “merasa begini-begitu”, sepertinya Anda harus memeriksakan diri dulu. Serius. Ke mana? Mana saya tahu?

2. Kalo di tengah persahabatan kepalang naksir? Silakan milih.

Sama aja kayak sama gebetan yang belum resmi jadi temen. Anda boleh mempertimbangkan banyak hal. Kalo si dia jawab iya, kalo enggak gimana. Mau milih tetap temenan atau udahan juga bisa dibicarakan bersama. Udah pada gede juga, bukan?

3. Kalau mereka yang naksir? Ya, sama juga.

Intinya, harus sama-sama berani jujur dan siap dengan keputusan masing-masing. Yang pasti, kalau sampai salah satu jadi ilfil dan enggan berteman lagi, berarti mereka belum cukup dewasa untuk menerima kenyataan. Anda sendiri juga nggak mau ‘kan, temenan sama orang yang dikit-dikit bikin drama? Capeklah.

Perasaan memang suka nggak pilih tempat, waktu, atau orang. Tapi, harusnya bisa ‘kan, bernalar untuk memilih yang benar? Perasaan juga nggak bisa dipaksa kali.

4. Hargai pasangan masing-masing.

Baik pasangan Anda maupun pasangan teman, jangan sampai ada yang merasa cemburu dan disepelekan. Hindari kebiasaan memanggil teman dengan panggilan ‘sayang’, meskipun niatnya hanya bercanda. Apalagi sudah menikah, jangan sampai Anda lebih memprioritaskan sahabat daripada pasangan.

Ketimbang pasangan cemburu hingga mengeluarkan larangan untuk tetap berteman, kenapa nggak saling kenalin aja pasangan masing-masing? Siapa tahu jadi malah nambah teman dan nggak canggung lagi.

Khawatir pasangan masing-masing malah menyelingkuhi kalian? Aduh, kok pikirannya jelek melulu, sih? Yang penting selama saling awas dan mengingatkan aja, kalau ada batas yang tetap harus diikuti. Intinya, kalo nggak mau disakitin, ya jangan nyakitin.

5. Dilarang curhat soal (keburukan) pasangan ke teman lawan jenis.

Nggak usah sama teman lain jenis, sama yang sejenis aja atau siapa pun juga jangan. Kata orang bijak: “Aib pasangan sebaiknya ditutup serapat mungkin.” (Hmm, kalo KDRT kayaknya lain bahasan, nih.)

Ada yang bilang, potensi selingkuh awalnya dari situ. Seasyik apa pun sahabat, sebisa mungkin jangan sampai melakukan hal ini. Kadang batasan aman memang tetap diperlukan.

6. JANGAN BAPERAN!

Nggak cuma cewek, cowok juga bisa, lho. Kalo nggak, mana mungkin ada cowok ngeluh: “But I’m a nice guy!” saat cintanya ditolak cewek yang cuma ingin jadi temannya? Sama aja dengan cewek yang udah keburu kegeeran sama perhatian cowok, padahal si cowok juga biasa aja.

Bertemanlah tulus, alias nggak pake modus. Baik sama orang yang disuka jangan langsung berharap dia bakalan naksir juga, begitu pula sebaliknya. Kalo dibaikin orang, jangan lantas berharap mereka pasti naksir. Emang susah sih, tapi bukan berarti nggak mungkin, ‘kan?

See? Kata siapa cewek sama cowok nggak bisa temenan doang? Kata siapa juga banyak berteman dengan lawan jenis bikin susah dapet jodoh? Lagipula, seperti kata orang-orang:

“Semua tergantung orangnya juga lagi.”

 

R.

 

“SEBENTAR SAJA, DENGANMU…”

“SEBENTAR SAJA, DENGANMU…”

Aku muak dengan tuntutan

dan semua salah paham

meski bagian dari realita

Aku terlalu lelah

Sudah

Diri ini tidak perlu dibela

Biarlah mereka suka-suka

 

Hanya butuh beberapa jam

membuang pikiran kejam

ingin bebas

sebelum strategi bertahan ini membuatku kebas

 

Aku butuh semangat itu

sebentar saja, denganmu…

 

R.

(Jakarta, 8/8/2017 – 8:40)

 

“HANYA SEKALI…”

“HANYA SEKALI…”

Sejam berlalu. Raunganmu yang menyayat masih terdengar di balik pintu.

“Maafkan aku.” Begitu ulangmu. Sisanya lebih banyak berupa ratapan tidak jelas. Yang tidak biasa mendengar laki-laki dewasa bersikap seperti itu mungkin akan bergidik mendengarnya.

Namun, aku masih bergeming. Tak kupedulikan tatapan Mama yang matanya sudah merah dan berair.

“Maafkan suamimu, nak. Dia hanya khilaf. Lagipula, untung hanya sekali dan langsung ketahuan.”

Hanya sekali? Ingin aku tertawa. Alangkah naifnya Mama dan semua orang. Mungkin maksud mereka baru sekali ketahuan, meski mungkin perbuatannya sudah berkali-kali di belakangku. Siapa tahu, perempuan itu bukan satu-satunya.

“Laila, tolonglah,” pinta Mama lagi. “Maafkan Nino, sayang. Mama yakin kamu adalah istri yang baik.”

Ya, ya, ya. Aku selalu mendengarnya di mana-mana. Istri yang baik harus selalu memaafkan suami, sebrengsek dan sebejat apa pun kelakuan laki-laki itu.

Lalu, bagaimana dengan suami? Apa yang terjadi bila situasi terbalik, si istri yang selingkuh? Aku ingat May, temanku yang pernah khilaf sekali. Suaminya yang terlanjur jijik langsung menggugat cerai dan menyebutnya pelacur murahan. Bahkan, belum puas laki-laki itu membalas dendam, dengan teganya dia menyebar aib May ke mana-mana. Laman media sosial May sampai penuh dengan umpatan dari para netizen yang berperan sebagai bully, main hakim sendiri.

Mama juga langsung melarangku berteman dengan May.

“Perempuan baik-baik nggak pantes temenan ama perempuan macam itu.”

Astaga, Mama ngapain? Kulihat beliau memutar kunci pintu.

“Mama, jangan.” Terlambat. Kamu telah masuk dan kini berlutut di depanku, sambil menggenggam erat kedua tanganku. Masih menangis dan meraung-raung, bak adegan sinetron basi.

Kutahan rasa mual sebisaku, karena ingat tanganmu pernah menyentuh perempuan lain. Perempuan itu, yang telanjang di balik selimut bersamamu di kamar hotel itu. Mimpi terburukku saat memergokimu.

“Laila, maafkan aku.” Kembali mataku dan mata Mama bertemu. Ah, sial. Sorot mata beliau yang basah masih sama. Apa iya aku mau jadi anak durhaka karena enggan menurutinya?

Nino, kamu beruntung karena kamu laki-laki. Mereka akan selalu memintaku memaafkanmu dan menerimamu kembali…

—//—

Kalau semua mengira aku bidadari sempurna yang langsung memaafkanmu begitu saja, salah besar. Aku memang perempuan, tapi aku juga masih manusia biasa. Aku berhak marah dan merasa sakit hati sebagai seorang istri. Butuh waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan rasa percayaku lagi.

Aku melakukan ini demi Mama, yang entah kenapa lebih malu bila kita sampai bercerai. Padahal, akulah anaknya yang disakiti.

Setidaknya, kamu sekarang lebih sadar dan tahu diri. Kamu berusaha keras sekali untuk mendapatkan kepercayaanku lagi. Mulai jarang hangout dengan teman-temanmu. Habis kerja langsung pulang ke rumah. Berusaha lebih memanjakanku kali ini.

Awalnya, aku masih bersikap dingin. Namun, kamu juga tidak menyerah. Hmm, mungkin Mama memang benar. Barangkali kamu memang tulus ingin berubah.

Akhirnya, malam itu kita kembali seperti dulu. Bercinta di atas ranjang itu, sebagai suami dan istri yang kembali bersatu. Ada lega di wajahmu.

“Laila, aku mencintaimu…”

—//—

Kita kembali berbahagia, namun kenapa akhir-akhir ini sama-sama mudah lelah? Jatuh sakit dan sembuhnya suka lama. Ringkih, padahal belum juga terlalu tua. Kita sama-sama masih suka olahraga dan menjaga pola makan.

Beberapa kali, aku mengajakmu ke dokter. Kamu menolak dengan alasan sibuk, meski kutahu sebenarnya kamu gengsi. Jadi aku selalu pergi sendiri.

Sampai akhirnya dokter menyarankanku untuk melakukan tes yang tidak pernah terpikirkan olehku. Tiga huruf singkatan virus yang menjadi nama tes itu membuatku ngeri…

—//—

“Nino, kita harus bicara.”

Wajahmu memucat, disertai tanda-tanda ekspresi defensif.

“Laila, aku udah gak selingkuh lagi. Sumpah.”

“Aku percaya.” Senyumku tipis saat kuserahkan amplop putih itu padamu. Untuk menjawab sorot tanya pada matamu, kujelaskan, “Aku baru tes dari klinik.”

“Oh.” Ada harap pada wajahmu saat membuka amplop itu. Kamu bahkan hampir tersenyum. “Apa kamu-“

“Sayangnya bukan.” Kutunggu reaksimu dengan jantung berdebar-debar.

Benar saja, wajahmu memucat. Matamu berkaca-kaca saat kembali menatapku. Yang kamu tidak tahu, beberapa jam sebelumnya aku sudah menangis sendirian, sambil menunggumu pulang kantor.

Kamu tahu aku tidak pernah selingkuh. Hanya butuh tiga huruf itu untuk membuatku diam membisu, sementara kamu kembali tampak merasa bersalah seperti dulu.

Aku sudah tidak mendengar ucapanmu lagi. Yang kuingat malah dua kata yang mereka semua ucapkan padaku dulu, saat kau terpergok selingkuh dan aku diminta untuk memaafkanmu:

“Hanya sekali…”

“SEPATU UNTUK FAIZA”

“SEPATU UNTUK FAIZA”

“Kira-kira yang mana ya, yang bagus?”

“Yang itu aja, Ma.” Faiza menunjuk sepatu merah berhak rendah. “Cocok sama gaun buat ke kawinan besok.”

“Oke, kamu cobain dulu, deh.” Untung ada sepasang, jadi bisa sekalian dicoba dua-duanya.

Faiza menunduk dan – di luar dugaan – menarik lepas kedua tungkai prostetik-nya. Berpasang-pasang mata membeliak terkejut. Penjaga toko sampai menahan napas, namun Mama hanya mendelik pada Faiza.

“Apaan?” Faiza menyahut polos. Dipasangnya sepatu pada kaki palsunya, sebelum memasangkan kakinya kembali. Lalu gadis itu berdiri dan mulai berjalan.

“Muat, Ma. Enak.”

Kelar membayar, ibu dan anak keluar toko, diiringi tatapan heran penjaga toko dan pengunjung lain.

(100 KATA – #FFKAMIS “SEPATU”)