“BEDA GENDER = BEDA REPUTASI?”

“BEDA GENDER = BEDA REPUTASI?”

Seorang kawan baru, laki-laki dari Amerika, pernah bercerita jujur pada saya. Sebut saja namanya Billy*. Ngakunya, dulu dia ‘badung’ banget. (Ini kata dia lho, ya.) Suka clubbing, main perempuan, hingga membayar pekerja seks komersial. Alasannya super standar: masih muda, mau senang-senang (dan sekaligus mumpung masih punya uang dan perempuannya juga nggak keberatan – alias konsensual), serta…’namanya juga cowok’.

            Seperti biasa, seluruh dunia seakan memaklumi perilaku laki-laki ini. Bahkan sampai ada yang menganggapnya ‘jantan’ dan ‘jagoan’, entah dari mana.

“Terus?” tanya saya. “Sekarang gimana?”

“Sekarang aku anak baik-baik, dong,” jawabnya bangga. “Cuma, pacarku yang sekarang galak dan cemburuan. Dia gak suka aku ke tempat-tempat kayak gitu lagi, meski hanya ngebir. Dia juga selalu kesel kalo aku pergi ke suatu tempat tanpa ngabarin dia.”

“Oh.” Hmm, mungkin karena sang pacar sudah tahu ‘masa lalu’ kawan saya ini, dia jadi khawatir. Ya, takut kawan saya kembali ‘tergoda’ akan gairah lama kehidupan malam yang pernah dirasakannya. Nggak heran juga, sih. Sebagai sesama perempuan, saya mungkin akan begitu juga bila mengetahui sejarah seksual pasangan saya yang sekarang.

Dari cerita kawan, sepertinya sang pacar termasuk ‘perempuan baik-baik’ yang ideal versi masyarakat patriarki, terutama di Indonesia. Cantik, langsing, berkulit cerah, berambut hitam panjang (maaf, saya rada kepoin foto mereka berdua di media sosial), dan…anak rumahan. Nggak begitu suka keluar rumah, apalagi malam-malam. Jadi, nggak kayak laki-laki yang menjadi kawan baru saya ini yang ngakunya suka clubbing. Idaman sekali, bukan?

Singkat cerita, kawan saya mengaku sudah bosan main-main. Kali ini dia hanya ingin serius dengan satu perempuan saja (ya, si pacar itu). Kemudian saya langsung membayangkan rasanya jadi si pacar. (Bukan, bukan karena diam-diam naksir!) Meski ada sedikit keraguan sama dia, saya masih percaya bahwa dalam hal ini, setiap orang berhak mendapatkan ‘kesempatan kedua’. Semua orang lho, ya. Nggak hanya satu gender saja.

Saya yakin, pasti banyak yang ngomong begini sama pacar kawan saya:

“Ayolah, kasih Billy kesempatan. Dia sudah berubah, kok. Bukan kayak dulu lagi.”

Biasanya, perempuan akan luluh, apalagi dengan tambahan embel-embel: “Demi kamu.” Kedengarannya romantis sekali, bukan? (Padahal, ke depannya nanti, siapa tahu?) Ibarat kisah dongeng tenar “Si Cantik dan Si Buruk Rupa” (meski kawan saya sebenarnya ganteng, serius!), si perempuan menerima laki-laki dengan apa adanya.

Sekarang, coba situasinya dibalik. Kawan saya seorang perempuan yang berpacaran dengan laki-laki. (Anggap saja namanya jadi Bella*, biar saya nulisnya juga lebih gampang, hehe.) Reaksi sekitar bila mengetahui sejarah seksualitas Bella akan sama nggak, ya?

Sayangnya, masih enggak. Pasti bakalan banyak yang nyinyir, bahkan sesama perempuan sendiri. Pasti bakalan banyak yang ngomong begini ke pacarnya Bella:

“Ih, yakin mau ama dia? Udah ‘bekas’ gitu, pasti pernah ditidurin banyak cowok.”

“Pasti itu cewek murahan, deh. Gatelan. Yakin bisa setia ama elo?”

“Lu gak bisa dapet yang masih perawan aja? Payah lu!”

Saya tidak sedang menghakimi kawan saya karena masa lalunya. Apa pun pilihan seseorang terkait seksualitas mereka, baik laki-laki maupun perempuan, sama sekali bukan urusan saya. Itu hak, urusan, dan tanggung-jawab pribadi mereka, sama seperti keputusan saya dalam hal yang sama.

Yang bikin saya kesal? Lagi-lagi ketidakadilan ini. Kesannya hanya laki-laki yang boleh ‘bertobat’. (Kalau hal ini mau dikaitkan dengan moral dan ajaran agama, ya.) Lihat saja. Lebih banyak laki-laki yang masih bisa menikahi perawan (kalau selaput dara yang jadi ukuran, ya), meski sebenarnya mereka sendiri sudah tidak perjaka. Sialnya, persepsi gender masyarakat pun hingga kini masih saja sama:

“Wajarlah bila laki-laki begitu. Perempuan harus nrimo.

Glek.

            Sayangnya, saat perempuan yang jujur soal sejarah seksualitas mereka, yang ada malah ditinggal. Belum cukup, kadang si laki-laki sampai merasa harus cerita ke mana-mana, sehingga semakin sedikit laki-laki lain yang mau memberi kesempatan pada si perempuan. (Kata siapa hanya perempuan yang berpotensi jadi tukang gosip?) Nambah lagi deh, celaan dan hinaan yang diterima si perempuan. Syukur-syukur nggak bikin dia sampai down, trauma, lalu menyakiti diri atau bahkan bunuh diri.

Kalau pun ada laki-laki yang mendekati, biasanya mereka yang sudah tahu sejarah seksualitas si perempuan hanya mencari seks, karena otomatis menganggap si perempuan ‘gampangan’. Dalih mereka pasti begini: “Ah, udah ‘bekas’ ini. Pasti udah biasa dong, sama laki-laki?”

Kalau ada laki-laki yang beneran ingin serius dengan si perempuan tanpa peduli sama masa lalunya…wah, pastinya langka sekali. Menurut mereka, entah dia memang baik sekali atau bodoh setengah mati. Yang mem-bully pasti bakalan ngomong begini: “Inget, bro. Ibarat botol Aqua tapi segelnya udah lepas, bro.”

            Apa yang dapat kita pelajari dari dua contoh kasus di atas? Beda gender kok, bisa beda ‘reputasi’?

  1. Saya salut dengan pacar kawan saya dan perempuan lain yang mau menerima laki-laki apa adanya. Nggak ada yang salah dengan itu. Hebat malah.
  2. Meski kita semua ngakunya percaya bahwa semua orang berhak dapat kesempatan kedua, kenyataannya nggak demikian. Lebih banyak laki-laki yang mendapatkannya, sementara perempuan selalu diingatkan akan ‘kesalahan’ masa lalu mereka. (Ya, terlepas karena pernah diperkosa atau perkara konsensual – pokoknya main pukul rata aja.)
  3. Perempuan masih disamakan dengan barang atau objek. Permen yang harus dibungkus-lah, botol Aqua wajib segel-lah. Padahal, belum tentu laki-laki senang kalau disamakan dengan semut atau binatang kelaparan lainnya. Baru lihat daging secuil saja sudah beringas. Kalau pun ada, celakanya malah bangga dan pamer dengan cerita ke mana-mana. Wah, gawat!
  4. Masih banyak yang termakan mitos bahwa keperawanan seorang perempuan itu dilihat dari selaput dara. Padahal, ada yang tebal, tipis, atau malah nggak ada sama sekali. Baca jurnal medis dong, biar nggak salah kaprah tentang organ dan kesehatan reproduksi perempuan. Jangan mentok di viagra terus!
  5. Nggak salah kok, berpegang teguh pada moral dan agama. Ya, asal nggak yang palsu ya, alias hanya berlaku untuk ‘kalangan tertentu’. (Baca: laki-laki boleh ‘suka-suka’ atas nama ‘cari pengalaman’, sementara perempuan wajib perawan sebelum menikah.)
  6. Nggak gampang jujur sama pasangan soal sejarah seksualitas kita. Jangan sampai malah bikin dilema: jujur salah, nggak jujur terus ketahuan makin tambah salah. Sayang, masih belum banyak laki-laki yang cukup berbesar hati menerima kenyataan ini dari calon istri mereka. (Boleh protes kalau saya terbukti salah. Buktikan dong, jangan omong doang.)
  7. Ketika laki-laki sudah bosan ‘main-main’ dan ingin serius, maka ia bisa berubah/bertobat menjadi lebih baik. Sementara itu, perempuan harus sudah dari awal mempunyai reputasi ‘baik’. Dalam hal ini, entah mengapa laki-laki lebih layak dipercaya ketika ingin berubah, dibandingkan perempuan.

 

Padahal, seharusnya laki-laki (yang sudah tidak perjaka) lebih tahu diri dan berterima kasih pada perempuan yang masih mau menerima mereka apa adanya. Coba bayangin, apa jadinya kalau kami juga kekeuh mau memilih yang perjaka saja sebagai calon suami? Mungkin kalian tidak keberatan dan bisa bebas kembali ‘ke mana-mana’ dan ‘suka-suka’. Tapi, kalau memang sudah cinta, harusnya ini nggak jadi masalah, ‘kan? Kalau sampai masih juga iya, menurut saya sih, kalian tidak setulus itu dalam mencintai seorang perempuan. Sayangnya, kalian masih hobi sekali memakai standar ganda. Kamilah yang selalu diharapkan untuk menerima kalian apa adanya.

Andai saja, keperjakaan bisa dibuktikan secara ilmiah. Sayangnya enggak.

Kalau mau menggunakan perspektif agama, bukankah Tuhan Maha Pengampun? Kenapa dalam hal ini, perempuan terus yang lagi-lagi dihakimi?

Bagaimana dengan saya sendiri?

Jujur, kecemasan saya bukan pada soal perjaka atau tidaknya si laki-laki yang akan jadi calon suami, siapa pun dia nanti. Apakah dia masih akan memandang saya setara dengan berlian yang harus disimpan di dalam lemari besi setiap saat, permen yang harus dibungkus rapat, atau botol Aqua yang harus ada segelnya? Apakah dia tidak akan memandang saya sebagai manusia, sama sepertinya – bisa punya salah alias jauh dari sempurna?

Jika ingin membantah hasil pengamatan saya, tidak perlu membela diri dengan awal kalimat: “Tidak semua laki-laki…”. Cukup buktikan saja dengan tidak terlalu keras menghakimi perempuan yang sudah tidak perawan sebelum menikah, apa pun penyebabnya. Bukankah pasangan yang baik adalah pasangan yang berkepribadian baik, saling menyayangi dan menghormati? Bukankah hal-hal itu jauh lebih abadi daripada keperjakaan maupun keperawanan itu sendiri?

R.

(*Nama narasumber telah diubah)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *