“HANYA SEKALI…”

“HANYA SEKALI…”

Sejam berlalu. Raunganmu yang menyayat masih terdengar di balik pintu.

“Maafkan aku.” Begitu ulangmu. Sisanya lebih banyak berupa ratapan tidak jelas. Yang tidak biasa mendengar laki-laki dewasa bersikap seperti itu mungkin akan bergidik mendengarnya.

Namun, aku masih bergeming. Tak kupedulikan tatapan Mama yang matanya sudah merah dan berair.

“Maafkan suamimu, nak. Dia hanya khilaf. Lagipula, untung hanya sekali dan langsung ketahuan.”

Hanya sekali? Ingin aku tertawa. Alangkah naifnya Mama dan semua orang. Mungkin maksud mereka baru sekali ketahuan, meski mungkin perbuatannya sudah berkali-kali di belakangku. Siapa tahu, perempuan itu bukan satu-satunya.

“Laila, tolonglah,” pinta Mama lagi. “Maafkan Nino, sayang. Mama yakin kamu adalah istri yang baik.”

Ya, ya, ya. Aku selalu mendengarnya di mana-mana. Istri yang baik harus selalu memaafkan suami, sebrengsek dan sebejat apa pun kelakuan laki-laki itu.

Lalu, bagaimana dengan suami? Apa yang terjadi bila situasi terbalik, si istri yang selingkuh? Aku ingat May, temanku yang pernah khilaf sekali. Suaminya yang terlanjur jijik langsung menggugat cerai dan menyebutnya pelacur murahan. Bahkan, belum puas laki-laki itu membalas dendam, dengan teganya dia menyebar aib May ke mana-mana. Laman media sosial May sampai penuh dengan umpatan dari para netizen yang berperan sebagai bully, main hakim sendiri.

Mama juga langsung melarangku berteman dengan May.

“Perempuan baik-baik nggak pantes temenan ama perempuan macam itu.”

Astaga, Mama ngapain? Kulihat beliau memutar kunci pintu.

“Mama, jangan.” Terlambat. Kamu telah masuk dan kini berlutut di depanku, sambil menggenggam erat kedua tanganku. Masih menangis dan meraung-raung, bak adegan sinetron basi.

Kutahan rasa mual sebisaku, karena ingat tanganmu pernah menyentuh perempuan lain. Perempuan itu, yang telanjang di balik selimut bersamamu di kamar hotel itu. Mimpi terburukku saat memergokimu.

“Laila, maafkan aku.” Kembali mataku dan mata Mama bertemu. Ah, sial. Sorot mata beliau yang basah masih sama. Apa iya aku mau jadi anak durhaka karena enggan menurutinya?

Nino, kamu beruntung karena kamu laki-laki. Mereka akan selalu memintaku memaafkanmu dan menerimamu kembali…

—//—

Kalau semua mengira aku bidadari sempurna yang langsung memaafkanmu begitu saja, salah besar. Aku memang perempuan, tapi aku juga masih manusia biasa. Aku berhak marah dan merasa sakit hati sebagai seorang istri. Butuh waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan rasa percayaku lagi.

Aku melakukan ini demi Mama, yang entah kenapa lebih malu bila kita sampai bercerai. Padahal, akulah anaknya yang disakiti.

Setidaknya, kamu sekarang lebih sadar dan tahu diri. Kamu berusaha keras sekali untuk mendapatkan kepercayaanku lagi. Mulai jarang hangout dengan teman-temanmu. Habis kerja langsung pulang ke rumah. Berusaha lebih memanjakanku kali ini.

Awalnya, aku masih bersikap dingin. Namun, kamu juga tidak menyerah. Hmm, mungkin Mama memang benar. Barangkali kamu memang tulus ingin berubah.

Akhirnya, malam itu kita kembali seperti dulu. Bercinta di atas ranjang itu, sebagai suami dan istri yang kembali bersatu. Ada lega di wajahmu.

“Laila, aku mencintaimu…”

—//—

Kita kembali berbahagia, namun kenapa akhir-akhir ini sama-sama mudah lelah? Jatuh sakit dan sembuhnya suka lama. Ringkih, padahal belum juga terlalu tua. Kita sama-sama masih suka olahraga dan menjaga pola makan.

Beberapa kali, aku mengajakmu ke dokter. Kamu menolak dengan alasan sibuk, meski kutahu sebenarnya kamu gengsi. Jadi aku selalu pergi sendiri.

Sampai akhirnya dokter menyarankanku untuk melakukan tes yang tidak pernah terpikirkan olehku. Tiga huruf singkatan virus yang menjadi nama tes itu membuatku ngeri…

—//—

“Nino, kita harus bicara.”

Wajahmu memucat, disertai tanda-tanda ekspresi defensif.

“Laila, aku udah gak selingkuh lagi. Sumpah.”

“Aku percaya.” Senyumku tipis saat kuserahkan amplop putih itu padamu. Untuk menjawab sorot tanya pada matamu, kujelaskan, “Aku baru tes dari klinik.”

“Oh.” Ada harap pada wajahmu saat membuka amplop itu. Kamu bahkan hampir tersenyum. “Apa kamu-“

“Sayangnya bukan.” Kutunggu reaksimu dengan jantung berdebar-debar.

Benar saja, wajahmu memucat. Matamu berkaca-kaca saat kembali menatapku. Yang kamu tidak tahu, beberapa jam sebelumnya aku sudah menangis sendirian, sambil menunggumu pulang kantor.

Kamu tahu aku tidak pernah selingkuh. Hanya butuh tiga huruf itu untuk membuatku diam membisu, sementara kamu kembali tampak merasa bersalah seperti dulu.

Aku sudah tidak mendengar ucapanmu lagi. Yang kuingat malah dua kata yang mereka semua ucapkan padaku dulu, saat kau terpergok selingkuh dan aku diminta untuk memaafkanmu:

“Hanya sekali…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *