“EFEK PARAH ‘BODY-SHAMING’ “

“EFEK PARAH ‘BODY-SHAMING’ 

“Kamu kok gendutan, sih?”

“Elo terlalu kurus, deh.”

“Suka sama dia? Item gitu??”

“Dia ‘kan ganteng gitu. Emang mau sama elo yang kucel dan nggak dandan?”

Sering banget denger yang kayak begini, baik dari orang dikenal hingga yang enggak sama sekali, namun sotoy-nya tingkat dewa?

Jangan-jangan, malah Anda yang hobi ngoceh begini. Bisa ke anggota keluarga sendiri (mungkin yang termuda, seperti: adik, anak, ponakan, atau…hmm, cucu mungkin?), teman, hingga orang yang Anda nggak kenal. Pokoknya, asal ceplos saja dengan enaknya. Apalagi bila Anda pegang ‘kartu umur’ yang lebih tua. Entah kenapa, lingkungan sepertinya juga memberikan Anda priviledge ekstra untuk ngomong sesukanya, tanpa peduli mereka yang pasti bakalan terluka.

Gimana kalo mereka sakit hati? Gampang aja. Anda cukup andalkan beberapa contoh dialog di bawah ini sebagai strategi ‘pembungkaman’ (gaslighting) paling ‘manis’ (huek!)

“Gitu aja marah. Cuma bercanda kali.”

“Orang kalo ngomong kayak gini tuh, tandanya perhatian.” (Hmm, kayaknya yang ngomong gini suka nggak sadar deh, kalau perhatian ‘bablas’ itu 11-12 sama usil/kepo akut. Apalagi kalau sudah sampai tahap menghakimi dan ngebawelin tiap hari. Minta ditimpuk banget nggak, sih?)

“Lha, emang kenyataan, ‘kan?”

Iya, kenyataan. Percaya deh, target Anda itu nggak buta dan nggak bego. Kenapa? Karena bukan Anda satu-satunya yang ‘rajin ngingetin’ mereka tiap kali ketemu, kayak mereka belum pernah kenal cermin aja. Banyak yang kelakuannya kayak Anda dan sayangnya dianggap normal pula.

Sebenarnya, kata ‘gemuk’ itu hanya kata sifat biasa, deskripsi seseorang seperti ‘tinggi’, ‘pendek’, ‘kurus’, hingga ‘berotot’. Kenapa jadi terdengar jelek dan negatif? Ya, lagi-lagi gara-gara standar kecantikan/ketampanan yang menurut saya ‘sialan’ banget. (Ya, saya semuak ini.)

Mungkin saya termasuk salah satu yang (akhirnya) cukup beruntung di sini. Saya punya orang-orang terdekat yang menerima saya apa adanya. Saya juga harus menerima kenyataan bahwa…yah, akan selalu ada mulut brengsek yang hobi menilai orang dari penampilan luar saja.

Namun, tidak semua orang seberuntung saya. Ada yang terus-menerus dirisak/dirundung, baik oleh keluarga sendiri, orang-orang yang mengaku teman, hingga mereka yang sebenarnya sama sekali nggak kenal, namun sayangnya hobi sekali ikut campur.

Sebenarnya ada banyak, namun biar nggak pada eneg, saya kasih sepuluh aja efek parah ‘body-shaming’. Sisanya boleh cari sendiri. Gampang banget, kok. Banyak lagi.

  1. Sebagai anak dan remaja jadi malas keluar rumah. Ngapain? Mending di kamar, dengerin musik sambil baca buku dan nulis. Seenggaknya, semua itu nggak bakalan bikin Anda kecewa dan sakit hati kayak kalau berurusan dengan sesama manusia. Tidak peduli ayah Anda sering menegur begini, “Keluarlah. Dunia luar itu menarik, lho.”
  2. Sulit berteman. Sekalinya punya teman, jatuhnya bisa canggung, sulit terbuka, sok cuek padahal sebenarnya sayang banget, hingga…posesif.
  3. Ada teman yang selalu bercanda soal betapa gendutnya Anda. Sekali dan dua kali masih okelah. Tiap kali ketemu? Tendang aja dari daftar VIP Anda. Apalagi kalau udah rajin banget mempermalukan Anda di depan umum, seperti mengomentari cara makan Anda saat di resto. Ngajak berantem banget, ‘kan?
  4. Punya kebencian (kadang sampai ekstrim) pada mereka yang (dianggap) lebih cantik / tampan di mata masyarakat. Padahal, belum tentu itu salah mereka.
  5. Teman-teman lelah mendengar keluhan Anda seputar berat badan/warna kulit/dan lain-lain.
  6. Sulit percaya sama pernyataan cinta atau sayang dari orang lain. Bahkan, ada yang sampai butuh second opinion segala, baik dari keluarga maupun teman yang dipercaya.
  7. Mudah tersulut amarah dan benci sama orang-orang yang bilang Anda baru bisa dapat pacar dengan mudah kalau sudah lebih kurus atau putih. Nggak peduli kalau ucapan sadis itu datang dari keluarga sendiri. Keluarga apa keluarga, sih?
  8. Ingin tahu rasanya menyakiti orang lain seperti Anda disakiti. Cuma begitu mencoba sendiri, rasanya ternyata nggak enak. Seenggaknya, Anda bisa tahu kalau pelaku ‘body-shaming’ sesungguhnya orang-orang yang minderan sama diri sendiri, namun terlalu pengecut untuk mengakui. Jadinya melampiaskan rasa frustrasi mereka ke orang lain terus, apalagi yang nggak pernah usil sama urusan pribadi mereka.
  9. Udah males banget berbagi cerita sama orang-orang tertentu. Misalnya: mau menunjukkan rekaman video Anda lagi manggung – entah membaca puisi atau menyanyi, komentar mereka malah: “Kamu kok gendutan di sini?” Yuk, mari.
  10. Banyak istri bersedih karena ibu mertua. Mengapa? Bukannya nggak mau mencoba akur dan respek, ya. Gimana nggak eneg kalo setiap usaha untuk menyenangkan suami dan mertua seakan dianggap nggak pernah cukup, karena lagi-lagi komentar nyinyir mertua hanya seputar berat badan dan penampilan? Bukankah sesama perempuan harusnya saling support?

Masih banyak contoh lain. Boleh saja menganggap saya terlalu sensi dan baperan, tapi coba mikir lagi, deh. Kenapa hanya korban ‘body-shaming’ yang disuruh ‘SABAR’ atau “memperbaiki diri” (minimal biar nggak dikatain lagi), sementara yang kelihatan adalah pelakunya nggak pernah ada yang ditegur buat jaga mulut?

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *