“EGOSENTRIS PENCINTA PEDAS”

“EGOSENTRIS PENCINTA PEDAS”

Oke, mungkin harusnya saya nulis ini pas semua orang lagi pada ngeributin harga cabe. Tapi harap maklum, orang sibuk kadang baru keingetnya sekarang-sekarang.

Banyak yang berasumsi semua orang Indonesia pasti doyan pedas. Mungkin gara-gara rendang dari Padang udah kepalang ngetop secara global. Mungkin karena emang banyak menu Nusantara yang pakai sambal.

Sebenarnya, saya juga ogah memamerkan fakta bahwa sebagai orang Indonesia, saya malah nggak suka pedas. Habis, perlakuan yang didapat justru malah bikin tambah ‘panas’.

“Kok nggak suka sambal? Aneh, deh.”

“Mana enak makan gitu doang? Makan paling nikmat itu pake sambel kali.”

“Cobain dikit aja, deh. Nggak se-lebay itu kok, pedesnya.”

Halah, maksain selera banget! Padahal, lidah dan selera tiap orang ‘kan beda-beda.

Giliran saya maksain makan yang pedas-pedas, hasilnya ya gini:

  1. Harus nenggak barang tiga – lima gelas minuman dingin, berhubung lidah kayak kebakar. Lebay?
  2. Sakit perut nggak kira-kira. Rekor paling jempolan adalah saat kari India sukses bikin isi perut masih panas selama tiga hari berturut-turut!
  3. Mulas dan muntah-muntah.

Jangan harap simpati dari pencinta sambal yang suka nggak sadar kalau mereka itu egosentris. Nggak semua sih, tapi ada. Komen favorit mereka kayak gini:

“Halah, lebay. Baru gitu doang udah kepedesan.”

Ngeselin banget, ‘kan? Entah karena lidah mereka udah lama ikutan ‘pedas’ atau kelewat bangga karena merasa kuat menerima ‘pedas’ – nya masakan maupun komentar dari mahluk lain.

Hmm, apa jangan-jangan saya aja yang suka sama sesuatu yang serba pahit, seperti halnya kehidupan? Nggak nyambung, memang. Bodo amat.

R.

 

2 Replies to ““EGOSENTRIS PENCINTA PEDAS””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *