“RAGAM MAKNA DIAM”

“RAGAM MAKNA DIAM”

Sudah lama saya tidak menulis di sini. Jujur, saya kangen. Kesibukan baru saya akhir-akhir ini memang membuat blog ini lama terbengkalai.

Jadi, mengapa tahu-tahu judulnya “Ragam Makna Diam”, seperti yang saya tulis di atas? Apakah saya sedang ingin ngambek dengan seseorang?

Haha, tebakan standar, bukan? Diam pasti memendam dendam…atau minimal ngambekan. Mungkin saya sudah pernah menulis hal ini.

Banyak yang mengartikan diam sebagai ngambek atau marah. Lagi musuhan? Daripada segera menyelesaikan masalah, mending diam-diaman saja. Antara malas ribut, gengsi, atau memang ingin menyingkirkan mereka dari hidup Anda dengan segera. Pokoknya, tunggu mereka yang harus ngomong duluan. Jangan sampai kalah.

Padahal, bisa saja sebenarnya Anda yang salah. Buat yang nggak mengagungkan gengsi dan harga diri – serta masih menganggap pihak lain berharga, mereka akan menganggap diam-diaman begini sebagai sifat kekanak-kanakan.

Ada yang memilih diam dengan alasan lebih bijak. Bisa saja, mereka selalu mendebat yang sama dan pakai ngotot pula. Intinya, Anda harus mengakui mereka benar dan Anda (serta orang lain) selalu salah, barulah mereka berhenti merongrong seperti anak kecil yang tengah merajuk. Bikin malas, ‘kan? Daripada buang-buang tenaga, mending diam. Toh, masih banyak pekerjaan lain yang lebih penting.

Ada yang diam karena sedang lelah, sakit, atau mungkin juga muak. Ada juga yang tidak perlu alasan. Kalau memang lagi ingin diam, terus kenapa? Banyak yang lupa bahwa kadang diam itu masih jauh lebih baik daripada banyak bicara, namun ucapannya sama sekali nggak berguna. Bikin sakit hati atau sumber berisik saja.

Lagipula, diam pun seharusnya juga bisa dinikmati. Dua orang yang sudah sangat dekat biasanya sudah tidak perlu (terlalu) banyak bicara lagi.

Bagaimana dengan saya? Buat saya, diamnya seseorang kadang mempunyai keuntungan tersendiri, seperti:

  1. Nggak perlu dicerewetin orang lain terus (apalagi untuk masalah yang itu-itu lagi), jadi saya bisa konsen ke hal lain yang lebih penting. (Percayalah, menulis pun butuh ketenangan.)
  2. Saya bisa memperhatikan “hal-hal yang tidak mereka katakan”, padahal sebenarnya sangat ingin mereka ungkapkan. Kadang mata, ekspresi wajah, sama gerak tubuh suka nggak sinkron dengan ucapan mereka.

Bagaimana dengan Anda? Yang mana arti diam Anda?

Semoga di tahun 2018 nanti, kita semakin bijak dalam berucap – dan tidak selalu menghindari masalah dengan bungkam seribu bahasa…

R.

 

“GADIS YANG INGIN MENJADI MANUSIA SUPER”

“GADIS YANG INGIN MENJADI MANUSIA SUPER”

Cita-citanya masih sama

agar dia selalu kuat

tidak mudah terluka

terutama oleh para bangsat

 

Cita-citanya masih sama

namun usia sudah bicara

membuatnya kecewa

dan lagi-lagi terluka

 

Andai dunia selalu aman

mungkin dia akan punya

cita-cita yang sama sekali berbeda

bukan kemustahilan…

 

R.

(Jakarta, 8/9/2017 – 3:40 pm)