[BLOG COMPETITION]: “ASUS AMD – Laptop for Everyone”

[BLOG COMPETITION]: “ASUS AMD – Laptop for Everyone”

Meskipun masih berfungsi, akhir-akhir ini saya lagi khawatir banget sama laptop lama saya. Kenapa? Kadang terlalu lama menggunakannya, laptop lama-lama suka panas. Nggak hanya itu, kadang suka keluar bunyi aneh dari perangkat keras (hard drive) –nya.

Oh, ya. Sebelumnya kenalkan dulu. Nama saya Ruby dan bekerja sebagai pengajar Bahasa Inggris untuk kelas online, penulis konten lepas, dan penerjemah lepas. Ada kalanya saya juga nyambi jadi seorang copywriter. Mencari inspirasi di medsos sudah jadi kerjaan sehari-hari.

Nah, bisa dibayangin deh, seberapa sering saya harus pakai laptop. Belum lagi pas ngobrol-ngobrol di chatroom, entah pake voice chat atau video chat. Pastinya butuh waktu yang nggak sebentar, apalagi kalo sama klien. Hehe. Saya juga suka nulis blog (makanya ini blog saya).

Nah, berhubung ada kekhawatiran laptop ini ‘kecapekan’ lagi (sampai sempat harus direparasi dua kali), saya mutusin buat berburu laptop baru lagi. Namun, apa daya, budget belum tersedia. Jadilah saya mencoba peruntungan saya dengan lomba menulis blog untuk ASUS AMD – Laptop for Everyone.

Karena pekerjaan saya lebih banyak melibatkan tulis-menulis dan berinteraksi lewat chat platform, pilihan saya jatuh pada ASUS X555QA. Laptop seri ASUS X yang baru rilis tanggal 16 Desember 2017 kemarin ini nggak cuma terjangkau, namun performanya oke banget dan sesuai kebutuhan.

Desain ASUS X555QA

Dari segi desain, ASUS X555QA sih nggak terlalu aneh-aneh. Biasa aja. Karena lebih peduli fungsi, saya nggak masalah. Laptop ini kelihatan kokoh (meski jika mendapatkannya, saya nggak akan membantingnya untuk ngetes. Hahaha, gila apa?)

Meskipun kelihatannya gede dan cukup padat, ternyata ASUS X555QA nggak seberat tampak luarnya. Layarnya sih, 15.6 inci. Dimensinya 328 x 256 x 25.8 mm, tapi beratnya cuma…2,3 kg. Serius. Terus, papan ketiknya (keyboard) juga ada numpad di bagian kanan.

Fitur ASUS X555QA

Jujur, ada kalanya saat lagi kerja, kebosanan melanda. Jadinya, kadang saya nulis sambil dengerin musik, entah lewat playlist di laptop (yang isinya nggak seberapa), YouTube, SoundCloud, hingga baru-baru ini Spotify. Kalo acara TV lagi nggak asyik, saya lebih milih nonton film-film pendek di YouTube.

Makanya, resolusi layar 1366 x 768 pas banget buat kebutuhan saya. Warna-warna gambar yang dihasilkan cerah, tapi tanpa harus menyakitkan mata. Pokoknya nggak kelewat gelap maupun bikin silau. Terus, masih ada 1 port USB 2.0, satu lagi yang 3.0, hingga optical disk drive untuk super multi DVD.

Apa sih, ribetnya kalo punya lebih dari satu pekerjaan? Yap, file yang menggunung dan kadang suka bikin laptop crash. Udah dua kali hal ini terjadi sama laptop saya, makanya saya usaha mendapatkan laptop baru. Bisa nangis nanti kalo file kerjaan penting pada hilang semua.

Nah, laptop ASUS X555QA ini punya kapasitas RAM sebesar 4 GB dan 8 GB. Penyimpanannya sendiri berkapasitas 1 TB dengan perangkat HDD. Jadi, saya bisa simpan semua lesson plan, draf tulisan, hingga urusan terjemahan di dalam laptop sekaligus. Oh, ya. Sama playlist lagu-lagu favorit saya juga ada.

Kebetulan, saya bukan seorang online gamer. Memang kadang sesekali saya suka main online game, terutama untuk mengusir jenuh sejenak selama jam kerja. Namun, saya nggak akan lantas bela-belain save semua online game yang saya suka di laptop saya. Bisa nggak kuat dan crash lagi nanti.

Hmm, berhubung saya lebih sering menggunakan laptop di kamar kos, kantor, dan kadang-kadang kafe, daya tahan baterai yang kurang bagus mungkin masih bisa diakali. Yang penting sih, laptop ASUS X555QA bisa memenuhi kebutuhan saya sebagai pekerja fulltime sekaligus penulis dan penerjemah lepas.

Tentu saja, di luar semua pekerjaan saya yang bisa dibilang sudah banyak (sampai-sampai banyak teman yang bilang: “Elu gak ada capek-capeknya, apa?”), saya juga masih meluangkan waktu untuk menulis. Ya, entah itu puisi, fiksimini, cerpen, hingga artikel pendek.

Banyak keluarga, teman, dan kenalan lain yang juga tahu saya pernah menulis satu novel. Hmm, semoga dengan adanya ASUS X555QA, saya akan semakin semangat menciptakan karya-karya tulis berikutnya.

Artikel ini diikutsertakan pada Blog Competition ASUS AMD – Laptop For Everyone yang diselenggarakan oleh bocahrenyah.com

“INIKAH TAHUN YANG TEPAT UNTUK CINTA?”

“INIKAH TAHUN YANG TEPAT UNTUK CINTA?”

Inikah tahun yang tepat untuk cinta?

Wajar aku bertanya

setelah menyimpan banyak cerita

yang lama dan penuh luka

 

Katanya: “Cobalah.”

Di sana dia menanti

terbukanya pintu ini

agar dia yakin menghampiri

 

Inikah tahun yang tepat untuk jatuh cinta?

Aku masih takut hati ini kembali patah

Jiwa ini kembali terkapar kalah

Sumpah, aku muak dan lelah

dengan hasil serupa – atau malah lebih parah

 

Kata mereka,

kali ini aku harus kembali percaya

Mungkin dia orangnya

Kata mereka,

aku pun berhak bahagia

 

Inikah tahun yang tepat untuk cinta?

Bila ya, bolehkah aku meminta?

Semoga kali ini aku cukup berani

membuka pintu ini

apa pun hasilnya nanti…

 

R.

(Jakarta, 1/1/2018 – 7:00 pm)

 

 

“7 CARA MEMASTIKAN TEMAN ONLINE BUKAN SCAMMER”

“7 CARA MEMASTIKAN TEMAN ONLINE BUKAN SCAMMER

“Hati-hati. Jangan-jangan dia scammer.”

“Halah, baru dirayu gitu aja udah klepek-klepek. Gimana ntar pas ketemu? Alamat elo gampang ditipu.”

“Orang mah, bisa ngomong apa aja di internet kalo mau. Elo harus bisa milah-milah kalo gak mau jadi korban juga.”

Sering banget dengar ucapan-ucapan skeptis di atas, saat tahu Anda punya teman online yang belum pernah Anda temui? Mungkin rasanya agak kesal, ya. Selain seperti berusaha merusak kebahagiaan pribadi, sekilas ada perasaan tertohok karena seperti dianggap…bodoh.

Meskipun cara mereka agak ketus, sebenarnya mereka peduli. Nggak apa-apa, sih. Apalagi, kasus penipuan lewat internet bukan berita baru lagi. Mulai dari permintaan titip barang dengan sejumlah uang transferan hingga…perdagangan gelap manusia. Hiiih!

Tapi, apa iya semuanya harus berakhir setragis itu? Ada juga kok, yang ketemu sahabat baik dan jodoh lewat internet. Banyak lagi. Biar nggak keburu parno dan langsung antipati, ada tujuh (7) cara untuk memastikan teman online Anda bukan seorang scammer:

  1. Biasanya, lebih aman kenalan di grup online komunitas tertentu daripada sekadar random chat.

Bukan berarti semua yang di random chat punya niat nggak bagus, ya. Kalau masih khawatir, mendingan lewat grup online komunitas tertentu saja. Contoh: klub penulis atau blogger. Biasanya sih, mereka menggunakan nama asli dan lebih jujur.

2. Mulai dari diri sendiri: jangan baperan alias terlalu berharap.

Ingat, dunia nyata beda sama film roman favoritmu. Jangan gampang percaya sama konsep basi bernama “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Semua perlu proses, bahkan termasuk cara bikin mie instan sendiri. Jalani saja dulu. Apa pun hasilnya nanti, kamu harus berani memutuskan: mau lanjut apa udahan?

3. Pakai nama asli dan nggak ‘sok misterius’.

Dari mana bisa tahu nama mereka asli? Nah, ini cukup tricky. Yang pasti, kalau mereka pakai nama alias – bahkan yang alay – siap-siap hengkang aja. (Lagian kok seleranya gitu?) Apalagi kalau mereka ogah kasih nama asli, tapi menuntut Anda yang harus jujur sama mereka.

Silakan memanfaatkan mesin pencari Google dan sejenisnya, termasuk media sosial. Kalau nama mereka ‘pasaran’, cocokkan dengan cerita mereka untuk mendapatkan info tambahan.

4. Perhatikan tata bahasa mereka saat

Yang amatiran pasti bohongnya parah dan cepat ketahuan (terutama bila Anda sangat teliti.) Contoh: ngaku lulusan S2 dan dari luar negeri pula, tapi tata bahasanya berantakan saat chatting. Ngaku pernah lama di satu negara, tapi bahasa negara tersebut saja tidak tahu.

5. Berani video chat dan cukup sering.

Sekarang teknologi sudah lebih enak. Kalau dulu masih bisa pakai ID dan foto profil palsu. Sekarang sudah susah mengelak kalau dimintai video chat. Saat berinteraksi lewat media ini, Anda bisa menilai sendiri: mereka beneran mau jadi teman (atau pacar, misalnya) atau iseng doang?

6. Nggak pernah minta full ID atau menitipkan kiriman nggak jelas.

Nah, kalau ini modus khas andalan scammer. Minta data lengkap Anda, tapi nggak jelas buat apa. Mendadak mau menitipkan kiriman dari luar negeri, tapi entah kenapa bisa tertahan di bea cukai Malaysia. Anehnya, paket tersebut baru bisa disebut bila Anda mau mentransfer-

Ah, sudah pada tahu, ‘kan? Anggap saja tulisan remeh ini sebagai pengingat.

7. Minta tolong teman-teman yang berbakat ‘intel’ untuk diam-diam menyelidiki si teman online ini.

Masih takut juga? Saatnya mengambil langkah ini, apalagi bila si teman online sudah fixed mau mengunjungi Anda. (Lengkap dengan screenshot bukti tiket penerbangan, jadwal kunjungan, dan lain sebagainya.) Misalnya: teman yang berprofesi sebagai jurnalis, jagoan IT, hingga yang kebetulan tinggal di tempat yang sama dengan si teman online. (Siapa tahu juga ternyata mereka saling kenal.)

Sisanya? Tinggal berdoa dan berharap yang terbaik. Kalau mau ada yang menambahkan, boleh sekali.

Waspada dan hati-hati wajib. Sampai parno dan mencurigai semua orang yang mengajak kenalan lewat online sebagai scammer, kayaknya jangan sampai segitunya, deh. Kita nggak pernah tahu apakah mereka suatu saat akan membawa manfaat bagi kita.

Bahkan, kalau masih mau pakai mindset begitu, sebenarnya Anda sendiri juga bisa kok, berpotensi sebagai scammer. Cuma, apa untungnya, sih?

R.

“KUBURAN TUAMU DI ALAM MIMPIKU”

“KUBURAN TUAMU DI ALAM MIMPIKU”

Ada mimpi aneh tentangmu

Kita di lahan terbuka

saat kau berkata:

“Di sinilah kukubur

sisa-sisa diriku yang dulu.”

 

Maka menggalilah kau

dengan separuh tenaga

dengan potongan kisah

yang tumpah-ruah

dari mulutmu yang terengah

sementara sisanya tersimpan

terpendam dalam-dalam

di bawah tanah.

 

Hampir selesai,

perlahan kau berhenti

Kupinta kau campakkan sekop itu,

saat kulihat gemetar lengan kekarmu.

 

“Tidak usah,”

kuyakinkan kamu

yang kini berekspresi beku.

“Aku tidak perlu melihatnya hari ini.

Toh, aku masih di sini.”

 

Ingin kuraih tanganmu,

namun aku kembali terbangun di kamar tidurku…

 

R.

(Jakarta, 3/1/2017 – 14:38)