“7 CARA MEMASTIKAN TEMAN ONLINE BUKAN SCAMMER”

“7 CARA MEMASTIKAN TEMAN ONLINE BUKAN SCAMMER

“Hati-hati. Jangan-jangan dia scammer.”

“Halah, baru dirayu gitu aja udah klepek-klepek. Gimana ntar pas ketemu? Alamat elo gampang ditipu.”

“Orang mah, bisa ngomong apa aja di internet kalo mau. Elo harus bisa milah-milah kalo gak mau jadi korban juga.”

Sering banget dengar ucapan-ucapan skeptis di atas, saat tahu Anda punya teman online yang belum pernah Anda temui? Mungkin rasanya agak kesal, ya. Selain seperti berusaha merusak kebahagiaan pribadi, sekilas ada perasaan tertohok karena seperti dianggap…bodoh.

Meskipun cara mereka agak ketus, sebenarnya mereka peduli. Nggak apa-apa, sih. Apalagi, kasus penipuan lewat internet bukan berita baru lagi. Mulai dari permintaan titip barang dengan sejumlah uang transferan hingga…perdagangan gelap manusia. Hiiih!

Tapi, apa iya semuanya harus berakhir setragis itu? Ada juga kok, yang ketemu sahabat baik dan jodoh lewat internet. Banyak lagi. Biar nggak keburu parno dan langsung antipati, ada tujuh (7) cara untuk memastikan teman online Anda bukan seorang scammer:

  1. Biasanya, lebih aman kenalan di grup online komunitas tertentu daripada sekadar random chat.

Bukan berarti semua yang di random chat punya niat nggak bagus, ya. Kalau masih khawatir, mendingan lewat grup online komunitas tertentu saja. Contoh: klub penulis atau blogger. Biasanya sih, mereka menggunakan nama asli dan lebih jujur.

2. Mulai dari diri sendiri: jangan baperan alias terlalu berharap.

Ingat, dunia nyata beda sama film roman favoritmu. Jangan gampang percaya sama konsep basi bernama “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Semua perlu proses, bahkan termasuk cara bikin mie instan sendiri. Jalani saja dulu. Apa pun hasilnya nanti, kamu harus berani memutuskan: mau lanjut apa udahan?

3. Pakai nama asli dan nggak ‘sok misterius’.

Dari mana bisa tahu nama mereka asli? Nah, ini cukup tricky. Yang pasti, kalau mereka pakai nama alias – bahkan yang alay – siap-siap hengkang aja. (Lagian kok seleranya gitu?) Apalagi kalau mereka ogah kasih nama asli, tapi menuntut Anda yang harus jujur sama mereka.

Silakan memanfaatkan mesin pencari Google dan sejenisnya, termasuk media sosial. Kalau nama mereka ‘pasaran’, cocokkan dengan cerita mereka untuk mendapatkan info tambahan.

4. Perhatikan tata bahasa mereka saat

Yang amatiran pasti bohongnya parah dan cepat ketahuan (terutama bila Anda sangat teliti.) Contoh: ngaku lulusan S2 dan dari luar negeri pula, tapi tata bahasanya berantakan saat chatting. Ngaku pernah lama di satu negara, tapi bahasa negara tersebut saja tidak tahu.

5. Berani video chat dan cukup sering.

Sekarang teknologi sudah lebih enak. Kalau dulu masih bisa pakai ID dan foto profil palsu. Sekarang sudah susah mengelak kalau dimintai video chat. Saat berinteraksi lewat media ini, Anda bisa menilai sendiri: mereka beneran mau jadi teman (atau pacar, misalnya) atau iseng doang?

6. Nggak pernah minta full ID atau menitipkan kiriman nggak jelas.

Nah, kalau ini modus khas andalan scammer. Minta data lengkap Anda, tapi nggak jelas buat apa. Mendadak mau menitipkan kiriman dari luar negeri, tapi entah kenapa bisa tertahan di bea cukai Malaysia. Anehnya, paket tersebut baru bisa disebut bila Anda mau mentransfer-

Ah, sudah pada tahu, ‘kan? Anggap saja tulisan remeh ini sebagai pengingat.

7. Minta tolong teman-teman yang berbakat ‘intel’ untuk diam-diam menyelidiki si teman online ini.

Masih takut juga? Saatnya mengambil langkah ini, apalagi bila si teman online sudah fixed mau mengunjungi Anda. (Lengkap dengan screenshot bukti tiket penerbangan, jadwal kunjungan, dan lain sebagainya.) Misalnya: teman yang berprofesi sebagai jurnalis, jagoan IT, hingga yang kebetulan tinggal di tempat yang sama dengan si teman online. (Siapa tahu juga ternyata mereka saling kenal.)

Sisanya? Tinggal berdoa dan berharap yang terbaik. Kalau mau ada yang menambahkan, boleh sekali.

Waspada dan hati-hati wajib. Sampai parno dan mencurigai semua orang yang mengajak kenalan lewat online sebagai scammer, kayaknya jangan sampai segitunya, deh. Kita nggak pernah tahu apakah mereka suatu saat akan membawa manfaat bagi kita.

Bahkan, kalau masih mau pakai mindset begitu, sebenarnya Anda sendiri juga bisa kok, berpotensi sebagai scammer. Cuma, apa untungnya, sih?

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *