“BEDA KRITIK SAMA HINAAN”

“BEDA KRITIK SAMA HINAAN”

“Baru dikritik doang udah baperan. Ngambekan amat sih, jadi orang?”

“Boleh aja elo gak suka ama cara gue. Tapi gak usah hina-hina gue segala!”

Kenapa ada orang yang begitu mudahnya tersinggung dengan kritikan, sehingga langsung menyamakannya dengan serangan untuk merendahkan atau hinaan? Kenapa ada orang yang merasa hanya mengkritik, padahal jelas-jelas ucapannya dibarengi dengan makian dan sumpah serapah?

Susah, memang. Sekarang sudah makin banyak yang pandai beralasan. Usia tua bukan jaminan tambah bijak, sabar, dan dewasa. Yang ada makin jumawa dan yang waras disuruh mengalah.

Mau mengalah sampai kapan? Sampai jumlah orang brengsek di dunia bertambah dan keluhan saja nggak lagi berguna? Mau sampai ikutan gila karena kalah suara?

Saya akui, saya sendiri termasuk pribadi sensitif. Menurut saya, ini sama sekali bukan hal buruk atau pun hina. Nggak harus juga selalu dikaitkan dengan gender saya, karena laki-laki ada juga yang perasa. (Kalo enggak, ngapain mereka sampai bikin rusuh di stadion hanya gara-gara tim sepak bola andalan mereka kalah?)

Namun, apakah lantas saya jadi gagal paham, sulit bedain antara kritik dengan hinaan? Apakah semuanya mau saya pukul rata demi ego saya? Apakah lantas saya akan menyerang semua orang, hanya gara-gara mereka nggak suka dengan cara saya bekerja?

Saya kasih contoh, ya. Sebagai sosok chubby di Indonesia, bodi saya nggak pernah jauh-jauh dari bahan ledekan, bahkan sama mereka yang nggak kenal tapi merasa sok lebih dekat sama saya. Entah kenapa, ada aja mulut usil yang gatal rajin ‘ngingetin’ betapa gendutnya saya dan bila kurus, mungkin bakal lebih banyak cowok yang mau sama saya.

Padahal, saya nggak pernah merasa menyewa mereka semua sebagai AP (Asisten Pribadi), ahli nutrisi, maupun personal trainer saya. (Kemungkinan besar, saya juga belum tentu mau meski sanggup membayar mereka semua. *sombong*) Saya juga tahu cara pakai cermin, yang berarti nggak sebego itu sampai harus terus diingetin. Lucu, ya?

Maunya sih, nyebut itu sebagai #basabasibusukbedebah , tapi nanti saya dituduh menghina. Padahal yang mulai duluan juga siapa? Hahaha.

Mereka bikin saya kesal, itu pasti. Yang punya badan siapa, kok yang ribut mereka? Tapi, apakah lantas saya akan balas menyakiti mereka semua, biar puas ego saya? Rasanya konyol sekali, seolah-olah komentar mereka semua penting harga mati. Toh, mau saya segede truk atau seramping manekin toko (iya kalo bisa!), itu urusan saya.

Oke, sekarang saya kasih satu contoh lagi, ya. Gimana kalo kerjaan saya yang dikritik? Ya, seperti lazimnya semua orang (yang harusnya bijak dan benar-benar dewasa), ada dua (2) pilihan, sih:

  1. Anggap aja kritikan itu teguran agar kerja kita lebih baik berikutnya.
  2. Ngambek, terus merasa yang mengkritik berusaha merendahkan kita di depan umum. Bahkan, nggak jarang sebagian dari kita memilih untuk balas dendam dengan berusaha menyusahkan si pemberi kritik. Bela harga diri sampai mati.

Idealnya sih, semua orang (yang katanya dewasa) ya milih nomor satu. Sayangnya nggak gitu. Banyak juga yang baperan dan milih nomor dua. Dewasa nggak penting, kuasa yang utama.

Hmm, jika gini caranya, saya khawatir bila Anda menjabat sebagai pemimpin apa pun. Bisa-bisa bawahan Anda bakalan ada yang stres, kena gangguan jiwa, hingga bunuh diri. Serius, tapi jangan-jangan Anda memang nggak peduli.

Mungkin juga bakalan ada yang nggak tahan dan akhirnya berusaha menjatuhkan Anda beneran, seperti paranoia Anda selama ini. Habis gimana? Menuntut respek mereka pake cara preman, sih. Dikit-dikit ngancem.

Semoga tulisan saya ini bisa jadi pencerahan mengenai cara membedakan dan menyikapi kritikan dan hinaan. Kalo enggak, anggap saja saya gagal bikin orang paham, terutama mereka yang kebetulan (merasa) punya kuasa.

Dengan kata lain, anggap saja pendapat saya ini tiada artinya. Ah, sudah biasa.

R.

 

4 Replies to ““BEDA KRITIK SAMA HINAAN””

  1. memang kadang ada yang suka mengkritik bukan untuk membanun tp krn iri, ada saja yang kita buat salah , org kayak gtu sih tak diemin saja

    1. Sesungguhnya mengkritik itu bukan pekerjaan yang mudah, bahkan mereka yang gemar membaca (biar pilihan katanya lebih banyak dan nggak merujuk pada hinaan.) Mau udah sesopan apa pun, kalau yang dikritik juga baperan ya, susah. Cuma, jangan mentang2 hanya mau jujur lantas jadi bablas menghina. Ini yang susah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *