“BANYAK YANG INGIN KUUCAP”

“BANYAK YANG INGIN KUUCAP”

Banyak yang ingin kuucap

meski tak selalu cakap

dan cenderung gagap

 

Banyak, namun selalu gagal

Kamu membuat nyaliku mental

Kadang aku sebal

 

Banyak, hingga kini masih saja

terkunci, namun liar bergerilya di hati dan kepala

Ada rasa benci pada diri yang tak berdaya

 

Banyak yang ingin kuucap

terutama kata cinta

khusus untukmu saja…

 

R.

 

“5 KEBIASAAN PENGGUNA ATM YANG PALING GANGGU”

“5 KEBIASAAN PENGGUNA ATM YANG PALING GANGGU”

Terlepas dari mulai banyaknya pengguna e-banking untuk kemudahan transaksi, ATM (Anjungan Tunai Mandiri) ternyata masih banyak dicari. Termasuk buat yang hingga kini belum juga mengaktifkan e-banking mereka. (Ke mana aja? Jangan tanya saya.)

Terus, apa aja sih, kebiasaan pengguna ATM yang menurut saya paling ganggu? Percaya deh, dari lima (5) yang akan saya sebut di bawah ini, lelet karena gaptek justru nggak termasuk.

  1. Kelamaan ngegosip sama temen di dalam bilik ATM.

Ini sering kejadian bila bilik ATM ada depan atau parkiran minimarket atau gedung lain. Apalagi kalau siang lagi panas-panasnya.

Memang, ada AC di bilik ATM yang adem dan enak banget. Meski kapasitasnya nggak muat untuk lebih dari tiga orang, kadang suka ada gerombolan yang memaksa masuk. Alamat umpel-umpelan di dalam, atas nama ‘ingin ngadem’.

Saking asyiknya, lama-lama ngegosip, deh. Kalo lagi sepi mah, nggak masalah. Lain cerita kalo udah yang narik tunai hanya seorang, tapi jadi lama gara-gara diajak ngobrol sama pengiringnya. Sementara itu, antrian di luar makin mengular, berpotensi menciptakan murka…

2. Tarik tunai sambil ngemil.

Ini pernah saya lihat pas lagi antri ATM di salah satu mal di ibukota. Dandan sih, keren. Es krim yang lagi dimakan juga mahal punya. Pas narik uang tunai, masa kayak gini:

Pencet-pencent-pencet…nunggu…suap es krim…trus pencet-pencet lagi…nunggu…kembali suap es krim…begitu terus…

Andai nggak inget malu, dosa, atau keduanya, saat itu juga saya gemas ingin menawarkan bantuan berupa salah satu dari tiga (3) alternatif di bawah ini:

  • Menarik tunai (kalau perlu sekalian menguras isi tabungannya).
  • Menghabiskan es krimnya.
  • Menguras isi tabungannya, lalu menghabiskan es krimnya sebelum melenggang suka-suka…

Lapar? Mending duduk dulu, deh. Kelarin makannya. Nggak perlu sok multi-tasking kalo buntutnya bikin lama.

3. Multi-transaksi…nggak berhenti-berhenti.

Iya, ngerti. Kita semua punya kewajiban yang harus dilunasi, mulai dari tagihan bulanan, gaji karyawan, hingga masih banyak lagi.

Meskipun ada beberapa bank yang secara otomatis memberlakukan limit otomatis (seperti transaksi debit maksimal tiga kali sehari), mending buru-buru aktifin e-banking, deh. Nggak perlu ngantri dan nggak perlu bikin yang nunggu giliran keki.

4. Tukang ngintip dengan kepo akut.

Kadang suka nggak nyaman dengan ATM yang letaknya lebih ‘terbuka’ dan berjajar dengan beberapa ATM lain kayak di mal. Potensi berurusan dengan tukang ngintip berkepo akut di belakang Anda lebih besar, terutama pas jam-jam sepi dan malam hari. Serem banget, ‘kan?

Kalo berani, boleh liatin balik si tukang ngintip (kalo perlu dengan tatapan ‘ingin membunuh’. Silakan cari versi Anda sendiri.) Kalo takut, Anda bisa minta temen, kakak, atau pacar jadi pengawas atau pengawal. Bilik terpisah juga lebih aman, karena biasanya orang lain lebih tahu diri untuk nggak asal masuk dan nimbrung. (Kenal aja enggak.)

5. Tukang serobot.

Model begini emang paling (bikin) celaka dalam antrian apa pun. Mulai dari tingkat verbal seperti bikin naik darah hingga celaka beneran, karena udah main dorong-dorongan.

Hmm, bila dikasih tahu baik-baik nggak mempan, enaknya mereka semua diapain, ya? Masa mau diperlakukan kayak badak?

 

R.

 

“SAHABAT SEMPURNA”

“SAHABAT SEMPURNA”

Sampai kapan pun,

kau takkan menemukannya

sosok yang selalu santun

sahabat sempurna

 

Kau ingin dia tanpa cela

selalu membuatmu bahagia

seiya sekata

tiada bantah maupun usul berbeda

 

Selamat mencari

meski lupa berkaca diri

karena kamu pun manusia

yang tak luput dari cela…

 

R.

(Jakarta, 15/10/2017 – 22:00)

 

“RAGAM ILUSI DI MEDIA SOSIAL”

http://www.tvguide.com/news/ncis-spoilers-brian-dietzen-jimmy-palmer-ducky/

“RAGAM ILUSI DI MEDIA SOSIAL”

Sering menonton siaran ulang (rerun) serial TV bikin saya cepat hapal plot, adegan, maupun dialog. Salah satunya adalah “NCIS”, musim tayang ke-14 dengan episode ke-13.

Singkat cerita, salah seorang karakter utama, Asisten Forensik dr. James Palmer (yang diperankan oleh aktor Brian Dietzen), mencoba mencegah seorang pemuda bunuh diri. Merasa bersalah karena kematian mendadak ayahnya, pemuda yang putus asa itu mencoba melompat dari langkan di lantai teratas sebuah gedung.

Untuk cerita lengkapnya, silakan tonton sendiri, ya. Namun, percakapan dr. Palmer dengan Ryan, pemuda itu (dalam rangka membujuknya agar tidak mengakhiri hidupnya), sangat menarik. Saat Ryan membandingkan kegagalan dalam hidupnya dengan kesuksesan orang lain yang tampak di media sosial, Palmer langsung mengingatkan:

“They only post the greatest hits. There are no B-sides.”

Intinya: mereka hanya posting yang bagus-bagus.

The Greatest Hits di Media Sosial

Inilah ilusi yang sering kita lihat lewat media sosial mereka yang kita kenal. Kadang, yang mereka tampilkan bisa sangat indah, hingga menipu mata. Kita terjebak dalam ilusi tersebut, sehingga sibuk merasa iri dengan kelebihan mereka semua. Ada yang kariernya sukses, traveling ke banyak kota dan negara, populer karena fotonya selalu dikelilingi banyak teman (apalagi kalau ada pesohor atau selebriti di sana), punya pacar keren, menikah, punya anak…

…dan daftarnya bisa lebih panjang, mengalahkan niat saya menulis entri kali ini…

Seperti biasa, yang melihat ilusi keindahan hidup orang lain lewat media sosial nggak semuanya ‘siap mental’. Ada yang kemudian mulai membanding-bandingkan diri sendiri dengan mereka. Yang ada malah stres, gara-gara selalu merasa kurang.

Ada yang buntutnya nyinyir dan menyebut mereka sebagai “the humble brags” (istilah untuk orang yang sok kelihatan merendah di media sosial, padahal sebenarnya sedang pamer). Memang sih, pada kenyataannya banyak yang begitu. Kalau memang benar, lalu kenapa? Meributkan yang di luar kendali kita, kok konyol rasanya?

Yang terlihat dari luar belum tentu sempurna seperti perkiraan kita. (Pada kenyataannya, memang nggak akan ada yang bisa sempurna.) Bisa saja yang kariernya sukses butuh pengorbanan yang tidak sedikit, mulai dari: mengurangi acara jalan-jalan yang memboroskan uang hingga harus siap terima keluhan dari orang-orang terdekat gara-gara jarang berkumpul dengan mereka.

Bisa saja kawan Anda yang gemar traveling itu memang giat menabung, getol berburu tiket promo, beruntung menangin kuis, hingga menjaga hubungan baik dengan kawan-kawan (yang kemudian rela membiayai perjalanan mereka.) Bisa jadi, pacar keren yang tampak mesra di foto berdua ternyata abusive atau doyan selingkuh. Hiii…

Kenapa Anda bersikap seakan-akan mereka berutang penjelasan pada Anda? Memangnya Anda siapa?

The B-Sides di Media Sosial

Sebenarnya, saya kurang setuju dengan ucapan dr. Palmer. Buktinya, ada juga yang hobi posting yang negatif. Misalnya: status curhatan putus cinta, nyinyir menyindir, hingga yang paling parah…foto-foto orang sakit dan korban kecelakaan.

Terlepas dari niatan yang mem-posting, silakan bebas berspekulasi. Yang bersimpati mungkin akan mencoba menghibur sebisa mungkin. Yang enggak, ya mana peduli.

Yang segan atau malah muak dengan ragam status negatif? Banyak. Sebelum langsung menuduh mereka semua sebagai sosok sinis dan nggak simpatik, bisa jadi ada alasan lain yang kita belum tentu tahu maupun paham.

Bisa jadi, mereka kenal dengan si pembuat status. Jangan-jangan, hidupnya nggak semalang yang dia gembar-gemborkan di media sosial. Jangan-jangan dia hanya cari perhatian.

Misalnya: ada yang merasa kesepian dan tidak dicintai siapa-siapa, hanya karena merasa dicuekin teman-temannya dan belum juga punya pasangan. Padahal, bisa saja keluarganya sangat menyayanginya tanpa syarat, namun dia tidak melihatnya. Kalau Tuhan nggak sayang, bagaimana mungkin dia masih hidup berkecukupan hingga saat ini?

Baik di dunia nyata maupun maya, ilusi hadir untuk menipu mata. Lagipula, bukankah terus membanding-bandingkan diri dengan orang lain pekerjaan melelahkan? Mau sampai kapan?

Bisakah bahagia bila hidup dengan cara demikian?

R.