“WAHAI, PEREMPUAN YANG UDAH BERSTATUS ‘NYONYA’”

“WAHAI, PEREMPUAN YANG UDAH BERSTATUS ‘NYONYA’: BAIK-BAIK DEH SAMA TEMEN-TEMENMU YANG MASIH JOMBLO”

(*PERINGATAN: Tulisan ini dibuat berdasarkan beberapa contoh kasus nyata. Mohon maaf bila ada yang ketar-ketir dan merasa tersentil. Semoga Anda tidak termasuk yang dibahas di sini.)

Percayalah, ini bukan ancaman. Kami nggak sedang berusaha nakut-nakutin kalian, baik yang baru nikah hari ini, kemaren, minggu lalu, bulan lalu, dan seterusnya. Sumpah, serius. Kami juga nggak nganggep kalian semua sama.

Kalo mau balik ke jaman single dulu, mungkin rasanya masih lebih mudah. Ya, nongkrong bareng, ngobrolin topik yang sama, hingga curhat-curhatan. Apalagi kalo kita termasuk dalam satu girl squad yang sama. Pokoknya seru banget, deh.

Lalu, seperti halnya takdir dalam hidup, laki-laki mulai hadir dalam hidup kita. Mungkin ada yang pacaran bentar, terus putus. Ada yang pacaran lama atau hingga menikah. Ada yang langsung menikah, dengan alasan takut dikejar umur hingga menghindari zina. Yowis, nggak apa-apa. Namanya juga pilihan masing-masing.

Lalu yang masih jomblo ampe sekarang gimana? Ya, nggak apa-apa juga. Tulisan ini juga dibuat bukan dalam rangka sirik sama kalian yang sudah menemukan jodoh. Sebagai teman, kami ikut bahagia kok, kalian akhirnya menemukan partner hidup (apalagi yang bener-bener dicari dan sesuai keinginan sendiri.)

Terus, kenapa kok, judul tulisan ini kesannya ngancem gitu?

Nah, gini. Okelah kalian lagi seneng-senengnya sebagai pengantin baru. Yang tadinya ketar-ketir saat gandengan, sekarang nggak usah takut lagi karena udah sah. Yang tadinya merasa galau karena kesepian, sendiri, dan nggak ada lawan jenis yang ngasih perhatian, sekarang diperhatiin tiap hari. (Bahkan, ada yang ampe sedetil-detilnya, termasuk gimana cara berpakaian hingga siapa aja temen-temennya.)

Percaya deh, kita ngerti. Namun, untuk menjaga hubungan baik dengan temen-temen jomblo kalian (itu kalo kalian masih mau, lho), ini ada sedikit saran dari saya (sebagai perwakilan para jomblo):

Pas usaha ngejodohin kita dengan laki-laki rekomendasi kalian:

Makasih karena udah berniat baik sama kami, ingin kami juga bahagia seperti kalian. Percaya deh, kalo kami emang bener-bener tertarik dan suka laki-lakinya juga, kalian berjasa karena telah membantu kami menemukan jodoh kami.

Tapiii…eitss, ada tapinya, nih. Tapiii, lihat-lihat dululah, yang mana teman kalian yang emang bener-bener pengen dijodohin. Kalo berhasil, syukur. Kalo nggak, ya jangan langsung nyalahin kami dan nuduh kami ‘kurang usaha’ atau ‘terlalu picky’. Bisa aja lakinya juga nggak selera sama macam kami. Perasaan ‘kan, nggak bisa dipaksa. Ada tuh, yang namanya che-mis-try.

Makanya, sebelum jadi mak comblang, tanya dulu kebutuhan temen-temen jomblo kalian. Bisa aja nggak semuanya ngebet ingin buru-buru nikah juga, terutama karena ngiri lihat kalian. Bisa aja mereka masih punya target lain yang ingin dicapai dan nikah bukan jadi urutan perdana. Paham?

Komentar untuk temen-temen jomblo kalian:

Okelah, obrolan udah nggak mungkin lagi sama.  Kalian udah sibuk mikirin tagihan bulanan, kerjaan, urusan rumah tangga, ngeladenin suami, ngurus anak sakit, dan lain-lain. Sementara itu, temen-temen jomblo kalian mungkin masih ada yang dating around, naikin jenjang karier, ampe ikut komunitas yang seru-seru plus traveling.

Trus, apa yang salah? Nggak ada, hanya beda timeline hidup aja. Cuma, yang bikin temen-temen jomblo kalian jengah yaaa…komentar-komentar kalian yang seperti ini:

“Inget, umur lo udah berapa?”

“Elo kayaknya harus ngurusin badan / lebih dandan / lebih ramah ama cowok / dll…”

Aduh, nggak cukup sebagian dari kami diteror saban tahun pas acara kumpul keluarga besar? Kirain temen-temen minimal jadi sumber dukungan andalan. Nggak nyangka ternyata sebagian dari kalian ada yang berubah jadi sama aja. Padahal, kalo diinget-inget dulu, omongan kalian beda, lho.

“Elo pasti bakalan menemukan jodoh lo, kok. Semua ada waktunya.”

“Yang penting enjoy your life, deh.”

Mungkin maksud kalian baik. Mungkin sebagian dari kami kalian anggap terlalu sensitif. Tapi, coba deh, bayangin kalau kalian yang digituin juga. Selain jodoh emang di tangan Tuhan, ucapan kalian lebih terdengar arogan daripada jadi penyemangat.

Wahai, para perempuan yang udah berstatus ‘nyonya’. Baik-baik deh, sama temen-temen kalian yang masih jomblo. Caranya gampang banget, kok. Nggak perlu usil ungkit-ungkit status jomblo mereka, karena siapa tahu mereka masih betah. Bolehlah nawarin diri jadi mak comblang, tapi nggak usah maksa kalo mereka nggak mau.

Selain itu, nggak perlulah merasa superior karena udah nikah duluan. Biasa aja. Toh, nikah itu sebenernya juga ibadah kepada Yang Maha Kuasa. Jangan hanya dijadikan ajang pamer status sosial, apalagi untuk nunjukin ke perempuan lain bahwa kalian (dianggap) ‘lebih menarik’ sama ‘lebih laku’. Nggak perlu, ya. Udah tahun 2018 juga soalnya. Kalian ‘kan juga bukan barang dagangan. Masa masih mau pakai istilah ‘laku-nggak laku’?

Kalian nggak perlu cari validasi dari pasangan mengenai betapa berharganya kalian. Di mata kami, kalian tetap cantik, cerdas, dan baik hati kok, selama nggak merasa serba lebih daripada kami.

Akhir kata, yang paling penting sih, saling ngedoain kebahagiaan masing-masing. Semudah itu, ngapain milih cara yang berpotensi bikin drama yang nggak perlu? Kita sama-sama udah dewasa, ‘kan?

R.

 

“YANG MANA DIRIMU?”

“YANG MANA DIRIMU?”

Terombang-ambing

kau tunjukkan diri

kadang hangat, kadang dingin

bagai cuaca di bumi

selepas efek rumah kaca

kadang gerah, kadang bikin merinding

 

Yang mana dirimu?

Aku harus tahu

Mengapa cinta ibarat catur?

Setiap langkah harus diatur

Apakah kau hanya ingin

aku takluk secara utuh

agar kau dapat berkuasa penuh?

 

Jangan frustrasi

Yang ada malah lelah sendiri

sementara aku sudah muak sekali

Masa semua harus maunya laki-laki?

Katanya perempuan dihargai

bukan ditindas setengah mati

 

Jadi, yang mana dirimu?

Tak perlu takut terlihat lemah di hadapanku

 

R.

 

“BISNIS ONLINE ANAK MUDA: Mulai Dari Mana?”

“BISNIS ONLINE ANAK MUDA: Mulai Dari Mana?”

Generasi milenial – atau yang kerap disebut dengan ‘anak-anak jaman NOW’  – sering dipandang sebelah mata oleh generasi sebelumnya. Padahal, mereka adalah penerus bangsa dan umat manusia. Mereka juga bukan melulu tukang hura-hura. Hal ini terbukti dengan menjamurnya bisnis online anak muda.

Era digital semakin mempermudah banyak orang untuk memulai bisnis mereka sendiri. Bahkan, kamu tidak perlu lagi menunggu lulus kuliah, bekerja kantoran selama beberapa tahun, hingga mengumpulkan dana yang cukup untuk memulai bisnismu sendiri. Sekarang, sudah banyak bisnis online anak muda.

Sebelum era media sosial segencar sekarang, sebenarnya sudah banyak anak muda yang membuka bisnis kecil-kecilan mereka sendiri. Contoh: bisnis rumahan seperti berjualan camilan, produk fashion, hingga jasa pengetikan dan penerjemahan. Bahkan, hanya bermodal dari rumah sendiri juga bisa.

Era media sosial dan aplikasi chat semacam Whatsapp dan LINE semakin mempermudah mereka yang ingin membuka bisnis sendiri secara online. Semangat khas pelaku bisnis online anak muda sayangnya tidak dibarengi dengan strategi yang cocok, sehingga banyak yang gugur di tengah jalan.Apa penyebabnya? Apa yang salah? Menurut website Bisnis Millenial, ada empat (4) kendala yang sering terjadi bagi para pelaku bisnis online anak muda. Semua kendala utama tersebut adalah:

  1. Tidak punya produk yang unik atau terlalu terbawa arus pasar.

Mungkin ini memang kerap terjadi, terutama bagi pemula. Saat produk tertentu sedang tren dan digandrungi banyak orang, mereka pun ikutan berjualan yang sama. Mungkin pada awalnya menangguk keuntungan.

Namun, sama seperti halnya semua tren, orang akan cepat bosan saat tren berlalu. Penghasilan tidak lagi seperti dulu, sehingga ragu untuk maju atau mencoba sesuatu yang baru.

2. Persaingan lebih tinggi, cepat, dan kadang ganas.

Namanya juga era digital. Bukan satu saja yang ingin membuka bisnis online anak muda. Otomatis persaingan lebih tinggi, cepat, dan kadang panas. Bila salah strategi, penghasilan akan sulit bertambah, apalagi bagi yang kurang siap mental.

3. Ingin membuka bisnis online, tapi minder karena merasa tidak punya bakat.

Bisa jadi, awalnya hanya ikut-ikutan kawan yang sudah duluan punya bisnis online anak muda. Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan ketrampilan – dan rasa percaya diri – yang memadai. Akibatnya, jangankan memulai. Memikirkan konsepnya saja masih bingung.

4. Punya semangat dan sudah mengikuti kursus online, tapi masih butuh bimbingan.

Kursus online untuk membuka bisnis memang membantu. Namun, pada akhirnya semua peserta akan punya ide masing-masing untuk jenis usaha mereka. Masalahnya, tidak semua langsung yakin bisa maju seketika. Ada yang masih butuh bimbingan.

Nah, kalau sudah begini, sebaiknya bagaimana, ya? Apakah maju terus pantang mundur tapi miskin strategi? Apakah mundur saja, menyerah, dan berhenti? Enggan mencoba lagi?

Hei, itu bukan sikap anak muda generasi milenial yang pantang menyerah. Bila masih bingung, gimana kalau kamu bergabung saja dengan Bisnis Millenial? Komunitas ini akan membantu para pelaku bisnis online anak muda yang masih membutuhkan bimbingan tambahan.

Dengan Bisnis Milennial, kamu bakal dibimbing langsung oleh para mentor berpengalaman, disertai praktik langsung di lapangan. Tidak hanya live mentoring, kamu juga bisa menonton video tutorial pendukung, mendapatkan info terbaru seputar dunia bisnis online anak muda, hingga belajar strategi jual.

Jadi, masih ragu membuka bisnis online anak muda? Sebaiknya jangan. ‘Kan sudah ada Bisnis Milennial.

 

“BISAKAH? MAUKAH? SIAPKAH?”

“BISAKAH? MAUKAH? SIAPKAH?”

Bisakah aku menjadi pahlawanmu,

meski tanpa kekuatan super

atau kostum dan topeng itu?

 

Bisakah?

Mungkin tidak

meski tetap mau

dan cinta terdengar semu

 

Maukah aku menjadi pahlawanmu,

meski mungkin tidak perlu

karena bisa saja kau meninggalkanku

dan ilusi cinta hanya menyisakan sembilu

 

Mungkin itu bukan peranku

dan kamu hanya ada

pengisi beberapa bab saja

namun bukan sebagai tokoh utama

dan cinta hanya fatamorgana

impian remeh gadis remaja

 

Siapkah aku

bila akhir kisah ini

hanyalah aku yang kembali

dan lagi-lagi sendiri?

 

R.

(Jakarta, 19/9/2017 – 10:05 am)

 

“MELAPORKAN PELAKU PELECEHAN DI BUS SHELTER TRANS-JAKARTA”

“MELAPORKAN PELAKU PELECEHAN DI BUS SHELTER TRANS-JAKARTA”

Oke, saya sudah melupakan trauma saya, jadi saya bisa menulis tentang ini.

Bulan lalu, pada 24 Maret 2018, saya menghadiri acara puisi di Warung Buncit, Jakarta Selatan. Acara selesai sekitar pukul sepuluh malam Sabtu itu.

Saya pergi ke halte bus Trans-Jakarta terdekat untuk menunggu perjalanan pulang. Ada seorang lelaki tua berdiri di sana, juga menunggu bus.

Awalnya, semuanya tenang dan baik-baik saja. Kami tidak berbicara satu sama lain, hanya dua orang asing dalam diam. Kemudian tiba-tiba, lelaki tua itu menyeringai ke arah saya. Dia tampak seperti sedang membetulkan celananya, tetapi ketika saya melihat tangannya mulai membuka kancingnya …

Saya tidak membuang waktu dengan diam saja. Saya berbalik dan bergegas menuju tangga dan kembali ke loket tiket.

“Pak?” Saya memanggil-manggil petugas dengan jantung berdegup kencang. Sudah pukul sebelas waktu. “Halo? Pak, tolong.”

Saya senang bahwa bajingan itu tidak mengikuti saya, tetapi saya tetap tidak ingin mengambil risiko. Saya tahu saya masih bisa melawannya sendirian di hari lain, tetapi saya juga butuh saksi lain.

Selain itu, laki-laki seperti itu pasti akan melakukan hal yang sama pada perempuan lain saat punya kesempatan. Tidak semua korbam cukup berani untuk melaporkan atau melawan.

“Ya, Bu?” Jawab seorang lelaki berseragam dari dalam bilik tiket. Ketika saya memberitahunya mengenai yang hampir terjadi, dia segera mengunci bilik dan kembali ke tempat kejadian dengan saya.

“Orang tua?” Dia bertanya. Ketika saya mengangguk, dia berkata, “Saya udah lihat sebelumnya di cctv dan mikir kok aneh ya, tetapi Ibu sudah keburu naik ke atas.”

“Tolong.” Oke, saya sebenarnya benci mengemis, tapi saat itu nggak punya pilihan. “Bapak bisa temani saya di sana, setidaknya sampai bus saya tiba atau dia pergi lebih dulu? Saya nggak mau sendirian sama orang itu.”

“Tentu saja, Bu.”

Jadi, staf berseragam itu melakukan seperti yang dijanjikan. Laki-laki cabul tadi tampak kecewa ketika melihat saya tidak sendirian lagi. Dia berusaha berbicara ringan dengan staf berseragam yang sedang bertugas. Saya tetap diam sambil mengawasinya dengan hati-hati.

Saya lega ketika si tua itu akhirnya naik ke bus yang menuju ke arah selatan. Sambil menunggu bus, saya ngobrol saja dengan staf berseragam untuk sementara waktu. Ternyata namanya Pak Jaelani. Penduduk Depok ini santai dan santun, yang mengaku hanya melakukan pekerjaannya.

“Saya benar-benar lihat yang terjadi yang tadi,” ulangnya. “Laporan seperti ini kami tanggapi dengan sangat serius, demi kenyamanan semua penumpang. Apalagi buat perempuan dan malam-malam begini.”

Kemudian Pak Jaelani cerita tentang penumpang perempuan lain yang pernah mengadu sambil menangis pas hari lagi sepi. Ternyata ada laki-laki muda yang sempat menggesek-gesekkan alat kelaminnya ke badan perempuan itu.

Iiih!

“Banyak laporan tentang pelecehan seksual di bus, Bu,” jelasnya. “Nggak ada bedanya, mau itu siang atau malam, ramai atau sepi. Rok mini atau baju tutupan semua. ”Pak Jaelani geleng-geleng dengan ekspresi kesal bercampur jijik. “Kalo orang otaknya emang udah sakit, ya sakit aja. Ibu udah bener langsung melapor. ”

“Ya, meski awalnya saya skeptis,” saya mengakui. “Bapak tahu sendiri ‘kan, biasanya malah lebih banyak yang nyalahin perempuan karena keluar sendirian, malam-malam pula.”

“Ah, orang-orang suka asal ngomong,” kata Pak Jaelani. “Kita nggak pernah tahu, perempuan itu bisa lagi bekerja lembur atau tugas lain atau tidak punya pilihan. Harusnya orang fokus pada pelaku dan bukannya korban kalo mau nyalahin. ”

Ketika bus saya akhirnya tiba, saya mengucapkan terima kasih lagi kepada Pak Jaelani sebelum naik. Saya pulang ke rumah malam itu dengan sedikit harapan.

Mudah-mudahan, lebih banyak orang menyadari AKAR MASALAH-nya selama ini …

 

R.

 

“PINTU HATI”

“PINTU HATI”

Dahulu,

aku pernah peringatkanmu

Tak banyak yang beruntung

Tak semua bisa masuk

Banyak yang pulang dengan murung

 

Kini,

bisakah kamu memegang janji

takkan menyakiti?

Jangan buatku memohon pada Ilahi

untuk mengusirmu pergi.

 

R.

 

“PENTINGNYA PERJANJIAN TERTULIS”

“PENTINGNYA PERJANJIAN TERTULIS”

Bersyukurlah manusia yang mengenal aksara. Kumpulannya menjadi kata, kalimat, dan bahasa. Bahasa inilah yang kemudian menjadi alat komunikasi antar sesama.

Setelah lisan, maka hadirlah tulisan. Bentuk konkrit inilah yang kemudian menjadi bahan ajaran dan pesan yang dibagikan dan diturunkan ke generasi berikutnya. Cerita-cerita, bukti-bukti percakapan, perjanjian, semuanya.

Bersyukurlah mereka yang mengenal dan mencintai dunia aksara. Berbahagialah mereka yang suka membaca. Menulis pun sebenarnya sesuatu yang luar biasa, bukan biasa saja.

Banyak yang lupa, terutama di era digital yang serba cepat dan instan ini, bahwa lidah masih saja bisa bersilat. Jari-jemari yang lincah mengetik di atas papan ketik bisa gesit berkhianat.

Karena itulah, perjanjian tertulis masih sangat penting. Sama pentingnya dengan tidak menjadi buta huruf maupun tidak malas membaca.

Inilah alasan pernikahan sangat sakral dan membutuhkan surat perjanjian. Bila tidak, salah satu atau bahkan keduanya bisa bersikap seenaknya. Jangankan tanpa surat, yang sudah tanda tangan surat saja masih berani menyepelekan.

Begitu pula dengan bisnis.

Okelah, mungkin ini salah satu kelemahan manusia yang (agak terlalu) mengandalkan kekerabatan. Mau itu keluarga, teman, atau temannya teman. Padahal, bisnis bisa jadi sangat berbeda.

Surat perjanjian tertulis tetap sangat penting, sedekat apa pun hubungan kekerabatan yang dimaksud. Jangan pernah mudah tertipu dengan: “Ah, masih keluarga ini” atau “Kita ‘kan temen.” Serius, jangan.

Saya sinis. Bukan, saya sangat realistis.

Pada kenyataannya, uang bisa membuat manusia berubah dengan sangat mudah dan cepat. Mau itu saudara kandung atau teman, uang tetaplah uang. Uang tetaplah bikin orang perhitungan.

Saat uang melimpah, hubungan baik-baik saja, bahkan bisa dibilang istimewa. Namun, saat tidak, hubungan apa pun bisa berubah.

Yang tadinya pemurah bisa jadi mudah marah. Yang tadinya terus terang jadi tidak transparan.

Maka itulah, jangan pernah remehkan kekuatan surat perjanjian tertulis. Dengan demikian, tidak ada lagi lidah bersilat maupun jari-jemari yang lancang berkhianat.

Sekedar peringatan…

 

R.