“MEMORI SYDNEY 2”

“MEMORI SYDNEY 2”

Ke sanalah aku berlari

meninggalkan sakit hati

menenangkan diri

berburu inspirasi

 

Akankah ke sana lagi?

Aku rindu jalan-jalan sepi

Aku harus kembali

semoga dengan restu Ilahi…

 

R.

 

“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

Patah hati. Pasti sudah banyak ide cerita, film, dan lagu tentangnya. Banyak juga yang jadi curhat gara-gara patah hati.

Yang berusaha menghibur, mulai dari yang hanya mendengarkan hingga memberi nasihat (yang mereka percaya sebagai proses penyembuhan)? Banyak juga. Bahkan, nggak semua bertahan lama. Kadang ada yang sampai gemas setengah mati hingga jumawa menghakimi.

“Move on aja susah amat, sih! Gue aja tiga bulan udah punya pacar lagi.”

“Kelamaan lo berdukanya. Manja amat, sih?”

Mau tahu yang paling kubenci dari patah hati? Bukan, bukan si penyebab patah hati. Tapi, bahkan patah hati saja terlalu digeneralisir.

Pertama, ini bukan hanya masalah putus sama pacar. Ada yang patah hati gara-gara cerai, ditinggal mati, hingga kehilangan hak asuh atas anak atau kematian binatang peliharaan. Tim sepak bola favorit kalah saja bisa bikin patah hati.

Panutan, kayak seleb atau politisi, bikin kecewa? Apa lagi. Korban perang yang terpaksa harus mengungsi? Luar biasa kalo nggak depresi, apalagi sampai ingin bunuh diri.

Terus, yakin penyembuhannya ama semua, cukup dengan nasihat “Move on aja”?

Kedua, ini dia yang paling kubenci. Oke, mungkin maksud mereka baik. Mereka nggak mau kita terlalu lama bersedih dan segera berbahagia lagi.

Tapi, proses tiap orang ‘kan, beda-beda lagi. Tergantung kasusnya. Bisa aja ada yang langsung move on dan segera punya pacar lagi. Perkara itu hanya rebound, beneran sayang, hingga hanya karena takut kesepian? Siapa yang tahu, sih? Ngapain buang-buang waktu berspekulasi? Mending urus diri sendiri.

Ada juga yang milih sendiri dulu. Celakanya, malah dituduh belum sembuh, sulit move on, hingga kelewat picky. Aduh, memangnya Anda siapa, sih? Yakin situ lulusan psikologi? Ada empati?

Ingin membantu orang sembuh dari patah hati? Pertama, cek dulu kapasitas diri. Nggak semua hal sama dan selalu bisa dimengerti.

Kedua, nggak yakin bisa kasih solusi? Stop menghakimi. Biar mereka menemukan obatnya sendiri.

R.

(Jakarta, 19 April 2018 – dari Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Couchsurfing Jakarta. Tema: ‘kesembuhan’.)

 

“MEMORI SYDNEY”

“MEMORI SYDNEY”

Entah kapan lagi

aku bisa kembali

saat ini

hanya ingin bekukan memori

 

Aku gagal hentikan waktu

di luar kuasaku

ada rindu

untuk kalian selalu

 

Satu akhir pekan di Sydney

sejuk dan hangat di hati…

 

R.

 

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

Banyak yang bisa kau lihat dari jendela kamar hotel ini. Lantai enam cukup tinggi untuk melihat semuanya.

Gimana? Keren, sih. Cuma, andai saja aku nggak terbangun malam itu.

Waktu masih menunjukkan pukul 3:00 dini hari. Nggak sabar menunggu kegiatan kami berikutnya pukul enam. Mungkin itu yang bikin aku terbangun terlalu dini.

Aku enggan membuat teman-teman sekamar terbangun dengan menyalakan lampu, makanya aku jalan pelan-pelan di kegelapan. Untunglah ada yang membiarkan lampu kamar mandi menyala. Jadi, aku bisa menghampiri jendela tanpa khawatir menabrak barang-barang dan bikin keributan.

Kusibak tirai dan kulihat pemandangan di luar jendela. Masih gelap dan sepi banget. Kayaknya nggak ada seorang pun di luar sana. Ada sepasang lampu jalan yang masih menyala. Selain itu, nggak ada.

Mataku terpaku pada gedung hotel lain di seberang tempatku menginap. Jendela-jendela yang gelap itu mengingatkanku pada lubang-lubang – atau rongga-rongga tanpa bola mata. Teman-teman bilang aku kebanyakan nonton film-film horor.

Ada satu jendela di lantai lima yang lampunya masih menyala. Tirainya juga terbuka. Ada dua orang – laki-laki dan perempuan – berdiri di sana, saling berhadapan. Kayaknya lagi meributkan sesuatu. Sesekali mereka saling menuding sambil sama-sama melotot.

Mungkin cuma pasangan yang lagi berantem saat bulan madu, begitu tebakku. Baru saja aku mau kembali tidur, ketika tiba-tiba laki-laki itu menggenggam leher si perempuan. Perempuan malang itu langsung meronta-ronta sambil meringis kesakitan.

Laki-laki itu mencekiknya.

OH, TIDAK!

Tanpa berpikir panjang, kusambar ponselku dan menghubungi nomor darurat lokal. Untunglah, operator yang bertugas segera menjawab.

“Kayaknya saya baru saja menyaksikan pembunuhan,” bisikku, masih berdiri di samping jendela sambil menekan ponsel ke telingaku. Untunglah si operator segera menanggapiku serius, karena kulihat perempuan malang itu berhenti meronta-ronta dan akhirnya terkulai lemas, sebelum laki-laki itu melepaskannya hingga jatuh ke lantai. Kulihat laki-laki itu terengah-engah, sampai bahunya bergerak naik turun.

Setelah kuceritakan semua yang kulihat – termasuk ciri-ciri laki-laki dan perempuan itu – operator menanyakan nama dan lokasiku. Setelah kujawab, kudengar instruksinya, “Jangan ke mana-mana, Miss. Tenang. Jangan melakukan apa pun yang berisiko. Polisi akan segera tiba di sana.”

“Oke, cepatlah.” Lalu kuputuskan sambungan. Dengan gugup kuawasi jendela itu. Laki-laki itu masih di sana. Aku takut membangunkan teman-temanku.

Sekitar lima menit berikutnya, kulihat ke bawah dan sebuah mobil patroli polisi masuk ke parkiran hotel. Lalu kulihat kembali jendela di lantai lima, hanya untuk memastikan laki-laki itu belum kabur.

Dia masih di sana, memandangi korbannya. Dia tersenyum.

Lalu, sesuatu terjadi, yang sulit kupercaya dengan mataku sendiri.

Perempuan itu bangun, dengan bantuan laki-laki tadi. Keduanya berdiri sambil bertukar seringai, sementara sosok ketiga muncul dan terlihat olehku, dengan kamera terarah pada pasangan itu.

Oh, tidak. Apa yang telah kulakukan?

R.

 

“DRASTIS”

“DRASTIS”

Hanya butuh satu kata cinta

untuk mengubah gaya bercerita

menjadi lebih optimis dan ceria

sehingga pembaca ikut bahagia

 

Hanya butuh sepercik dusta

untuk merusak semua

mengubah alur cerita

kembali gelap dan bergelimang duka

 

Ah, cinta…

Betapa drastis pengaruhnya…

 

R.

(Jakarta, 30 April 2018 – 9:15)

“TENTANG FILM: SPOILER ATAU NO SPOILER?”

“TENTANG FILM: SPOILER ATAU NO SPOILER?

Hmm, kayaknya lagi pada ribut perkara spoiler film tertentu ya, minggu kemarin? Sebenernya, masalah ini udah ada dari dulu. Ya, bahkan sejak DVD bajakan, internet, hingga unduhan gratis belum kepikiran oleh siapa pun. (Yah, ketahuan deh, umur saya.)

Kalau era ’90-an dulu orang masih pada dulu-duluan ke bioskop saat film terbaru dirilis, sekarang sampai harus bikin acara khusus bertitel ‘premiere’ segala. Ya, biar tetap ada yang dateng dan makin rame, apalagi kalo filmnya emang udah ditunggu banget. Kadang sponsor bisa bejibun dan ampe artis serta para kru ikutan nongol.

Kemudahan era digital emang bikin semuanya jadi serba cepat. Saking cepatnya, ada yang jadi nggak sabaran dan lantas mau cari keuntungan lain. Ya, mulai dari beli DVD bajakan (yang biasanya lebih murah) hingga unduh gratisan sendiri.

Bahkan, ada yang nggak tanggung-tanggung: unduh sendiri, nonton gratis, terus jual lagi sebagai DVD bajakan. Dapet uang, lho.

Ah, lagi-lagi namanya juga Indonesia. Yang jualan DVD bajakan aja ampe punya lapak sendiri di mall sama trade centre. Hehehe…

Oke, balik lagi ke soal spoiler film. Hmm, enaknya gimana, ya?

Kalo zaman dulu, temen yang udah nonton satu film duluan di bioskop minimal masih nanya dulu sebelum cerita:

“Eh, nggak apa-apa nih, gue ceritain semuanya?”

Ada juga sih, yang hanya cerita sedikit, lalu menutupnya dengan: “Sisanya nonton sendiri, deh. Biar lebih seru.”

Sayangnya, kedua jenis teman di atas jadi ‘nggak banyak membantu’ begitu era media sosial sekarang. Gimana enggak? Banyak acara tebar spoiler film terkini (apalagi yang lagi trending banget) selancar tukang gosip di media sosial nyinyirin aib tetangga lewat status. Hihihihi….

Kalo udah kayak gini, apa daya? Mau marah juga percuma. Apalagi, seperti Anda, para penyebar spoiler ini dengan suka cita akan pake pakem yang sama:

“Suka-suka gue. Lo gak suka, tinggal gak usah baca / unfollow / remove / unfriend!”

Oh, wow. Sampai segitunya ternyata. Sementara itu, yang masih percaya dan merasa bahwa spoiler mengurangi kenikmatan nonton film beranggapan bahwa para penyebarnya termasuk:

  1. Orang-orang egois, gak mikir yang belum nonton dan merusak suasana.
  2. Pamer, mentang-mentang udah nonton duluan.
  3. Nomor 1 dan 2.

Lalu, gimana menurut saya sendiri?

Beruntunglah, saya seorang penulis yang bisa menikmati film dari sisi apa pun. Toh, sensasi menonton sendiri secara langsung dengan hanya mendengar cerita orang pasti berbeda.

Kalo bisa sih, jangan ada spoiler. Kalo emang udah kepalang, saya juga nggak akan menambah drama yang nggak perlu dengan marah-marah, apalagi sampai unfriend segala. Hadeuh, udah ribut karena politik, sekarang mau ribut karena spoiler? Please, deh!

R.