“MENGUSIR HANTU”

“MENGUSIR HANTU”

Kamu tak boleh takut

meski bermimpi buruk

Mana doa-doamu

untuk mengusir hantu?

 

Kamu tak boleh kalut

meski terpuruk

Mana semangatmu

untuk menghalau setan itu?

 

Kamu tak boleh takut

Hanya mimpi buruk

Tak perlu kalut

Jangan terpuruk

Kamu tak boleh takut

Pakai doa dan semangatmu

 

Usirlah hantu itu!

 

R.

 

“NGGAK SEMUA YANG VIRAL BERGUNA UNTUK DIBAHAS: Makeup Meghan dan ‘Dilan’ yang Jadi Minke”

“NGGAK SEMUA YANG VIRAL BERGUNA UNTUK DIBAHAS: Makeup Meghan dan ‘Dilan’ yang Jadi Minke”

Mungkin saya termasuk salah satu yang cuek. Selain udah terlalu banyak orang yang pasti akan membahas topik yang sedang viral, saya juga lihat-lihat dulu topiknya.

Bolehlah nggak sepakat. Namanya juga perkara selera, jadi pasti subjektif. Lagipula, bukankah hidup akan membosankan bila semuanya (dipaksa) harus sama?

Gambar: tempo.co

Saya termasuk yang nggak heboh soal pernikahan Meghan Markle dan Pangeran Harry (yang kini bergelar Duchess dan Duke of Sussex. Eh, saya nulisnya kebalik, ya? Biarin deh, sekali-sekali perempuan yang duluan.) Biasa aja. Ngefans enggak, benci juga enggak.

Makanya, saya bingung pas ada yang debat soal makeup pengantin di media sosial. Ada yang berpendapat pengantin perempuan harusnya dandan se-pangling mungkin. (Baca: lebih menor dari biasanya, tapi jangan ampe kayak pemain lenong. Nggak cocok aja.)

Ada juga yang apresiasi dandanan pilihan Sang Duchess ini. Sederhana, nggak ribet, pokoknya kayak pribadi orangnya. Denger-denger sih, Pangeran Harry sendiri juga termasuk santai untuk ukuran anak bangsawan.

Membaca selentingan komen para netizen (baik yang pro maupun anti #PanglingPanglingClub) mau nggak mau bikin saya geli. Hebohnya luar biasa, meski nggak semua berprofesi makeup artist juga. Nggak ada yang diundang ke kawinannya pula. Hihihihi…

Gambar: wowkeren.com

Terus masih ada ribut-ribut soal Iqbaal Ramadhan yang didapuk sutradara Hanung Bramantyo untuk memerankan sosok Minke di film “Bumi Manusia”. (Buat yang belum tahu, “Bumi Manusia” ini satu dari tetralogi novel karya Pramoedya Ananta Toer. Kalo belum ngeh beliau siapa, silakan ngobrol-ngobrol deh, sama generasi sebelum kalian – terutama yang lahir sebelum zaman internet.)

Nggak apa-apa kalo emang belum tahu, asal jangan asal komen dulu sebelum mencari tahu. Postingan di media sosial emang bisa dihapus, namun yang terlanjur screenshot dan share massal tetap bisa bikin malu. (Apalagi yang namanya nggak disensor, hehe.)

Jujur, saya sendiri juga belum baca dan nonton “Dilan 1990”, jadi nggak akan berkomentar banyak. Sama kayak yang pertama, percuma juga kalo sengit memprotes terpilihnya Iqbaal untuk berperan sebagai Minke.

Pilihan banyak. Mau nggak nonton karena terlanjur antipati atau nonton untuk cari tahu sendiri, silakan.

R.

 

“SENDIRI”

“SENDIRI”

 

Tiada yang sedih

dari arti sendiri

meski kata mereka

aku gagal mengundang cinta

 

Cinta?

Kata siapa?

Untuk apa?

Cinta sudah di sini

Ini bukan penyangkalan diri

 

Bahagia itu pilihan

abstrak dan terbuka

untuk baiknya perubahan

bukan yang digantungkan

pada hadirnya seseorang

 

Lebih baik sendiri

daripada bertahan

dengan yang senang menyakiti

demi pengakuan

mereka yang belum pasti

atau sungguh peduli…

 

R.

 

“Bukan Pertanyaan ‘KAPAN KAWIN?’ yang Jadi Masalah”

“Bukan Pertanyaan ‘KAPAN KAWIN?’ yang Jadi Masalah”

Menjelang Lebaran, pasti banyak yang udah siap-siap mudik, ya. Selain ketemu keluarga besar, main sama ponakan, makan enak (eh, awas puasanya percuma kalo baru liat opor aja udah kalap!)…apa lagi, ya? Pokoknya liburan, deh.

Cuma, yang bikin para jomblo (apalagi yang udah usia 20-an ke atas) rada males bin jiper…yaaa, itu. Tanya-tanya dari para tetua di keluarga seputar hal yang sama tiap tahun:

“Kapan kawin?”

Mungkin ada yang tahan, mungkin juga ada yang bawaannya mau kabur aja. Bahkan, nggak jarang ada yang langsung nyiapin jawaban ‘super kreatif’ – mulai dari yang masih sopan, lucu, hingga yang kasar banget macam “Situ kapan mati?” Kayak meme yang bertebaran di media sosial itu, lho.

Oke, saya nggak nyaranin kalian melakukan yang terakhir. Selain suasana Lebaran jadi tambah rusak, alamat dicap kurang ajar sama ortu. Emang sih, bukan kalian yang ngajak ribut. Tapi, siapa sih, yang nggak bosen ditanya-tanya gitu terus tiap tahun?

“Eh, siapa yang ngajak ribut? Udah bagus masih ditanyain. Itu tandanya masih dipeduliin, tauk! Situ aja yang baper dan lebay.”

Hmm, sulit juga membantah pake emosi, terutama mengingat generasi sebelumnya nganggep semua tanya-tanya itu biasa. Toh, sebelum makin banyaknya pilihan karir dan kegiatan sosial kayak sekarang, kebanyakan mikirnya hidup itu simpel aja. Lahir, sekolah, kuliah, kerja, nikah, terus punya anak, dan si anak juga diharapkan nikah setelah gede. Sekian. Wajar aja, sih.

Bahkan, ada juga yang menggunakan teori evolusi Charles Darwin sebagai alasan pertanyaan “Kapan kawin?” itu penting banget. Ingin bertahan hidup (meski mungkin maksudnya selalu diingat orang, bahkan saat udah mati sekali pun)? Ya, berketurunan. Syukur-syukur anak-anak yang dibesarkan kemudian masih ingat balas budi dengan enggak menelantarkan ortu mereka saat usia senja.

Terus, apa yang salah dan jadi masalah? Kenapa kemudian kita yang masih jomblo ini (bahkan yang sampai kepala tiga, terutama perempuan) malah dianggep lebay nan defensif karena responnya begitu negatif?

Sebenernya sih, bukan pertanyaan “Kapan kawin?” / “Kapan nikah?” yang jadi masalah. Serius, apalagi kalo kebetulan yang ditanya udah punya calon (alias pacar yang nggak cuman main-main sesaat, tapi beneran mau sampai akad dan akhir hayat). Lha, kalo belum? Siap-siap aja dikasih wejangan untuk buru-buru punya pacar (sama kayak disuruh buru-buru beli tiket kereta atau pesawat karena yang mau mudik dari tahun ke tahun pasti tambah banyak.)

Lha, kalo nggak sreg dengan usul itu? Meski nggak jawab atau cuman kasih senyuman (atau malah kasih jawaban sopan super klasik: “Doain aja”), malah tambah dikuliahin: “Udah, nggak usah terlalu milih. Ntar keburu ketuaan dan malah nggak ada yang mau milih kamu, lho.” Hebat ya, kayak peramal aja.

Apalagi kalo perempuan, yang sedihnya selalu lebih banyak dinilai dari penampilan mereka doang. Suruh kurusin badan lah, suruh dandan dikit lah, lebih feminin lah, sama entah apa lagi. Udah gitu masih juga ditambah saran-saran ‘mengerikan’ lainnya, kayak: “Jangan kepinteran, cowok nanti takut ama kamu” atau “Udaah, jangan karir mulu yang dipikirin”, hingga “Mungkin kalo kamu lebih kalem orangnya…”

Aduh, kesannya semua perempuan bergelar S2, S3, dan berkarir emang cuman mau pamer gelar, terus jadi ngerendahin laki-laki. Hare gene…

Sekali lagi, yang jadi masalah bukan pertanyaan “Kapan kawin?”, tapi reaksi mereka pas nggak mendapatkan jawaban sesuai harapan. Lha, kalo emang merasa wajar bertanya begitu, harusnya siap terima juga dong, apa pun jawaban dari lawan bicara? Kalo mereka emang belum kepikiran ke situ, mbok ya nggak usah maksa, apalagi pake nge-bully apalagi sampai nge-judge segala. Gitu…

Intinya, kalo nggak mau dapet respon lebay, bolehlah nanya “Kapan kawin?”, tapi nggak usah lebay komen yang enggak-enggak begitu jawaban mereka nggak sesuai harapan. Akur? Yuk, ah. Mending Lebaran makan ketupat sayur, daripada komen nyinyir yang bikin pengen kabur.

R.

 

 

“BERHENTI!”

“BERHENTI!”

Mungkin aku harus berhenti

menulis puisi

Benakku teracuni

Hati tersakiti

Tiada cerita lain lagi

 

Namun tangan ini

pemberontak sejati

seperti benak yang masih

bergulir meski teracuni

meski hati terkhianati

oleh kosongnya janji-janji

 

Aku masih sulit berhenti

menulis banyak puisi

mencoba meredam dendam

murka di dalam hati

mencari penawar

untuk benak yang masih teracuni…

 

…berharap bayangmu berhenti

datang dan mengganggu sekali

membuatku gila setengah mati…

 

Berhenti…

Jangan datang lagi…

Kau telah merusak cinta

menghina arti setia

dengan sekian benci…

 

Berhenti…

Jangan datang lagi…

Jangan buatku berdoa

kau sendirian sampai mati…

 

Berhenti…

Berhentilah menyakiti

dengan hadir di sini

atau bernyali untuk kembali…

 

Berhenti!

 

R.

 

“5 ALASAN ORANG NARSIS SEBENARNYA PATUT DIKASIHANI”

“5 ALASAN ORANG NARSIS SEBENARNYA PATUT DIKASIHANI”

Oke, sekali lagi, orang narsis tidak melulu ama dengan yang hobi foto-foto selfie di media sosial. Singkat cerita, ada beberapa ciri khas mereka yang berperilaku narsisistik. Mulai dari menganggap semua hal selalu berkaitan dengan mereka, paling anti disalahkan (meski bukti jelas-jelas menunjukkan mereka yang salah), hingga tega berbohong demi kelihatan sempurna.

Ciri lain: selalu haus perhatian dan pengakuan, terutama dari orang-orang yang kebetulan (masih) mereka butuhkan. Ada kalanya kita tertipu, melihat mereka sepertinya selalu tertimpa masalah dan jadi korban.

Kadang kita butuh waktu cukup lama untuk tahu. Kita baru menyadarinya saat lama-lama lelah secara fisik dan mental. Ini gara-gara relasi yang tidak seimbang. Apa-apa harus selalu maunya mereka.

Giliran Anda yang butuh, mereka berlagak nggak tahu. Bahkan, ada yang sampai kabur segala.

Pasti banyak juga saran untuk menghadapi si narsis ini (terutama yang akut). Kalo bisa, jauh-jauh, deh. Interaksi seperlunya aja.

Kalo yang narsis ini kebetulan orang terdekat? Hmm, susah juga. Bila pacar bisa tinggal diputusin, teman tinggal dijauhin, maka keluarga sendiri lebih rumit lagi.

Mungkin ada yang masih berusaha membantu si narsis ini, misalnya dengan membujuknya untuk ikut konseling. Bukan perkara mudah, mengingat mereka merasa nggak ada yang salah dengan diri mereka.

Pernah atau sering dibikin sakit hati sama tipe ini? Lima (5) alasan di bawah ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya patut dikasihani, sehingga Anda tidak perlu terlalu makan hati:

1.Mereka tidak punya empati.

Boro-boro miskin empati. Yang ada malah nggak punya sama sekali. Nggak heran, hubungan sosial mereka dengan orang lain rentan terganggu sekali, bahkan dengan keluarga sendiri. Lagipula, siapa juga yang tahan, sih?

Kerugiannya? Mungkin mereka memang lebih senang sendiri. Tapi, bukan berarti diam-diam nggak banyak yang menyumpahi. Hiii…

2.Yang betah sama mereka hanya orang-orang tertentu.

Memang ada yang lebih banyak terlihat sendirian. Kalo pun enggak, yang tahan berdekatan sama mereka – apalagi dalam jangka waktu lama – hanyalah kalangan tertentu. Silakan cek beberapa kemungkinan di bawah ini:

  • Pengikut buta / para pemuja.
  • Orang-orang yang cuek.
  • Oportunis sejati.

Buat yang oportunis, biasanya mereka juga lagi butuh sesuatu dari si narsis ini. Toh, pada kenyataannya, nggak ada yang lebih penting bagi si narsis kecuali diri sendiri.

3.Mereka akan sulit berkembang.

Mungkin si narsis ini kebetulan termasuk cerdas atau punya kelebihan lain, seperti skill dan sifat ambisius. Bahkan, mungkin saja mereka termasuk berprestasi secara akademis saat sekolah dan kuliah dulu.

Lalu, apa masalahnya? Ego tinggi dan kesombongan mereka, tentu saja. Udah merasa paling benar sendiri, enggan kompromi, dan suka merendahkan orang lain lagi.

Pada akhirnya, mereka akan sulit berkembang, baik dari segi karir maupun relasi sosial. Kalau pun dapat jabatan tinggi, biasanya belum tentu bertahan lama. Kalau pun lama, perusahaan lama-lama akan menderita karena mereka. Jadi, meski kerjaan bagus dan stabil, biasanya posisi mereka di situ-situ aja, se-ambisius apa pun mereka berusaha naik jabatan. Pihak HRD lebih jeli melihat aslinya mereka.

4.Dikelilingi teman-teman sejati? Yakin?

Sulit punya hubungan tulus dengan model begini. Mereka hanya mau menerima pengikut setia, bukan orang yang cukup kritis dan peduli untuk menjadikan mereka pribadi yang lebih baik.

5.Mereka selalu gelisah.

Jangan mudah tertipu tampilan luar mereka yang nyaris selalu tenang dan tampak sempurna. Sesungguhnya, mereka selalu gelisah.

Jangan samakan sifat ambisius dengan obsesi akan kesempurnaan. Karena ingin selalu dianggap paling baik dalam banyak hal, ada yang sampai perlu berbohong. Bohongnya juga nggak kira-kira dan kadang cerita mereka terdengar sangat luar biasa.

Kalau ketahuan? Mereka akan terpaksa menutupi kisah-kisah mereka yang nggak konsisten, terutama begitu sadar ‘korban-korban’ mereka bisa saling bertemu dan klarifikasi. Bahkan, kalau perlu sampai mencari kambing hitam segala. Kalau mau lihat contohnya, silakan tonton film semacam “The Talented Mr.Ripley”-nya Matt Damon.

Ingat-ingat saja kalo lain kali terpaksa berurusan dengan si narsis. Jadi, nggak perlu terlalu makan hati.

R.

 

Sumber:

https://science.idntimes.com/experiment/bayu/orang-narsis-gak-suka-lihat-dirinya-sendiri

https://www.alodokter.com/anda-termasuk-orang-narsis-pastikan-di-sini

https://relationship.popbela.com/single/dinalathifa/tanda-cowok-narsis

http://jatim.tribunnews.com/2017/03/20/10-ciri-orang-narsis-nomor-4-menohok-banget-termasuk-orang-narsiskah-kamu

“TIDAK CUKUP”

“TIDAK CUKUP”

Di mata mereka,

kamu tidak akan pernah cukup.

Tidak cukup baik,

tidak cukup cantik,

tidak cukup langsing,

hingga nyaris bikin sinting.

 

Bagi mereka,

kamu juga kurang populer

kalau perlu ikutan teler

bagai seleb karbitan

yang mencari perhatian.

 

Apa lagi yang kurang?

Menurut mereka,

kamu kurang berharga

masih saja sendiri di kepala tiga

Tak ada pria

Semua prestasimu dianggap percuma

 

Kadang kamu memang harus tutup telinga

karena mereka akan nyinyir selamanya

untuk menyembunyikan fakta

mereka sendiri tidak cukup bahagia…

 

Semoga mereka bukan mayoritas orang Indonesia…

 

R.

 

“REALITA MENYEBALKAN PASTI JADI CERITA”

“REALITA MENYEBALKAN PASTI JADI CERITA”

Entah apa anak-anak zaman sekarang (sori, ogah pake istilah “jaman now” yang sebenernya merusak tatanan bahasa dan nggak konsisten pula) masih menikmati cerita-cerita dongeng. Mungkin masih, mungkin enggak. Mungkin ada, meski caranya berbeda.

Intinya, cerita-cerita dengan happy ending terbukti membesarkan generasi berpikiran optimis. Berbuat baiklah, maka Anda akan mendapatkan balasan yang baik pula.

Lalu, apa jadinya bila realita ternyata menyebalkan? Nggak sesuai harapan? Contohnya banyak, apalagi di usia dewasa.

Nggak hanya kecewa saat IPK tinggi justru tidak mengantarkanmu ke karir impian. Sebaik apa pun berusaha memperlakukan sesama di lingkungan sosial (mungkin juga baik menurut banyak orang, nggak hanya keyakinan pribadi), pasti ada saja yang nggak suka dan berusaha menjegal.

Salah siapa? Diri sendiri? Belum tentu. Memang itulah hidup. Sama halnya dengan urusan karir dan percintaan.

Pada dasarnya, semua orang ingin bekerja dengan baik. Jika dulu kita dengan mudahnya memandang sosok yang dipecat sebagai satu-satunya yang bersalah, sekarang sudah tidak lagi. Banyak pertimbangan lain yang menjadi penyebab. Salah satunya adalah ‘politik kantor’.

Merasa tidak diperlakukan dengan adil? Tenang, Anda bukan satu-satunya. Ada beberapa hal yang memang masih patut diperjuangkan, ada yang tidak. Lagi-lagi, semua terserah Anda.

Bergantung pada keuletan diri dalam melihat peluang bagus adalah salah satu ciri dan cara bertahan hidup. Bolehlah banyak yang menjanjikan macam-macam. Pada kenyataannya, banyak juga yang berani dan bahkan tega melanggar kesepakatan, apa pun alasannya.

Pada akhirnya, hanya diri sendirilah yang bisa diandalkan. Kadang tidak perlu ribut, membalas dendam, atau berharap kemalangan menimpa mereka yang pernah berbuat salah pada Anda. Ini juga berlaku di urusan percintaan.

“Kenapa dia begini sih, sama aku? Memangnya aku kurang apa?”

Jangan pernah percaya dengan pakem yang terlalu menggeneralisir. Orang yang baik pasti akan selalu mendapatkan jodoh yang baik. Kalau sampai dapat yang jahat, pasti ada yang salah dengan diri Anda. Introspeksi dulu.

Kalau nggak dapet-dapet? Apalagi.

Serius, jangan terlalu percaya. Pada kenyataannya, semua manusia berproses. Ada naik, ada turun. Nggak ada yang nyaris 100% baik, kecuali malaikat.

Jangan kagum dulu dengan mereka yang sukses dan bisa punya banyak gandengan yang bisa gantian – apalagi dalam saat bersamaan. Masih banyak hal lain yang jauh lebih layak dianggap prestasi. Kalau Anda orangnya, jangan dulu berbangga hati. Apalagi bila caranya pakai bikin orang baper setengah mati. Bayangkan itu terjadi pada anak sendiri. Masih bisa maki-maki, tapi ogah berkaca sendiri?

Jangan juga terlalu benci. Bisa jadi orang yang butuh begitu banyak ‘penggemar’ sebenarnya minder sekali. Tanpa mereka, dia ibarat kehilangan pengakuan dan citra diri.

Sedih itu wajar. Marah dan sakit hati itu manusiawi. Hati-hati dengan sikap jumawa mendadak dengan komentar: “Gue kurang baik apa, sih?”

Yakin Anda beneran sebaik yang Anda kira? Silakan jawab sendiri.

Saya pernah membaca wawancara Oprah Winfrey dengan penyanyi asal Inggris, Seal, mengenai masa lalunya yang kelam. Saat menyebut sang ayah yang abusive sebagai contoh yang baik, penonton sempat shock. Buru-buru Seal mengoreksi:

“Ayah saya adalah contoh nyata mengenai yang tidak boleh dilakukan.”

Hhh, lega. Kirain apa.

Realita menyebalkan pasti jadi cerita. Bukan, bukan selalu karena kita yang bermasalah, kurang keren, atau bahkan dianggap membosankan sama orang.

Bukan juga karena kita memang pantas diperlakukan demikian. Seperti percakapan dua orang yang pernah saya dengar suatu malam:

“Denger cerita tentang kantor lo yang sering telat kasih gaji tapi nuntut macem-macem setengah mati bikin gue jadi bersyukur sekali.”

“Hah, kenapa?”

“Bikin gue jadi lebih bersyukur sama kondisi gue. Meski usaha keluarga, gue tetap dididik keras, termasuk harus mulai dari level bawah banget. Tapi, seenggaknya mereka tetap bayar gaji gue sesuai kontrak.”

Bagaimana dengan urusan cinta? Bolehlah menyesal sudah pernah pacaran dengan orang itu. Ternyata dia tidak memperlakukan Anda dengan baik.

Namun, sayangnya ada orang yang memang bebal. Jadi, percuma juga berharap dia sadar akan kesalahannya. Tunggu saja sampai dia kena sendiri ganjarannya.

Justru dengan pernah bertemu dengan orang seperti dia, Anda jadi lebih tahu untuk memilih yang lebih baik berikutnya. Bahkan, bila suatu saat menikah dan punya anak, Anda bisa mengajari mereka untuk memperlakukan orang lain lebih baik. Siapa tahu? Hitung-hitung berbagi pengalaman, dengan harapan orang lain akan:

  • Menghindari kesalahan yang sama.
  • Lebih baik dengan sesama.
  • Lebih bersyukur dengan hidup mereka, apalagi kalau kebetulan memang masih lebih baik.

R.

 

“MEMORI SYDNEY 2”

“MEMORI SYDNEY 2”

Ke sanalah aku berlari

meninggalkan sakit hati

menenangkan diri

berburu inspirasi

 

Akankah ke sana lagi?

Aku rindu jalan-jalan sepi

Aku harus kembali

semoga dengan restu Ilahi…

 

R.

 

“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

Patah hati. Pasti sudah banyak ide cerita, film, dan lagu tentangnya. Banyak juga yang jadi curhat gara-gara patah hati.

Yang berusaha menghibur, mulai dari yang hanya mendengarkan hingga memberi nasihat (yang mereka percaya sebagai proses penyembuhan)? Banyak juga. Bahkan, nggak semua bertahan lama. Kadang ada yang sampai gemas setengah mati hingga jumawa menghakimi.

“Move on aja susah amat, sih! Gue aja tiga bulan udah punya pacar lagi.”

“Kelamaan lo berdukanya. Manja amat, sih?”

Mau tahu yang paling kubenci dari patah hati? Bukan, bukan si penyebab patah hati. Tapi, bahkan patah hati saja terlalu digeneralisir.

Pertama, ini bukan hanya masalah putus sama pacar. Ada yang patah hati gara-gara cerai, ditinggal mati, hingga kehilangan hak asuh atas anak atau kematian binatang peliharaan. Tim sepak bola favorit kalah saja bisa bikin patah hati.

Panutan, kayak seleb atau politisi, bikin kecewa? Apa lagi. Korban perang yang terpaksa harus mengungsi? Luar biasa kalo nggak depresi, apalagi sampai ingin bunuh diri.

Terus, yakin penyembuhannya ama semua, cukup dengan nasihat “Move on aja”?

Kedua, ini dia yang paling kubenci. Oke, mungkin maksud mereka baik. Mereka nggak mau kita terlalu lama bersedih dan segera berbahagia lagi.

Tapi, proses tiap orang ‘kan, beda-beda lagi. Tergantung kasusnya. Bisa aja ada yang langsung move on dan segera punya pacar lagi. Perkara itu hanya rebound, beneran sayang, hingga hanya karena takut kesepian? Siapa yang tahu, sih? Ngapain buang-buang waktu berspekulasi? Mending urus diri sendiri.

Ada juga yang milih sendiri dulu. Celakanya, malah dituduh belum sembuh, sulit move on, hingga kelewat picky. Aduh, memangnya Anda siapa, sih? Yakin situ lulusan psikologi? Ada empati?

Ingin membantu orang sembuh dari patah hati? Pertama, cek dulu kapasitas diri. Nggak semua hal sama dan selalu bisa dimengerti.

Kedua, nggak yakin bisa kasih solusi? Stop menghakimi. Biar mereka menemukan obatnya sendiri.

R.

(Jakarta, 19 April 2018 – dari Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Couchsurfing Jakarta. Tema: ‘kesembuhan’.)