“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

Banyak yang bisa kau lihat dari jendela kamar hotel ini. Lantai enam cukup tinggi untuk melihat semuanya.

Gimana? Keren, sih. Cuma, andai saja aku nggak terbangun malam itu.

Waktu masih menunjukkan pukul 3:00 dini hari. Nggak sabar menunggu kegiatan kami berikutnya pukul enam. Mungkin itu yang bikin aku terbangun terlalu dini.

Aku enggan membuat teman-teman sekamar terbangun dengan menyalakan lampu, makanya aku jalan pelan-pelan di kegelapan. Untunglah ada yang membiarkan lampu kamar mandi menyala. Jadi, aku bisa menghampiri jendela tanpa khawatir menabrak barang-barang dan bikin keributan.

Kusibak tirai dan kulihat pemandangan di luar jendela. Masih gelap dan sepi banget. Kayaknya nggak ada seorang pun di luar sana. Ada sepasang lampu jalan yang masih menyala. Selain itu, nggak ada.

Mataku terpaku pada gedung hotel lain di seberang tempatku menginap. Jendela-jendela yang gelap itu mengingatkanku pada lubang-lubang – atau rongga-rongga tanpa bola mata. Teman-teman bilang aku kebanyakan nonton film-film horor.

Ada satu jendela di lantai lima yang lampunya masih menyala. Tirainya juga terbuka. Ada dua orang – laki-laki dan perempuan – berdiri di sana, saling berhadapan. Kayaknya lagi meributkan sesuatu. Sesekali mereka saling menuding sambil sama-sama melotot.

Mungkin cuma pasangan yang lagi berantem saat bulan madu, begitu tebakku. Baru saja aku mau kembali tidur, ketika tiba-tiba laki-laki itu menggenggam leher si perempuan. Perempuan malang itu langsung meronta-ronta sambil meringis kesakitan.

Laki-laki itu mencekiknya.

OH, TIDAK!

Tanpa berpikir panjang, kusambar ponselku dan menghubungi nomor darurat lokal. Untunglah, operator yang bertugas segera menjawab.

“Kayaknya saya baru saja menyaksikan pembunuhan,” bisikku, masih berdiri di samping jendela sambil menekan ponsel ke telingaku. Untunglah si operator segera menanggapiku serius, karena kulihat perempuan malang itu berhenti meronta-ronta dan akhirnya terkulai lemas, sebelum laki-laki itu melepaskannya hingga jatuh ke lantai. Kulihat laki-laki itu terengah-engah, sampai bahunya bergerak naik turun.

Setelah kuceritakan semua yang kulihat – termasuk ciri-ciri laki-laki dan perempuan itu – operator menanyakan nama dan lokasiku. Setelah kujawab, kudengar instruksinya, “Jangan ke mana-mana, Miss. Tenang. Jangan melakukan apa pun yang berisiko. Polisi akan segera tiba di sana.”

“Oke, cepatlah.” Lalu kuputuskan sambungan. Dengan gugup kuawasi jendela itu. Laki-laki itu masih di sana. Aku takut membangunkan teman-temanku.

Sekitar lima menit berikutnya, kulihat ke bawah dan sebuah mobil patroli polisi masuk ke parkiran hotel. Lalu kulihat kembali jendela di lantai lima, hanya untuk memastikan laki-laki itu belum kabur.

Dia masih di sana, memandangi korbannya. Dia tersenyum.

Lalu, sesuatu terjadi, yang sulit kupercaya dengan mataku sendiri.

Perempuan itu bangun, dengan bantuan laki-laki tadi. Keduanya berdiri sambil bertukar seringai, sementara sosok ketiga muncul dan terlihat olehku, dengan kamera terarah pada pasangan itu.

Oh, tidak. Apa yang telah kulakukan?

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *