“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

Patah hati. Pasti sudah banyak ide cerita, film, dan lagu tentangnya. Banyak juga yang jadi curhat gara-gara patah hati.

Yang berusaha menghibur, mulai dari yang hanya mendengarkan hingga memberi nasihat (yang mereka percaya sebagai proses penyembuhan)? Banyak juga. Bahkan, nggak semua bertahan lama. Kadang ada yang sampai gemas setengah mati hingga jumawa menghakimi.

“Move on aja susah amat, sih! Gue aja tiga bulan udah punya pacar lagi.”

“Kelamaan lo berdukanya. Manja amat, sih?”

Mau tahu yang paling kubenci dari patah hati? Bukan, bukan si penyebab patah hati. Tapi, bahkan patah hati saja terlalu digeneralisir.

Pertama, ini bukan hanya masalah putus sama pacar. Ada yang patah hati gara-gara cerai, ditinggal mati, hingga kehilangan hak asuh atas anak atau kematian binatang peliharaan. Tim sepak bola favorit kalah saja bisa bikin patah hati.

Panutan, kayak seleb atau politisi, bikin kecewa? Apa lagi. Korban perang yang terpaksa harus mengungsi? Luar biasa kalo nggak depresi, apalagi sampai ingin bunuh diri.

Terus, yakin penyembuhannya ama semua, cukup dengan nasihat “Move on aja”?

Kedua, ini dia yang paling kubenci. Oke, mungkin maksud mereka baik. Mereka nggak mau kita terlalu lama bersedih dan segera berbahagia lagi.

Tapi, proses tiap orang ‘kan, beda-beda lagi. Tergantung kasusnya. Bisa aja ada yang langsung move on dan segera punya pacar lagi. Perkara itu hanya rebound, beneran sayang, hingga hanya karena takut kesepian? Siapa yang tahu, sih? Ngapain buang-buang waktu berspekulasi? Mending urus diri sendiri.

Ada juga yang milih sendiri dulu. Celakanya, malah dituduh belum sembuh, sulit move on, hingga kelewat picky. Aduh, memangnya Anda siapa, sih? Yakin situ lulusan psikologi? Ada empati?

Ingin membantu orang sembuh dari patah hati? Pertama, cek dulu kapasitas diri. Nggak semua hal sama dan selalu bisa dimengerti.

Kedua, nggak yakin bisa kasih solusi? Stop menghakimi. Biar mereka menemukan obatnya sendiri.

R.

(Jakarta, 19 April 2018 – dari Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Couchsurfing Jakarta. Tema: ‘kesembuhan’.)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *