“OH, JAKARTA”

Sekembalinya aku dari liburan Sydney, aku tidak pernah sama lagi. Banyak yang telah terjadi.

Apa rasanya kembali ke Jakarta, ke semua kekacauan yang familiar? Polusi, macet, ketidakteraturan di jalan, orang-orang yang berlaku sembarangan, gundukan sampah, pelaku cat-calling yang berkeliaran bak hewan lepas (berisik dan ganggu banget soalnya)…

Mungkin ini rasanya terlalu lama berada di satu tempat yang sama. Setiap kali mendapatkan kesempatan traveling ke tempat lain (yang buatku jarang terjadi), hanya satu yang selalu kurasakan saat liburan (harus) berakhir:

Aku tidak mau pulang.

Namun, seperti biasa, akhirnya aku pulang juga. Kembali ke kamar kosku yang sempit namun nyaman, dengan AC, koneksi wifi, dan TV kabel berlangganan. Hanya sesekali aku keluar, entah untuk mencari makan, bertemu teman, hingga kerja. Oh, satu lagi: pulang ke keluarga. Satu hal yang pasti, aku tidak mau dituduh tidak sayang atau mulai lupa sama mereka hanya gara-gara jarang berkunjung.

Hhh, kadang mereka enggan mengerti, ada batas tipis antara peduli dengan menghakimi. Meskipun Mama sudah lama mengerti dengan pilihanku, tidak berarti seluruh dunia harus setuju. Semesta masih menunjukkan warna-warni untukku, lebih beragam dari lampu-lampu dari sekitar Jakarta.

“Kadang elo emang harus belajar diam dan cuek sama mereka,” kata Wina, sahabatku di Sydney. Sudah sembilan tahun dia tinggal di sana bersama suaminya, Ant. “Tapi nggak enaknya, di sini kalo enggak biasa ama sepi elo bisa garing juga, Ri. Jam lima toko-toko udah banyak yang tutup. Nggak banyak temen-temen yang beneran bisa lo andelin di sini.”

Ya, bisa dibilang berbeda dengan Jakarta. Lebih dari tiga dekade aku hidup di sini. Aku menjadi saksi hidup geliat perkembangan (dan kemunduran) ibukota negeri ini. Mulai dari semakin banyaknya mal dan hotel, penggusuran paksa pemukiman rumah penduduk (rata-rata secara kasar atau sabotase berupa pembakaran yang disengaja), dan kursi politik yang kerap jadi rebutan.

Saat baru pulang, Mama seperti bisa melihat sesuatu di wajahku. Bahkan, sebelum aku berani menyebut yang sudah kudiskusikan dengan Wina, Ant, dan Toby (sahabatku yang satu lagi di sana), mendadak Mama menyahut:

“Kamu kalo mau coba aja apply pekerjaan di sana. Siapa tahu…”

Yeah, siapa tahu…

— // —

Semula aku sempat tidak (mau) terlalu memikirkannya. Takut kecewa bila tidak kesampaian. Jadi, untuk beberapa saat, aku hanya kirim CV ke pekerjaan menulis apa pun yang bisa kukirimkan. Bahkan, meski tidak pernah jadi mahasiswa teladan, kucoba juga berburu beasiswa ke sana. Short course tiga – enam bulan pun juga tidak masalah.

Hidup memang lucu. Kadang Tuhan mengujimu dengan cara yang tak pernah kau duga.

Saat Adam mengajakku menikah dan berhasil meraih restu keluargaku, aku tidak menolak. Namun, saat Adam mendapat kabar bahwa pekerjaan barunya mengharuskan dia berada di Sydney, perutku mendadak mulas setengah mati. Antara bahagia…dan sedih.

Bahagia, karena petualangan baru yang kunanti-nantikan akhirnya terkabul. Aku juga akan bertemu Wina, Ant, dan Toby lagi. Menjelajahi Sydney dan sekitarnya. Belajar budaya dan kebiasaan di sana…

Namun, aku juga akan merindukan Jakarta. Bukan, bukan polusi, macet, ketidakteraturan di jalan, orang-orang yang berlaku sembarangan, gundukan sampah, pelaku cat-calling yang berkeliaran bak hewan lepas, dan mal-mal yang tinggi menyesakkan.

Tidak ada lagi jalan-jalan sama Mama, memeluk para keponakan, makan sate ayam di pinggir jalan, datang ke perkumpulan puisi, dan…ah, masih banyak lagi.

Oh, Jakarta. Ternyata jeratmu masih kuat juga…

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *