“TRAGEDI JENAZAH DI DALAM MOBIL TETANGGA”

“TRAGEDI JENAZAH DI DALAM MOBIL TETANGGA”

Ini bukan cerita horor maupun kasus pembunuhan, meskipun judulnya mungkin lumayan bikin Anda bergidik. Ini hanyalah satu dari sekian banyak kejadian tragis akibat minimnya pemahaman maupun penanganan masalah kesehatan mental.

Saya mendengar cerita ini dari Ibu saat pulang ke rumah liburan Lebaran kemarin:

Salah satu tetangga ada yang punya anggota keluarga dengan kebutuhan sangat khusus. Sebut saja A. Lelaki berusia di atas 40 tahun ini tidak hanya tuna rungu (tuli) dan tuna wicara (bisu), namun juga menderita gangguan mental. A tidak bekerja dan diurus oleh kedua kakaknya. Karena merasa malu dengan kondisinya, A sangat jarang keluar rumah.

Kedua kakak A sama-sama bekerja, bahkan kadang hingga larut malam. Seorang tetangga lain sering datang suka rela untuk memberi A makan sebelum pulang lagi sorenya.

Satu malam, kedua kakak sama-sama terkena lemburan dan belum pulang. Satu-dua tetangga sekilas melihat A keluar rumah sendirian, namun tidak begitu memperhatikan.

Keesokan harinya, kedua kakak A yang pulang larut malam dan langsung tidur tanpa mengecek kamar adiknya panik. Setiap tetangga yang ditanyai mengenai keberadaan A hanya menggeleng. Tidak ada yang tahu.

Barulah, sorenya terjadi kehebohan. Seorang tetangga lain, sebut saja B, hendak menyalakan mobilnya. Saat membenarkan kaca spion tengah, B melihatnya dan menjerit kaget.

A ditemukan telah tak bernyawa…di bangku belakang mobilnya. Mulutnya menganga dan kemejanya terbuka.

Rekonstruksi TKP

Polisi pun dihubungi dan sekompleks heboh. Sesuai rekonstruksi TKP (Tempat Kejadian Perkara), kejadiannya kira-kira begini:

Malam itu A gelisah. Entah apa yang membuatnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil B yang kebetulan diparkir di luar pagar rumah pemiliknya. Pintunya juga tidak terkunci.

Menurut kesaksian B, pukul satu pagi dia terbangun. Khawatir lupa mengunci pintu mobilnya, B memencet tombol kunci elektronik dari balik jendela rumahnya. Klik. Setelah itu, B kembali tertidur.

Paginya, B mengajak anaknya pergi. Karena sang anak sedang malas, akhirnya B memilih naik sepeda motornya ke pasar seorang diri. Barulah sorenya B memutuskan untuk menggunakan mobil. Namun, bau bangkai yang tercium membuatnya was-was.

“Jangan-jangan kaleng berisi cacing untuk umpan ikan tertinggal di mobil,” pikir B, yang kebetulan juga punya hobi memancing ikan. Di situlah B kemudian menemukan jenazah A. Sepertinya, A tewas karena kehabisan napas sekaligus kepanasan setelah 12 jam terkurung di dalam mobil. Setengah hari! Selain panik, mungkin A tidak tahu cara membuka kunci mobil dan tidak bisa berteriak minta tolong…terutama di malam yang sepi.

Merasa kasihan dengan keluarga A, B akhirnya membantu membayar biaya pemakaman dan memberi santunan. Setelah itu, B bahkan langsung memutuskan untuk menjual mobilnya sekalian. Alasannya?

“Saya trauma.”

R.

 

6 Replies to ““TRAGEDI JENAZAH DI DALAM MOBIL TETANGGA””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *