“YANG SUKA TERLUPAKAN DI ERA MEDIA SOSIAL”

“YANG SUKA TERLUPAKAN DI ERA MEDIA SOSIAL”

Ada dua contoh kasus nyata. Setelah membaca tulisan saya di Facebook mengenai perjalanan saya ke Sydney kemarin, seorang sahabat menegur kesalahan saya. Lewat japri (jalur pribadi) di WA, dia menulis:

“Beberapa nama restonya ada yang salah.”  Lalu dia langsung mengurutkan nama-nama yang harus segera saya ganti.

Apakah saya merasa malu, tersinggung, atau marah? Ya, enggaklah. Selain memang benar harus dikoreksi, cara menegurnya juga masih sopan. Baik-baik, tidak merendahkan, dan tidak di depan orang-orang.

Ini yang suka terlupakan di era media sosial. Saat semuanya serba mudah, kita suka kebablasan. Asal pasang status, komen, hingga buntutnya berantem.

Padahal, di setiap platform media sosial, ada yang namanya japri alias fitur messenger atau DM (Direct Message). Tinggal dipake buat yang masih cukup sadar untuk nggak berusaha mempermalukan sesamanya, meskipun mungkin menurut mereka memang salah.

Namun, ada juga yang mendebat dengan alasan klise:

“Suka-suka gue dong, mau nulis / komen apa.”

“Kita nggak bisa ngendaliin reaksi orang atas postingan kita.”

“Orang yang nggak siap dikritik di depan umum itu cengeng. Nggak beda sama yang maksa UU anti kritik itu disahkan!”

Ups, yang terakhir kayaknya agak nyerempet-nyerempet…ah, sudahlah.

Untuk komen pertama dan kedua, saya setuju. Sebagai manusia berakal dan tahu cara pakai media sosial, harusnya kita memang sama-sama sadar bahwa manusia itu beragam.

Untuk yang ketiga? Saya kurang setuju. Selain kasar dan subjektif, ada beberapa pertimbangan lain hal tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan:

  1. Kayak yang udah disebutin tadi, pake fitur japri juga gampang, kok. Sama gampangnya dengan langsung klik buat komen biasa. Bedanya cuma pesan itu khusus untuk orang yang ditujukan, bukan sejuta umat. Ya, nggak?
  2. Gak mau di-bully di depan umum? Ya, jangan lakukan yang sama ke orang lain. Jangan juga pake standar ganda. Buat Anda, itu hanya kasih pendapat, meski caranya kasar ngalahin preman pasar. Siapa juga sih, orang waras beradab yang tahan? Giliran kebalik, Anda malah merasa dihakimi. Lha, piye?
  3. Ingat HRD. Zaman sekarang, perusahaan nggak hanya ngandelin CV. Mereka juga mengecek riwayat media sosial calon karyawan. Meskipun Anda bukan tukang curhat, melihat cara Anda berdebat dengan orang kayak abis makan bon cabe level 10, yang baca apa nggak ngeri? Daripada kantor tambah drama, mending nggak usah ambil risiko hire orang yang berpotensi selalu jadi petasan cabe.

Semua orang memang bebas menggunakan media sosial sesuai keinginan masing-masing. Ya, asal siap bertanggung jawab aja dengan pilihannya sendiri.

 

R.

 

4 Replies to ““YANG SUKA TERLUPAKAN DI ERA MEDIA SOSIAL””

  1. Jaman sekarang memang jempol lebih lincah daripada otak. Ironis memang, tapi itulah fenomena yang ada sekarang.

    Mungkin karena tuntunannya pun seperti itu. Exposure dari berbagai media seolah ‘membenarkan’ dan ‘mendukung’ budaya impulsif ini.

    Saya setuju, dengan penggunaan fitur DM dalam memberikan feedback, terutama yang sifatnya koreksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *