Sesungguhnya saya teramat muak dan geram, karena lagi-lagi (harus) menulis tentang perselingkuhan. Namun, karena masih ada saja yang menumpahkan seluruh kesalahan perselingkuhan pada satu pihak saja – dalam hal ini si perempuan lain yang kerap langsung dicap sebagai ‘pelakor’  (perebut laki orang), baiknya saya kasih dua contoh berlawanan, deh. Biar apa? Nggak ada yang salah kaprah lagi meski gampang emosi.

Contoh ‘Pelakor’:

Ada yang udah pernah nonton film “The Greatest Showman”? Kalo belum, maaf ini jadi spoiler.

Penyanyi Swedia bernama Jenny Lind bersuara bening dan menarik minat P.T.Barnum, seorang pengusaha sirkus. Barnum menawarkan kerjasama dengan Lind. Keduanya sempat melakukan banyak tur bersama. Saat itu, Barnum sudah beristri dan punya dua anak perempuan yang selalu menunggunya di rumah.

Meskipun terinspirasi dari kisah nyata, dalam film ini, Jenny Lind digambarkan menaruh hati pada P.T. Barnum, meskipun sudah pernah dikenalkan pada istri dan anak-anaknya. Rupanya penyanyi ini menyalahartikan kedekatan mereka selama ini dan perhatian Barnum padanya.

Singkat cerita, Barnum menolak dan Lind pun sakit hati. Kerja sama mereka berakhir di tengah kontrak. Meskipun Barnum menolak rayuan Lind, intinya adalah Jenny Lind termasuk contoh jelas yang bisa kita sebut sebagai pelakor.

Lalu, bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang sebenarnya tukang selingkuh yang beneran minta di-dor?

Ngakunya Begini, Padahal Begitu

“Cowok kayak gini tuh, emang culas. Makanya jadi cewek jangan bego, gampang kemakan rayuan cowok. Harus pake otak!”

Jujur, saya sudah teramat muak dengan kebiasaan buruk masyarakat patriarki yang selalu lebih mudah nyalahin perempuan, tapi kelakuan bejad laki-laki dimaklumi saja. Bahkan, yang sering terjadi jauh lebih menyedihkan lagi. Mereka lebih suka mendengarkan salah satu pihak saja (dalam hal hal ini laki-laki hidung belang nan pengecut dan pendukung mereka) dan enggan mendengarkan pembelaan perempuan lain yang sudah tertipu dengan ulah mereka. Pokoknya, perempuan lain udah pasti fixed seorang pelakor. Habis perkara!

Contohnya udah kelewatan banget banyaknya. Mulai dari kekasih yang sok misterius (enggak mau dikenalin ke keluarga dan teman-teman si perempuan), hingga yang kelihatan baik di depan padahal diam-diam menelantarkan istri sebelumnya.

Jangan heran kalo pas pacar atau istri sah muncul dan melabrak perempuan lain yang ‘dasar kena sial’ ini, si laki-laki malah buang badan dan kabur begitu saja. Mana si perempuan lain tahunya doi masih single, makanya bengong pas dimaki-maki perempuan lain.

Ada juga yang pengecut banget dengan langsung bilang bahwa mereka tak berdaya karena terlanjur tergoda. (Idih!) Tinggal fitnah aja, bilang si perempuan lain yang ngejar-ngejar duluan. Padahal, sebenarnya dia juga yang kegatelan.

Mungkin yang dengan gampangnya nuduh perempuan lain sebagai ‘pelakor’ enggan mengakui bahwa pacar atau suami mereka sendiri yang bermasalah. Mungkin juga mereka nggak pernah ngalamin jadi pihak yang udah pernah ditipu mentah-mentah sama laki-laki hidung belang, terus masih disalahin juga karena nggak tahu? Padahal, bisa jadi mereka itu udah hati-hati banget, lho!

Semoga dua contoh di atas membantu mengenali yang mana beneran ‘pelakor’ dengan yang korban lelaki hidung belang. Sesungguhnya, tidak ada yang jauh lebih hina dan menyakitkan daripada dituduh sesama perempuan mencoba merebut kekasih mereka, – padahal laki-laki itu juga yang cari gara-gara, tebar pesona ke mana-mana…

R.

 

2 thoughts on “Beda Pelakor Dengan Korban Lelaki Hidung Belang

  1. iya sih , memang selalu yang jd kambing hitamnya perempuan ya. dan laki2 enak saja melenggang kangkung. Kadang suka sebel lihat laki2 yg suka tebar pesona pdhl sdh beristri atau punya kekasih

    1. Percaya deh, perempuan yang kena tipu laki-laki hidung belang udah merasa gak enak. Mana mereka tahu? Celakanya, banyak yang enggan mendengar suara mereka, belum apa-apa udah main hujat duluan. Padahal, bisa jadi mereka-nya memang nggak tahu apa-apa. Baik laki-laki hidung belang maupun yang menghujat korbannya nggak sadar kalau ini juga bisa menimpa putri/saudari/sahabat perempuan yang mereka kenal. Emang rela? Saya mah, ogah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *