Keuntungan Bermain dengan Anak-anak

Awalnya, tulisan ini mau saya posting pas Hari Anak Nasional (25 Juli 2018) kemarin. Dasar lagi banyak kerjaan, akhirnya malah telat. Namun karena sayang, saya putuskan untuk mempersembahkan tulisan ini untuk kawan-kawan yang gemar bermain dengan anak-anak, terutama yang masih kecil-kecil.

Di luar pengaruh kehadiran gawai yang berpotensi mengganggu kedekatan antar manusia, saya setuju banget dengan kelima (5) keuntungan bermain dengan anak-anak di bawah ini:

  1. Bisa istirahat sejenak dari kerumitan dunia orang dewasa.

Masih ingat enaknya masa kecil? Semoga penuh kebahagiaan, ya. Biasanya sih, masa kanak-kanak itu adalah masa paling banyak bermain. Main apa aja, meskipun pas sekolah disuruh belajar juga.

  1. Anak kecil lebih jujur dan terbuka.

Sebelum keburu dibungkam oleh otoritas orang dewasa dan dikendalikan norma-norma (meski mereka memang tetap harus belajar sopan santun, sih), anak kecil lebih jujur dan terbuka. Kecuali lagi bermain peran (roleplaying game), mereka lebih suka apa adanya.

Kalau suka, mereka akan bilang. Kalau enggak, mereka enggak akan diam. Dari mereka, kita bisa belajar bahwa kadang menolak permintaan orang – apalagi yang enggak banget – adalah hak kita. Tentu saja, dengan cara yang lebih sopan dan alasan yang masuk akal. Bukan sekadar nggak suka alias sentimen belaka.

  1. Anak kecil lebih banyak tertawa.

Ada sebuah penelitian di tahun ’90-an yang pernah membandingkan frekuensi tertawa seorang anak dengan orang dewasa dalam hari. Hasilnya benar-benar njomplang dan bikin miris. Bila anak kecil bisa tertawa sebanyak 300 kali sehari, maka orang dewasa hanya bisa…17 kali. Serius. Sedih, ya?

Inilah serunya bermain dengan anak-anak. Mereka lebih lepas dan mudah menemukan hal-hal yang mereka anggap lucu, meski yang paling remeh sekali pun. Yang pasti, yang mereka tertawakan bukan dengan maksud mengejek atau menjatuhkan orang lain.

Ya, beda banget sama orang dewasa.

  1. Anak-anak biasanya pemimpi sejati dan lebih kreatif.

Kalau yang ini udah nggak terbantahkan lagi. Benak dan jiwa mereka masih murni. Daya khayal pun masih sangat tinggi. Ide-ide di kepala mereka masih mengalir segar, meski kerap liar.

Realita telah jauh mengubah hidup manusia saat dewasa. Banyak ide gila yang buntutnya hanya mandek di kepala. Apalagi alasannya kalau bukan khawatir duluan, takut nggak akan bisa terwujud.

Ayo, saatnya mulai bermimpi lagi dan lebih berani mewujudkannya. Belum terlalu tua, kok.

  1. Anak kecil lebih mudah memaafkan.

Pernah melihat dua orang anak kecil berantem, terus nggak lama kemudian akur lagi? Menakjubkan, ya? Lagi-lagi ini karena jiwa mereka yang masih polos dan murni. Beda banget sama orang dewasa yang udah lebih gampang mendendam dan sakit hati.

 

Makanya, jangan heran bila teman saya lebih suka bermain dengan anak kecil ketimbang bergosip nggak jelas dengan sesama orang dewasa. Bagaimana dengan Anda?

R.

Gambar: https://unsplash.com/photos/tvc5imO5pXk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *