5 Alasan Saya Muak Bahas Politik

#2019CariGajiDolar

 

Yang di atas target pribadi saya. Boleh ditanggapi serius atau hanya bercanda. Yang pasti, ini lima (5) alasan saya nggak sudi lagi membahas politik:

 

  1. Pilihan saya adalah urusan pribadi.

Ini alasan paling utama, yang sebenernya dari dulu udah harus saya usung. Belajar dari banyak pengalaman nggak enak (nggak perlu dari diri sendiri juga, kok!), kali ini saya lebih memilih diam saja. Ngapain ikutan berisik?

Yang lain mau cerita soal pilihan mereka sambil berkoar-koar, terserah. Saya mah, nggak mau ikutan.

“Elo cari aman, ya?”

Enggak juga. Saya hanya mau cari damai. Terus kenapa? Situ masalah?

 

  1. Masih banyak topik lain yang tidak kalah menarik.

Okelah, ini memang musim kampanye sebelum Pilpres (Pemilihan Presiden) tahun 2019 nanti. Hitung-hitung pemanasan. (Melihat kelakuan bangsa kita akhir-akhir ini, kayaknya tahun depan bakalan banyak yang ‘gosong’, karena sekarang aja udah banyak yang panasan banget!)

Semua orang pasti punya pilihan sendiri-sendiri. Jagoan andalan mereka bela-bela, kalo perlu sampai mati-matian (dan kayaknya juga nggak bakalan sampai mati. Wong yang kemaren janji bunuh diri bila jawara mereka nggak kepilih sekarang ternyata masih hidup.)

Meskipun nggak ampe drastis milih topik yang cetek-cetek amat juga (kayak…yah, ngurusin urusan pribadi orang lain seperti yang udah banyak banget dilakukan sesama di sini), saya malas pusing. Mengamati perkembangan politik dalam diam sih, masih. Cuma, nggak perlu semuanya harus diumbar ke sana kemari juga, kali.

  1. Muak dengan galeri sindiran dan nyinyiran seputar politik di media sosial.

Sekali lagi, saya sadar saya nggak bisa mengontrol seluruh dunia. (Nggak mau juga, kali. Capek!) Daripada bete karena terlalu banyak model beginian, mending nggak usah ikutan. Tambah rame ntar jadinya.

Kenapa sih, makin banyak yang doyan drama? Segitu butuhnya sama banyak penonton, ya? Bahkan, kalo memang tidak suka, tinggal unfollow. Nggak usah bilang-bilang ke semua orang juga bila ingin melakukannya. Tinggal klik. Toh, mereka juga belum tentu peduli dengan peringatan semacam itu atau ancaman.

  1. Nggak semua orang mampu bersikap dewasa dalam menerima dan menanggapi perbedaan.

Nggak peduli umur, kadang semuanya sama saja. Mulut bisa balapan brengsek saling serang lawan bicara, hanya gara-gara pendapat beda dan jadi nggak suka. Begitu pula dengan lincahnya jari-jari mereka saat bikin status sindiran di media sosial.

Jujur, lama-lama saya ingin muntah.

  1. Manusia hatinya mudah berubah.

Saya sampai iseng bikin pepatah sendiri soal politik:

“Bila politik mau disamakan dengan pernikahan, potensi selingkuh sangat banyak.”

Saya nyinyir? Biarin. Namanya juga kenyataan. Bila nggak suka, itu bukan masalah saya.

Manusia mudah berubah hatinya. Udah pada tahu, ‘kan? Kita sendiri saja juga berpotensi sama. Gimana mereka yang mencalonkan diri jadi pemimpin negara? Janji manis di awal, setelah kepilih bisa lupa (atau pura-pura?)

Udah, ya. Saya nggak mau ikut ngebahas politik lagi. Capek.

 

“Jadi nanti milih siapa?”

Astaga. Barusana saya bilang apa?

R.

 

7 thoughts on “5 Alasan Saya Muak Bahas Politik

  1. SETUJU! Politik ini jadi isu yg sensitif sekali. Apalagi sekarang orang2 susah banget mengontrol jempolnya. Dulu pernah sampai nge-unfriend teman masa kecil gara2 pemilihan katanya nggak manusiawi. Aku bisa menghargai perbedaan asal nggak melewati batas. Aku report juga kalau nggak salah postingan dia itu.

  2. Yap, betul. Karena sesuai poin 5, manusia hatinya mudah berubah. Bisa aja yang kita pilih karena peduli ama isu-isu yang kita anggap penting buntutnya berpaling hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *