Keluhan Setelah Ucapan Selamat

“Selamat ya, kamu akhirnya dapet beasiswa ke *******.”

“Makasih.”

“Kamu beruntung ya, pinter. Beda dengan otakku yang pas-pasan…”

“……….”

-***-

“Waaah, elo dapet karir impian? Congrats!”

“Thanks.”

“Enak banget jadi lo. Gue merasa karir gue begini-begini aja. Nggak maju-maju. Mandek.”

“……….”

-***-

“Pacar baru, nih? Ganteng, deh. Bikin sirik.”

“Ah, nggak sampe segitunya juga kali. Biasa aja.”

“Serius. Ganteng banget. Gue kalo secantik elo mungkin juga bakalan dapet yang sama.”

“……”

 

Tiga contoh percakapan di atas pasti terasa familiar. Pernah kayak gitu? Yang mana Anda?

Bagi yang nggak terlalu mikirin (atau mungkin malah udah nggak peduli), ini mungkin hanya dianggap basa-basi. Namun, nggak jarang banyak yang malah keganggu banget dengan komentar tambahan yang demikian.

Pernah dengar pendapat seperti ini?

“Orang Indonesia susah banget nerima pujian dengan anggun, terutama perempuan, tanpa jatuh merendahkan diri.”

Contohnya seperti ini:

“Kamu hari ini cantik, deh.”

“Makasih, padahal aku nggak dandan, lho. Rasanya biasa aja.”

Tuh, ‘kan? Kenapa sih, nggak ngucapin terima kasih aja lalu udah? Beda lho, rendah hati dengan (me)rendah(kan) diri.

Ini juga berlaku buat yang hobi nambah-nambahin keluhan seputar diri sendiri setelah mengucapkan selamat atas kesuksesan orang lain. Entah itu keluarga, kawan, dan entah siapa lagi.

Barangkali, niat Anda hanya basa-basi. Mungkin maksudnya ingin merendah, namun jatuhnya malah makin ‘ganggu’. Banget. Serius. Selain terdengar mengasihani diri sendiri, ada kesan iri yang terpendam dengan kebahagiaan dan kesuksesan mereka yang Anda beri selamat.

Memang, semua yang serba ‘terlalu’ itu kurang baik. Terlalu bahagia, terlalu sedih, maupun terlalu minta dikasihani itu bikin Anda kelihatan nggak elegan.

Memang, semua orang pasti punya masalah. Namun, tidak perlulah melampiaskan kekesalan ke semua orang, apalagi yang tidak tahu apa-apa maupun yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah Anda. Nggak elok dan nggak adil juga, ‘kan?

Mengapa kita harus merusak kebahagiaan orang lain, hanya karena kita sedang sedih atau bermasalah? Padahal, tinggal bilang “selamat” dan selesai sudah. Nggak susah.

R.

 

2 thoughts on “Keluhan Setelah Ucapan Selamat

    1. Hmm, menulis ini juga berasal dari curhatan beberapa orang yang terlihat di media sosial. Sekilas mungkin terdengar seperti basa-basi. Lama-lama orang jadi nggak enak juga, meski niatnya hanya berbagi kebahagiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *