Surat Terbuka untuk yang Suka Merongrong Perempuan Soal Kapan Mereka Harus Menikah

Sebenarnya, saya lelah harus membahas soal ini lagi. Rasanya nggak kelar-kelar. Selain bisa merusak relasi dengan sesama (terutama keluarga dan teman), terlalu sering merongrong perempuan soal kapan mereka akan menikah justru berpotensi ‘membunuh’ rasa percaya diri mereka.

Saya baperan? Tunggu dulu. Baca tulisan ini sampai selesai sebelum menuduh macam-macam.

Awal tahun 2000-an ditandai dengan perlawanan keras dari mereka yang mulai jengah keseringan ditanya soal kapan mereka akan menikah. Nggak hanya saat silaturahmi Lebaran, arisan keluarga juga bikin mereka lelah. Alasannya beragam, mulai dari bosan, malas, hingga merasa urusan pribadi mereka terlalu diatur-atur dan dihakimi.

Ada juga sih, yang sebenarnya nggak keberatan dengan pertanyaan “Kapan nikah?” Jawaban paling aman mereka yang masih lajang paling hanya: “Mohon doanya.” Sayang sekali, jawaban diplomatis ini kadang dianggap nggak cukup untuk menghentikan rongrongan ini.

“Sebenarnya bukan pertanyaan kapan nikah yang jadi masalah,” aku seorang teman. “Yang nyebelin, pas udah dijawab dengan mohon doanya, mereka masih belum puas juga. Kalo nggak mulai menceramahi panjang lebar, sering ‘cacat’ atau kekurangan kami seperti sengaja dicari-cari sebagai alasan belum berjodoh.”

Oh, I feel you, sis. Apalagi, pihak yang dituduh ‘terlalu usil’ dan pendukungnya sekarang malah balas tersinggung. Menurut mereka, yang mereka tanyakan itu selama ini sudah dianggap wajar di Indonesia. Kenapa sekarang malah jadi masalah?

“Lagipula, bersyukurlah masih ada yang memperhatikan,” begitu alasan mereka. “Nggak usah baperan, lah. Biasa aja.”

Duh, ternyata susah ya, membuat mereka mengerti bahayanya terlalu sering merongrong putri/saudari/sahabat perempuan Anda dengan pertanyaan “Kapan nikah?” dan komentar nyinyir yang kerap menyertainya. Nih, saya kasih beberapa contohnya:

  1. Kesannya ingin mendahului Tuhan dan jadi arogan.

“Nanti kamu keburu perawan tua. Udah susah laku, susah punya anak pula.”

“Memangnya kamu mau nanti pas udah tua, anakmu masih kecil-kecil?”

“Si A umur segini anaknya udah tiga. Kamu kapan?”

“Hidupmu belum lengkap dan ada artinya tanpa menikah, apalagi kalau kamu perempuan.”

Hati-hati bicara seperti itu sama yang masih melajang, terutama meski kalian sudah duluan menikah dan punya anak. Ada kesan kalian seperti lebih tahu dari Tuhan dan arogan. Ayo, nggak usah gantian baperan. Bisa kok, bersyukur akan rezeki masing-masing tanpa harus saling merendahkan.

Saya sedih mendengar perempuan masih saja disamakan dengan barang dagangan, terutama dengan istilah “laku-nggak laku” yang masih saja digunakan. Makin sedih pas melihat yang paling getol nyinyir itu justru sesama perempuan. Sepertinya mereka lupa, sebelum akhirnya menikah dan punya anak, dulu mereka juga di posisi yang sama dan pasti nggak nyaman diperlakukan demikian. Mana empatinya?

Selain itu, banyak yang berasumsi bahwa begitu menikah, semua perempuan bisa langsung hamil seketika. Ada yang harus mencoba dalam waktu lama, sebelum akhirnya berhasil punya anak. Ada yang belum, bahkan meski sudah menikah muda. Bisa jadi karena masalah kesehatan, bukan kurang usaha seperti yang kerap kali mudah dituduhkan.

  1. Bikin orang jadi sering mengeluh dan kurang merasa bersyukur.

Mungkin yang hobi merongrong dengan pertanyaan “Kapan nikah?” enggan bertanggung jawab atau seakan menutup mata terhadap akibat ini. Padahal, ulah mereka justru berpotensi bikin orang yang tadinya nggak apa-apa jadi merasa ada masalah. Yang tadinya berbahagia (dan pastinya tambah kelihatan cantik dong, ya) jadi bermuram durja dan kurang bersyukur sama hidup mereka.

Masih nggak percaya juga? Contohnya udah banyak banget, kok. Ada yang senantiasa mengeluhkan tubuhnya yang kurang kurus, hanya gara-gara berat badannya dijadikan ‘kambing hitam’ susahnya dia berjodoh (dan sekarang dijadikan tolak ukur keimanan lagi). Padahal, tubuh mereka masih termasuk sehat, apalagi bila rajin berolahraga.

Ada yang kesepian dan mengurung diri di kamar setiap Malam Minggu, karena malu dengan teman-temannya yang nggak jomblo. Padahal, sosialisasi dan traveling justru bisa membantu mereka menemukan jodoh.

Ada yang jadi merasa percuma sukses di karir, bila masih dianggap kurang sempurna hanya gara-gara belum menikah dan punya anak. Padahal, mereka juga membantu perekonomian keluarga, seperti merawat orang tua yang sedang sakit dan menyekolahkan adik-adik yang masih kecil. Kata siapa jomblo nggak berguna?

  1. Berpotensi bikin perempuan jadi ‘pelakor’ (perebut laki orang) maupun rentan jadi korban lelaki hidung belang.

Karena sering dianggap bahwa tanpa pasangan mereka nggak cukup baik, rasa iri perlahan mengendap. Hasilnya bisa kita lihat sendiri.

Ada yang lantas gelap mata dan jadi pelakor. Ada juga yang karena putus asa jadi mudah percaya sama rayuan gombal lelaki hidung belang. Bahkan, meskipun tahu pada akhirnya, tetap ada yang memilih ‘menutup mata’ terhadap kelakuan lelaki itu. Di benak mereka yang sudah terlanjur diracuni, yang penting ada pasangan.

Okelah kalau kalian masih merasa berhak bertanya mengenai kapan seseorang akan menikah. Tapi, coba kurangi komentar miring yang sama sekali nggak perlu, entah itu soal berat badan mereka atau semacamnya. Cukup doakan saja. Lagipula, sudah lupa kalau jodoh itu urusan Tuhan?

R.

 

2 thoughts on “Surat Terbuka Untuk Yang Suka Merongrong Perempuan Soal Kapan Mereka Harus Menikah

  1. Kadang2, pgn rasanya nabokin mulut2 ga sopan yg ga punya hati itu.. 🙁 . Apalagi kalp pake acara ceramah panjang lebar setelahnya.. Moga2 aja ga turun ke anak2nya. Jd susah nikah.. Hihhhh, uuh kan, aku jd nyumpahin saking sebelnya :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *