“Budak Statistik Sosial: Tentang Persepsi, Generalisasi, dan Stigmatisasi”

Statistik ada karena penelitian. Statistik dibuat oleh manusia. Mereka ada untuk mengidentifikasi masalah, menemukan solusi, dan menemukan fakta atau temuan ilmiah dan sosial.

Sebagai contoh: di Indonesia, lebih banyak mahasiswa di fakultas teknik, sedangkan mahasiswi sebagian besar di fakultas sastra. Kebanyakan perempuan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbelanja, sementara laki-laki hanya membeli yang mereka butuhkan.

Baik secara langsung atau tidak, statistik sosial seperti ini membentuk persepsi kita. Salah satunya termasuk lebih mudah percaya dengan suara mayoritas.

 

Generalisasi

Lalu apa yang membuat seseorang menjadi budak statistik sosial? Pertama-tama, tidak ada yang salah dengan meyakini statistik. Statistik tidak berbohong. Anggap saja sebagai petunjuk ketika Anda menghadapi subjek yang sama di lain waktu.

Sayangnya, beberapa orang cenderung menjadi budak statistik sosial. Salah satu gejalanya adalah betapa mudah bagi mereka untuk menyamaratakan semuanya.

Misalnya: Saya secara pribadi malu untuk mengakui bahwa ya, orang Indonesia telah dikenal sebagai ‘jam karet’. Mintalah mereka ketemuan pukul tujuh dan mereka mungkin akan muncul setidaknya 30 menit kemudian. Yang terburuk mungkin mereka yang datang dengan permintaan maaf ‘ala kadarnya’ atau tidak sama sekali. Hanya cengar-cengir tanda senewen.

Tidak heran ada yang kagum ketika saya datang tepat waktu atau lebih awal. Masih ada lebih banyak lagi.

Banyak yang agak kaget begitu tahu saya tidak suka memakai make-up dan belanja. Jika ingin melihat saya lebih ‘dandan’, tunggu saja sampai saya datang ke pernikahan. Saya juga hanya berbelanja sesuai kebutuhan. Rasanya percuma bicara ketika komentar paling umum yang saya dapatkan adalah:

“Kamu orang Indonesia yang aneh.”

“Elo aneh. Bukankah perempuan biasanya … “

Tuh, ‘kan?

 

Stigmatisasi

Apa yang salah dengan generalisasi? Tidak ada. Namanya juga reaksi manusia normal. Karena mengandalkan statistik dan yang biasanya kita lihat setiap hari, kita cenderung merasa lebih aman dengan cara itu. Setidaknya kita tahu sesuatu yang umum tentang orang berjenis kelamin ini atau ras itu, hewan dari spesies tertentu, produk yang terbuat dari bahan-bahan ini-itu, dan sebagainya.

Merasa kaget dan agak terkejut ketika tahu bahwa beberapa dari mereka mungkin sedikit berbeda juga normal. Berikut contoh lain berdasarkan pengalaman pribadi saya:

Beberapa lelaki Indonesia masih terkejut ketika tahu saya juga mendengarkan heavy metal. Langsung saya dicap ‘tomboy’. Seorang rekan lelaki saat itu bahkan seperti tidak terima sehingga sampai berkomentar begini:

“Lo ‘kan cewek. Harusnya dengerin grup-grup pop menye-menye, seperti boyband atau semacamnya. ”

Yah, saya juga mendengarkan musik seperti itu sih, namun bukan itu intinya. Siapa dia, mengatur-atur saya harus mendengarkan musik apa?

Menggeneralisir adalah reaksi spontan yang normal. Sayangnya, reaksi ini jadi tidak asyik begitu berubah menjadi stigmatisasi. Berdasarkan contoh sebelumnya, melihat sesuatu yang berbeda selalu membuat kita merasa tidak aman – bahkan cenderung mengancam bagi sebagian orang. Dunia terasa jauh lebih aman ketika semuanya berjalan sesuai dengan yang selalu kita tahu dan yakini. Bukannya yang tidak bisa ditebak.

“Kenapa cewek suka heavy metal? Bukankah itu terlalu keras untuk telinga sensitif mereka? ”

“Kenapa cowok tidak suka olahraga? Kamu cowok atau bukan, sih? ”

“Produk ini tidak apa-apa, kok. Kamu saja yang aneh sendiri. “

Sekadar mengingatkan, statistik sosial itu bikinan manusia. Yang membuat kita rentan jadi budak statistik sosial adalah ketika kita memilih untuk hanya peduli pada suara mayoritas. Mereka menjadi satu-satunya suara yang kita dengarkan dan percaya dengan sepenuh hati. Yang berbeda itu aneh. Harusnya mereka semua (setidaknya mencoba) menyesuaikan diri. Pengalaman pribadi mereka (dianggap) tidak relevan.

Di masyarakat, orang berbeda dan mampu berevolusi secara alami, bukan oleh tuntutan sosial. Akan selalu ada statistik sosial baru yang mungkin menyanggah statistik sosial sebelumnya. Siap-siap saja.

Bagaimanapun, kita tidak selalu tahu (dan memahami) segalanya.

 

R.

2 thoughts on “Budak Statistik Sosial

    1. Sebenarnya menyedihkan lho, karena kesannya orang Indonesia tidak menghargai waktu dan berlagak bak diva – selalu minta ditunggu. Jadi sulit untuk marah kalau dunia internasional cenderung menyepelekan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *