Diam Atas Nama Kemuakan

Sesungguhnya ada kemuakan tak terkira saat berkali-kali harus menghadapi hal yang sama. Kadang diam (dan bersikap masa bodoh) adalah satu-satunya cara untuk tetap waras.

Lagipula, malas juga buang-buang waktu dan tenaga. Untuk apa ribut dengan mereka yang mentalitasnya begitu – dan hanya segitu – saja?

Bayangkan bila ada sesama perempuan yang tidak Anda kenal dengan dekat. Entah demi bisnis atau keperluan sementara, Anda terpaksa harus berbaik-baik dengan mereka, terlepas dari perilaku mereka yang sesungguhnya tidak patut.

Entah ada angin apa, ujug-ujug perempuan itu banyak menanyakan hal yang sangat pribadi. Bayangkan perasaan Anda (sebagai sesama perempuan) saat harus terlibat dalam percakapan tidak menyenangkan ini:

“Sudah nikah?”

“Belum.”

“Umurnya berapa?”

“36.”

“Kenapa belum menikah?”

“Ya, belum ada aja.”

Lalu, tatapan perempuan itu jatuh ke tubuh Anda yang kebetulan tambun. Dari caranya melirik, yaitu ke atas dan ke bawah, Anda langsung tahu. Anda sedang dinilai, seperti biasa. Ini bukan peristiwa perdana.

“Nggak mau coba diet? Udah pernah belum?”

Tuh, ‘kan?

Kadang Anda terlalu malas dan muak berurusan dengan pencari drama yang caranya sama. Memang ada orang-orang yang merasa hidup mereka terlalu biasa, kurang istimewa. Agar lebih bahagia, mereka sampai harus merendahkan – kalau perlu menjatuhkan – sesama, di depan umum pula.

Karena itulah, orang-orang seperti mereka hanya patut mendapatkan satu senyuman ‘sopan’. Cukup satu saja, tidak perlu lebih dari itu. Orang-orang seperti mereka tidak berhak mendapatkan senyum tulus dari Anda. Toh, belum apa-apa mereka sudah menilai dan menghakimi.

Belum kenal? Tidak masalah. Tidak perlu kenal bagi mereka yang merasa sudah tahu segalanya.

Kadang diam adalah tembok penanda kemuakan. Biarkan mereka berpikir suka-suka, sementara Anda tinggal melenggang saja. Semoga mereka nanti masih cukup sabar saat orang lain berbuat sama pada putri-putri mereka.

Atau, jangan-jangan mereka malah memperparah suasana, sehingga putri-putri tercinta sendiri semakin merasa JELEK luar biasa?

Ah, sudahlah. Anggap saja bukan urusan Anda. Anggap saja mereka belum lulus dari “ujian menjaga lisan”.

Sayang sekali.

R.

 

4 thoughts on “Diam Atas Nama Kemuakan

    1. Sebenarnya nggak masalah, bila nggak diikutin dengan rencengan pertanyaan berikutnya yang lebih banyak asumtif dan tendensius alias menghakimi. Kayak “Kenapa di umur segitu belum nikah?” Memangnya saya mau jawab apa? Apa untungnya juga bagi mereka? Yang lebih lancang lagi, kenal saja enggak. Yang kenal saya juga sekarang lebih hati2, karena tahu ini bikin saya terganggu banget. Yang gak ganggu itu hanya doa enteng jodoh, hehehe.

  1. Itulaaah kenapa,aku lbh seneng diam daripada bicara tp takut salah dan bikin org sakit hati :(. Susah banget utk sebagian org supaya ga kepo ama urusan org, ato setidaknya bicara nicely gitu loh.. Bingung aku… Kok ya merasa sudah paling sempurna hidupnya… 🙁

    1. Sebenarnya kalau mau lebih cerdas masih banyak topik lain yang bisa dibahas selain urusan pribadi orang. Misalnya: kalau dalam konteks kerjaan, bisa nanya soal proyek apa lagi yang dikerjain atau minimal abis proyek itu kelar mau ngapain. Bahkan teman-teman yang udah lebih kenal sama saya juga lebih hati-hati, karena tahu saya paling nggak suka dengan rentetan pertanyaan macam itu. Kadang doa saja sudah cukup, kok. Nggak perlu sengaja cari-cari cacat orang terus langsung ngebeberin begitu aja di muka mereka. Mungkin niatnya baik, tapi jadi lancang karena udah nggak kenal deket, nggak diminta, ngomongnya di depan umum pula. ‘Kan sama aja mempermalukan orang? Yang nggak setuju dan nyebut saya baperan mungkin termasuk yang udah merasa nyaman berbuat gini sama orang. Gak mau disalahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *