Tentang Nasihat dan Saran Gratis

“Yeee…maaf deh, kalo kesinggung. Cuman mau kasih saran aja, kok. ‘Kan niatnya baik, mau bantuin.”

Ucapan teman tempo hari sempat membuat saya terdiam. Mau nggak mau saya sempetin mikir juga:

Apa bener, akhir-akhir ini saya jadi begitu mudah tersinggung?

Mungkin, bagi yang tidak (mau?) memahami pandangan berbeda ini akan menganggap saya angkuh dan keras kepala.

Sebenarnya, nggak ada yang salah dengan nasihat dan saran yang gratis. Apalagi bila pemberinya memang berniat baik. Serius.

Lalu, apa masalahnya?

Ada yang bilang, ini tergantung waktu dan tempat. Di sinilah kepekaan kita diuji.

Satu contoh: teman sedang mengalami masalah keuangan, sehingga saat ponselnya bermasalah, dia nggak bisa langsung memperbaikinya. Pastinya, nggak mungkin dong, dia bakal cerita-cerita ke semua orang kalo lagi ada masalah keuangan? Ayolah, yang ada dia disangka ngemis lagi.

Ingat, masih ada harga diri.

Celakanya, saat banyak yang sulit menghubunginya, keluhan mereka hanya satu: oleh: Johnson Wang

“Ganti dong, ponselnya. Jangan kayak orang susah.

Coba bayangin reaksi teman saat membaca pesan semacam itu di medsosnya.

Persis.

Contoh lain lagi: Anda sedang menyetir mobil. Entah karena satu atau lain hal, mobil Anda terpaksa melewati satu gang yang lebar amat juga enggak, tapi nggak bisa dibilang sempit juga. (Kayak lagu dangdut jadul: “Sedang-sedang Saja”.)

Meski sudah berhati-hati sekali, tak ayal musibah kadang susah dihindari.

BRAK! Satu ban depan amblas ke dalam lubang. Mau nggak mau, Anda mematikan mesin dan keluar dari mobil untuk melihat.

Dasar sial.

Para warga setempat berdatangan. Bukannya langsung gotong royong membantu (meskipun pada akhirnya itu yang mereka lakukan, untuk menghindari jalan makin penuh), yang keluar duluan malah ucapan-ucapan seperti:

“Ini gimana kejadiannya? Kok bisa sampe kayak gini?”

“Makanya hati-hati.”

Saya percaya, niat mereka ngomong begini sebenernya baik. Bisa jadi juga karena keceplosan belaka.

Sayangnya, komentar semacam itu sering banget keluar pada saat yang kurang pas. Daripada ngebahas masalah, mending coba cari jalan keluarnya dulu rame-rame, terutama bila waktu mendesak dan akibatnya bisa nyusahin banyak orang.

Percayalah, mungkin mereka yang sedang bermasalah sudah pernah mendengar nasihat yang sama. Bukannya mereka nggak mau dengar. Bisa jadi saat ini mereka sedang berusaha keluar dari masalah, namun nggak butuh tontonan, saran, atau bahkan kritikan.

Ingin lebih peduli? Cari tahu yang benar-benar lagi mereka butuhkan. Mungkin ada yang hanya ingin didengarkan. (Siap-siap sabar aja, ya.) Mungkin mereka juga butuh bantuan nyata, meski kadang terlalu gengsi memintanya. (Ya, gara-gara itu, takut tuduhan mengemis.)

Bila ada, sedang bisa, dan beneran peduli, kenapa enggak? Dampaknya jauh lebih nyata daripada hanya bolak-balik kasih saran, yang sama pula.

Kalo lagi nggak bisa kasih bantuan juga? Ya, nggak apa-apa juga. Doa aja juga boleh. Toh, hasil akhir tetap dari usaha mereka, bantuan yang didapat (termasuk doa), hingga restu Yang Maha Kuasa…

Kalau ternyata saya emang mudah tersinggung akhir-akhir ini, mungkin karena udah banyak lihat kasus yang sama. Tapi, tetep maaf juga, ya.

R.

4 thoughts on “Tentang Nasihat dan Saran Gratis

  1. memang kadang perkataan seseorang menjadi sulit bagi orang lain, tapi ya gak perlu dimasukin hati kadang ada saja spontanitas yang sebetuknya gak ada maksud tertentu

    1. Memang benar, namun tidak ada salahnya tetap saling mengingatkan. Masalahnya, tidak semua orang menghadapi dengan cara yang sama. Untuk itu dibutuhkan empati. Bila sudah berhasil tidak terlalu memasukkan apa-apa ke dalam hati, selamat.

    1. Sebenarnya saya kurang suka dengan kata ‘baperan’, karena terdengar merendahkan, seolah-olah manusia tidak punya hak untuk merasa tersinggung – bahkan karena lelah. Manusia yang punya perasaan itu wajar. Selamat bila sudah berhasil bersikap cuek. Tak ada salahnya juga saling mengingatkan agar tidak menyinggung orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *