5 Alasan Saya Lebih Suka Menulis yang Panjang Daripada Bikin dan Komen di Status

Ada yang bilang, sekarang orang pada makin sibuk. Saking sibuknya, mereka udah nggak sempet lagi baca-baca yang (menurut mereka, sih) terlalu panjang.

Ah, masa? Yakin bukan karena males aja? (Maaf, saya jadi nyinyir, nih. Hihihi.)

Intinya, untuk konten digital, saya sering diminta agar kalo bikin tulisan tuh, mbok ya yang pendek-pendek aja gitu. Soalnya kalo kepanjangan malah jadi ngebosenin. Orang malah jadi pada males baca. Apalagi, konten digital emang sengaja dibikin ringkas dan efektif. Capek juga kelamaan liat layar ponsel atau laptop.

Makanya, udah nggak mengherankan lagi kalo banyak yang lebih suka bikin status (alias micro-blogging) dan meme. Foto-foto dan video-video pendek? Itu juga pasti.

Komentar? Apalagi. Biasanya malah jauh lebih semangat (bahkan sampai suka lupa baca artikelnya gara-gara judul sudah ‘heboh’ atau statusnya dulu baik-baik. Hehe, suka pada gitu, ah.)

Nah, ini dia lima (5) alasan saya lebih suka menulis yang panjang daripada bikin dan komen di status:

  1. Sudah menjadi kebiasaan.

Bagi yang suka menulis buku harian seperti saya dari kecil pasti sudah tahu rasanya. Menulis itu bukan beban. Nggak hanya hobi, tapi udah lebih kayak panggilan. Sehari nggak nulis apa-apa aja rasanya ada yang kurang.

  1. Dapat mengumpulkan data lebih lengkap dan menyusun argumen lebih jelas.

Oke, saya memang bukan mahasiswa S2. Menulis esai saja jarang-jarang dan masih perlu banyak latihan. Mungkin juga ini masalah kecepatan berpikir yang kadang nggak selalu sama. Pada kenyataannya, memang nggak semua masalah bisa diselesaikan secepat mungkin.

Kita bisa lihat sendiri. Kebanyakan yang suka bikin maupun komen di status media sosial sering nggak siap dengan respons yang didapat. Buntutnya lebih banyak yang main pakai emosi daripada berargumen secara cerdas dan lebih beradab. Lebih mudah melontarkan makian, hingga menyerang kepribadian lawan bicara yang bahkan dikenal pun belum tentu.

Malah tambah riweuh, ‘kan?

  1. Malas berdebat terlalu panjang.

Sebenarnya saya nggak anti-anti amat bikin sama komen di status. Kalau yang berdebat cenderung keras kepala dan merasa paling benar sendiri, kok rasanya percuma, ya? Buang-buang waktu saja. Selain itu, yang model begini biasanya juga nggak peduli sama argumen orang yang bahkan sudah dilengkapi dengan data valid sekali pun.

  1. Muak dengan tukang komen yang kasar dan hobinya mengancam.

Mereka ini termasuk yang paling ‘meramaikan’ media sosial, suka nggak suka. Topik paling receh pun bisa jadi viral banget berkat kejulidan mereka. (Yang mau kasih mereka award, wis monggo. Saya mah ogah.)

Semakin kasar semakin seru? Buat saya mah, nggak level, tahu.

Gambar: https://unsplash.com/photos/RdmLSJR-tq8
  1. Takut kebiasaan baik hilang.

Ada rasa tenang setiap kali menulis. Ibarat terapi begitu.

 

Kalau Anda termasuk yang juga suka menulis, kira-kira lebih milih yang mana? Apa alasannya?

 

R.

 

2 thoughts on “5 Alasan Saya Lebih Suka Menulis yang Panjang Daripada Bikin dan Komen di Status

  1. menulis karena suka, aku suka banget bikin puisi, kejadian sederhana saja bs jd puisi, bahkan kain batikpun bs jd puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *