Pemerkosaan Bukan Bahan Bercandaan!

Satu malam, saya pergi ke sebuah warung indomie dan roti bakar. Saat itu memang sedang cukup ramai, sehingga butuh waktu agak lama untuk mendapatkan roti bakar cokelat favorit saya.

Malam itu, saya duduk di antara dua pengunjung yang kebetulan sama-sama menjengkelkan. Lelaki besar di samping kanan saya merokok sambil bercanda dengan teman-teman se-gengnya. Tidak masalah sih, namun nggak perlulah sampai harus heboh menggebrak-gebrak meja beberapa kali.

Sialnya, lelaki itu tidak peduli saat saya meliriknya dengan tatapan sinis, sambil berusaha memastikan teh hangat saya tidak tumpah oleh ulahnya. Apalagi, kaki mejanya juga sudah agak reyot. Dasar sial, lelaki itu malah balas melirik saya dengan ekspresi terganggu. Huh!

Awalnya, saya kira perempuan di samping saya masih mendingan. Namun, telinga saya langsung sakit seketika saat dia bercanda dengan teman lelakinya yang duduk pas di depannya. Sepertinya mereka sedang membahas teman mereka yang juga seorang lelaki, hingga tahu-tahu perempuan itu mencela dan menakut-nakuti sambil tertawa:

“Jangan mau dateng sendirian ke rumah cowok itu kalo diundang. Ntar diperkosa, lho!”

Entah apa mereka sedang mengejek teman lelaki mereka yang mungkin termasuk kategori LGBT. Yang pasti, saat itu juga saya gatal ingin langsung menegur:

“Pemerkosaan bukan bahan bercandaan, Mbak!”

Sayangnya, saya bukan orang yang mudah mau ribut sama orang yang nggak dikenal, bahkan meskipun saya yakin saya benar. Dengan miris saya harus menerima, bahwa masih banyak sekali manusia Indonesia yang nggak peka. Nggak lelaki maupun perempuan. Masih banyak yang berasumsi bahwa korban pemerkosaan pasti HANYA perempuan.

Kalau sampai lelaki jadi korban pemerkosaan, pasti gara-gara LGBT. Pasti gara-gara lelakinya lemah sehingga tidak bisa melawan.

Pokoknya, di benak mereka, motif pemerkosaan pasti dan selalu seksual. Padahal, jelas-jelas karena relasi kuasa.

Saya harap banyak yang mau lebih membuka mata, hati, dan berempati. Bukan, bukan meminta untuk mengasihani mereka, seolah-olah mereka sudah tidak berharga lagi.

Cobalah mendengarkan cerita mereka tanpa interupsi. Kurangi menghakimi. Apa pun yang pernah mereka alami, mereka masih manusia berharga yang berhak untuk hidup bahagia.

Tidak ada yang minta diperkosa. Tidak ada yang lucu juga dari tindakan kekerasan, tak terkecuali secara seksual. Bayangkan Anda dipaksa melakukan sesuatu oleh orang lain dengan ancaman dan hinaan, hanya karena mereka merasa bisa dan berkuasa.

Bayangkan tubuh, jiwa, pikiran, dan perasaan Anda dijajah dan disakiti sedemikian rupa, hanya demi kesenangan mereka. Bayangkan perjuangan mereka untuk merebut hidup kembali. Transisi dari merasa jijik, kotor, malu, dan bersalah – menuju benci dan amarah – hingga usaha berdamai dengan diri sendiri.

Tidak bisa atau tidak mau membayangkan? Ya, sudah. Saya juga tidak mau memaksa. Namun, jadilah manusia yang baik dengan tidak lagi menertawakan penderitaan sesama. Sekali lagi, jangan jadikan pemerkosaan, pelecehan seksual, dan isu kekerasan lainnya sebagai bahan bercandaan.

Buat yang berprofesi sebagai komedian, semoga bisa mencari topik yang lebih cerdas dan tidak menyakiti perasaan sesama, ya. Saya tahu, profesi Anda harus selalu punya bahan bercandaan yang up-to-date atau sebisa mungkin lebih kekinian.

Kalau sudah kehabisan bahan, mungkin bisa beralih profesi. Pasti juga sudah pada tahu ‘kan, pepatah ini?

“Diam saja bila tidak yakin bisa berbicara yang baik.”

Masa perlu menunggu jadi korban dulu supaya tahu? Saya yakin Anda tidak ada yang mau.

R.

2 thoughts on “Pemerkosaan Bukan Bahan Bercandaan!

  1. Tulisan yang menarik. Dengan gaya bahasa yang renyah. Tapi saya nambahin sedikit ya Mbak. Yang Mbak bilang pepatah itu kalau dalam Islam adalah hadits. Yang artinya kurang lebih begini : Berkatalah yang baik atau diam. Atau dalam bahasa Arab : Qul khairan auli yasmut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *