Tentang Perempuan Lajang yang Bekerja dan yang Menikah

Sepanjang sisa September kemarin sempat ramai soal ini di media sosial. Singkat cerita, semua gara-gara meme bergambar seorang perempuan yang inti dialognya adalah merasa lelah bekerja dan ingin menikah saja.

Jujur, saya bacanya juga lelah. Belum lagi dengan ragam komentar yang entah kenapa langsung mengaminkannya begitu saja. Sungguh benar-benar bikin geleng-geleng kepala.

Apakah saya anti pernikahan? Eits, jangan langsung asal menuduh. Saya hanya anti kalau pernikahan dipakai buat ajang pamer status sosial. “Lihat, gue udah laku, nih.” Biasa banget, ‘kan? Sampai mereka tidak sadar kalau tengah merendahkan diri sendiri. Lha, istilah ‘laku’ bukannya buat barang jualan, ya? Mereka ‘kan, manusia.

Saya juga anti kalau pernikahan hanya dipakai sebagai solusi kilat masalah ekonomi atau sekadar membunuh sepi. Yang lebih populer lagi di sini, banyak yang buru-buru menikah hanya gara-gara takut tidak bisa menahan diri dari godaan zina. Hiii…

Sudah paham, ya? Jadi, jangan ada lagi yang asal menuduh.

Untungnya, masih banyak yang waras menanggapi meme dengan pesan ajaib itu. Saya sendiri juga gregetan, karena masalah-masalah cetek yang ditulis di meme tersebut sebenarnya masih punya solusi lebih logis lain daripada sekadar “melepas masa lajang”:

  1. Bokek?

Ya, jangan ke mana-mana sama beli apa-apa dulu. Belajar lebih hemat lain kali. Jangan jadi perempuan yang tahunya hanya berbelanja dan menghabiskan uang, karena dunia ini serba salah. Kita akan selalu diejek dan direndahkan. Mendingan disangka sombong karena sudah bisa menghasilkan uang sendiri daripada tergantung terus sama orang lain.

Padahal bekerja dan berkarya itu suatu keniscayaan semua manusia bukan, apa pun jenis kelaminnya? Heran deh, orang-orang.

  1. Lelah bekerja?

Ya, ampun. Ngapain pakai drama segala? Tinggal istirahat di rumah. Tidur atau leha-leha barang sebentar. Belanja atau ke salon buat refreshing. Main sama binatang peliharaan kalau punya. Baca komik atau nonton film lucu. Ambil cuti buat liburan. Travelling ke tempat kesukaan.

Sudahlah. Jangan meracuni otak perempuan Indonesia agar malah jadi lemah, manja, dan mata duitan. Setahu saya sih, menikah itu buat ibadah. Lagipula, lajang atau menikah, perempuan sama-sama wajib berkontribusi buat masyarakat. Bekerja dan menikah capeknya juga beda. Ya, tidak mungkin bisa dibandingkan.

Kerja ‘kan, lazimnya minimal delapan jam sehari. Kalau pun ada lemburan, biasanya ada gaji tambahan dan belum tentu sering-sering juga. Pulang tinggal istirahat, tiap bulan digaji pula. Kalau bos bikin stres dan memang sudah tidak kuat lagi, ya tinggal cari pekerjaan lain sebelum resign.

Namanya juga perjuangan. Mana ada leha-leha doang? Kalau mau mendapatkan sesuatu yang berguna (dan nggak cuman uang), pastilah ada capeknya.

Begitu pula dengan menikah. Kata siapa nggak ada capeknya? Hidup bukan cerita dongeng. Meskipun mendapatkan jodoh yang tajir melintir, bagaimana kalau ternyata dia laki-laki yang pelit? Bagaimana kalau ternyata dia abusive, nggak pernah peduli maunya Anda, ternyata tukang selingkuh, dan buntutnya meninggalkan Anda juga?

“Ih, mikirnya jelek-jelek amat deh, soal pernikahan.”

Tuh, ‘kan? Padahal saya hanya bicara kemungkinan dan kenyataan. Bayangkan perempuan dengan pola pikir demikian menikah. Yang ada malah gampang berantem sama suaminya saat suaminya lagi nggak punya uang banyak. Buntutnya? Perempuan juga yang disalahkan karena mata duitan dan kurang pengertian. Susah, ya?

Mau menikah, wis monggo. Tapi, pastikan alasannya tepat dan Anda (dan si dia, siapa pun orangnya yang sudah memilih dan dipilih Anda) sudah benar-benar siap lahir dan batin.

Yang pasti, tidak perlu menakut-nakuti yang masih lajang dan bersenang-senang juga. Masih ada cara lain yang lebih cerdas, bukan?

R.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *